PIDATO BUNG HATTA PADA PERESMIAN FAKULTAS KEDOKTERAN DAN FIPIA DI BUKITTINGGI: Demokratisasi Pendidikan Jalan Terang Untuk Anak-Anak dari Pelosok Negeri

Sejarah, Inspirasi, dan Dedikasi Dibalik Lahirnya Fakultas Kedokteran Unand #3

De Nieuwsgier, 10 September 1955

Oleh: Nalfira Pamenan

Parintangrintang: Dengan suara khasnya yang tenang namun penuh wibawa, Wakil Presiden Mohammad Hatta menyampaikan pidato yang sarat visi dan futuristik, selaras dengan cita-cita kemerdekaan serta amanat Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia. Di hadapan sejumlah pemimpin bangsa, pejabat daerah, tokoh masyarakat, ninik mamak, bundo kanduang dan cerdik pandai se-Sumatra Tengah, Bung Hatta menegaskan arah baru pendidikan tinggi Indonesia pasca-kemerdekaan.

Siapa saja yang hadir baca: SAAT FAKULTAS KEDOKTERAN AKAN MENJADI KENYATAAN: BUKITTINGGI, 5 SEPTEMBER 1955

Baca juga: PERESMIAN FAKULTAS KEDOKTERAN DAN FIPIA DI BUKITTINGGI, 7 SEPTEMBER 1955

Dalam peresmian Fakultas Kedokteran dan Fakultas Ilmu Pasti dan Ilmu Alam di Bukittinggi itu, ia menolak pandangan sempit bahwa berdirinya gedung-gedung fakultas sudah cukup untuk membanggakan bangsa. Bagi Hatta, esensi sebuah perguruan tinggi tidak terletak pada megahnya bangunan, melainkan pada kualitas pendidikan yang mampu melahirkan generasi pemimpin.

Mendirikan bangunan fakultas bukanlah perkara sukar. Yang utama ialah bagaimana memberi didikan akademis yang dapat membentuk mahasiswa menjadi pemimpin masyarakat,” tegasnya.

Hatta juga menekankan bahwa keberlangsungan fakultas tidak bisa hanya mengandalkan negara, melainkan perlu dukungan rakyat. Ia mencontohkan universitas di Amerika yang sebagian besar berdiri dan berkembang berkat sokongan swasta. Tak lupa, ia menyerukan pentingnya fasilitas memadai, khususnya laboratorium lengkap bagi Fakultas Kedokteran, serta solusi kreatif untuk mengatasi kekurangan tenaga pengajar.

Visinya pun jauh ke depan. Hatta mengusulkan agar Indonesia kembali menengok sistem pendidikan ala STOVIA yang memberi kesempatan anak-anak lulusan sekolah rendah menempuh pendidikan panjang hingga menjadi dokter. “Apabila kita hendak mendemokratisasikan pendidikan, maka kesempatan belajar harus pula diberikan kepada mereka dari daerah terpencil,” ujarnya, sembari menyinggung perlunya jalan bagi putra-putra dari Kepulauan Riau dan daerah jauh lainnya.

Lebih jauh, Hatta juga menekankan pentingnya fasilitas memadai, terutama laboratorium bagi Fakultas Kedokteran, sekaligus mengingatkan bahwa minat tenaga pengajar asing kerap kandas bukan karena gaji kecil, melainkan keterbatasan sarana belajar. Di sinilah beliau melihat perlunya solusi kreatif, salah satunya dengan menengok kembali sistem pendidikan ala STOVIA yang membuka kesempatan luas bagi anak-anak dari daerah terpencil untuk menapaki tangga ilmu.

Amanat ini berakhir dengan pesan visioner: fakultas yang didirikan di Bukittinggi tersebut harus benar-benar menjadi “lembaga tinggi,” bukan sekadar nama. Kritiknya terhadap rendahnya mutu lulusan SMA saat itu memperlihatkan kepedulian mendalam seorang negarawan yang tidak hanya meresmikan, tetapi juga memberi arah pembangunan pendidikan Indonesia.

Selamat Lustrum ke XIV dan Dies Natalis ke-70 Fakultas Kedokteran Universitas Andalas, tulisan ini untuk mengingatkan, bahwa peristiwa perlu dicatat, sejarah perlu diingat, masa depan perlu dirancang, dan perjuangan perlu dilanjutkan.

Ditulis orang yang suka mengulik dokumen masa lalu sebagai parintangrintang.

Kubang Gajah, 7 September 2025

nspamenan@yahoo.com

Posted in Dokter Minang, Sejarah Fakultas Kedokteran Unand, Sejarah Kedokteran Minang | Leave a comment

THE VUURVLIEGJES: Tentang Dokter Chaidlir Anwar, Cahaya Yang Padam Terlalu Cepat

Sejarah, Inspirasi, dan Dedikasi Dibalik Lahirnya Fakultas Kedokteran Unand #7

De nieuwe vorstenlanden, 26 Juni 1914

Oleh: Nalfira Pamenan

Parintangrintang: Dokter Chaidlir Anwar bukan sekadar seorang dokter muda berbakat dari Koto Gadang, tetapi juga simbol generasi intelektual bumiputra yang hidup di persimpangan zaman: prestasinya diakui, namun keberadaannya tetap dibatasi oleh diskriminasi kolonial. Laporan tahunan Indische Universiteitsvereeniging (I.U.V.) tahun 1913, yang termuat dalam De Nieuwe Vorstenlanden edisi 26 Juni 1914, mencatat keterlibatannya secara aktif dan menegaskan kapasitas intelektualnya. Namun, akhir hidupnya yang tragis justru memperlihatkan rapuhnya posisi kaum terpelajar pribumi di tengah struktur sosial kolonial yang timpang.

Perlu diketahui, I.U.V. adalah perkumpulan intelektual Hindia Belanda yang memperjuangkan pendirian universitas di tanah jajahan. Bergabungnya Chaidlir Anwar sebagai Adjunct-Secretaris (Wakil Sekretaris) menunjukkan bahwa ia sudah masuk lingkaran elit intelektual Hindia di Batavia, padahal usianya masih sangat muda (25 tahun) dan baru saja lulus dari STOVIA. Dalam laporan tahunan 1913 itu, Chaidlir digambarkan sebagai “jongen sympathieken en intelligenten Inlander” (seorang pribumi muda yang simpatik dan cerdas).

Baca: CHAIDLIR ANWAR (1888-1913): Kisah Dokter Muda Minang Berbakat Namun Hidupnya Berakhir Tragis

Namun, ironinya besar. Laporan itu menyebut pengurus hanya sebentar merasakan pengabdian Chaidlir karena ia meninggal mendadak. Kita tahu dari sumber lain bahwa ia bunuh diri karena tekanan batin: sudah berpendidikan tinggi, hidup modern ala Eropa, tetapi tetap dipandang sebagai “pribumi kelas dua”. Sebuah paradoks: diakui oleh kalangan elit, tapi tetap terhalang dinding diskriminasi struktural. Penghargaan formal tidak cukup untuk menghapus keterasingan sosial yang ia rasakan. Ia adalah anak zamannya: prestasinya diakui, kecerdasannya menembus batas, namun langkahnya tetap dibatasi oleh dinding diskriminasi kolonial. Tetapi, riwayat hidupnya yang berakhir tragis justru mengingatkan kita bahwa cahaya kaum intelektual bumiputra kerap redup di tengah bayang-bayang ketidakadilan kolonial.

Berita tentang wafatnya dr. ChaidlirAnwar segera tersebar luas dan menjadi perbincangan pada masanya. Salah satu catatan penting dapat ditemukan dalam koran Preanger Bode edisi 15 November 1913, yang memuat penjelasan mengenai alasan di balik keputusan tragis dokter muda itu untuk mengakhiri hidupnya.

Inilah tangkap tangkap berita yang dimuat dalam Preanger Bode tersebut

De Preager Bode 15 November 1913

Terjemahannya

ALASAN UNTUK BUNUH DIRI!
Dokter pribumi Chaid[l]ir Anwar—sebagaimana namanya sudah menunjukkan: seorang putra Sumatra—telah mengakhiri hidupnya pada malam yang lalu dengan cara menggantung diri, demikian dilaporkan oleh Bataviaasch Handelsblad.

Alasan dari tindakannya yang penuh keputusasaan itu dijelaskan sendiri oleh almarhum dalam sebuah surat. Di situ ia menuliskan bahwa ia mengakhiri hidupnya karena, meskipun telah memiliki tingkat perkembangan seperti orang Eropa, ia “tidak akan pernah bisa menjadi seorang Eropa.”

Selain surat itu, di rumahnya di Gang Tengah (Batavia) juga ditemukan dua surat lain: satu ditujukan kepada dr. Bakker, tempat ia menjadi asisten, dan satu lagi kepada dr. Noordhoek Hegt, salah seorang guru lamanya.

Berita di Preaner Bode ini memberi gambaran telanjang tentang jurang diskriminasi di Hindia Belanda awal abad ke-20. Chaidlir Anwar, seorang dokter pribumi cerdas lulusan terbaik STOVIA, merasa keberadaannya senantiasa diukur dengan standar kulit putih. Meskipun ia memiliki pendidikan, kecakapan, dan wawasan setara orang Eropa, ia sadar tembok sosial kolonial tidak memberinya tempat sejajar.

