BEYOND OPENING CEREMONY ASIAN GAMES 2018 (Mencintai dengan tetap memberi koreksi; Membenci dengan tetap memberi apresiasi; Berbagi bukan untuk mengundang caci maki)

IMG_20180819_142923_651Parintangrintang: Keren, cool. Itulah kata yang saya pilih dan dirasa cocok untuk menggambarkan pembukaan pesta olah raga terbesar yang pernah dilaksanakan di Indonesia sejak tahun 1962.

Pesta olah raga tingkat Asia, Asian Games 2018, pemilihan tuan rumahnya sudah ditentukan sejak 8 tahun yang lalu. Keinginan menjadi tuan rumah kala itu pasti dilandasi dengan keinginan yang kuat untuk menghadirkan sesuatu yang spektakuler. Pesta pembukaan yang menakjubkan, stadion yang megah, fasilitas penunjang yang modern, dan juga prestasi berupa medali yang banyak tentulah bagian dari mimpi mereka yang berjuang melakukan berbagai lobi untuk memenangkan pemilihan kala itu. Semuanya itu akan menjadi kebanggaan kita semua bangsa Indonesia.

Tadi malam, upacara (pesta) pembukaan yang meriah telah dihadirkan. Tanpa banyak narasi, pertunjukan digelar. Semua tersenyum sumringah. Semua seakan mengamini bahwa pesta itu adalah karya satu orang saja yakni orang nomor satu.
Dibalik pesta meriah tanpa kata-kata itu ada beberapa pernyataan dan pertanyaan yang menggelitik hati.

1. Ini karena Pak De. Kalau presidennya bukan Jokowi pasti acaranya gak bakalan semeriah ini. Benarkah? Sepertinya mereka tidak percaya dengan kemampuan anak-anak Indonesia; terkecuali tunduk dan mendapat restunya. Entahlah, bagi saya siapapun presidennya, acara yang sudah dirancang lama ini akan tetap spektakuler. Karena bagi saya, ketika ditanya “Siapa Kita? Indonesia”. Kita bekerja untuk Indonesia bukan untuk presidennya. Bukankah presiden dipilih untuk bekerja bagi Indonesia.

2. Apakah pada Olimpiade Rio 2016 sebagai ajang pesta olah raga tertinggi, tidak menampilkan Walikota Rio de Janeiro sebagai kota penyelenggara? Sama halnya dengan pertanyaan apakah Gubernur Jakarta akan diberi kesempatan untuk menyampaikan ucapan selamat datang pada acara pembukaan yang spektakuler itu jika gubernurnya bukan Anies Baswedan.
Sepertinya, tidak. Tidak ada sambutan Walikota Rio de Janeiro dalam ceremony pembukaan Olympiade Rio 2016. Jadi, wajar saja tidak ada sambutan Gubernur Jakarta dalam acara pembukaan tersebut siapapun gubernurnya.

3. Apakah Gubernur DKI Anies Baswedan akan diberi kesempatan untuk menyerahkan medali ketika kontingen Indonesia berhasil meraih medali, khususnya medali Emas? Jawabannya pastilah tidak. Masalahnya, dapat medali emas itu langka. Kalaupun dapat 10 emas pembagiannya sudah jelas. Jangan berharap, terlalu tebal dan mewah karpet merah panggung pengalungan medali itu untuk Gubernur DKI. Pengalungan medali untuk cabang yang tidak diraih kontingen Indonesia saja, sepertinya cukup layak untuk dipertaruhkan. Kalaupun ada, pastilah untuk olah raga yang tidak populer.

4. Sudahkah MRT, LRT yang dijanjikan itu dapat dipakai untuk kepentingan Asian Games 2018? Kata sebagian orang, sebagiannya lagi belum. Sepertinya harus dibuktikan sendiri, bila ada kesempatan ke daerah dimana fasiltas yang disediakan tersebut berada.

5. Apakah acara pembukaan Asian Games 2018 itu spektakuler? Tentu saja dan seharusnya begitu. Dari tahun ke tahun, setiap pembukaan even olah raga semacam Olimpiade ataupun Asian Games haruslah spektakuler, karena menyangkut kehormatan sebuah negara untuk dikenang para peserta, penonton baik langsung maupun lewat media elektronik. Kalau spektakuler sudah seharusnya; kalau tidak pastilah malu, kemana muka hendak disurukkan.

6. Siapakah yang paling berperan dalam pembukaan Asian Games itu? Untuk mendapatkan hasil yang maksimal diperlukan seorang creative director yang mengatur setiap menit bahkan detik rangkaian acara itu, dan kita punya sumber daya manusia yang cakap untuk itu.

