Tahun Baru Tanpa Petasan dan Kembang Api

Kalau memang suka, lakukanlah.
Tak mesti orang harus mengikuti mu kawan.
Kalau orang tak suka dan memilih melakukan yang berbeda dari sebelumnya kenapa mesti nyinyir dan menyindir nyindir sambil nyengir
Entah, kalau itu memang sudah bawaan yang mendarah daging

Kalau memang ingin bermain petasan dan kembang api beli dan ledakanlah.
Tak perlu orang yang pergi ke mesjid yang kau risaukan, tak perlu kau bandingkan dengan letusan kembang api di negara lain yang berkilau.
Entah, kalau dihatimu ada benci yang telah berkarat.

Kalau orang sudah tak lagi hirau dengan mu, cobalah renungkan apakah kau pernah menerima pendapat orang lain.
Kalau ada orang yang coba mengingatkanmu jangan-jangan kau telah tersesat dan mereka peduli dengan arahmu.

Kalau disekelilingmu hanya itu saja parasnya dimana tali darahnya serupa dengan dirimu, maka cobalah berhenti, tak perlu kau komentari, apalagi membuli seperti irama tarian masa kini, cukup introspeksi.

Kenapa di malam tahun baru ini tak banyak terompet, petasan dan kembang api.

Kubang Gajah, 1 Januari 2019

nspamenan@yahoo.com

Advertisements
Posted in Uncategorized | Leave a comment

MANGANI KOTA TAMBANG YANG HILANG: De Onzichtbare mijnkuil

Parintangrintang: Kemaren, Rabu 28 November 2018, Koran Haluan di halaman pertamanya menulis hampir satu halaman penuh tentang sepak terjang tenaga kerja asing di Kabupaten Lima Puluh Kota. Hal ini sepertinya cukup mengagetkan semua orang, walaupun beberapa hari sebelumnya media online sudah menulis tentang warga negara asing (WNA) berkebangsaan Cina yang telah bersimeraja lela memasuki kawasan hutan lindung di barat laut Nagari Koto Tinggi Kecamatan Gunuang Omeh Kabupaten Limapuluh Kota. Tujuannya, disinyalir adalah melakukan eksploitasi penambangan emas pada bekas tambang emas tua di Mangani. Wilayah pertambangan yang sudah ditinggalkan dan telah menjadi “Kota yang Hilang” dan coba untuk dilupakan oleh peneliti, bahkan pemerintah dengan memasukannya sebagai kawasan suaka alam Alahan Panjang Malampah
Betapa tidak, beberapa bulan sebelumnya, Koran Padang Ekspres (Padek) telah menulis tentang potensi tambang emas ini berikut tulisan tentang kisah kota tambang Mangani. Dengan mengutip blog ini, Padek sebelumnya telah menyampaikan kepada Wamen ESDM dalam kunjungannya ke Kabupaten Lima Puluh Kota. Namun, sepertinya pak Menteri ragu kala itu. Tanggapan bahwa jangan-janga apa yang disampaikan kala itu hanyalah ‘false hope’ alias PHP, sepertinya cukup untuk meyakini bahwa keberadaan tambang Mangani memang sudah dilupakan (baca:hilang)

Sepertinya berita besar tentang kedatang WNA untuk melakukan eksploitasi di eks tambang emas mangani merupakan jawaban atas keraguan tersebut. Mangani bukanlah ‘false hope’ apalagi sebuah Hoaks.
Kalau begitu, kita anggap apa ya? Pengaburan informasi atau ketidaktahuan. Terserah.

Kembali ke berita yang hangat itu lagi. Setelah dilakukan inspeksi mendadak oleh Wakil Bupati bersama imigrasi dan pihak lainnya, ternyata tidak ada WNA yang menambang di Koto Tinggi atau Pua Data. Semua sudah pergi, mengutip keterangan pihak berwenang.
Pertanyaannya, apakah mereka sudah mengeceknya ke lokasi eks penambangan milik West Sumatra Mijnen Sindycaat yang kemudian berganti kepemilikan dengan Mijnbouw Maatschappij Aequator (MMA) dan terakhir dikuasai oleh Marsman sebelum kedatangan bangsa Jepang di tahu 1942.
Sejarah tambang emas Mangani, sudah pernah diulas pada blog ini, dan kemungkinan dikutip oleh beberapa penulis lainnya.