Kalimat dalam surat terakhirnya—bahwa ia “meski telah berkembang seperti orang Eropa, takkan pernah menjadi orang Eropa”—adalah jeritan batin seorang intelektual muda yang tertindas stigma rasial. Di satu sisi ia diakui, bahkan dipercaya sebagai asisten dosen dan dokter; di sisi lain, identitas “pribumi” tetap melekat sebagai batas tak kasatmata yang menghalangi kesetaraan.

Kabar yang ditulis media kolonial dengan gaya sensasional ini sebetulnya membuka tabir tragedi lebih besar: diskriminasi sistematis telah merampas masa depan generasi terpelajar asal ranah minang ini. Bunuh diri Chaidlir Anwar pada usia 25 tahun bukan semata tindakan personal, melainkan simbol kehancuran psikologis akibat tekanan struktur kolonial yang terus-menerus menegaskan inferioritas kaum terjajah.

Kematian dr. Chaidlir Anwar pada November 1913 tidak hanya meninggalkan luka bagi keluarga dan rekan-rekannya, tetapi juga memicu perdebatan tajam di media kolonial. De Javapost, sebuah surat kabar konservatif, menanggapi kepergiannya dengan nada sinis. Mereka menyinggung bunuh dirinya dengan perbandingan murahan, seakan-akan tragedi itu hanyalah kelemahan personal, bukan hasil dari tekanan diskriminatif yang sistematis. Dengan cara ini, De Javapost memperkuat stigma bahwa kaum bumiputera, betapapun cerdasnya, tetaplah “lain” dan tidak setara.

Namun, sikap itu tidak dibiarkan begitu saja. De Express, sebuah koran progresif yang dipimpin oleh Douwes Dekker, bersama Suwardi Suryaningrat dan Tjipto Mangunkusumo membela Chaidlir Anwar dengan keras. Mereka yang dikenal sebagai pendiri Indische Partij, organisasi politik pertama yang secara terang-terangan menuntut kemerdekaan Hindia Belanda. Melalui De Express, ia menjadikan kasus Chaidlir Anwar sebagai bukti nyata bahwa diskriminasi kolonial bukan hanya merendahkan martabat bumiputera, tetapi juga mematikan potensi terbaik bangsa.

Tulisan berjudul “Vuurvliegjes” yang dimuat dalam De Express edisi 28 November 1913 bukanlah sekadar berita duka, melainkan sebuah serangan balik terhadap wajah diskriminatif pers kolonial semacam De Javapost. Alih-alih hanya melaporkan tragedi bunuh diri dr. Chaidlir Anwar, artikel ini justru menyingkap luka yang lebih dalam: bagaimana sistem kolonial yang timpang dan media yang bias membuat kaum terpelajar pribumi tetap dipandang rendah, meskipun prestasi mereka gemilang.

Lebih jauh, De Express menulis dengan getir: “Kamilah yang berdiri di pihak Chaidlir Anwar.” Mereka menggambarkan pemakamannya di Karet sebagai prosesi penuh haru: ratusan murid dan dokter muda mengantar jenazah, para guru STOVIA hadir dengan seragam resmi, bahkan direktur sekolah Dr. Noordhoek Hegt menyampaikan pidato dengan suara bergetar menahan tangis. Semua itu kontras dengan cibiran De Javapost yang sekadar melihat tragedi ini sebagai kegagalan individu.

Chaidlir Anwar digambarkan bukan hanya sebagai murid terbaik STOVIA dan peringkat pertama ujian, tetapi juga seorang anak yang berbakti, sosok dengan karakter mulia, serta harapan bagi keluarganya yang yatim piatu. Ribuan langkah yang mengiringi jenazahnya ke Karet—para sahabat, guru, hingga dokter Eropa—menjadi bukti bahwa ia dicintai dan dihormati lintas batas.

Dengan demikian, kematian Chaidlir Anwar menjadi medan “perang wacana” di media kolonial. De Javapost mewakili suara konservatif yang mempertahankan superioritas Eropa, sementara De Express memperlihatkan keberanian untuk menantang narasi diskriminatif itu. Di balik pena Douwes Dekker, Suwardi Suryaningrat dan Tjipto Mangunkusumo, De Express menggunakan tragedi ini untuk mengobarkan kesadaran: bahwa Hindia Belanda membutuhkan perubahan radikal, agar anak-anak bangsa tidak lagi mati muda karena dipatahkan oleh diskriminasi.

De Express 28 November 1913

KUNANG-KUNANG
Buah dari Penjajahan

De Javapost menulis bahwa seorang dokter pribumi, meskipun berpendidikan Eropa, toh tidak akan pernah bisa menjadi orang Eropa, lalu karena putus asa akan hal itu ia menggantung diri. Surat kabar itu menyebut peristiwa ini sebagai kecaman terhadap pendidikan netral. Betapa beraninya mereka menulis demikian! De Javapost mungkin juga masih ingat seorang lain yang gantung diri: Yudas, buah dari Kekristenan.

Namun kami berpihak pada Chaidlir Anwar, meskipun ia telah melakukan kebodohan dengan mengakhiri hidupnya sendiri karena sakit hati terhadap perlakuan surat kabar macam Javapost, Kawee, dan sekutunya, yang setiap hari, bahkan setiap jam, membuat kaum pribumi terpelajar merasakan “rendahnya martabat” mereka, dan menjadikan segala jerih payah serta usaha keras yang telah mereka lakukan untuk berkembang, seolah sebagai sebuah kutukan.

Kamulah, wahai orang-orang Kristen dari Javapost, yang membuat karakter mulia seperti Anwar mengutuki jam ketika ia dilahirkan.

Beberapa ratus kawan datang ke pemakamannya untuk memberi penghormatan terakhir. Sesama murid dan mantan murid. Mereka memikul sendiri keranda jenazah itu dengan berjalan kaki di bawah terik matahari ke Karet, lebih dari satu jam perjalanan dari Noordwijk; tak seorang pun lain yang mau menyentuhnya. Para guru Sekolah Dokter (STOVIA) hadir dalam seragam mereka, banyak pula sahabat-sahabat Eropa berdiri di sisi makam untuk mengucapkan selamat tinggal dalam diam.

Direktur Sekolah Dokter mengenang hidup muda yang berakhir begitu tragis itu: murid terbaik sekolah, peringkat pertama dalam ujian, berkarakter mulia, seorang anak yang penuh perhatian terhadap ibunya serta saudara-saudaranya yang yatim piatu bersamanya. Ada getaran dalam suaranya ketika Dr. Noordhoek Hegt berbicara, begitu pula air mata di mata banyak orang yang hadir…

Dan Javapost hanya menyeringai: satu dokter Jawa dibuang, satu lagi menggantung diri…

Kisah hidup dan kematian dr. Chaidlir Anwar lebih dari sekadar catatan duka dari tahun 1913 yang tak lagi diingat apa lagi kenang. Tetapi, kisah hidupnya adalah cermin getir bagaimana diskriminasi struktural dapat merenggut harapan generasi terbaik. Di usia 25 tahun, ia telah menembus batas pendidikan kolonial, menjadi lulusan terbaik STOVIA, asisten dosen, dan dokter muda yang cerdas serta disegani. Namun, tembok rasial yang dibangun kolonialisme membuat semua prestasi itu terasa sia-sia. Ia dipuji, tetapi tidak pernah benar-benar diterima.

Sekali lagi, surat terakhirnya yang menyebutkan bahwa ia “takkan pernah menjadi orang Eropa” adalah pengakuan pedih: seberapa tinggi pun ia terbang, langitnya dibatasi. Tekanan psikologis itu akhirnya menjerumuskannya pada keputusasaan, hingga ia memilih jalan tragis mengakhiri hidupnya.

Baca: FAKULTAS KEDOKTERAN UNAND: Dedikasi Mr. Muhammad Yamin untuk dokter Chaidlir Anwar

Hari ini, lebih dari seratus tahun setelah kepergiannya, kisah ChaidlirAnwar masih relevan. Ia mengingatkan kita bahwa diskriminasi—dalam bentuk apa pun—selalu berbahaya, bukan hanya bagi martabat manusia, tetapi juga bagi masa depan suatu bangsa. Ia juga mengajarkan bahwa kesehatan mental tak bisa dipisahkan dari lingkungan sosial; stigma, marginalisasi, dan rasa tidak diakui bisa sama mematikannya dengan penyakit fisik.

Mr. Muhammad Yamin, mengenangnya, dan mendedikasikan usaha-usahanya untuk mendirikan Fakultas Kedokteran di Ranah Minang to tahun yang lalu, 42 tahun setelah kepergiannya.  Saatnya, pada setiap dies natalis dan lustrum Fakultas Kedokteran Unand setiap keluarga besar Fakultas Kedokteran, tidak hanay menundukkan kepala untuk kehilangan yang tragis, tetapi juga menegakkan kepala untuk memastikan tak ada lagi generasi yang “mati muda” karena tersisih oleh diskriminasi.

Jangan sampai lupa, mengirimkan doa untuk Mr. Muhammad Yamin yang gigih memperjuangkan berdirinya Fakultas Kedokteran, dan Universitas Andalas!!

