Sumatera Barat di Parlemen, Hasil Pemilu 1955

pembagian kursi8244054508575136061..jpg

Jumlah Kursi yang diperoleh peserta Pemilu 1955 menurut Dapil

Parintangrintang: Pada hari ini, Rabu 17 April 2019, kita, bangsa Indonesia, melaksanakan kewajiban kita sebagai warga negara untuk menggunakan hak pilih kita di TPS-TPS yang ada. Ada 5 (lima) jenis kertas surat yang kita coblos hari ini. Jumlah terbanyak sejak Pemilu diadakan pertama kali tahun 1955.

Berbicara tentang pemilu tahun 1955, Sumatera Barat merupakan bagian dari daerah pemilihan Sumatera Tengah. Satu dari 16 daerah pemilihan kala itu.Daerah pemilihan Sumatera Tengah dalam Parlemen Hasil Pemilu 1955 memiliki 11 kursi. Kesebelas kursi tersebut diperoleh oleh 4 (empat) partai yaitu: Partai Masyumi dengan 6 (enam) kursi, Partai Islam Perti (Persatuan Tarbiah Islamiah) dengan 3 (tiga) kursi, Partai Komunis Indonesia (PKI) dengan 1 (satu) kursi, dan Partai Politik Tharikat Islam (PPTI) dengan 1 (satu) kursi.

Enam orang yang berasal dari Partai Masyumi tersebut adalah:

  1. Dr. Hadji Ali Akbar
  2. Dr. H. Zainal Abidin Ahmad
  3. Hadji Mansur Daud Dt. Palimo Kajo
  4. Rangkajo Rahmah El Junisiah
  5. Saalah Jusuf Sutan Mangkuto
  6. M. O. Bafadhal

Sedangkan tiga (3) orang yang berasal dari Partai Islam Perti adalah:

  1. H. Roesli Abdul Wahid
  2. Hadji Siradjuddin Abbas
  3. Ma’rifat Mardjani

Satu orang yang terpilih mewakili Partai Komunis Indonesia yaitu Anwar Kadir, dan satu orang yang terpilih mewakili PPTI yaitu Dr. Sjech Hadji Djalaluddin.

Dari sebelas orang wakil Sumatera Tengah di Parlemen tersebut 9 (sembilan) diantaranya kelahiran (berasal dari) Sumatera Barat, kecuali Ma’rifat Mardjani yang berasal dari Lubuk Ambatjang Teluk Kuantan-Riau dan M. O. Bafadhal dari Jambi.

Dari 257 anggota parlemen terpilih hasil pemilu 1955, 19 orang berasal dari (atau lahir di) Sumatera Barat. Disamping sembilan orang yang mewakili Sumatera Tengah sebagaimana dikemukakan di atas, terdapat sepuluh orang lagi yang berasal dari Sumatera Barat mewakili beberapa daerah pemilihan lainnya, masing-masing: Jawa Barat 3 orang, Sumatera Utara 2 orang, masing-masing satu orang mewakili Jakarta Raya, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Tenggara/Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Utara/ Sulawesi Tengah.

Dari 10 orang tersebut, 6 orang berasal dari Partai Masjumi, 1 orang PSII, 1 orang dari PNI dan 1 orang dari Gerakan Pembela Pantjasila, dan 1 orang mewakili NU.

Enam orang yang mewakili Partai Masjumi tersebut adalah:

  1. Sjarif Usman, dari daerah pemilihan Jakarta Raya
  2. Sahar Gelar Sutan Besar, dari daerah pemilihan Sumatera Utara
  3. Mawardi Noor, dari daerah pemilihan Sumatera Utara
  4. Muhammad Isa Anshary, dari daerah pemilihan Jawa Barat
  5. Mohammad Natsir, dari daerah pemilihan Jawa Barat
  6. Ahmad Dara Sjahruddin dari daerah pemilihan Sulawesi Tenggara/ Sulawesi Selatan