Perlu diketahui bahwa West Sumatra Mijnen Syndicaat ini memiliki dua konsesi pertambangan (blok) yaitu:
1. Konsesi atas Blok Equator. Blok ini dipercaya memiliki kandungan emas, perak, mangan, perunggu, dan tembaga pada wilayah seluas 987 ha untuk jangka waktu 75 tahun sejak tahun 1910 dengan nilai 0,25 Gulden perhektar pertahun.
2. Konsesi atas blok yang disebut Bangket. Blok ini dipercaya memiliki kandungan emas dan perak dengan luas 986ha untuk jangka waktu 75 tahun dengan nilai 0,25 Gulden perhektar pertahun.
Pertanyaannya, adakah aparat terkait tersebut mengetahui lobang tambang yang ada di kawasan tersebut. Jika tidak tahu, kemana hendak mencari? Mana mungkin para WNA penambang itu dapat ditemukan. Terlebih jika mereka sudah berada dan memasuki bekas lobang tambang tersebut, yang panjangnya ada yang mendekati 1 kilometer dari mulut lubang tambang.
Pertanyaannya, siapakah yang tahu seberapa banyak lubang tambang yang ada dan dimana kira-kira lokasinya, sementara data, dan informasi tentang lubang tambang tersebut tidak ada yang punya. Jadilah lubang tambang yang telah tertutup pohon sebagai bagian dari hutan lindung tersebut sebagai De Onzichtbarre Mijnkuil atau lubang tambang yang tersamarkan.

Untuk De Onzichtbarre Mijnkuil atau lubang tambang yang tersamarkan ini, ada dua peta geologi (yang saya punya) yang dapat menunjukkan berapa banyak lubang tambang di kawasan tersebut dan dimana kira-kira lokasinya.

Peta dengan model kontur yang sama, dengan letak dan jumlah lubang tambang yang berbeda. Peta yang dibuat lebih awal (1930an) memiliki jumlah lubang tambang yang lebih banyak yakni 15. Sedangkan peta terakhir (dibuat 1957) hanya menyisakan 9 lubang tambang.
Tidak diketahui kenapa peta terakhir lebih sedikit lubang tambangnya.

Apakah ada maksud menyembunyikan sesuatu? Entahlah.
Terdapat 13 nama lubang tambang pada peta 1, dimana dua lubang tambang memilki dua lubang yang tidak berhubungan walaupun letaknya berdekatan. Adapun Lubang tambang (Lt) tersebut adalah:
1. Lt. Toemboek,
2. Lt Sampit 1
3. Lt Sampit 2
4. Lt. Kulit Manis
5. Lt. Rumput Pait
6. Lt. Brani
7. Lt. Rambutan
8. Lt. Silver (Perak)
9. Lt. Egert
10. Lt. Mangani
11. Lt. North (Utara)
12. Lt. Hospital (Rumah Sakit)
13. Lt. Rambutan Tinggi 1
14. Lt. Rambutan Tinggi 2
15. Lt. Sarasah
Terdapat 5 (lima) lubang tambang di belahan selatan khatulistiwa, yaitu Lt. Tumbuk, Lt Sampit 1, Lt Brani, Lt. Rambutan, dan Lt. Silver (Perak), dan 10 lubang tambang lainnya di belahan utara khatulistiwa.
Lubang tambang paling selatan adalah Lt. Tumbuk; Lubang tambang paling utara adalah Lt. North (Utara); Lubang tambang paling barat adalah Lt Kulit Manis; Lubang tambag paling timur adalah Lt. Sarasah.
Lubang Tambang ini terletak di antara hamparan hutan yang membentang di utara Bukit Palantar dan Bukit Guntung (terletak di utara Pagadis) sampai ke Bukit Galanggang di utara.
Sementara itu, pada peta kedua terdapat 9 lubang tambang, yaitu:
1. Lt. Brani
2. Lt. Sampit
3. Lt. Rumput Pait
4. Lt. Rambutan
5. Lt. Silver (perak)
6. Lt. Mangani
7. Lt. North (Utara)
8. Lt. Hospital
9. Lt. Egert
Terdapat tiga lubang tambang di bagian selatan khatulistiwa, dan enam lubang tambang di utara khatulistiwa.
Ada enam lubang tambang yang tidak muncul pada peta kedua,
Yaitu, Lt. Tumbuk, Lt. Kulit Manis, Sampit 2, dan Lt. Sarasah, dan Lt Rambutan Tinggi 1 dan Lt. Rambutan Tinggi 2.
Berkemungkinan, karena rentang waktu yang panjang yakni sekitar 30 tahun lubang tambang itu tidak ditemukan oleh geologis yang membuat peta tersebut. Artinya, lubang tambang itu ada tapi tidak dapat/belum ditemukan kala itu.
Dengan kata lain sebelum Mangani menjadi Kota Tambang yang Hilang, Lubang Tambangngya sudah terlebih dahulu disamarkan. Jadilah Mangani Kota Tambang yang hilang dengan lubang tambang yang disamarkan De Onzichtbare mijnkuil.