Disclaimer: Mr. Muhammad Yamin menuliskan “Teruntuk dokter ChaidlirAnwar”. Dalam pencarian dan referensi berupa lulusan STOVIA yang diperkirakan berasal dari Sumatera Barat tidak ditemukan nama ChaidlirAnwar. Nama yang ada adalah Chaidlir Anwar. Chaidlir Anwar tercatat sebagai lulusan STOVIA ke 237 pada daftar LIJST der aan de STOVIA vanaf 1877 afgestudeerden yang termuat dalam buku ONTWIKKELING VAN HET GENEESKUNDIG ONDERWIJS TE WELTEVREDEN 1851 1926 (UITGEGEVEN TER HERDENKING VAN HET 75-JARIG BESTAAN VAN DE School Tot Opleiding Van Indische Artsen). Sering kali dalam beberapa dokumen ditemukan nama Chaidlir Anwar dan ChaidlirAnwar, yang sebenarnya merujuk pada orang yang sama.

Selamat Lustrum ke XIV dan Dies Natalis ke-70 Fakultas Kedokteran Universitas Andalas, tulisan ini untuk mengingatkan, bahwa peristiwa perlu dicatat, sejarah perlu diingat, masa depan perlu dirancang, dan perjuangan perlu dilanjutkan.

Ditulis orang yang suka mengulik dokumen masa lalu sebagai parintangrintang.

Kubang Gajah, 7 September 2025

nspamenan@yahoo.com

#dokter_Minang #Sejarah_Fakultas_Kedoteran_Unand #Sejarah_Kedokteran_Minang

Posted in Dokter Minang, Sejarah Fakultas Kedokteran Unand, Sejarah Kedokteran Minang | Leave a comment

CHAIDLIR ANWAR (1888-1913): Kisah Dokter Muda Minang Berbakat Namun Hidupnya Berakhir Tragis

Sejarah, Inspirasi, dan Dedikasi Dibalik Lahirnya Fakultas Kedokteran Unand #6

Oleh: Nalfira Pamenan

Parintangrintang: Inilah Kisah dokter muda Minang yang berbakat namun berakhir tragis karena tekanan budaya dan sosial. Namanya muncul pada halaman 11 pidato Mr. Muhammad Yamin, mantan Menteri, Pengajaran, Pendidikan dan Kebudayaan, pada saat perayaan peresmian Fakultas Kedokteran dan FIPIA di Bukittinggi pada tanggal 7 September 1955.  Mungkin tidak banyak yang “ngeh” pada saat itu (apa lagi sekarang) ketika Mr. Muhammad Yamin tiba-tiba membacakan sebuah persembahan khusus yang berjudul “SUNTING MINANG Kepada dokter Chaidir Anwar.” dalam pidatonya yang berjudul Minang Membentuk Universitas. (Arsip tersimpan pada Perpustakaan Nasional di Jakarta.)

Baca: https://parintangrintang.wordpress.com/2025/09/07/minang-membentuk-universitas-dari-obsesi-mr-muhammad-yamin-ke-realisasi/

Walaupun tidak dikenal, saat ini, dokter Chaidlir Anwar adalah seorang pemuda yang cemerlang di awal abad ke-20. Namanya pernah dan berkali-kali muncul di kolom-kolom kecil koran berbahasa Belanda, yang mengabarkan tentang pencapaian siswa School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA), yang sering disebut sebagai sekolah dokter jawa ataupun sekolah dokter pribumi.

Dari berita-berita tersebut, dan sumber lainnya, kemudian dapat dikonstruksi tentang siapa dokter Chaidlir Anwar yang kepadanya Mr. Muhammad Yamin mendedikasikan pendirian Fakultas Kedokteran Univeritas Andalas.  

Chaidlir Anwar, mengacu kepada berita pada kolom-kolom tersebut adalah seorang anak muda yang cerdas dan briliant, menjadi dokter pada usia 25 tahun namun bernasib tragis karena mengakhiri hidupnya dengaa cara buduh diri. Jejak arsip itu membentuk kisah seorang pribumi terpelajar yang menembus jenjang pendidikan tinggi kolonial, namun tergilas oleh dinding tak kasatmata bernama hirarki rasial.

Dokter Chaidlir Anwar: Vuurvliegjes van Minangkabau

Dokter Chaidlir Anwar diperkirakan lahir pada tahun 1888 di Koto Gadang Agam Sumatra’s Westkust (Sumatera Barat). Pada buku daftar alumni STOVIA tertulis 1901, rasanya hal ini mustahil. Chaidlir Anwar satu kampung dan satu angkatan dengan Prof. Dr. Mohammad Sjaaf, seorang dokter dan dosen yang pernah menjabat dekan pertama Fakultas Kedokteran Universitas Andalas (Unand) juga sebagai rektor Unand pertama.

Chaidlir Anwar masuk Stovia pada 4 Januari 1904. Beberapa berita tentang pencapaian studinya tercatat jelas pada beberapa surat kabar. Pada tanggal 11 November 1904, namanya diumumkan naik dari kelas pertama ke kelas kedua di Voorbereidende Afdeeling, bagian persiapan sebelum masuk ke tahap studi utama (Soerabaijasch Handelsblad, 11-11-1904). Catatan ini menunjukkan bahwa ia tengah menapaki proses awal menjadi calon dokter jawa (Indisch Arts). Beberapa hari sebelumnya, tepatnya 7 November 1904, sebuah laporan tentang kenaikan tingkat para senior STOVIA juga dimuat di surat kabar. Di sana, tercantum nama “Tjipto”—yang tak lain adalah dr. Tjipto Mangunkusumo—sebagai salah seorang siswa senior yang sudah berada pada tahap lanjut (Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indië, 07-11-1904).

Pada tahun 1908, Chaidlir Anwar memasuki bagian inti pendidikan kedokteran di STOVIA yang dikenal sebagai Geneeskundige Afdeeling (GA). Kemajuan studinya tercatat dalam berita pada 19 September 1908, ketika ia dinyatakan naik dari GA tahun pertama ke tahun kedua tanpa syarat (Bataviaasch Nieuwsblad, 19-09-1908). Setahun kemudian, perkembangan pendidikannya kembali diberitakan. Pada 15 September 1909, ia dilaporkan berhasil naik dari GA tingkat kedua ke tingkat ketiga (Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indië, 15-09-1909).

Pada 5 September 1910, ia dinyatakan naik tingkat dari tahun ketiga ke tahun keempat di Geneeskundige Afdeeling (Preanger Bode, 05-09-1910). Kemajuan itu berlanjut pada 19 Agustus 1911, ketika Bataviaasch Nieuwsblad memberitakan bahwa Chaidlir Anwar berhasil naik tingkat dari tahun keempat ke tahun kelima tanpa perlu mengulang ujian. Setahun berselang, pada 5 Agustus 1912, ia kembali tercatat naik tingkat dari tahun kelima ke tahun keenam, yaitu kelas terakhir di STOVIA (Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indië, 05-08-1912). Rangkaian pencapaian ini menunjukkan konsistensi prestasi akademik Chaidlir Anwar yang menakjubkan.

Memasuki tahun 1913, perjalanan akademik Chaidlir Anwar mencapai tahap penentuan. Pada 22 Maret 1913, De Nieuwe Vorstenlanden mencatat bahwa ia, bersama sejumlah rekannya seperti Boedjo, Djoehari, Hamim, Joesoef, Pesik, Ramelan, Sjaäf, Soeleiman, Soesilo, dan Soewardjo, berhasil lulus bagian pertama dari ujian akhir untuk meraih gelar inlandsch arts. Pengumuman resmi mengenai kelulusan ini kemudian diperkuat dalam Algemeen Handelsblad edisi 16 April 1913, yang menyebut nama Chaidlir Anwar secara lebih lengkap dengan gelar “kweekeling STOVIA,” menandakan statusnya sebagai calon dokter bumiputra yang hampir menuntaskan pendidikan.

Puncaknya terjadi pada tanggal 7 Juli 1913, Chaidlir Anwar dinyatakan lulus dari STOVIA. Berita ini termuat dalam Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indië, yang melaporkan hasil ujian akhir STOVIA. Dari sebelas kandidat, tujuh orang dinyatakan lulus, termasuk di antaranya Chaidlir Anwar, bersama Joesoef, Pesik, Sjaaf, Soeleman, Soesila, dan Soewardjo. Dengan kelulusan ini, Chaidlir Anwar resmi menyandang gelar dokter Jawa (inlandsch arts), menandai babak baru dalam perjalanan hidupnya yang singkat namun sarat prestasi.

Hanya dua hari setelah dinyatakan lulus ujian akhir, langkah Chaidlir Anwar memasuki dunia profesi kedokteran dimulai. Pada 23 Juli 1913, Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indië mencatat pengangkatannya secara resmi sebagai inlandsche arts dalam Burgerlijken Geneeskundigen Dienst (Dinas Kesehatan Sipil), bersama enam rekan seangkatannya: Mas Poerwo Soewardjo, R. Soesilo, Moh. Joesoef, R. Soeleman, Moh. Sjaaf, dan D. M. Pesik.

Penempatan pertamanya tercatat pada 16 September 1913, sebagaimana Sumatra-bode memberitakan bahwa ia ditugaskan di stadsverband Batavia atau Dinas Kesehatan Kota Batavia. Dengan demikian, setelah melewati proses panjang pendidikan di STOVIA, Chaidlir Anwar akhirnya resmi menapaki peran sebagai dokter bumiputra dalam sistem kesehatan kolonial.

Koto Gadang, Kampuang Nan Jauah Dimato.