Sedangkan tiga lainnya adalah:

  1. Sjahbuddin Latif, mewakili PSII dari daerah pemilihan Sulawesi Utara/Sulawesi Tengah.
  2. Rasjid Sutan Radja Emas, mewakili PNI dari daerah pemilihan Jawa Timur
  3. Mr. Mohammad Yamin, mewakili Gerakan Pentjinta Pancasila dari daerah pemilihan Jawa Barat.
  4. Zainal Arifin Tanamas, mewakili NU dari daerah pemilihan Jawa Tengah

Secara keseluruhan terdapat 12 orang kelahiran Sumatera Barat mewakili Masjumi. Artinya 21 persen wakil Masjumi berasal dari Sumatera Barat. Selanjutnya, 3 orang atau 75 persen dari wakil Partai Islam Perti lahir di Sumatera Barat. Sisanya, satu orang setiap partai atau gerakan.

Dipandang dari usia mereka yang terpilih, yang termuda berusia 33 tahun yaitu Rasjid Sutan Radja Emas kelahiran tahun 1922; sedangkan yang tertua adalah Dr. Sjech Hadji Djalaluddin, berusia 73 tahun (kelahiran tahun 1882). Mereka yang berada pada usia 30-an tahun berjumlah 6 orang; yang berusia antara 40-50 tahun sebanyak 6 orang; berusia 50- 60 tahun sebanyak 4 orang, berusia 60-70 tahun sebanyak 2 orang, dan di atas 70 tahun 1 orang.

Bila dikelompokkan atas dasar daerah asal di Sumatera Barat, mereka dilahirkan pada 6 daerah, yaitu:

  1. Bukittinggi/Agam sebanyak 11 orang, yaitu Ahmad Dara Sjahruddin, Anwar Kadir, Dr. Hadji Ali Akbar, Mansjur Daud Dt. Palimo Kajo, Mawardi Noor, Muhammad Isa Anshary, Rasjid St. Radja Emas, Sahar Gelar Sutan Radja Besar, Siradjududdin Abbas, Dr. Sjech Hadji Djalaluddin, dan Zainal Arifin Tanamas
  2. Solok sebanyak 3 orang yaitu Mohammad Natsir, Sjarif Usman, dan Hadji Zainal Abidin Ahmad
  3. Padang Panjang sebanyak 2 orang, yaitu: Rangkajo Rahmah El Junusiah dan Saalah Jusuf Sutan Mangkuto
  4. Sawahlunto, sebanyak 1 orang yaitu Mr. Mohammad Yamin
  5. Pariaman, sebanyak 1 orang, yaitu Sajhbuddin Latif
  6. 50 Kota, sebanyak 1 orang, yaitu Hadji Roesli Abdul Wahid

Yang sangat menarik dari kehadiran anggota parlemen kelahiran Sumatera Barat tersebut adalah:

  1. Satu orang terpilih mewakili 1 partai dan hanya satu-satunya wakil partai tersebut di Parlemen, yaitu Dr. Sjech Hadji Dajaluddin dari Partai Politik Tharikat Islam (PPTI)
  2. Mr. Mohammad Yamin terpilih dalam pemilu 1955 tidak mewakili partai tetapi mewakili Gerakan Pentjinta Pancasila yang hanya memiliki 2 wakil di Parlemen yang kesemuanya berasal dari daerah pemilihan Jawa Barat.
  3. Kehadiran Bundo Kanduang (baca: wanita Sumatera Barat) di Parlemen tentulah bukan sesuatu yang langka. Rangkajo Rahmah El Junusiah sebagai satu-satu wakil rakyat di parlemen yang terpilih di daerah pemilihan Sumatera Barat pada Pemilu 1955 adalah pioner partisipasi wanita Sumatera Barat di panggung politik. Pergerakan kaum perempuan yang tumbuh subur di Sumatera Barat sejak awal abad ke 20 dibuktikan dengan kehadiran Rangkajo Rahmah El Junusiah di DPR RI sebagai hasil pemilu 1955. Pada Pemilu 2014 yang lalu, Sumatera Barat juga diwakili oleh seorang perempuan di parlemen. Sementara itu, kehadiran perempuan kelahiran ataupun keturunan Sumatera Barat yang terpilih dari daerah pemilihan lainnya dan duduk di Parlemen tentu sangat banyak jumlahnya dan menjadi tantangan bagi perempuan Sumatera Barat ke depannya.