Kubang Gajah, 29 November 2018

nspamenan@yahoo.com

Posted in Mangani, Kota Tambang yang Hilang | Leave a comment

Jalan Kehidupan

Jauh
Tanpa stasiun
Tanpa dermaga
Tanpa ujung

Berat
Menelusuri kaki langit
Menggantang takdir
Menyemai harapan

Lelah
Menimbang rasa
Mengobati hati
Mengulas senyum

Suram
Terjegal ketamakan
Terbelenggu ketidakpastian
Terhimpit kebimbangan

Lega
Mendengar suara azan
Mendoakan kebaikan
Mengharapkan keredaan

Ikhlas
Memberikan yang terbaik
Menerima apa adanya
Melewati jalan kehidupan

Parintangrintang, 09 November 2015

nspamenan@yahoo.com

Posted in Sajak-sajak | Leave a comment

BEYOND OPENING CEREMONY ASIAN GAMES 2018 (Mencintai dengan tetap memberi koreksi; Membenci dengan tetap memberi apresiasi; Berbagi bukan untuk mengundang caci maki)

IMG_20180819_142923_651Parintangrintang: Keren, cool. Itulah kata yang saya pilih dan dirasa cocok untuk menggambarkan pembukaan pesta olah raga terbesar yang pernah dilaksanakan di Indonesia sejak tahun 1962.

Pesta olah raga tingkat Asia, Asian Games 2018, pemilihan tuan rumahnya sudah ditentukan sejak 8 tahun yang lalu. Keinginan menjadi tuan rumah kala itu pasti dilandasi dengan keinginan yang kuat untuk menghadirkan sesuatu yang spektakuler. Pesta pembukaan yang menakjubkan, stadion yang megah, fasilitas penunjang yang modern, dan juga prestasi berupa medali yang banyak tentulah bagian dari mimpi mereka yang berjuang melakukan berbagai lobi untuk memenangkan pemilihan kala itu. Semuanya itu akan menjadi kebanggaan kita semua bangsa Indonesia.

Tadi malam, upacara (pesta) pembukaan yang meriah telah dihadirkan. Tanpa banyak narasi, pertunjukan digelar. Semua tersenyum sumringah. Semua seakan mengamini bahwa pesta itu adalah karya satu orang saja yakni orang nomor satu.
Dibalik pesta meriah tanpa kata-kata itu ada beberapa pernyataan dan pertanyaan yang menggelitik hati.