Riwayat perjalanan pulang kampung Chaidlir Anwar memperlihatkan bahwa hubungan antara seorang pelajar perantau Minangkabau dengan tanah kelahirannya tidak pernah benar-benar terputus. Catatan surat kabar kolonial tentang keberangkatannya dengan kapal laut memberi gambaran bagaimana Chaidlir, sekalipun menempuh pendidikan kedokteran yang berat di STOVIA Batavia, tetap menyempatkan diri untuk kembali ke Minangkabau pada momen-momen penting dalam hidupnya.

Pertama, pada September 1909, setelah dinyatakan naik tingkat dari tahun kedua ke tahun ketiga di Geneeskundige Afdeeling, Chaidlir melakukan perjalanan pulang kampung. Bukti kepulangan ini terekam ketika Bataviaasch Nieuwsblad edisi 10 November 1909 mencatat kepulangan para penumpang kapal ss. Reael dengan rute Oelee Lheue–Padang–Bengkulu–Batavia. Nama Chaidlir tercantum sebagai salah seorang penumpang dari Padang menuju Batavia, menandakan ia baru saja kembali dari kampung halaman. Pulang kampung setelah kenaikan tingkat tampaknya menjadi bentuk pelepas rindu sekaligus sarana mengabarkan kemajuan pendidikannya kepada keluarga.

Kurang dari setahun kemudian, pada 19 Agustus 1910, De Locomotief kembali mencatat keberangkatannya dari Batavia menuju Padang dengan kapal ss. Van Swoll. Perjalanan ini menjadi bukti bahwa Chaidlir menjaga intensitas hubungan dengan keluarga.

Pulang kampung berikutnya terjadi setelah ia berhasil menamatkan pendidikan di STOVIA. Pada pertengahan tahun 1913, setelah resmi bergelar dokter, Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indië edisi 26 Juli 1913 mencatat namanya sebagai penumpang kapal ss. Duymaer van Twist dengan tujuan Bengkulu dan Padang. Kepulangan ini memiliki makna simbolis: tidak hanya sebagai seorang anak rantau kembali ke kampung halaman, tetapi seorang putra minang dengan status baru, yakni dokter bumiputra yang dihasilkan STOVIA. Mengingat dalam sumber-sumber lain ia disebut sebagai anak yatim, perjalanan ini kemungkinan berkaitan dengan peristiwa penting dalam lingkaran keluarganya, entah berupa duka atau momentum kekeluargaan yang memerlukan kehadirannya.

Itulah kepulangan terakhirnya ke ranah minang. Pulang kampung yang tidak berlangsung lama. Ia kembali lagi ke Batavia, beberapa bulan kemudian. Namanya tercatat dalam daftar penumpang kapal ss. Maetsuycker dari rute Sabang–Oleh-leh–Padang–Bengkulu–Telok Betong menuju Batavia yang diterbitkan koran Bataviaasch Nieuwsblad edisi 11 September 1913. Catatan ini memperlihatkan bahwa selepas menyelesaikan pendidikan, ia memang harus kembali ke Batavia untuk melanjutkan penugasannya sebagai dokter pemerintah.

Dari serangkaian perjalanan ini tampak bahwa pulang kampung bagi Chaidlir Anwar bukan sekadar peristiwa fisik, melainkan pernyataan ikatan batin dengan tanah kelahirannya. Meski ia hidup dalam sistem kolonial yang menuntut pengabdian di pusat kekuasaan, hatinya tetap terikat pada kampung halaman di Minangkabau. Momen-momen pulang kampung itu menghadirkan jeda sejenak dalam kerasnya perjuangan menempuh pendidikan dan karier, sekaligus menjadi bukti bahwa perantau Minangkabau, di mana pun berada, selalu menjaga hubungan spiritual dan sosial dengan ranah asalnya.

Mati Muda, korban diskriminasi sosial

Berita mengejutkan datang pada 13 November 1913. Sebuah peristiwa tragis terjadi sebagaimana diberitakan oleh De Preanger-bode pada 15 November 1913.  dr. Chaidlir Anwar diberitakan mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri di Batavia. Ya, bunuh diri dengan cara menggantung diri. Dalam surat terakhirnya, ia menuliskan pergulatan batin yang mendalam. Meskipun telah berpendidikan tinggi dan berkembang seperti orang Eropa, ia sering diolok-olok “takkan pernah sejajar dengan orang Eropa” seperti yang sering ditulis De Javapost. Dokter Chaidlir Anwar ditemukan tewas menggantung diri dalam kamarnya di Gang Tengah BAtavia dalam usia 25 tahun. Berita Kematiannya diumumkan dalam Haagsche courant, 19-12-1913

Sebuah laporan yang lebih komprehensif diturunkan oleh surat kabar De Expres pada 28 November 1913. Koran pergerakan yang dimotori oleh Tiga Serangkai tersebut menuliskan menyoroti dengan tajam tajam kematiannya lewat artikel yang berjudul “Vuurvliegjes: De vruchten der overheersching” (Kunang-kunang: buah dari Penjajahan). Tulisan ini mengecam pedas pandangan De Javapost yang menafsirkan kematian dr. Chaidlir Anwar sebagai cermin “kegagalan pendidikan netral”. Dengan sindiran balik yang pedas, De Expres justru menyoroti logika keliru itu, seraya menggambarkan pemakaman Chaidlir yang dihadiri ratusan orang. Hadir di sana kawan-kawannya, para guru STOVIA dalam seragam resmi, hingga sahabat-sahabat Eropa yang menunjukkan penghormatan terakhir. Pidato perpisahan yang penuh duka disampaikan oleh gurunya, dr. Noordhoek Hegt.

Dr. Chaidlir Anwar adalah potret cemerlang sekaligus tragis dari generasi awal pribumi terpelajar Minangkabau di awal abad ke 20. Lahir di Koto Gadang, Sumatera Barat, sekitar tahun 1888, ia tumbuh sebagai anak muda cerdas yang berhasil menembus pendidikan elite di STOVIA, sekolah dokter yang melahirkan banyak tokoh bangsa. Pada usia 25 tahun ia menamatkan pendidikannya dan diangkat menjadi dokter Jawa—sebuah capaian luar biasa bagi anak negeri di tengah kolonialisme. Namun, keberhasilan akademis itu tidak diiringi dengan penerimaan sosial. Dalam surat terakhirnya ia mengaku, meski memiliki pendidikan dan wawasan setara orang Eropa, dirinya tidak akan pernah diakui sebagai orang Eropa. Tekanan batin inilah yang akhirnya menyeretnya pada keputusan pahit untuk mengakhiri hidupnya pada November 1913. Kisah hidup dr. Chaidlir Anwar sebenarnya adalah jejak penting tentang pergulatan identitas kaum terdidik bumiputra di bawah kaum penjajah yang tumbuh subur saat itu, sekaligus menjadi pengingat bahwa kecerdasan saja tidak cukup bila masih terbelenggu oleh dinding diskriminasi kolonial.

Dan Mr. Muhammad Yamin meyakini itu, sehingga berusaha keras mendirikan Fakultas Kedokteran di Sumatera Barat, sebagaimana judul pidatonya saat itu. Minang Membangun Univeristas.

Ditulis orang yang suka mengulik dokumen masa lalu sebagai parintangrintang.

Kubang Gajah, 7 September 2025

nspamenan@yahoo.com

#dokter_Minang dr. Si Laut (1861–1925). Dokter Pertama dari Sumatera Barat(?) #Sejarah_dokter_Minang

Posted in Dokter Minang, Sejarah Fakultas Kedokteran Unand, Sejarah Kedokteran Minang, Uncategorized | Leave a comment

FAKULTAS KEDOKTERAN UNAND: Dedikasi Mr. Muhammad Yamin untuk dokter Chaidlir Anwar

Sejarah, Inspirasi, dan Dedikasi Dibalik Lahirnya Fakultas Kedokteran Unand #5

Oleh: Nalfira Pamenan

Parintangrintang: Dari semua perguruan tinggi dan fakultas yang diresmikan berdirinya di ranang minang dimana Mr. Muhamad Yamin turut menyampaikan sambutan pada masa itu, pidato pendirian Fakultas Kedokteran dan FIPIA merupakan pidato yang sangat istimewa. Selain sebagai obsesi besarnya dalam kerangka Minang Membentuk Universitas seperti judul pidatonya, Mr  Muhammad Yamin yang menyukai sejarah mengingat betul sejarah kelam seoerang dokter brilian asal alam Minangkabau yang harus mengakhiri hidupnya dengan tragis. Obsesi ini tidak lahir tanpa alasan, melainkan berakar pada rasa hormat dan kepedulian mendalam terhadap sejarah intelektual Minangkabau. Mr. Muhammad Yamin mendedikasikan gagasannya dan obsesinya itu sebagai bentuk penghormatan kepada dr. Chaidlir Anwar, (sering kali juga ditulis Chaidir Anwar atau Ch Anwar) seorang dokter muda berbakat asal ranah Minang yang wafat tragis dengan jalan bunuh diri di Batavia pada tahun 1913, dalam usia 25 tahun.

Dedikasi tersebut ia nyatakan secara eksplisit dalam pidatonya Minang Membentuk Universitas. Pada halaman ke-11 pidato itu, Yamin menyinggung sosok Chaidlir Anwar sebagai simbol cita-cita yang belum sempat terwujud, dan sekaligus sebagai inspirasi untuk melahirkan generasi baru dokter-dokter Indonesia dari rahim Minangkabau. Dengan cara ini, pendirian Fakultas Kedokteran bukan hanya sebuah langkah akademis, melainkan juga sebuah monumen penghormatan terhadap perjuangan intelektual yang terhenti di tengah jalan.