7. Pelajaran apa saja yang dapat dipetik dari acara pembukaan itu? Ada banyak pilihan, tergantung dari siapa yang memberi penilaian. Kalau cebong dan kampret sudah jelas penilaian yang mereka berikan.

Bagi saya, bukan dalang, apalagi wayang yang dapat membuat sebuah pertunjukan spektakuler, yang dipilih dalang menjadi pengatur pertunjukan lah yang menentukan, bukan hanya nasib tokoh dalam cerita bahkan nasib dalang itu sendiri. Untuk kepentingan pertunjukan, demi kehebatan dalang, apa saja bisa dijungkirbalikan, bahkan dalangpun tak perlu banyak bicara dan cukup tersenyum karena bisa merusak pertunjukan. Sepertinya untuk setiap pertunjukan yang kita lihat sehari-hari, sang dalang telah diatur creative director sang manajer panggung. Ah, inikan tergantung bagaimana kita memaknainya.

Akhirnya saya lebih memilih untuk tidak mengidap syndrome “Mencintai tanpa koreksi; membenci tanpa apresiasi, dan berbagi untuk mengundang caci maki”

Kubang Gajah, 19 Agustus 2018

nspamenan@yahoo.com

Advertisements
Posted in Politik dan Kekuasaan | Leave a comment

Desain Pembangunan Tanpa Aljabar

IMG_20180803_194403Parintangrintang: Sekitar 14 tahun yang lalu, ketika baru pertama kali belajar ilmu ekonomi- sebagai dasar ilmu pembangunan ekonomi, saya sangat kaget ketika pada kuliah perdana saya diperkenalkan bahwa, kelulusan saya tergantung dengan 3 jenis jawaban yang dituangkan dalam ujian. Pertama menjawab soalan (permasalahan) dengan narasi, kedua, menjawab soal dengan aneka grafik (gambar), dan ketiga menjawab soal dengan menggunakan aljabar (matematika).

Walaupun ketiganya dibenarkan, namun masing-masing memiliki nilai yang berbeda. Jika dapat menjawab soalan hanya dengan narasi maka sebagus apapun narasi/ argumentasi/ paparan yang ditulisan maka maksimal nilai yang didapat adalah “C”, tidak akan lebih dari itu.

Bila mampu menjawab soalan melalui penjelasan menggunakan grafik dan gambar maka nilai maksimal yang akan diperoleh adalah “B”, dengan kemungkinan nilai terbanyak yang diterima adalah “B-” (baca: B minus).

Sedangkan, kemampuan untuk menjelaskan secara matematis atau Aljabar merupakan satu-satunya cara untuk mendapatkan nilai “A”. Bila dapat membuktikan melalui persamaan Aljabar, menggambarkan dengan grafik, dan menjelaskannya dengan paparan yang jelas, terstruktur dan dapat dipahami maka disitulah nilai “A+” (baca: A plus) baru bisa diperoleh.

Lama baru saya paham, kenapa sudut pandangnya seperti itu. Kenapa penjelasan yang tertuang dalam belasan halaman folio hanya dihargai “C” paling tinggi? Penjelasan dengan kata-kata seringkali bersifat kualitatif yang kurang terukur. Seringkali juga penjelasan yang diberikan tidak runut, melenceng dari fenomena yang ada, tidak lengkap, bahkan seringkali tanpa landasan teori yang jelas. Mirisnya, seringkali pembuktian dilakukan tanpa bukti yang bisa diterima dan perkiraan dampak yang tidak bisa dilihat apalagi diukur.

Untuk bisa menuangkan teori dengan dengan jelas, menambahkan setiap fenomena, dan membuktikan kebenaran sebuah kebijakan yang hendak ditempuh maka penjelasan dengan grafik, yang mempunyai sumbu vertikal (X), dan sumbu horizontal (Y) dengan angka positif dan negatif lebih mudah diterima, dan dipahami. Namun demikian, perkiraan besaran dampak (baik positif maupun negatif) belum dapat dihitung secara pas (mendekati kebenaran).