Berikut ini, disajikan foto profil tokoh Sumatera Barat di DPR RI berdasakan hasil Pemilu 1955, yang diambil dari Buku “Hasil Rakjat Memilih Tokoh-Tokoh Parlemen (Hasil Pemilihan Umum 1955)” yang disusun oleh Parlaungan seorang Press Oficer Parlement yang diterbitkan pada tahun 1956.

1. Partai Masjumi

ahmad dara sjahruddin5216582526466169013..jpg

Ahmad Dara Sjahruddin

wp-image6357407597383947734..jpg

Dr. Hadji Ali Akbar

hadji zainal abidin ahmad7829765917098243679..jpg

Hadji Zainal Abidin Ahmad

mansur daud datuk palimo kajo8028044333525502788..jpg

Hadji Mansur Daud Datuk Palimo Kajo

mawardi noor7442856575200820765..jpg

Mawardi Noor

mohammad natsir5134453278024410506..jpg

Mohammad Natsir

muhammad isa anshary1572338068715240194..jpg

Muhammad Isa Anshary

rahmah eljunusiah8781759119131100172..jpg

Rangkajo Rahmah Eljunusiah

saalah jusuf sutan mangkuto6901464369592048864..jpg

Saalah Jusuf Sutan Mangkuto

sahar gelar sutan besar5328023462166839185..jpg

Sahar Gelar Sutan Besar

sjarif usman2626767635327340518..jpg

Sjarif Usman

2. Partai Islam Perti

siradjuddin abbas4758059909176375878..jpg

Hadji Siradjudin Abbas

roesli abdoel wahid-21700448720515547853..jpg

Hadji Roesli Abdul Wahid

3. Partai Komunis Indonesia (PKI)

anwar kadir6408951052136272500..jpg

Anwar Kadir

4. Partai Politik Tharikat Islam (PPTI)

sjech hadji djalaluddin978645451538324019..jpg

Dr. Sjech Hadji Djalaluddin

5. Partai PNI

rasjid st4761143142075281944..jpg

Rasjid St. Radja Emas

6. Partai PSII

sjahbuddin latif216274078478104647..jpg

Sjahbuddin Latif

7. Nahdathul Ulama (NU)

zainal arifin tanamas3368265939036070380..jpg

Zainal Arifin Tanamas

8. Gerakan Pentjinta Pancasila

mohammad yamin7229604577258227575..jpg

Mr. Mohammad Yamin

Bagaimanakah komposisi wakil rakyat di DPR RI, DPD, DPR Prov, dan DPRD Kab Kota hasil pemilihan umum tahun 2019 ini? Kita tentu harus menunggu karena perhitungan suara baru akan dimulai ditingkat TPS.

Perlu waktu beberapa bulan untuk mengetahui hasilnya; Siapa saja yang akan mewakili kita? Siapa saja dunsanak kita yang duduk di parlemen dan dari partai apa?

Semoga tulisan ini dapat menjadi bahan perbandingan terhadap hasil-hasil pemilu yang nanti diumumkan. Ah, Sebuah harapan yang terlalu muluk. Tapi biaralah. Ini hanya sebuah parintangrintang.

* Tulisan ini sebagian besar bersumber dari buku “Hasil Rakjat Memilih Tokoh-Tokoh Parlemen (Hasil Pemilihan Umum 1955)” Parlaungan seorang Press Oficer Parlement yang diterbitkan pada tahun 1956.