1. Ini karena Pak De. Kalau presidennya bukan Jokowi pasti acaranya gak bakalan semeriah ini. Benarkah? Sepertinya mereka tidak percaya dengan kemampuan anak-anak Indonesia; terkecuali tunduk dan mendapat restunya. Entahlah, bagi saya siapapun presidennya, acara yang sudah dirancang lama ini akan tetap spektakuler. Karena bagi saya, ketika ditanya “Siapa Kita? Indonesia”. Kita bekerja untuk Indonesia bukan untuk presidennya. Bukankah presiden dipilih untuk bekerja bagi Indonesia.

2. Apakah pada Olimpiade Rio 2016 sebagai ajang pesta olah raga tertinggi, tidak menampilkan Walikota Rio de Janeiro sebagai kota penyelenggara? Sama halnya dengan pertanyaan apakah Gubernur Jakarta akan diberi kesempatan untuk menyampaikan ucapan selamat datang pada acara pembukaan yang spektakuler itu jika gubernurnya bukan Anies Baswedan.
Sepertinya, tidak. Tidak ada sambutan Walikota Rio de Janeiro dalam ceremony pembukaan Olympiade Rio 2016. Jadi, wajar saja tidak ada sambutan Gubernur Jakarta dalam acara pembukaan tersebut siapapun gubernurnya.

3. Apakah Gubernur DKI Anies Baswedan akan diberi kesempatan untuk menyerahkan medali ketika kontingen Indonesia berhasil meraih medali, khususnya medali Emas? Jawabannya pastilah tidak. Masalahnya, dapat medali emas itu langka. Kalaupun dapat 10 emas pembagiannya sudah jelas. Jangan berharap, terlalu tebal dan mewah karpet merah panggung pengalungan medali itu untuk Gubernur DKI. Pengalungan medali untuk cabang yang tidak diraih kontingen Indonesia saja, sepertinya cukup layak untuk dipertaruhkan. Kalaupun ada, pastilah untuk olah raga yang tidak populer.

4. Sudahkah MRT, LRT yang dijanjikan itu dapat dipakai untuk kepentingan Asian Games 2018? Kata sebagian orang, sebagiannya lagi belum. Sepertinya harus dibuktikan sendiri, bila ada kesempatan ke daerah dimana fasiltas yang disediakan tersebut berada.

5. Apakah acara pembukaan Asian Games 2018 itu spektakuler? Tentu saja dan seharusnya begitu. Dari tahun ke tahun, setiap pembukaan even olah raga semacam Olimpiade ataupun Asian Games haruslah spektakuler, karena menyangkut kehormatan sebuah negara untuk dikenang para peserta, penonton baik langsung maupun lewat media elektronik. Kalau spektakuler sudah seharusnya; kalau tidak pastilah malu, kemana muka hendak disurukkan.

6. Siapakah yang paling berperan dalam pembukaan Asian Games itu? Untuk mendapatkan hasil yang maksimal diperlukan seorang creative director yang mengatur setiap menit bahkan detik rangkaian acara itu, dan kita punya sumber daya manusia yang cakap untuk itu.

7. Pelajaran apa saja yang dapat dipetik dari acara pembukaan itu? Ada banyak pilihan, tergantung dari siapa yang memberi penilaian. Kalau cebong dan kampret sudah jelas penilaian yang mereka berikan.

Bagi saya, bukan dalang, apalagi wayang yang dapat membuat sebuah pertunjukan spektakuler, yang dipilih dalang menjadi pengatur pertunjukan lah yang menentukan, bukan hanya nasib tokoh dalam cerita bahkan nasib dalang itu sendiri. Untuk kepentingan pertunjukan, demi kehebatan dalang, apa saja bisa dijungkirbalikan, bahkan dalangpun tak perlu banyak bicara dan cukup tersenyum karena bisa merusak pertunjukan. Sepertinya untuk setiap pertunjukan yang kita lihat sehari-hari, sang dalang telah diatur creative director sang manajer panggung. Ah, inikan tergantung bagaimana kita memaknainya.