Oleh karena itu diperlukan perhitungan aljabar untuk membuktikannya. Dengan mengganti fenomena yang ada dengan simbol (X, Y, Z, dst) sebuah fenomena dapat digambarkan, arah dapat segera dilihat (positif atau negatif), titik optimum dapat ditentukan, dan perkiraan dampak bisa dihitung. Oleh karenanya pembuktian tentu dapat dilakukan hanya dengan melihat tanda (>, <, atau =). Dari prinsip tersebut, dapat diketahui bahwa sebuah desain kebijakan dapat dikeluarkan dengan mempertimbangkan dampak jangka pendek, dampak jangka panjang bahkan bisa juga dimasukkan unsur uncertainty (ketidakpastian) sebagai fenomena. IMG_20180803_193631_554

 

Kini, ketika harga pangan melambung, harga BBM melonjak naik, nilai rupiah meroket, beberapa proyek infrastruktur hendak diberhentikan, impor minta dikurangi adakah kebijakan pembangunan yang disusun didesain dengan menggunakan rumus dan formula yang mampu menghasilkan kebijakan komprehensif; atau desain kebijakan pembangunan selama ini sebenarnya hanyalah sebuah kebijaksanaan yang dipilih dari sebuah narasi yang dikemukakan berulang-ulang yang dilengkapi dengan visualisasi angan-angan.

Sejatinya, kebijakan itu hendaklah kebijaksanaan dalam memilih berbagai alternatif pilihan atas berbagai perhitungan yang bisa diuji; bukan atas cerita dan gambar untuk sekedar memuaskan.

Adakah desain kebijakan pembangunan yang dilaksanakan selama ini diputuskan dengan perhitungan menggunakan aljabar yang mumpuni, atau hanya berdasarkan retorika dan gambar semu semata?
Entahlah, seharusnya orang-orang cerdas itu menjadi orang yang mencerdaskan; bukannya menjadi orang yang tidak mencerdaskan (pimpinan) apalagi menyesatkan (pimpinan). Dengan demikian tentu sudah agak jelas kira-kira berapa nilai desain kebijakan pembangunan yang dibuat untuk kurun waktu terakhir ini.

Kubang Gajah, 2 Agustus 2018

nspamenan@yahoo.com

Posted in Politik dan Kekuasaan | Leave a comment

Gundah

Kemanakah pilu menyandarkan kepalanya, ketika lelah sudah kehilangan bahunya

Kemanakah detak jantung kebenaran harus mengadu, ketika cinta telah meluluhlantakkan nurani

Lupakan dan hanyutkan,

Tersenyumlah ketika dihadapan mu terhampar torehan kemenangan yang bersandar ulasan dari uraian orang pada biliknya

Mengertilah bahwa sedang musimnya yang hebat lahir dari rahim tombol bagi

Berhentilah resah, karena langkah dan waktumu bukan untuk mereka yang memalingkan muka atas pijakan kebenaran yang jelas berbeda

Bersyukurlah ketika diterjang aruspun engkau bukanlah buih yang terlihat tinggi dan kuat tapi tak mampu meraih ranting

Kubang Gajah, 11 Juli 2018

nspamenan@yahoo.com

Posted in Kisah dan Sajak | Leave a comment

BAKO BOOT CAMP: Belajar Mandiri di Rumah Inyiak

Parintangrintang: Kata (istilah) boot camp pertama kali saya kenal sebagai bahan mata kuliah reading. Namun saya tidak ingat secara persis kapan dan dimana bahan bacaan yang berjudul boot camp itu saya berikan untuk mahasiswa bahasa Inggris yang saya asuh kala itu. Walaupun demikian, wacana yang berjudul boot camp ini begitu berarti dan lengket dalam pikiran saya.
Eh. Boot camp itu apa ya?
Boot camp (berdasarkan bahan reading yang saya berikan tersebut) adalah kegiatan mengirim anak-anak ke suatu pusat pelatihan dalam rangka mendisiplinkan anak, mengurangi tingkat kenakalan anak, meningkatkan kepatuhan anak, meningkatkan rasa percaya diri anak, memotivasi anak untuk mau belajar dan seterusnya. Boot camp itu seperti barak pelatihan prajurit. Kalau sudah seperti barak pelatihan prajurit, saya tidak ingin menggambarkan apa lagi. Setiap orang punya persepsi sendiri, apa lagi saya yang tidak pernah mengikuti pelatihan di tempat seperti itu. Jadi cuma bisa mereka-mereka.
Yang menarik dari boot camp itu bagi saya adalah hasil dan dampaknya (outcome dan impact) berupa sikap dan sifat disiplin, rasa percaya diri, sikap saling menghormati, saling membantu dan berbagai interaksi sosial lainnya yang terbentuk setelah di-boot camp-kan.

Lalu, kata “bako”. Kata bako berasal dari bahasa Minang. Bako berarti kelompok keluarga yang merupakan saudara dari orang tua laki-laki kita. Kenapa kelompok keluarga? Sistem matrilineal di Minangkabau menjadikan kekerabatan berbasis suku yang diturunkan dari garis keturunan ibu. Jadi bako adalah adik atau kakak orang tua laki-laki, baik saudara seibunya maupun saudara sepupunya dari saudara perempuan ibunya. Ah, susah juga mendeskripsikannya, pokoknya bako adalah saudara yang hubungan kekerabatannya berasal dari pihak/keluarga bapak (ibu dari bapak).