Wassalam,

Kubang Gajah, 17 April 2019

nspamenan@yahoo.com

Advertisements
Posted in Politik dan Kekuasaan | Leave a comment

Hadji Roesli Abdul Wahid, Orang Luak Limopuluah Pertama Terpilih Menjadi Anggota Parlemen.

roesli abdoel wahid-1134996308340548103..jpg

Hadji Roesli Abdul Wahid (Foto diambil dari buku Hasil Rakyat Memilih Tokoh-Tokoh Parlemen)

Parintangrintang: Hari ini seperti diberitakan media online, diperingati oleh Pemkab Limapuluh Kota sebagai har ulang tahun Pemerintahan umum Kabupaten Limapuluh Kota ke 178, sesuai Besluit No 1 tanggal 13 April tahun 1841 (walaupun saya masih meragukan tahunnya dan lebih memilih tahun 1840. Lihat: Tentang Hari Jadi Kabupaten Lima Puluh Kota).

Peringatan tersebut tentunya untuk mengingat sesuatu yang penting karena kalau tidak diperingati bisa saja hilang atau dilupakan orang, seperti halnya tokoh Luak Limo Puluah Haji Roesli Abdul Wahid.

Sekedar ingin tahu, masih banyakkah putra-putri luak Limo Puluah Kota, baik generasi zaman old ataupun generadpsi yang mengenal nama ini? Rasanya sangat sedikit yang mengenal tokoh kelahiran 110 tahun yang lalu di Koto Tangah, Suliki (sekarang Kec. Bukik Barisan) Kabupaten Limapuluh Kota. Padahal sosok inilah satu dari 257 orang pertama yang terpilih lewat pemilihan umum pertama di republik ini menjadi wakil rakyat di DPR RI,

Roesli Abdul Wahid terpilih dari daerah pemilihan Sumatera Tengah mewakili Partai Islam Perti, dengan nomor anggota 16.

Namun sayang kiprahnya di parlemen hanya sebentar karena sejak tanggal 24 Maret tahun 1956 telah non aktif karena diangkat menjadi menteri Negara Urusan Umum dalam Kabinet Ali Sastroamidjojo II. Pada tanggal 9 Juli 1956 Roesli Abdul Wahi resmi mengundurkan diri dari DPR.

Jabatan Menteri Negara Urusan Umum tersebut juga hanya sebentar diembannya karena pada tanggal 27 Januari tahun 1957 Presiden Soekarno resmi memberhentikannya melalui Kepres No 10 tahun 1957 tentang pemberhentian H. Roesli Abdul Wahid sebagai Menteri Negara Urusan Umum. Pemberhentian ini merupakan tindak lanjut dari surat Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo tanggal 17 Januari 1957 perihal pengunduran diri Roesli Abdul Wahid sebagai Menteri Negara Urusan Umum.

H. Roesli Abdoel Wahid sebelumnya sudah menjadi anggota parlemen sejak diangkat menjadi anggota DPRD pada bulan November 1954. Dengaan demikian, kiprahnya di panggung politik nasional (baca:parlemen) hanya sekitar 16 bulan.

Kiprah sebagai anggota parlemen dan menteri tersebut melengkapi perjalanan karir Haji Rusli Wahab tokoh penting Perti di dunia politik dan pemerintahan. Berikut catatan karir Haji Roesli Abdoel Wahid sebelum menjadi terpilih dalam Pemilu 1955:

1. Memimpin sekolah menegah tarbiyah Perti di Tabek Gadang, Suliki. (Sekarang,secara adminstrasi, Tabek Gadang terletak di Padang Japang Kecamatan Guguak Kabupaten Limapuluh Kota, dan bukan lagi masuk ke Kecamatan Suliki). Dia memimpin sekolah ini dari tahun 1932-1942.