Baca: MINANG MEMBENTUK UNIVERSITAS: Dari Obsesi (Mr. Muhammad Yamin) ke Realisasi

Halaman ke-11 pidato tersebut (lihat gambar) memuat serangkaian kalimat puitis yang sarat makna, ditulis sekaligus dibacakan oleh Mr. Muhammad Yamin sebagai penghormatan mendalam kepada dr. Chaidir Anwar. Dalam suasana khidmat peresmian Fakultas Kedokteran di Bukittinggi, Yamin menghadirkan untaian kata penuh simbol alam Minangkabau—gunung, sungai, dan sawah—untuk menggambarkan keteguhan, pengorbanan, dan keluhuran seorang anak nagari. Ia mengenang Chaidir bukan sekadar sebagai dokter muda yang berjasa di bidang kedokteran, tetapi juga sebagai bagian tak terpisahkan dari jiwa, harga diri, dan kebanggaan masyarakat Minang. Pidato itu menjelma menjadi monumen kata, mengabadikan sosok Chaidir dalam ingatan sejarah sekaligus menegaskan makna hadirnya Fakultas Kedokteran sebagai warisan untuk generasi mendatang.

Ketika Muhammad Yamin membacakan Sunting Minang kepada dokter Chaidlir Anwar, tiba-tiba kepala Prof. Dr. Mohammad Sjaaf, yang baru saja diangkat sebagai Dekan Fakultas Kedokteran, terangkat. Kaget dan bercampur haru pikirannya segera bekelebat pada perisitwa 50 tahun yang sebelumnya, ketika sebagai sesama putera Koto Gadang, mereka sama-sama menuntut ilmu di STOVIA. Wajahnya semakin menampakan kesedihan ketika teringat peristiwa tragis yang dialami sahabatnya itu pada tahun 1913. Mr. Muhammad Yamin yang baru berusia 10 tahun ketika sahabatnya itu meninggal, mengisyaratkan penghormatan kepada Prof Dr. Mohammad Sjaaf seakan menegaskan Fakultas Kedokteran yang diresmikan hari itu di Bukittinggi didedikasikan untuk sahabatnya itu.

Mr. Muhammad Yamin melanjutkan puisi Sunting Minangnya itu. Dalam bait awal, Yamin mengutip pantun wasiat yang ditinggalkan Chaidlir Anwar sebelum wafat — sebuah pesan bahwa meski hidup di tanah rantau, identitas Minangkabau tak akan pernah luntur. Pantun itu menjadi gambaran sikap merantau yang penuh pengabdian, namun tetap berakar pada tanah kelahiran.

Mr. Muhammad Yamin kemudian melukiskan Chaidlir Anwar sebagai “bintang bersinar-kilau” yang menyuburkan kehidupan, menguningkan padi, dan menggerakkan gelombang semangat masyarakat. Dengan gaya metafora yang kaya, ia menempatkan jasa dan hikmah Chaidlir Anwar sebagai sumber kekuatan yang menaungi fakultas kedokteran yang baru berdiri.

Puncaknya, Chaidlir Anwar diibaratkan sebagai sunting bundo Minang — simbol kemuliaan yang menghiasi martabat perempuan Minangkabau — sekaligus pusaka warisan bersama, yang akan terus dijunjung dan diwariskan turun-temurun.

Pidato ini bukan sekadar mengenang seorang dokter yang telah tiada. Ia juga menjadi pernyataan bahwa pembangunan pendidikan kedokteran di Sumatera Barat berakar pada perjuangan para pendahulu yang memadukan kecerdasan intelektual dengan kebanggaan budaya. Melalui kata-katanya, Yamin memastikan bahwa nama dr. Chaidlir Anwar akan tetap hidup di ingatan generasi, seiring berkembangnya Fakultas Kedokteran sebagai “universitas luhur” yang beliau cita-citakan.

Baca juga: dr. Si Laut (1861–1925). Dokter Pertama dari Sumatera Barat(?)

Sejarah Fakultas Kedokteran Universitas Andalas adalah sejarah tentang cita-cita yang diteruskan lintas generasi. Dokter Chaidlir Anwar, seorang anak muda Minangkabau yang wafat secara tragis di usia 25 tahun, meninggalkan catatan sederhana namun penuh makna: ke mana pun langkah kaki, identitas dan pengabdian kepada ranah asal tidak akan pernah padam. Empat dekade kemudian, Muhammad Yamin menjadikan pantun itu sebagai api semangat untuk meresmikan fakultas ini, menegaskan bahwa ilmu pengetahuan dan kebudayaan tidak bisa dipisahkan.

Hari ini, ketika Fakultas Kedokteran Universitas Andalas merayakan 70 tahun perjalanan dan lustrum ke-XIV, keluarga besar Fakultas Kedokteran Unand perlu melihat ke belakang mengenang setidaknya mengetahui bahwa perjalanan panjang itu diawali dengan sebuah obsesi dan dedikasi, untuk melangkah ke depan dengan tekad baru. Seperti bintang bersinar-kilau yang dilukiskan Mr. Muhammad Yamin, Fakultas Kedokteran harus terus menjadi cahaya bagi masyarakat, menyuburkan kehidupan, dan melahirkan dokter-dokter yang tidak hanya cerdas secara ilmu, tetapi juga teguh memegang nilai budaya, kemanusiaan, dan pengabdian.

Semoga dedikasi dokter Chaidlir Anwar yang terhenti di langkah pertama sebagai dokter pada tahun 1913, dan mimpi besar Muhammad Yamin yang diwujudkan di Bukittinggi pada 7 September 1955, senantiasa menjadi sumber ilham bagi setiap insan yang mengabdikan diri di Fakultas Kedokteran Universitas Andalas. Dari ranah Minang untuk Indonesia, dari ilmu untuk kemanusiaan, semoga fakultas ini terus menjadi universitas luhur sebagaimana dicita-citakan para pendahulu

Selamat Lustrum ke XIV dan Dies Natalis ke-70 Fakultas Kedokteran Universitas Andalas, tulisan ini untuk mengingatkan, bahwa peristiwa perlu dicatat, sejarah perlu diingat, masa depan perlu dirancang, dan perjuangan perlu dilanjutkan.

Ditulis orang yang suka mengulik dokumen masa lalu sebagai parintangrintang.

Kubang Gajah, 7 September 2025

nspamenan@yahoo.com

#Sejarah_Fakultas_Kedokteran_Unand

Posted in Dokter Minang, Sejarah Fakultas Kedokteran Unand, Sejarah Kedokteran Minang | Leave a comment

MINANG MEMBENTUK UNIVERSITAS: Dari Obsesi (Mr. Muhammad Yamin) ke Realisasi

Sejarah, Inspirasi, dan Dedikasi Dibalik Lahirnya Fakultas Kedokteran Unand #4

Oleh: Nalfira Pamenan

Parintangrintang: Rabu, tengah hari, 7 September 1955. Kota Bukittinggi terlihat sangat meriah. Marawa dan umbul-umbul berkibar disepanjang kiri kanan jalan. Jalanan ramai karena hari itu bersamaan dengan hari pasar di Bukittinggi. Wakil Presiden Drs. Muhammad Hatta pulang kampung ke Bukittinggi dalam rangka peresmian Fakultas Kedokteran dan Fakultas Ilmu Pasti dan Ilmu Alam. Cuaca sangat cerah dan bersahabat seirama dengan perasaan Mr. Muhammad Yamin, mantan Menteri Pengajaran, Pendidikan dan Kebudayaan dalam Kabinet Ali Sastroamidjojo (30 Juli 1953 – 12 Agustus 1955). Dia ditunjuk sebagai satu di antara lima tokoh yang menyampaikan pidato dalam rangka peresmian kedua Fakultas tersebut. Tokoh lain yang menyampaikan pidato adalah yaitu Wakil Presiden Drs. Mohammad Hatta, Menteri Pengajaran, Pendidikan dan Kebudayaan Prof. Ir. Suwandi, Dekan Fakultas Kedokteran Prof. Dr. M. Sjaaf, dan Moh. Sjafei. Tokoh terakhir adalah berasal Minangkabau yang juga pernah menjabat sebagai menteri Pengajaran, Pendidikan dan Kebudayaan.

Baca: PIDATO BUNG HATTA PADA PERESMIAN FAKULTAS KEDOKTERAN DAN FIPIA DI BUKITTINGGI: Demokratisasi Pendidikan Jalan Terang Untuk Anak-Anak dari Pelosok Negeri

Dengan penuh semangat dan suara lantang yang menjadi ciri khasnya, ia menyampaikan kegembiraan di hadapan Wakil Presiden Drs. Mohammad Hatta, Menteri Pengajaran, Pendidikan, dan Kebudayaan Soewandi Notokusumo, Moh. Sjafei, Ruslan Muljohardjo selaku Gubernur Sumatera Tengah, Aminuddin Sutan Sjarif sebagai Bupati Agam, Nauman Djamil Dt. Mangkuto Ameh Wali Kota Bukittinggi, serta para tokoh penting lainnya dari Sumatera Utara, Sumatera Selatan dan Sumatera Tengah yang turut hadir saat itu.

Seperti biasanya, Mr. Muhammad Yamin berpidato dengan nada penuh keyakinan. Berikut kutipan pidatonya.