Karena berasal dari dua bahasa dan dua budaya yang juga berbeda maka perlu dijelaskan apa yang dimaksud dengan bako boot camp. Tentunya sesuai dengan versi saya.
Sebagaimana judulnya, bako boot camp adalah latihan kemandirian anak dengan cara tinggal beberapa hari di rumah bako. Bagi sebagian orang hal ini mungkin aneh, terutama bagi yang bako-nya ada di subaliak dapua alias pada rumah atau kampung yang berdekatan. Tidak demikian halnya dengan yang tinggal berjauhan. Apa lagi di zaman now dimana anak-anak lebih sibuk dengan gadget, tatkala yang jauh serasa dekat, dan yang dekat tidak terlihat.

Tertarik dengan dampak positif dari boot camp, kondisi anak-anak zaman now dengan gadgetnya, dan kurangnya interaksi antara anak-anak dengan masyarakat di kampung bakonya, beberapa hari yang lalu anak-anak diantarkan ke kampung untuk menikmati pengalaman “Bako boot camp” selama beberapa hari. Mumpung sedang libur sekolah.
Senangkah mereka atau keberatankah mereka?

Pertama, agak keberatan. Segera mereka akan kehilangan akses Wifi. Apa lagi Piala Dunia sedang berlangsung. Seperti biasa mereka terlihat cemberut, tapi tetap menurut. Jadilah mereka mengikuti bako boot camp selama beberapa hari, sebagai pengisi libur kenaikan kelas.

Saya tidak sabar untuk mengetahui apa dampak dari bako boot camp yang bisa mereka peroleh. Adakah meningkat kemandirian, rasa hormat, kemampuan berinteraksi, tenggang rasa, tolong menolong mereka.

Ah, harapan yang terlalu tinggi.
Setelah empat hari, tersebab ada hari libur nasional mendadak, dan kebutuhan akan teman nonton sepak bola piala dunia, dijemputlah anak-anak yang sedang mengikuti bako boot camp tersebut.

Walaupun tidak terencana, sebelum pulang mudik dari bako boot camp kamipun berjalan-jalan ke beberapa objek wisata tak jauh dari rumah Inyiak (kakek) tempat anak-anak dibootcampkan. Ada banyak canda dan tawa selama perjalanan, terutama tentang cerita dan dialog yang mereka dengarkan selama mereka tinggal ditempat Inyiak.

Diantara cerita itu adalah, pergi ke Lapau Mandan untuk minum kopi dan atau kopi susu pada pagi ataupun sore hari lengkap dengan dialog orang di lapau yang mereka dengar. Cerita lainnya adalah pergi ke mesjid untuk ikut shalat Zuhur dan Ashar berjamaah bersama Inyiak dengan dialog penawaran untuk azan ashar yang semula tidak dipahami. Maklum, bagi orang tua di kampung azan itu disebut abang. Tak ketinggalan jalan di pematang sawah menemani ibu/ tante/eteknya ke sawah. Semuanya diceritakan dan dibahas secara menarik penuh canda dan tawa.

Semula kami menyangka, pembelajaran bersosialisasi dan pengetahuan lintas budaya itu sajalah yang mereka dapatkan. Ternyata tidak. Sekarang ada tanggung jawab untuk membereskan lantai yang kotor dengan menyapunya, dan beberapa hal lainnya. Demikian juga dengan kebiasaan yang tidak melulu harus memegang gadget karena berkomunikasi langsung juga asyik.
Ternyata Bako boot camp itu cukup efektif bagi anak-anak zaman now yang terbelenggu gadget. Paling tidak bagi anak-anak kami. Ternyata juga Bako boot camp itu sebenarnya adalah belajar mandiri di rumah Inyiak, yang dulu sering kami, eh kita, maksudnya saya lakukan.

Kubang Gajah, 28 Juni 2018

nspamenan@yahoo.com

Posted in Interest, My life | Leave a comment

PANTAI PENYU AMPIANG PARAK #2: Konservasi Penyu, Hutan Pinus, Hutan Manggrove, Pemberdayaan Masyarakat, dan Daya Tarik Wisata

Selamat Datang di Konservasi Penyu Ampiang Parak

PARINTANGRINTANG: Hampir satu setengah tahun setelah kunjungan pertama ke Pantai Penyu Ampiang Parak pada tanggal 1 Januari tahun 2017, kunjungan pada hari ketiga Idul Fitri tahun ini rasanya lebih menarik dan nyaman dibandingkan kunjungan pertama tahun lalu itu. Ada beberapa kemajuan yang patut diacungi jempol disamping beberapa kekurangan yang perlu diperbaiki.