2. Disamping sebagai pimpinan sekolah Perti di Tabek Gadang, Haji Roesli Abdul Wahid juga memimpin perserikatan Perti di Kabupaten Limapuluh Kota disamping merangkap anggota dewan pimpinan tinggi Perti di Bukittinggi dari tahun 1935-1944.

3. Pada tahun 1944-1945 menjadi ketua perwakilan Madjelis Islam Tinggi daerah Suliki.

4. Sejak tahun 1945 menjadi Ketua Umum pengurus besar Perti di Bukittinggi. April 1950.

4. Cayatan yang ditulis Djohan Effendi dalam “Pembaruan tanpa Membongkar Tradisi” menyebutkan bahwa Rusli Abdul Wahid adalah kemenakan dari Syekh Abdul Wahid Tabek Gadang. Roesli Abdoel Wahid adalah tokoh yang mendirikan Perti dari organisasi yang sebelumnya disebut Tarbiyatush Shufiatil Islamiah (TSI) pada tahun 1935. Sebelumnya melalui Syekh Abdul Wahid Tabek Gadang, Syekh Abdullah Suliki (pendiri TSI) memintanya untuk organisai yang disebut TSI tersebut.

5. Pada tahun 1945 juga pernah menjadi Wakil Ketua Masjumi daerah Sumatera Barat.

6. Menjadi anggota pusat pendaftaran/penyelenggaraa Gyu Gun Ko En Bu Sumatera Barat 1943-1944.

7. Pada tahu 1942-1943 ditunjuk sebagai anggota DPR Sumatera Barat yang bernama sidang kerukunan Minangkabau.

8. Pada tahun 1944-1945 menjadi anggota DPR yang disebut sebagai Syu Sangi Kai Padang

9. Tahun 1945 menjadi KNI cabang Suliki

10. Menjadi Demang di Sijunjung 1945-1949

11. Menjadi Wedana militer daerah Suliki dan Pajakumbuh Utara 1949-1950

12. Wedana diperbantukan pada kantor Kabupaten Limapuluh Kota di Payakumbuh sejak tanggal 29 Mei 1950.

13. Menjadi anggota DPRD Provinsi Sumatera Tengah pada tanggal 1 April 1950.

Mungkin sudah sangat lama, putera Luak Limopuluah tidak duduk di parlemen sebagai anggota legislatif. Terakhir, adalah Walikota Payakumbuh sekarang H. Riza Falepi, ST, MT terpilih sebagai Senator untuk duduk di DPD RI, tahun 2009-2012. Walaupun, sebenarnya, masih ada putra Luak Limopuluah yang duduk di DPR Ri seperti Ir. Arsyadjuliandi Rahman, MBA, putera Nagari Pangkalan Kotobaru (2009-2014), sebenarnya mereka rindu ada anak nagari mereka yang mereka pilih sendiri untuk memperjuangkan nasib mereka di parlemen. Kalau tidak Luak Limapuluah akan terlupakan seperti Hadji Roesli Abdul Wahid yang semakin terlupakan.

* Tulisan ini sebagian besar bersumber dari buku “Hasil Rakjat Memilih Tokoh-Tokoh Parlemen (Hasil Pemilihan Umum 1955)” Parlauangan seorang Press Oficer Parlement yang diterbitkan pada tahun 1956.

Wassalam

Kubang Gajah, 13 April 2019

nspamenan@yahoo.com

Posted in Politik dan Kekuasaan | 2 Comments

Sumbu Pendek

Kita bersaudara
Kita anak bangsa
Kita menghargai perbedaan
Kita adalah Indonesia

Tapi,
Bila pilihan kita berbeda
Jangan sebut bersaudara
Perbedaan telah membuat semuanya tidak berharga
Perjuangan untuk Indonesia itu hanyalah isapan jempol belaka

Sungguh,
Sangat lucu adanya
Entah mabuk apa
Heran aku jadinya
Merobek baju di dada kok bangga