Akhirnya saya lebih memilih untuk tidak mengidap syndrome “Mencintai tanpa koreksi; membenci tanpa apresiasi, dan berbagi untuk mengundang caci maki”

Kubang Gajah, 19 Agustus 2018

nspamenan@yahoo.com

Posted in Politik dan Kekuasaan | Leave a comment

Desain Pembangunan Tanpa Aljabar

IMG_20180803_194403Parintangrintang: Sekitar 14 tahun yang lalu, ketika baru pertama kali belajar ilmu ekonomi- sebagai dasar ilmu pembangunan ekonomi, saya sangat kaget ketika pada kuliah perdana saya diperkenalkan bahwa, kelulusan saya tergantung dengan 3 jenis jawaban yang dituangkan dalam ujian. Pertama menjawab soalan (permasalahan) dengan narasi, kedua, menjawab soal dengan aneka grafik (gambar), dan ketiga menjawab soal dengan menggunakan aljabar (matematika).

Walaupun ketiganya dibenarkan, namun masing-masing memiliki nilai yang berbeda. Jika dapat menjawab soalan hanya dengan narasi maka sebagus apapun narasi/ argumentasi/ paparan yang ditulisan maka maksimal nilai yang didapat adalah “C”, tidak akan lebih dari itu.

Bila mampu menjawab soalan melalui penjelasan menggunakan grafik dan gambar maka nilai maksimal yang akan diperoleh adalah “B”, dengan kemungkinan nilai terbanyak yang diterima adalah “B-” (baca: B minus).

Sedangkan, kemampuan untuk menjelaskan secara matematis atau Aljabar merupakan satu-satunya cara untuk mendapatkan nilai “A”. Bila dapat membuktikan melalui persamaan Aljabar, menggambarkan dengan grafik, dan menjelaskannya dengan paparan yang jelas, terstruktur dan dapat dipahami maka disitulah nilai “A+” (baca: A plus) baru bisa diperoleh.

Lama baru saya paham, kenapa sudut pandangnya seperti itu. Kenapa penjelasan yang tertuang dalam belasan halaman folio hanya dihargai “C” paling tinggi? Penjelasan dengan kata-kata seringkali bersifat kualitatif yang kurang terukur. Seringkali juga penjelasan yang diberikan tidak runut, melenceng dari fenomena yang ada, tidak lengkap, bahkan seringkali tanpa landasan teori yang jelas. Mirisnya, seringkali pembuktian dilakukan tanpa bukti yang bisa diterima dan perkiraan dampak yang tidak bisa dilihat apalagi diukur.

Untuk bisa menuangkan teori dengan dengan jelas, menambahkan setiap fenomena, dan membuktikan kebenaran sebuah kebijakan yang hendak ditempuh maka penjelasan dengan grafik, yang mempunyai sumbu vertikal (X), dan sumbu horizontal (Y) dengan angka positif dan negatif lebih mudah diterima, dan dipahami. Namun demikian, perkiraan besaran dampak (baik positif maupun negatif) belum dapat dihitung secara pas (mendekati kebenaran).

Oleh karena itu diperlukan perhitungan aljabar untuk membuktikannya. Dengan mengganti fenomena yang ada dengan simbol (X, Y, Z, dst) sebuah fenomena dapat digambarkan, arah dapat segera dilihat (positif atau negatif), titik optimum dapat ditentukan, dan perkiraan dampak bisa dihitung. Oleh karenanya pembuktian tentu dapat dilakukan hanya dengan melihat tanda (>, <, atau =). Dari prinsip tersebut, dapat diketahui bahwa sebuah desain kebijakan dapat dikeluarkan dengan mempertimbangkan dampak jangka pendek, dampak jangka panjang bahkan bisa juga dimasukkan unsur uncertainty (ketidakpastian) sebagai fenomena. IMG_20180803_193631_554

 

Kini, ketika harga pangan melambung, harga BBM melonjak naik, nilai rupiah meroket, beberapa proyek infrastruktur hendak diberhentikan, impor minta dikurangi adakah kebijakan pembangunan yang disusun didesain dengan menggunakan rumus dan formula yang mampu menghasilkan kebijakan komprehensif; atau desain kebijakan pembangunan selama ini sebenarnya hanyalah sebuah kebijaksanaan yang dipilih dari sebuah narasi yang dikemukakan berulang-ulang yang dilengkapi dengan visualisasi angan-angan.