Oh ya, maaf sebelumnya jika ada yang belum tahu tentang Pantai Penyu Ampiang Parak. Pantai Penyu Ampiang Parak adalah sebuah hamparan pantai dari sebuah semenanjung yàng membentang dari arah utara ke selatan di Jorong Pasa Nagari Ampiang Parak Kecamatan Sutera Kabupaten Pesisir Selatan Sumatera Barat. Ujung semenanjung tersebut berada di muara Batang Ampiang Parak (lihat gambar).

Pantai Penyu Ampiang Parak #2

Dengan demikian jika ada yang menyebutkan Konservasi Penyu Ampiang Parak sebagai Pulau Penyu Ampiang Parak, pastilah itu sebuah kekeliruan. Dengan demikian konservasi penyu Ampiang Parak lebih tepat disebut sebagai Pantai Penyu Ampiang Parak.

Pantai Penyu Ampiang Parak #1

Sebagai sebuah pantai, Pantai Penyu Ampiang Parak memiliki keunikan tersendiri yang jarang ditemukan di pantai lainnya. Dengan lebar lebih kurang 100 meter, pantai ini memiliki dua sisi yang berbeda. Sisi barat yang berbatasan dengan Samudera Hindia merupakan hamparan pasir putih yang indah dengan deburan dan hempasan ombak yang menggelora; sementara sisi timurnya adalah pantai yang ditumbuhi rerumputan yang mulai menghijau.

Barisan hijau pohon Pinus

Diantara sisi barat yang berpasir putih dengan sisi timur yang mulai menghijau tersebut terhamparlah selimut hijau nan rindang dari barisan pohon pinus setinggi 5 meter lebih. Hamparan pohon pinus tersebut membentang sepanjang lebih dari satu kilometer.

Berjumpa dengan Keluarga Pak YoskiMenurut Bung Yoski Wandri, Kepala Bappelitbangda Kabupaten Pesisir Selatan yàng juga mantan kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Pesisir Selatan, dulunya semenanjung yang menjadi pantai konservasi penyu tersebut adalah pasir tandus yang sulit ditumbuhi tanaman apapun. Kini, setelah daratan di pantai penyu tersebut mulai menghijau dan rumputpun mulai tumbuh dibawah pokok pinus, manggrove mulai ditanami di sisi timur dan tumbuh cukup subur. Calon Hutan ManggroveDengan demikian tidak berapa lama lagi kawasan Konservasi Pantai Penyu Ampiang Parak akan semakin lengkap dan menarik dengan kehadiran deretan manggrove yang tentu saja akan mengundang beraneka macam hewan laut seperti kepiting, udang, dan ikan untuk datang.

Ketua Laskar Penyelamat LingkunganKawasan Pantai Penyu Ampiang Parak mungkin sudah berumur dua tahun. Kawasan ini dikelola oleh kelompok yang mereka namai Laskar Pemuda Peduli Lingkungan. Walaupun belum menanyakan langsung kepada bung Haridman, Ketua Laskar Peduli Lingkungan tersebut, penggunaan nama laskar barangkali didasarkan pada beratnya tantangan untuk mewujudkan pantai ini menjadi sebuah kawasan konservasi dikarenakan kondisi alam yang masih tandus dan tanaman sulit tumbuh serta pemahaman dan kesadaran masyarakat yang masih terbatas tentang larangan menjual dan mengkonsumsi telur penyu dan peranan pariwisata dalam menggerakkan perekonomian masyarakat.

Karena kekompakan dan kuatnya kepemimpinan Laskar Peduli Lingkungan ini, kawasan Konservasi Pantai Penyu Ampiang Parak ini tumbuh dengan pesat dan perlahan mulai memberikan dampak ekonomi yang cukup positif bagi pengelola dan masyarakat sekitarnya. Hal inilah barangkali yang menyebabkan banyak pihak tertarik untuk menyalurkan dana Coorporate Social Responsibility CSR-nya di kawasan ini. Beberapa bangunan yang pada kunjungan terdahulu belum ada, sudah berdiri secara permanen. Gerbang kedatangan, sudah berdiri kokoh, dermaga keberangkatan juga sudah sangat mantap, sampan untuk menyeberang juga sudah semakin baik karena tidak lagi terbuka, beberapa bangunan di dekat dermaga juga sudah mulai dibangun.

Dermaga PenyeberanganBahkan, saat ini (waktu kunjungan) sedang dibangun sebuah water boom mini penambah daya tarik. Semua itu merupakan kombinasi dari bantuan stimulan dari CSR dan investasi dari keuntungan operasional kawasan konservasi tersebut.