Begitulah adanya
Kalau sudah tergila-gila
Peduli amat persaudaraan
Jangan ajari aku tentang bangsa
Tidak ada alasan untuk berbeda
Begitulah mereka
Sebagian Indonesia

Kubang Gajah, 15 Februari 2019

nspamenan@yahoo.com

Posted in Kisah dan Sajak | Leave a comment

BISUKU

WhatsApp Image 2019-02-12 at 8.31.05 PM

Aku memilih bisu
Bukan karena ragu
Tentang siapa yang ka kucoblos dalam pemilu

Aku memilih bisu
Bukan karena tak mampu
Berdebat ini dan itu tentang si Anu

Aku memilih bisu
Karena aku tak mau
Membabi buta mendukung seperti sahabat lamamu

Aku memilih bisu
Karena zaman telah berubah
Berbeda arah dianggap salah
Tak ikut arus akan diberangus
Tidak menjadi sahabat tidak akan dapat

Aku memilih bisu
Karena kawan telah menjadi relawan
Yang lebih kuat dari aparat
Yang lebih hebat dari malaikat

Aku memilih bisu
Karena yang kulihat
Buku Agenda yang masih berlambang garuda
Ternyata huruf dan kata-kata yang tertera
Bukan aksara yang biasa kueja
Bukan nama kota yang ada di atlasku

Aku memilih bisu
Karena yang kumakan pada saat hadirnya
Bukan rambutan ataupun duku
Bukan apel malang apalagi jeruk Siam Gunuang Omeh
Tetapi jeruk yang diimpor itu

Aku memilih bisu
Karena tak mampu menyembunyikan maluku
Pada cintaku pada produk ibu pertiwi
Pada tomat yang dibuang di jalan
Pada petani yang takkan pernah mengerti

Aku memilih bisu
karena aku malu
Pada para pendahulu ku

Aku memilih bisu
Jangan anggap aku ada di pihakmu

 

Kubang Gajah, 12 Februari 2019

nspamenan@yahoo.com

Posted in Kisah dan Sajak | Leave a comment

Jelaga luka

Ketika aksara tak lagi bisa dieja,
paparkanlah kisah sehelai benang.
Tentang menyulam bayangan huruf nan terjerembab luka.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Tahun Baru Tanpa Petasan dan Kembang Api

Kalau memang suka, lakukanlah.
Tak mesti orang harus mengikuti mu kawan.
Kalau orang tak suka dan memilih melakukan yang berbeda dari sebelumnya kenapa mesti nyinyir dan menyindir nyindir sambil nyengir
Entah, kalau itu memang sudah bawaan yang mendarah daging

Kalau memang ingin bermain petasan dan kembang api beli dan ledakanlah.
Tak perlu orang yang pergi ke mesjid yang kau risaukan, tak perlu kau bandingkan dengan letusan kembang api di negara lain yang berkilau.
Entah, kalau dihatimu ada benci yang telah berkarat.

Kalau orang sudah tak lagi hirau dengan mu, cobalah renungkan apakah kau pernah menerima pendapat orang lain.
Kalau ada orang yang coba mengingatkanmu jangan-jangan kau telah tersesat dan mereka peduli dengan arahmu.

Kalau disekelilingmu hanya itu saja parasnya dimana tali darahnya serupa dengan dirimu, maka cobalah berhenti, tak perlu kau komentari, apalagi membuli seperti irama tarian masa kini, cukup introspeksi.

Kenapa di malam tahun baru ini tak banyak terompet, petasan dan kembang api.