“Tindakan Pemerintah membuka Fakultas Kedokteran serta Fakultas Ilmu Pasti dan Ilmu Alam pada hari ini di Kota Bukittinggi saja hargakan benar-benar. Saja mengutjapkan selamat atas pembukaan itu. Dengan pembukaan kedua Fakultas tersebut, maka Rakjat Indonesia di Alam Minangkabau menjaksikan di kampung-halamannja dalam waktu hanja dua tahun lamanja suatu peristiwa bertumbuh, berkembang serta memiliki empat perguruan tinggi jang terpentjar di pusat Luhak jang Sulung, Luhak jang Bungsu, dan Luhak jang Tengah.”

Pidato Mr. Muhammad Yamin tersebut seolah menegaskan bahwa pembukaan Fakultas Kedokteran dan Fakultas Ilmu Pasti dan Ilmu Alam di Bukittinggi tersebut bukanlah sekadar langkah administratif, melainkan momentum bersejarah bagi ranah minang dan bangsa Indonesia. Ia memandang peristiwa ini sebagai wujud nyata dari cita-cita kemerdekaan: membawa pendidikan tinggi ke daerah-daerah, agar anak-anak bangsa di ranah Minangkabau tidak lagi harus menempuh perjalanan jauh ke Jawa untuk meraih ilmu.

Baca: PERESMIAN FAKULTAS KEDOKTERAN DAN FIPIA DI BUKITTINGGI, 7 SEPTEMBER 1955

Peresmian dua Fakultas di Bukittinggi, melengkapi peresmian dua fakultas sebelumnya yang diinisiai dan dihadirinya. Perguruan Tinggi Pendidikan Guru (PTPG) telah diresmikan sebelumnya di Batusangkar pada tanggal 23 Oktober 1954, dilanjutkan Perguruan Tinggi Pertanian di Payakumbuh yang diresmikan pada taggal 30 November 1954 oleh Wakil Presiden Drs. Muhammad Hatta.

Dibalik itu semua, dengan berdirinya empat pendidikan tinggi tersebut, obsesinya untuk membentuk sebuah universitas di bumi Minangkabau hampir menjadi kenyataan. Cita-citanya sejak menjadi Menteri Pengajaran, Pendidikan dan Kebudayaan untuk mendirikan sebuah universitas, yang disebutnya sebagai universitas Aditiawarman secara bertahap mulai terwujud. Walaupun nama Universitas Aditiawarman ini akhirnya tidak terwujud, obsesinya yang dijadikan judul pidatonya “Minang Membentuk Universitas” patut dikenang oleh orang Sumatera Barat, oleh keluarga besar Univeristas Andalas.

Seyogyanya, nama Muhammad Yamin harus disebut dalam setiap pidato dies natalis fakultas-fakultas di Unand. 🤭

Selamat Lustrum ke XIV dan Dies Natalis ke-70 Fakultas Kedokteran Universitas Andalas, tulisan ini untuk mengingatkan, bahwa peristiwa perlu dicatat, sejarah perlu diingat, masa depan perlu dirancang, dan perjuangan perlu dilanjutkan.

Baca: PERESMIAN FAKULTAS KEDOKTERAN DAN FIPIA DI BUKITTINGGI, 7 SEPTEMBER 1955

Ditulis orang yang suka mengulik dokumen masa lalu sebagai parintangrintang.

Kubang Gajah, 7 September 2025

nspamenan@yahoo.com

#Sejarah_Fakultas_Kedokteran_Unand

Posted in Dokter Minang, Sejarah Fakultas Kedokteran Unand, Sejarah Kedokteran Minang | Leave a comment

PIDATO BUNG HATTA PADA PERESMIAN FAKULTAS KEDOKTERAN DAN FIPIA DI BUKITTINGGI: Demokratisasi Pendidikan Jalan Terang Untuk Anak-Anak dari Pelosok Negeri

Sejarah, Inspirasi, dan Dedikasi Dibalik Lahirnya Fakultas Kedokteran Unand #3

De Nieuwsgier, 10 September 1955

Oleh: Nalfira Pamenan

Parintangrintang: Dengan suara khasnya yang tenang namun penuh wibawa, Wakil Presiden Mohammad Hatta menyampaikan pidato yang sarat visi dan futuristik, selaras dengan cita-cita kemerdekaan serta amanat Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia. Di hadapan sejumlah pemimpin bangsa, pejabat daerah, tokoh masyarakat, ninik mamak, bundo kanduang dan cerdik pandai se-Sumatra Tengah, Bung Hatta menegaskan arah baru pendidikan tinggi Indonesia pasca-kemerdekaan.

Siapa saja yang hadir baca: SAAT FAKULTAS KEDOKTERAN AKAN MENJADI KENYATAAN: BUKITTINGGI, 5 SEPTEMBER 1955

Baca juga: PERESMIAN FAKULTAS KEDOKTERAN DAN FIPIA DI BUKITTINGGI, 7 SEPTEMBER 1955

Dalam peresmian Fakultas Kedokteran dan Fakultas Ilmu Pasti dan Ilmu Alam di Bukittinggi itu, ia menolak pandangan sempit bahwa berdirinya gedung-gedung fakultas sudah cukup untuk membanggakan bangsa. Bagi Hatta, esensi sebuah perguruan tinggi tidak terletak pada megahnya bangunan, melainkan pada kualitas pendidikan yang mampu melahirkan generasi pemimpin.

Mendirikan bangunan fakultas bukanlah perkara sukar. Yang utama ialah bagaimana memberi didikan akademis yang dapat membentuk mahasiswa menjadi pemimpin masyarakat,” tegasnya.

Hatta juga menekankan bahwa keberlangsungan fakultas tidak bisa hanya mengandalkan negara, melainkan perlu dukungan rakyat. Ia mencontohkan universitas di Amerika yang sebagian besar berdiri dan berkembang berkat sokongan swasta. Tak lupa, ia menyerukan pentingnya fasilitas memadai, khususnya laboratorium lengkap bagi Fakultas Kedokteran, serta solusi kreatif untuk mengatasi kekurangan tenaga pengajar.

Visinya pun jauh ke depan. Hatta mengusulkan agar Indonesia kembali menengok sistem pendidikan ala STOVIA yang memberi kesempatan anak-anak lulusan sekolah rendah menempuh pendidikan panjang hingga menjadi dokter. “Apabila kita hendak mendemokratisasikan pendidikan, maka kesempatan belajar harus pula diberikan kepada mereka dari daerah terpencil,” ujarnya, sembari menyinggung perlunya jalan bagi putra-putra dari Kepulauan Riau dan daerah jauh lainnya.

Lebih jauh, Hatta juga menekankan pentingnya fasilitas memadai, terutama laboratorium bagi Fakultas Kedokteran, sekaligus mengingatkan bahwa minat tenaga pengajar asing kerap kandas bukan karena gaji kecil, melainkan keterbatasan sarana belajar. Di sinilah beliau melihat perlunya solusi kreatif, salah satunya dengan menengok kembali sistem pendidikan ala STOVIA yang membuka kesempatan luas bagi anak-anak dari daerah terpencil untuk menapaki tangga ilmu.

Amanat ini berakhir dengan pesan visioner: fakultas yang didirikan di Bukittinggi tersebut harus benar-benar menjadi “lembaga tinggi,” bukan sekadar nama. Kritiknya terhadap rendahnya mutu lulusan SMA saat itu memperlihatkan kepedulian mendalam seorang negarawan yang tidak hanya meresmikan, tetapi juga memberi arah pembangunan pendidikan Indonesia.

Selamat Lustrum ke XIV dan Dies Natalis ke-70 Fakultas Kedokteran Universitas Andalas, tulisan ini untuk mengingatkan, bahwa peristiwa perlu dicatat, sejarah perlu diingat, masa depan perlu dirancang, dan perjuangan perlu dilanjutkan.

Ditulis orang yang suka mengulik dokumen masa lalu sebagai parintangrintang.

Kubang Gajah, 7 September 2025

nspamenan@yahoo.com

Posted in Dokter Minang, Sejarah Fakultas Kedokteran Unand, Sejarah Kedokteran Minang | Leave a comment

PERESMIAN FAKULTAS KEDOKTERAN DAN FIPIA DI BUKITTINGGI, 7 SEPTEMBER 1955

Sejarah, Inspirasi, dan Dedikasi Dibalik Lahirnya Fakultas Kedokteran Unand #2

Oleh: Nalfira Pamenan

Parintangrintag: Berita peresmian Fakultas Kedokteran dan Fakultas Ilmu Pasti dan Ilmu Alam pertama kali dikabarkan oleh koran De Nieuwsgier pada tanggal 10 September 1955 dengan tajuk besar: “Wakil Presiden Hatta Membuka Fakultas Kedokteran dan Fakultas Ilmu Pasti dan Ilmu Alam di Sumatra Tengah.”

Dalam laporannya, De Nieuwsgier menuliskan bahwa Wakil Presiden Drs. Mohammad Hatta, Rabu kemarin, secara resmi meresmikan berdirinya dua fakultas baru di Bukittinggi. Upacara yang berlangsung khidmat ini dihadiri oleh sejumlah pejabat tinggi negara, antara lain Menteri P.P. dan K. Prof. Ir. Suwandi, Mr. Mohammad Yamin, dan Moh. Sjafei, dua tokoh penting yang pernah menjabat sebagai Menteri Pendidikan. Selain itu, hadir pula tokoh-tokoh terkemuka dari Sumatra Utara maupun Selatan, menandakan bahwa peresmian ini bukan hanya milik Sumatra Tengah, tetapi juga sebuah tonggak kebangsaan bagi seluruh Indonesia.