Sejatinya, kebijakan itu hendaklah kebijaksanaan dalam memilih berbagai alternatif pilihan atas berbagai perhitungan yang bisa diuji; bukan atas cerita dan gambar untuk sekedar memuaskan.

Adakah desain kebijakan pembangunan yang dilaksanakan selama ini diputuskan dengan perhitungan menggunakan aljabar yang mumpuni, atau hanya berdasarkan retorika dan gambar semu semata?
Entahlah, seharusnya orang-orang cerdas itu menjadi orang yang mencerdaskan; bukannya menjadi orang yang tidak mencerdaskan (pimpinan) apalagi menyesatkan (pimpinan). Dengan demikian tentu sudah agak jelas kira-kira berapa nilai desain kebijakan pembangunan yang dibuat untuk kurun waktu terakhir ini.

Kubang Gajah, 2 Agustus 2018

nspamenan@yahoo.com

Posted in Politik dan Kekuasaan | Leave a comment

Gundah

Kemanakah pilu menyandarkan kepalanya, ketika lelah sudah kehilangan bahunya

Kemanakah detak jantung kebenaran harus mengadu, ketika cinta telah meluluhlantakkan nurani

Lupakan dan hanyutkan,

Tersenyumlah ketika dihadapan mu terhampar torehan kemenangan yang bersandar ulasan dari uraian orang pada biliknya

Mengertilah bahwa sedang musimnya yang hebat lahir dari rahim tombol bagi

Berhentilah resah, karena langkah dan waktumu bukan untuk mereka yang memalingkan muka atas pijakan kebenaran yang jelas berbeda

Bersyukurlah ketika diterjang aruspun engkau bukanlah buih yang terlihat tinggi dan kuat tapi tak mampu meraih ranting

Kubang Gajah, 11 Juli 2018

nspamenan@yahoo.com

Posted in Kisah dan Sajak | Leave a comment

BAKO BOOT CAMP: Belajar Mandiri di Rumah Inyiak

Parintangrintang: Kata (istilah) boot camp pertama kali saya kenal sebagai bahan mata kuliah reading. Namun saya tidak ingat secara persis kapan dan dimana bahan bacaan yang berjudul boot camp itu saya berikan untuk mahasiswa bahasa Inggris yang saya asuh kala itu. Walaupun demikian, wacana yang berjudul boot camp ini begitu berarti dan lengket dalam pikiran saya.
Eh. Boot camp itu apa ya?
Boot camp (berdasarkan bahan reading yang saya berikan tersebut) adalah kegiatan mengirim anak-anak ke suatu pusat pelatihan dalam rangka mendisiplinkan anak, mengurangi tingkat kenakalan anak, meningkatkan kepatuhan anak, meningkatkan rasa percaya diri anak, memotivasi anak untuk mau belajar dan seterusnya. Boot camp itu seperti barak pelatihan prajurit. Kalau sudah seperti barak pelatihan prajurit, saya tidak ingin menggambarkan apa lagi. Setiap orang punya persepsi sendiri, apa lagi saya yang tidak pernah mengikuti pelatihan di tempat seperti itu. Jadi cuma bisa mereka-mereka.
Yang menarik dari boot camp itu bagi saya adalah hasil dan dampaknya (outcome dan impact) berupa sikap dan sifat disiplin, rasa percaya diri, sikap saling menghormati, saling membantu dan berbagai interaksi sosial lainnya yang terbentuk setelah di-boot camp-kan.

Lalu, kata “bako”. Kata bako berasal dari bahasa Minang. Bako berarti kelompok keluarga yang merupakan saudara dari orang tua laki-laki kita. Kenapa kelompok keluarga? Sistem matrilineal di Minangkabau menjadikan kekerabatan berbasis suku yang diturunkan dari garis keturunan ibu. Jadi bako adalah adik atau kakak orang tua laki-laki, baik saudara seibunya maupun saudara sepupunya dari saudara perempuan ibunya. Ah, susah juga mendeskripsikannya, pokoknya bako adalah saudara yang hubungan kekerabatannya berasal dari pihak/keluarga bapak (ibu dari bapak).