Sebagai sebuah konservasi, pantai Penyu Ampiang Parak tentunya tidak hanya melakukan pelestarian satwa berupa penyu. Memang benar adanya, jika hanya untuk menjaga kelestarian alam, kawasan ini sulit untuk bertahan lama, oleh karenanya kemampuan untuk mengintegrasikan konservasi, pendidikan masyarakat dan daya tarik wisata menjadi kunci keberhasilan mempertahankan dan mengembangkan konservasi Pantai Penyu Ampiang Parak ini. Tidak dapat dipungkiri, seringkali lokasi wisata yang kita kunjungi hanya menarik untuk dikunjungi sekali saja karena tidak ada hal baru yang perlu dieksplorasi.

Markas Laskar PenyuJika anda datang ke Kawasan Konservasi Pantai Penyu Ampiang Parak, maka dengan  hanya membayar Rp. 10 ribu per orang anda akan mendapatkan pengalaman menyeberang dengan sampan motor yang cukup baik karena terlindung dari terik hujan dan panas ke kawasan konservasi. Dalam penyeberangan selama lebih kurang sepuluh menit tersebut, kita akan disuguhi pemandangan barisan pohon pinus yang menghijau di sepanjang pantai diantara semilir angin dan air yang terpecah ditembus sampan yang melaju pelan. Selang sepuluh  menit sampan akan bergerak mendekati dermaga kayu di pantai yang mulai ditumbuhi rerumputan yang terkadang terendam air bila pasang naik. Keluar dari dermaga para tamu disambut plang nama Konservasi Penyu Ampiang Parak yang didepannya berdiri patung penyu.

 

Setelah itu, kita dapat menikmati teduhnya selimut hijau dedaunan pohon pinus yang membentang yang sebelumnya telihat sewaktu menyeberang. Jika ingin segera melihat penyu maka segeralah bergegas menuju beberapa bak penampungan yang diperuntukkan sebagai tempat peristirahatan para pemandu dan pengelola, karena disampingnya bisa dilihat penyu yang baru menetas (bila ada), penyu yang sedikit lebih besar, dan penyu berukuran besar yang namya dapat dilihat dan dibaca ditempat penampungan tersebut. Jika ingin tahun lebih jauh bisa bertanya kepada pengolola yang ada di sana mengawasi dan siap untuk menjelaskan secara ringkas tentang penyu yang ada di dalam bak penampungan tersebut.

Belajar Mengenali PenyuSatu hal menarik yang dapat dilakukan adalah melepaskan tukik (anak penyu) ke laut lepas. Dengan membayar Rp.10ribu untuk tukik berukuran kecil dan Rp. 20ribu untuk tukik yang sedikit lebih besar maka tukik-tukik tersebut dapat dilepaskan ke laut lepas untuk mengelilingi dunia dan kembali naik ke lokasi pelepasannya (tentu saja di Pantai Penyu Ampiang Parak) 8 tahun (?) atau 12 tahun (?) yang akan datang untuk bertelur.

 

Untuk melepaskan tukik tersebut kita akan dipandu oleh pemandu lokal dari Laskar Penyu yang siap menjelaskan kepada pengunjung kenapa tukik yang lebih kecil lebih cepat bergerak menerjang deburan ombak, dan kenapa tukik yang lebih besar lama berhenti seakan-akan mendeteksi koordinat dimana dia dilepaskan dan kemana dia harus kembali dan bertelur nantinya.

Tukik dan BayanganJika, sudah puas dengan pengetahuan tentang penyu maka menikmatikan pantai yang putih bersih tentulah sesuatu yang sangat menyenang, berlarian di pantai, bermain pasir dan mendengarkan dentuman ombak tentulah hal yang sangat mengasikkan. Jika panas terasa menyengat kembalilah berteduh dibawah selimut rindang pohon pinus, sambil membuka bekal yang dibawa untuk dinikmati bersama.

Hamparan Pantai Penyu ampiang Parak yang indahNamun demikian, walaupun ada petugas kebersihan yang sigap mengumpulkan sampah yang berserakan, janganlah membuang sampah sembarangan. Jika tidak ditemukan tong sampah (yang jumlahnya terbatas) di sekitar anda, ada baiknya sampah tersebut dikumpulkan dan dimasukkan ke dalam kantong plastik untuk nantinya diambil oleh petugas.