Dengan bertambahnya dua fakultas tersebut, Sumatra Tengah resmi memiliki empat fakultas, menyusul Fakultas Keguruan di Batusangkar dan Fakultas Pertanian di Payakumbuh. Fakta ini menegaskan peran penting Sumatra Tengah dalam memperkuat dunia pendidikan tinggi Indonesia yang kala itu masih sangat muda usianya, baru satu dekade setelah proklamasi kemerdekaan.

Lebih dari sekadar sebuah seremoni, berita ini juga mencatat keteladanan rakyat setempat dalam mendukung pembangunan pendidikan nasional. Sebanyak 19 orang penduduk Agam dan Bukittinggi menyerahkan tanah seluas 100 hektare di Baso kepada pemerintah sebagai lahan pembangunan kampus. Tindakan ini mencerminkan semangat kolektivitas dan pengorbanan yang luar biasa, bahwa pendidikan adalah warisan yang harus ditanam bersama demi masa depan bangsa.

Pendirian kedua fakultas ini sendiri sejatinya telah dirintis sejak masa jabatan Mr. Mohammad Yamin sebagai Menteri P.P. dan K., dan mendapat sokongan besar dari masyarakat Sumatra Tengah. Dengan demikian, lahirnya Fakultas Kedokteran dan Fakultas Ilmu Pasti dan Ilmu Alam bukan hanya hasil kebijakan pemerintah, melainkan juga buah dari tekad kebangsaan, gotong royong masyarakat, dan visi besar untuk mencetak generasi penerus bangsa yang berilmu dan berdedikasi.

Sejauh ini penulis belum bertemu dengan arsip media berbahasa Indonesia tentang peresmian ke dua fakultas tersebut. Oleh karena itu hanya berita surat kabar (berbahasa Belanda) yang memuat berita peresmian dua fakultas tersebut dapat disajikan. Beberapa berita lainnya beberapa hari kemudian, sebagai berikut.

Baca juga: SAAT FAKULTAS KEDOKTERAN AKAN MENJADI KENYATAAN: BUKITTINGGI, 5 SEPTEMBER 1955

  • Berita pada Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indië, edisi 12 September 1955, memang memuat laporan dengan judul Hatta opende twee nieuwe faculteiten in Bukittinggi – ‘Het op peil houden van het onderwijs is moeilijk (Hatta membuka dua fakultas baru di Bukittinggi, “Mempertahankan mutu pendidikan itu sulit)
  • Berita pada Algemeen Indisch dagblad: de Preangerbode, edisi 12September 1955 berjudul Faculteten Bukittinggi Geopend, Drs Hatta: Opleding artsen van grootse betekenis (Fakultas di Bukittinggi Dibuka, Drs. Hatta: Pendidikan Dokter Amat Penting)
  • Berita pada Het nieuwsblad voor Sumatra, edisi 12 September 1955 berjudul Vice-president opent twee faculteiten (Wakil Presiden membuka dua fakultas)
  • Artikel Indische courant voor Nederland, edisi 26 September 1955 berjudul Hatta opende twee nieuwe faculteiten in Bukittinggi „Het op peil houden van het onderwijs is moeilijk” (Hatta membuka dua fakultas baru di Bukittinggi: “Mempertahankan mutu pendidikan itu sulit”). Judul beritanya sama dengan judul berita yang diterbitkan koran Java-bode pada edisi 12 September 1995.

Kini, tujuh puluh tahun lebih berlalu, berita tersebut telah menjadi arsip digital yang dapat diakses lewat penelusuran di dunia maya. Sayang catatan sejarah yang ditulis dalam bahasa Indonesia tidak dapat atau belum dapat saya temukan. Seharunya berita-berita tersebut dapat dibaca ulang sebagai cermin, betapa pendidikan tinggi Indonesia tumbuh dari idealisme, kerja kolektif, dan pengorbanan, bukan semata dari kebijakan administratif. Seharusnya berita-berita sekitar peresmian Fakultas Kedokteran dan Fakultas Ilmu Pasti dan Ilmu Alam oleh Bung Hatta di Bukittinggi tersebut terpampang di dinding untuk dibaca sebagai pengingat betapa begitu besarnya semangat para pendahulu yang terus berjuang untuk membuka jalan bagi ilmu pengetahuan dan kemajuan bangsa.

Selamat Lustrum ke XIV dan Dies Natalis ke-70 Fakultas Kedokteran Universitas Andalas, tulisan ini untuk mengingatkan, bahwa peristiwa perlu dicatat, sejarah perlu diingat, masa depan perlu dirancang, dan perjuangan perlu dilanjutkan.

Ditulis orang yang suka mengulik dokumen masa lalu sebagai parintangrintang.

Kubang Gajah, 7 September 2025

nspamenan@yahoo.com

Posted in Dokter Minang, Sejarah Fakultas Kedokteran Unand, Sejarah Kedokteran Minang | Leave a comment

SAAT FAKULTAS KEDOKTERAN AKAN MENJADI KENYATAAN: BUKITTINGGI, 5 SEPTEMBER 1955

Sejarah, Inspirasi, dan Dedikasi Dibalik Lahirnya Fakultas Kedokteran Unand #1

Oleh: Nalfira Pamenan

Parintangrintang: Dua hari sebelum hari bersejarah itu, Senin 5 September 1955, sebuah koran berbahasa Belanda, De Nieuwsgier, menurunkan kabar penting: Bukittinggi akan menjadi tuan rumah peresmian dua fakultas baru, Kedokteran dan Ilmu Pasti serta Ilmu Alam. Berita itu sontak menjadi sorotan, sebab acara pembukaan dijadwalkan dihadiri langsung oleh Wakil Presiden Drs. Mohammad Hatta, sang proklamator yang sejak lama dikenal sebagai pejuang pendidikan.

Nama-nama lain yang tercatat tak kalah bergengsi: Menteri Pengajaran, Pendidikan, dan Kebudayaan Prof. Ir. Suwandi, serta dua putra Minang yang pernah menduduki jabatan sama, Mr. Moh. Yamin dan Moh. Sjafei. Kehadiran mereka menghadirkan simbol kuat: bahwa pendidikan tinggi di Sumatera lahir dari kolaborasi antara pemerintah pusat, intelektual daerah, dan tokoh pergerakan nasional.

Dalam edisi itu, De Nieuwsgier merinci bahwa pada 7 September 1955, Fakultas Ilmu Pasti dan Ilmu Alam resmi dibuka. Rangkaian pidato pun dipersiapkan: Hatta, Prof. Dr. M. Sjaaf selaku dekan, Yamin, hingga Sjafei. Setiap kata yang akan terucap dari podium bukan sekadar sambutan, melainkan pesan tentang masa depan bangsa: pendidikan adalah jalan menuju kemerdekaan sejati.

Berikut terjemahan dari berita pada koran De nieuwsgier yang terbit tanggal 5 September 1955 tersebut.

Fakultas Ilmu Pasti dan Ilmu Alam di Bukittinggi

Pada tanggal 7 September di Bukittinggi akan dibuka Fakultas Ilmu Pasti dan Ilmu Alam.
Pembukaan ini akan dihadiri oleh Wakil Presiden Drs. Mohammad Hatta, Menteri Pendidikan Prof. Ir. Suwandi, Mr. Moh. Yamin, dan Moh. Sjafei, yang keduanya merupakan mantan Menteri Pendidikan.

Dalam upacara pembukaan akan disampaikan pidato oleh Wakil Presiden Drs. Mohammad Hatta, Dekan Fakultas Prof. Dr. M. Sjaaf, Mr. Moh. Yamin, dan Moh. Sjafei.

Berita De Nieuwsgier tanggal 5 September 1955 tersebut, pada hari ini seharusnya dikoleksi, dibaca kembali bukan hanya sebagai arsip sejarah, tetapi juga sebagai pengingat bahwa lahirnya Fakultas Kedokteran di Bukittinggi merupakan buah dari semangat kebangsaan, tekad kolektif, dan pengorbanan banyak pihak.

Selamat Lustrum ke XIV dan Dies Natalis ke-70 Fakultas Kedokteran Universitas Andalas, tulisan ini untuk mengingatkan, bahwa peristiwa perlu dicatat, sejarah perlu diingat, masa depan perlu dirancang, dan perjuangan perlu dilanjutkan.

Ditulis orang yang suka mengulik dokumen masa lalu sebagai parintangrintang.

Kubang Gajah, 6 September 2025

nspamenan@yahoo.com

#sejarah_fakultas_kedokteran_Unand

Posted in Dokter Minang, Sejarah Kedokteran Minang | Tagged , , | Leave a comment

dr. Si Laut (1861–1925). Dokter Pertama dari Sumatera Barat(?)

@Nalfira Pamenan

Parintangruntang: Petualangan saya menjelajahi dokumen lama di dunia maya akhir-akhir ini meningkat frekwensinya, tersebab keinginan mendapatkan informasi tentang siapa wanita Minangkabau pertama yang menjadi dokter. Hal ini terpacu setelah saya menulis tentang (1) dr. MARIE THOMAS, dokter wanita pertama Indonesia, lulusan STOVIA, (2) dr. Soerti TirtoTanojo, wanita Jawa pertama lulus sebagai dokter dI NIAS Surabaya, dan (3) dr. Soemini Soemardjo, dokter wanita pertama dari Jawa Timur, lulusan NIAS Surabaya.