Karena berasal dari dua bahasa dan dua budaya yang juga berbeda maka perlu dijelaskan apa yang dimaksud dengan bako boot camp. Tentunya sesuai dengan versi saya.
Sebagaimana judulnya, bako boot camp adalah latihan kemandirian anak dengan cara tinggal beberapa hari di rumah bako. Bagi sebagian orang hal ini mungkin aneh, terutama bagi yang bako-nya ada di subaliak dapua alias pada rumah atau kampung yang berdekatan. Tidak demikian halnya dengan yang tinggal berjauhan. Apa lagi di zaman now dimana anak-anak lebih sibuk dengan gadget, tatkala yang jauh serasa dekat, dan yang dekat tidak terlihat.

Tertarik dengan dampak positif dari boot camp, kondisi anak-anak zaman now dengan gadgetnya, dan kurangnya interaksi antara anak-anak dengan masyarakat di kampung bakonya, beberapa hari yang lalu anak-anak diantarkan ke kampung untuk menikmati pengalaman “Bako boot camp” selama beberapa hari. Mumpung sedang libur sekolah.
Senangkah mereka atau keberatankah mereka?

Pertama, agak keberatan. Segera mereka akan kehilangan akses Wifi. Apa lagi Piala Dunia sedang berlangsung. Seperti biasa mereka terlihat cemberut, tapi tetap menurut. Jadilah mereka mengikuti bako boot camp selama beberapa hari, sebagai pengisi libur kenaikan kelas.

Saya tidak sabar untuk mengetahui apa dampak dari bako boot camp yang bisa mereka peroleh. Adakah meningkat kemandirian, rasa hormat, kemampuan berinteraksi, tenggang rasa, tolong menolong mereka.

Ah, harapan yang terlalu tinggi.
Setelah empat hari, tersebab ada hari libur nasional mendadak, dan kebutuhan akan teman nonton sepak bola piala dunia, dijemputlah anak-anak yang sedang mengikuti bako boot camp tersebut.

Walaupun tidak terencana, sebelum pulang mudik dari bako boot camp kamipun berjalan-jalan ke beberapa objek wisata tak jauh dari rumah Inyiak (kakek) tempat anak-anak dibootcampkan. Ada banyak canda dan tawa selama perjalanan, terutama tentang cerita dan dialog yang mereka dengarkan selama mereka tinggal ditempat Inyiak.

Diantara cerita itu adalah, pergi ke Lapau Mandan untuk minum kopi dan atau kopi susu pada pagi ataupun sore hari lengkap dengan dialog orang di lapau yang mereka dengar. Cerita lainnya adalah pergi ke mesjid untuk ikut shalat Zuhur dan Ashar berjamaah bersama Inyiak dengan dialog penawaran untuk azan ashar yang semula tidak dipahami. Maklum, bagi orang tua di kampung azan itu disebut abang. Tak ketinggalan jalan di pematang sawah menemani ibu/ tante/eteknya ke sawah. Semuanya diceritakan dan dibahas secara menarik penuh canda dan tawa.

Semula kami menyangka, pembelajaran bersosialisasi dan pengetahuan lintas budaya itu sajalah yang mereka dapatkan. Ternyata tidak. Sekarang ada tanggung jawab untuk membereskan lantai yang kotor dengan menyapunya, dan beberapa hal lainnya. Demikian juga dengan kebiasaan yang tidak melulu harus memegang gadget karena berkomunikasi langsung juga asyik.
Ternyata Bako boot camp itu cukup efektif bagi anak-anak zaman now yang terbelenggu gadget. Paling tidak bagi anak-anak kami. Ternyata juga Bako boot camp itu sebenarnya adalah belajar mandiri di rumah Inyiak, yang dulu sering kami, eh kita, maksudnya saya lakukan.

Kubang Gajah, 28 Juni 2018

nspamenan@yahoo.com

Posted in Interest, My life | Leave a comment