Kubang Gajah, 1 Januari 2019

nspamenan@yahoo.com

Posted in Uncategorized | Leave a comment

MANGANI KOTA TAMBANG YANG HILANG: De Onzichtbare mijnkuil

Parintangrintang: Kemaren, Rabu 28 November 2018, Koran Haluan di halaman pertamanya menulis hampir satu halaman penuh tentang sepak terjang tenaga kerja asing di Kabupaten Lima Puluh Kota. Hal ini sepertinya cukup mengagetkan semua orang, walaupun beberapa hari sebelumnya media online sudah menulis tentang warga negara asing (WNA) berkebangsaan Cina yang telah bersimeraja lela memasuki kawasan hutan lindung di barat laut Nagari Koto Tinggi Kecamatan Gunuang Omeh Kabupaten Limapuluh Kota. Tujuannya, disinyalir adalah melakukan eksploitasi penambangan emas pada bekas tambang emas tua di Mangani. Wilayah pertambangan yang sudah ditinggalkan dan telah menjadi “Kota yang Hilang” dan coba untuk dilupakan oleh peneliti, bahkan pemerintah dengan memasukannya sebagai kawasan suaka alam Alahan Panjang Malampah
Betapa tidak, beberapa bulan sebelumnya, Koran Padang Ekspres (Padek) telah menulis tentang potensi tambang emas ini berikut tulisan tentang kisah kota tambang Mangani. Dengan mengutip blog ini, Padek sebelumnya telah menyampaikan kepada Wamen ESDM dalam kunjungannya ke Kabupaten Lima Puluh Kota. Namun, sepertinya pak Menteri ragu kala itu. Tanggapan bahwa jangan-janga apa yang disampaikan kala itu hanyalah ‘false hope’ alias PHP, sepertinya cukup untuk meyakini bahwa keberadaan tambang Mangani memang sudah dilupakan (baca:hilang)

Sepertinya berita besar tentang kedatang WNA untuk melakukan eksploitasi di eks tambang emas mangani merupakan jawaban atas keraguan tersebut. Mangani bukanlah ‘false hope’ apalagi sebuah Hoaks.
Kalau begitu, kita anggap apa ya? Pengaburan informasi atau ketidaktahuan. Terserah.

Kembali ke berita yang hangat itu lagi. Setelah dilakukan inspeksi mendadak oleh Wakil Bupati bersama imigrasi dan pihak lainnya, ternyata tidak ada WNA yang menambang di Koto Tinggi atau Pua Data. Semua sudah pergi, mengutip keterangan pihak berwenang.
Pertanyaannya, apakah mereka sudah mengeceknya ke lokasi eks penambangan milik West Sumatra Mijnen Sindycaat yang kemudian berganti kepemilikan dengan Mijnbouw Maatschappij Aequator (MMA) dan terakhir dikuasai oleh Marsman sebelum kedatangan bangsa Jepang di tahu 1942.
Sejarah tambang emas Mangani, sudah pernah diulas pada blog ini, dan kemungkinan dikutip oleh beberapa penulis lainnya.

Perlu diketahui bahwa West Sumatra Mijnen Syndicaat ini memiliki dua konsesi pertambangan (blok) yaitu:
1. Konsesi atas Blok Equator. Blok ini dipercaya memiliki kandungan emas, perak, mangan, perunggu, dan tembaga pada wilayah seluas 987 ha untuk jangka waktu 75 tahun sejak tahun 1910 dengan nilai 0,25 Gulden perhektar pertahun.
2. Konsesi atas blok yang disebut Bangket. Blok ini dipercaya memiliki kandungan emas dan perak dengan luas 986ha untuk jangka waktu 75 tahun dengan nilai 0,25 Gulden perhektar pertahun.
Pertanyaannya, adakah aparat terkait tersebut mengetahui lobang tambang yang ada di kawasan tersebut. Jika tidak tahu, kemana hendak mencari? Mana mungkin para WNA penambang itu dapat ditemukan. Terlebih jika mereka sudah berada dan memasuki bekas lobang tambang tersebut, yang panjangnya ada yang mendekati 1 kilometer dari mulut lubang tambang.
Pertanyaannya, siapakah yang tahu seberapa banyak lubang tambang yang ada dan dimana kira-kira lokasinya, sementara data, dan informasi tentang lubang tambang tersebut tidak ada yang punya. Jadilah lubang tambang yang telah tertutup pohon sebagai bagian dari hutan lindung tersebut sebagai De Onzichtbarre Mijnkuil atau lubang tambang yang tersamarkan.