Dr. Marie Thomas, Dokter Wanita Pertama, Dari Manado Untuk Indonesia di Bukittinggi.

dr. Soerti Tirtotanojo: Perempuan Pertama Lulusan NIAS, Dokter Wanita Jawa Pertama

dr. Soemini: Perempuan Jawa Timur Pertama yang Menjadi Dokter

Petualangan tersebut membawa saya berlabuh pada dermaga yang sangat luas, utamanya tentang orang Minangkabau (Sumatera Barat) yang menjadi dokter (Jawa) pada akhir abad ke-19 dan seperempat awal abad ke-20. Tak hanya itu, informasi tentang apa saja dokumen dan kisah dibalik peresmian Fakultas Kedokteran Unand, 7 September tahun 1955, juga ada. (Jika sempat akan saya tuliskan untuk lustrum Fakultas Kedokteran Unand 7 September 2025). Tak ketinggalan, informasi siapa kira-kira orang Sumatera Barat pertama yang menjadi dokter Jawa (indisch arts) lulusan STOVIA. Tak lupa juga bersobok sekelumit informasi tentang Orang Luak Lima Puluah pertama yang lulus STOVIA dan jadi dokter (masih banyak dokumen yang perlu dilengkapi). BTW ada yang tau siapa?

Baiklah, untuk yang pertama saya ingin menghadirkan informasi tentang dokter pertama dari Sumatera Barat ini.


dr. Si Laut, namanya barangkali nyaris terlupakan dalam sejarah kedokteran di Indonesia, tetapi ia adalah pelopor dari ranah Minangkabau yang membuka jalan bagi generasi sesudahnya.
Dialah dr. Si Laut, putra Solok kelahiran tahun 1861, yang tercatat sebagai orang Sumatera Barat pertama yang menjadi dokter.
Perjalanannya dimulai ketika ia diterima di STOVIA (School tot Opleiding van Inlandsche Artsen) pada 7 November 1876. Hampir sembilan tahun kemudian, pada Juli 1885, ia lulus dengan predikat sebagai dokter Jawa ke-18 yang dihasilkan sekolah kedokteran bergengsi itu. Bersama nama-nama awal dalam dunia medis bumiputra, Si Laut berdiri di barisan paling depan dalam sejarah perkembangan tenaga kesehatan di Hindia Belanda.
Dari situlah pengabdiannya dimulai. Arsip surat kabar dan dokumen resmi pemerintah kolonial mencatat jejak kariernya berpindah-pindah ke berbagai penjuru Nusantara:

1885: Setelah lulus, ditugaskan pertama kali sebagai dokter Jawa di Lampung.

1890-an: Beberapa kali mutasi antara Banten (Menes, Rangkasbitung, Pandeglang) dan Sumatera Barat (Pariaman), menandai peranannya dalam layanan kesehatan lintas pulau.

1898–1906: Terlibat dalam berbagai penugasan darurat — mulai dari wabah cacar di Ngawi, demam dan disentri di Lampung, hingga bertugas di rumah sakit beri-beri di Buitenzorg dan kemudian di Semarang.

1907–1909: Dikerahkan ke Palembang, Batavia, dan Pantai Timur Sumatra (Bengkalis) untuk menangani kesehatan pekerja paksa dan tentara zeni yang bekerja dalam proyek besar pembangunan infrastruktur.

1909–1920-an: Kembali ke Batavia, sebagai dokter pemerintah, dan tercatat sebagai buitengewoon lid (anggota luar biasa) dalam dunia kedokteran Hindia Belanda.

Tak hanya itu, Pada tahun 1920-an namanya tercatat sebagai salah seorang dokter yang memberikan layanan kesehatan gratis di Batavia dan Weltevreden.

Selama lebih dari empat dekade, Si Laut mengabdikan hidupnya dalam dinas kesehatan kolonial, melayani masyarakat di tengah wabah dan proyek-proyek besar yang seringkali sarat penderitaan rakyat.

Dalam usia 64 tahun, pada 15 April 1925, dr. Si Laut meninggal dunia di Batavia. Kabar wafatnya dicatat resmi dalam Mededeelingen van den Dienst der Volksgezondheid in Nederlandsch-Indië, dengan sebutan penuh kehormatan sebagai Gouvernements Dokter Djawa te Batavia.

Namanya, memang tidak terdengar, bukan nyaris tidak terdengar, tidak tercatat, tidak terdiskusikan, karena dia pergi jauh sebelum Indonesia merdeka. Tetapi, warisan yang ia tinggalkan, yang hanya dalam bentuk jejak mutasi dan catatan birokrasi kolonial, tidak dapat merubah fakta bahwa ia adalah dokter pertama dari Minangkabau, pionir dari ranah Sumatera Barat yang menapaki jalur pendidikan modern dan profesi medis.

Dari dr. Si Laut ini, kita belajar bahwa ada figur-figur awal orang Minangkabau dalam menapaki kemajuan, yang mungkin tak sepopuler tokoh pergerakan, tetapi sama pentingnya dalam membangun fondasi kemajuan bangsa melalui jalur kesehatan dan ilmu pengetahuan.
Eits, untuk kepastian, saya butuh informasi dari sahabat semua, tentang dr. Silaut ini.
Silakan tulis di kolom komentar 😁

Kubang Gajah, 28 Agustus 2025 nspamenan@yahoo.com

#dokterpertama #orangminang

Posted in Tokoh | Leave a comment

dr. Soemini: Perempuan Jawa Timur Pertama yang Menjadi Dokter

Parintangrintang. Nama dr. Soemini mungkin belum banyak dikenal orang hari ini. Tapi perempuan kelahiran Surabaya, 6 Februari 1906 ini adalah salah satu pelopor perempuan Indonesia di dunia kedokteran. Ia adalah dokter perempuan keempat di Indonesia, dan perempuan Jawa kedua yang berhasil meraih gelar dokter, setelah dr. Soerti Tirto Tanojo.

Pendidikan dr. Soemini dimulai dari sekolah dasar berbahasa Belanda untuk pribumi (H.I.S.), dilanjutkan ke ELS dan MULO lulus tahun 1925, lalu ke sekolah dokter NIAS di Surabaya—salah satu dari sedikit sekolah kedokteran yang terbuka untuk pribumi pada masa itu. Tahun 1931, ia lulus dan resmi menyandang gelar Indische Arts—gelar dokter Hindia Belanda. Pada berita pada koran Bataviaasch nieuwsblad yang terbit pada 02-Februari-1931 menyebutkan dr. Soemini adalah dokter perempuan Indonesia keempat.

Buku Orang Indonesia Jang Terkemoeka Di Djawa

Dalam buku Orang Indonesia Jang Terkemoeka Di Djawa, setelah tamat dari NIAS dia sempat bekerja (tahun 1931-1932) di rumah sakit pemerintah CBZ Surabaya (sekarang RSUD dr. Soetomo). Pada tahun 1932 dr. Soemini   membuka praktik swasta sebagai dokter swasta di Magelang (1932-1934) mengikuti dr. Mas Moerdjani yang diangkat menjadi dokter pada rumah sakit jiwa Magelang. Selanjutnya pada tahun 1934-1939 dia membuka praktek sebagai dokter swasta di Negara, Bali mengikuti suaminya yang dipindahkan ke Negara Bali. Selanjutnya sejak tahun 1939 di pindah ke Bandung mengikuti suaminya dimana keduanya membuka prakter dokter swasta di sana. Sejak tahun 1940, suaminya dr. Moerdjani tercatat sebagai aktivis berbagi gerakan yang tumbuh subur saat itu.

Pada masa pendudukan Jepang, sampai dengan tahun 1943, dr. Soemini tetap setia menjalankan profesinya. Ia tinggal dan membuka praktik di Bandung bersama suaminya, dr. Moerdjani. Di tengah situasi yang penuh ketidakpastian dan tekanan militer, pasangan ini tetap memberi pelayanan kesehatan untuk masyarakat yang membutuhkan.

Kelak dr. Mas Moerdjani yang bergabung dengan Partai Indonesia Raya (Parindra) tersebut diangkat menjadi gubernur Jawa Barat ke 3 (Juni 1946-1 April 1947), Gubernur Jawa Timur ke-2 (1 Juni 1947- 24 Desember 1949) dan gubernur Kalimatan ke-2 (14 Agustus 1950 – 1953) (sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Murdjani diakses 11 April 2025)

Kisah dr. Soemini adalah kisah keberanian, kecerdasan, dan kesetiaan seorang perempuan Indonesia. Di masa ketika akses pendidikan tinggi untuk perempuan nyaris tak ada, ia tak hanya berhasil menjadi dokter, tapi juga memberikan pengabdian nyata selama bertahun-tahun. Tidak hanya menikmati privilage sebagai kalangan elit, dia setia mendampingi suaminya dalam tugas dan berjuang untuk kemerdekaan bangsanya.

Kini, namanya pantas untuk dikenang sebagai bagian dari sejarah perjuangan perempuan Indonesia di dunia ilmu pengetahuan dan kesehatan. Jejaknya setelah proklamasi, sebagai gubernur pada tiga provinsi pada masa awal kemerdekaan perlu dicari dan digali. Berminat?

Kubang Gajah 11 April 2025

nspamenan@yahoo.com

Posted in Tokoh | Tagged , | 1 Comment