Bila sudah merasa puas, berjalanlah ke dermaga penyeberangan untuk kembali ke dermaga keberangkatan. Jangan lupa untuk berbelanja souvenir, makanan dan minuman yang terjangkau yang dijual disana. Bila belum tersedia maka tentulah menjadi pekerjaan rumah (PR) bagi para pengelola, untuk memberdayakan masyarakat memproduksi dan menjual souvenir, dan mengingatkan masyarakat untuk memampangkan harga makanan yang dijualnya agar pengunjung tidak merasa tertipu, dan tentu saja nyaman untuk datang kembali.

Dengan demikian, setiap kunjungan ke konservasi pantai Penyu Ampiang Parak akan memberikan kesempatan kepada setiap pengunjung untuk menikmati konservasi penyu, hutan manggrove, hutan pinus, dan wisata ke pantai yang bersih dan indah, serta belajar pemberdayaan masyarakat. Rasanya rugi kalau sudah datang ke Pesisir Selatan tidak menikmati pesona pantai penyu Ampiang Parak.

Kubang Gajah, 25 Juni 2018

nspamenan@yahoo.com

Posted in Traveling | Leave a comment

SELAMAT IDUL FITRI 1439 H

IMG_1491999842807

Dalam relung kesunyian
Tatkala jiwa yang hampa terhempas pada fana yang memabukan
Gemerlap dunia terus menghembuskan ribuan rayuan
Gelombang kehidupan telah mendàmparkan diri yang lemah pada karang tajam duniawi
Masihkah waktu menyisakan sedikit jiwa yang tak tergerus tetesan dosa?

Bahkan, Ketika ramadhan belum usaipun godaan telah datang menjelma dalam warna warni keinginan dan nafsu yang tak berujung

Dalam barisan pertama di subuh yang dingin di pagi 1 Syawal 1839 ini
Lantunan Takbir, Tahlil dan Tahmid seharusnya mampu menjaga hati untuk senantiasa bermunajab kepada kepada Allah, menjaga silaturrahim diantara keluarga, sanak, saudara dan sahabat.

Selamat Hari Raya Idul Fitri Mohon Maaf Lahir dan Bathin dari kami sekeluarga untuk Bapak, Ibu, uda, uni, adik, kakak san saudara semua.
Semoga kita dapat mempertahankan keimanan kita untuk berjuang memperoleh derajat ketaqwaan disisi Allah SWT pada ramadhan berikutnya Insha Allah.

Kubang Gajah, 15 Juni 2018

nspamenan@yahoo.com

Posted in My life | Leave a comment

Maasak Rantau: Tentang Jalan Hidup Nan Berliku

Parintangrintang: Dua tahun yang lalu, ketika hendak mengakhiri tugas kedinasan saya di pada Pemerintah Kota Kabupaten Lima Puluh Kota, untuk memulai pengabdian pada Pemerintah Kota Payakumbuh, saya menulis sebuah Note di laman Facebook saya. Farewel note yang berjudul Maasak Rantau tersebut, terasa agak sentimentil, tetapi yah, begitu lah adanya. Kenapa tidak, walau rantau diasak (atau dipindahkan) tempat tinggal tidaklah semerta merta berpindah, karena saya masih tinggal di rumah yang sama di Kota Payakumbuh.

Tak ada yang perlu disesali dari Maasak Rantau tersebut. Rantau baru telah menghadirkan sahabat baru, keluarga baru, pengalaman baru, dan tentunya semangat dan motivasi baru.

Inilah, note yang berjudul Maasak Rantau tersebut.

=====¥¥¥¥¥¥====

Hampir enam belas tahun yang lalu, berbekal Petikan SK Gubernur KDH TK I Sumatera Barat tentang Pengangkatan sebagai CPNS, saya, bersama 7 (tujuh) orang teman yang baru saja dikenal beberapa hari sebelumnya (saat menerima SK), datang menghadap kepada Kepala Bagian Kepegawaian (sering disebut UP) Sekretariat Daerah Kabupaten Lima Puluh Kota. Itulah kali pertama saya datang, berbekal ijazah sarjana pendidikan, masih muda dengan semangat membara terbawa arus gerakan reformasi untuk melawan kesewenang-wenangan dan musuh bersama rakyat kala itu: Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN).

Hari itu, Jumat tanggal 29 April 2016, berbekal Petikan SK Gubernur Sumatera Barat juga, saya akan mengakhiri pengabdian sebagai seorang Pegawai Negeri Sipil pada pemerintah Kabupaten Lima Puluh Kota, dan selanjutnya mengabdi pada Pemerintah Kota Payakumbuh, sesuai dengan yang tercantum dalam SK tersebut. Bila pada SK sebelumnya, tidak diketahui kemana akan pergi sebelum melihat SK tersebut, SK yang baru ini murni atas permohonan pribadi. Permohonan diri untuk MAASAK RANTAU.