Untuk De Onzichtbarre Mijnkuil atau lubang tambang yang tersamarkan ini, ada dua peta geologi (yang saya punya) yang dapat menunjukkan berapa banyak lubang tambang di kawasan tersebut dan dimana kira-kira lokasinya.

Peta dengan model kontur yang sama, dengan letak dan jumlah lubang tambang yang berbeda. Peta yang dibuat lebih awal (1930an) memiliki jumlah lubang tambang yang lebih banyak yakni 15. Sedangkan peta terakhir (dibuat 1957) hanya menyisakan 9 lubang tambang.
Tidak diketahui kenapa peta terakhir lebih sedikit lubang tambangnya.

Apakah ada maksud menyembunyikan sesuatu? Entahlah.
Terdapat 13 nama lubang tambang pada peta 1, dimana dua lubang tambang memilki dua lubang yang tidak berhubungan walaupun letaknya berdekatan. Adapun Lubang tambang (Lt) tersebut adalah:
1. Lt. Toemboek,
2. Lt Sampit 1
3. Lt Sampit 2
4. Lt. Kulit Manis
5. Lt. Rumput Pait
6. Lt. Brani
7. Lt. Rambutan
8. Lt. Silver (Perak)
9. Lt. Egert
10. Lt. Mangani
11. Lt. North (Utara)
12. Lt. Hospital (Rumah Sakit)
13. Lt. Rambutan Tinggi 1
14. Lt. Rambutan Tinggi 2
15. Lt. Sarasah
Terdapat 5 (lima) lubang tambang di belahan selatan khatulistiwa, yaitu Lt. Tumbuk, Lt Sampit 1, Lt Brani, Lt. Rambutan, dan Lt. Silver (Perak), dan 10 lubang tambang lainnya di belahan utara khatulistiwa.
Lubang tambang paling selatan adalah Lt. Tumbuk; Lubang tambang paling utara adalah Lt. North (Utara); Lubang tambang paling barat adalah Lt Kulit Manis; Lubang tambag paling timur adalah Lt. Sarasah.
Lubang Tambang ini terletak di antara hamparan hutan yang membentang di utara Bukit Palantar dan Bukit Guntung (terletak di utara Pagadis) sampai ke Bukit Galanggang di utara.
Sementara itu, pada peta kedua terdapat 9 lubang tambang, yaitu:
1. Lt. Brani
2. Lt. Sampit
3. Lt. Rumput Pait
4. Lt. Rambutan
5. Lt. Silver (perak)
6. Lt. Mangani
7. Lt. North (Utara)
8. Lt. Hospital
9. Lt. Egert
Terdapat tiga lubang tambang di bagian selatan khatulistiwa, dan enam lubang tambang di utara khatulistiwa.
Ada enam lubang tambang yang tidak muncul pada peta kedua,
Yaitu, Lt. Tumbuk, Lt. Kulit Manis, Sampit 2, dan Lt. Sarasah, dan Lt Rambutan Tinggi 1 dan Lt. Rambutan Tinggi 2.
Berkemungkinan, karena rentang waktu yang panjang yakni sekitar 30 tahun lubang tambang itu tidak ditemukan oleh geologis yang membuat peta tersebut. Artinya, lubang tambang itu ada tapi tidak dapat/belum ditemukan kala itu.
Dengan kata lain sebelum Mangani menjadi Kota Tambang yang Hilang, Lubang Tambangngya sudah terlebih dahulu disamarkan. Jadilah Mangani Kota Tambang yang hilang dengan lubang tambang yang disamarkan De Onzichtbare mijnkuil.

Kubang Gajah, 29 November 2018

nspamenan@yahoo.com

Posted in Mangani, Kota Tambang yang Hilang | Leave a comment