Berkenaan dengan MAASAK RANTAU ini, izinkan saya menyampaikan permohonan maaf dan juga terima kasih, baik selaku pribadi maupun aparatur sipil negara, kepada Bapak/ Ibu dari seluruh jajaran Pemerintah Daerah Kabupaten Lima Puluh Kota. Permohonan ini tentunya ditukan utamanya pada Bapak/Ibu pejabat Eselon II, Eselon III, Eselon IV, Pejabat Fungsional tertentu dan Fungsional umum serta THL pada SKPD tempat saya pernah bertugas, seperti: Bappeda, Dinas Pendidikan, Bagian Perekonomian Sekretariat Daerah, dan Inspektorat Kabupaten Lima Puluh Kota. Bila ada perkataan, perbuatan, dan perlakuan saya selama menjalankan tugas kurang berkenan dihati Bapak/Ibu, kiranya mohon dimaafkan.

Selanjutnya, izinkan juga saya menyampaikan ucapan terima kasih yang sedalam dalamnya kepada Bapak Bupati Lima Puluh Kota (sesuai dengan periodenya) yang telah:

  1. Memberi kesempatan untuk ikut menyusun berbagai dokumen perencanaan sejak dari Repetada, Renstrada, dan Poldas pada awal-awal otonomi daerah, sampai dengan RKPD, RPJMD, dan RPJPD sekarang ini.
  2. Memberi kesempatan mengikuti berbagai DIKLAT tentang perencanaan baik yang dilaksanakan oleh BAPPENAS, KEMENDIKNAS, dan KEMENDAGRI.
  3. Memberi kesempatan untuk berkompetisi untuk mendapatkan beasiswa dari PUSBINDIKLATREN BAPPENAS, sehingga, sebagai anak kampung, saya berkesempatan untuk kuliah di Program Pascasarjana Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.
  4. Memberi kesempatan untuk mengimplementasikan ilmu yang saya peroleh diperguruan tinggi (Ilmu Jenjang S1) dengan menjadi Sekretaris Dinas Pendidikan dan menjadi seorang Kepala Bidang Ekonomi dan Kepala Bagian Administrasi Perekonomian (Ilmu Jenjang S2).
  5. Memberi kesempatan untuk berinovasi seperti menerbitkan PDRB Kabupaten Lima Puluh Kota dalam dua pendekatan (Pendekatan Sektor dan Pendekatan Penggunaan) semenjak tahun 2007 setelah pulang tugas belajar.
  6. Memberi Kesempatan untuk mengeksplor berbagai hal tentang gambir (walaupun seminggu setelah melapor kepada Bupati untuk memakai Tinta Pemilu Berbahan Gambir di Kampung saya, saya dibebastugaskan) sehingga pernah ada DEKLARASI GERBANG GAMBIR NUSANTARA oleh Bapak Gubernur Sunatera Barat, Bupati Lima Puluh Kota, UNAND, POLITANI Payakumbuh, BAPPENAS, KEMENRISTEK, DPRD Lima Puluh Kota, dan Petani Gambir itu sendiri.
  7. Memberi kesempatan untuk mengenal konsep pembangunan ekonomi berbasis pengembangan ekonomi lokal dan daerah (PELD).

Dengan membebastugaskan (baca: menonjobkan) saya, telah membuka cakrawala pemikiran saya, sehingga saya:

  1. dapat berkarya dan menerbitkan sebuah buku tentang kampung halaman saya,
  2. memperoleh gambar dan dokumen tentang tambang emas Mangani (yang mungkin tidak dimiliki oleh orang-orang di Kabupaten Lima Puluh Kota) yang sedang disusun dan dipersiapan untuk menjadi sebuah buku,
  3. memiliki blog pribadi sehingga dapat tetap berekspresi, ketika pena sudah tidak berguna lagi untuk bermohon, meminta ataupun menyetujui.
  4. dapat berjuang untuk menjadi seorang Perencana profesional yang kompeten dan bersertifikat (baca: Fungsional Perencana)

Semoga semua itu dibalas oleh Allah SWT, dan menjadi bekal dan kekuatan yang berharga bagi saya untuk menggapai dan mengisi hari esok yang lebih baik ketika RANTAU SUDAH DIASAK.

Dari perpustakaan pribadi saya, sayup-sayup terdengar “SADANGKAN MANINGGAKAN TAMPEK LAHIA LAH DIKARAJOKAN, APOLAI HANYO MA-ASAK RANTAU”.

Kubang Gajah, 29 April 2018

nspamenan@yahoo.com

Posted in My life | Leave a comment