NYI RECEH

Receh, Nyi Receh

Syahdan, 12 tahun setelah berakhirnya perang Bharata Yuda, negeri Hastina Pecah menjadi lebih dari 400 kerajaan-kerajaan kecil seluas kadipaten pada masa kerajaan Hastinapura. Pendirian kerajaan kecil ini merupakan bagian dari balas jasa para senopati, punggawa, atau siapa saja yang telah terlibat aktif dalam perang tersebut. Para pendiri kerajaan kecil ini tidak lagi memikirkan apakah mereka dulu berperang untuk Pandawa ataupun Kurawa. Yang penting bagi mereka adalah jadi raja walaupun luas kerajaannya hanya sebesar kadipaten, ataupun hanya 1000X lapangan sepakbola atau alun-alun Hastina.

Salah satu kerajaan tersebut adalah kerajaan Sukuteko. Nama Sukuteko diambil dari kata Suku dan Teko: Suku itu artinya 50 sedangkan teko artinya ya teko atau poci. Kerjaan ini diberi nama Sukuteko karena pada masa peperangan wilayah ini merupakan tempat pelarian 50 teko kerajaan oleh abdi dalem untuk menyelamatkan simbol-simbol kerajaan.

Saat ini, kerajaan Sukuteko dipimpin oleh Raja BUBA, yang merupakan salah satu turunan punggawa yang pernah jadi adipati di wilayah ini ketika masih dibawah kendali Hastina Pura.

Karena sudah tua dan segera menyerahkan kekuasaannya, baru-baru ini raja BUBA telah mengganti dan memindahkan para patih di lingkungan istana. Katanya untuk penyegaran dan perbaikan kinerja menjelang berakhirnya kekuasaan Raja BUBA. Kalau alasan sebenarnya, siapa yang tau. Maklum kan mau pensiun. Hitung-hitung balas budi lah.

Di antara patih yang dipindahkan itu adalah Nyi Receh. Nama ini bukanlah namanya yang sebenarnya. Siapapun namanya, EGP. Nyi Receh ini, menurut Raja BUBA dan dirinya sendiri adalah orang hebat. Tidak diragukan lagi, sepak terjangnya beberapa tahun terkhir memang dahsyat. Tidak ada yang tidak terpekik dan kering kerontang kalau berhadapan dengannya. Karir kepatihannya pun sangat gemilang. Dalam empat tahun terakhir telah 3 kali dia berganti posisi. Katanya sih untuk memperbaiki kinerja pada abdi dalem, punggawa dan pengawal kerajaan. Tiga tahun lalu yang Nyi Receh adalah Patih Uwana*. Tahun lalu dia dilantik menjadi Patih UAD (urusan abdi dalem). Hebatnya, awal tahun ini dia dilantik menjadi Patih Umada (Zaman Hastina disebut Umade). Nyi receh selalu datang dengan semangat kuat untuk melaksanakan segala perbaikan. Stump Speech nya adalah Tidak ada dusta dan Potong. Kemana melangkah, kata-kata itu tidak pernah lupa disampaikannya.

Menurut Silamaj, salah seorang parewa yang sekarang mengabdi pada bagian Umada, stump speechnya itu lahir dari kebiasaannya selama ini. Poin pertama merupakan upaya untuk memerangi kebiasaannya sediri; sedangkan poin ke dua merupakan obsesinya sejak kecil. Katanya karena tidak pernah disunat. Betul atau tidaknya tidak perlu dibuktikan karena hanya rekaan Silamaj saja.

Namun demikian, poin kedua telah menjadi pembicaraan yang hangat dikalangan abdi dalem yang bertugas pada kepatihan Umada. Setiap hari ada-ada saja kata dusta dan potongan ini keluar dari mulutnya. Potongan yang diminta itu tidak banyak, hanya beberapa buah uang recehan. Tidak pernah dalam bentuk uang kertas, apalagi cek.

Dia memang terobsesi dengan uang receh, karena sewaktu berguru pada mpu dan panembahan di berbagai daerah dia rajin mengumpulkannya. Entah dari sisa iuran, hasil penjualan daun pisang entah apa lagi.

Namun, menurut salah seorang peramal kerajaan pada masa itu, yang membuatnya terobsesi adalah keinginan menjadi yang pertama dan terkenal. Karena pada masa yang akan datang, pada abad ke 21 akan ada hal yang mencengangkan dari pengumpulan receh ini. Uang receh yang terkumpul bisa mencapai milyara, atau lebih dari 100 x lipat gaji Nyi Receh sebagai patih Umada saat itu bila dikonversikan. Jangan kaget, dia ingin menyaingi “Coin for Prita”. Entah siapa Prita tidak ada yang tau saat itu. Kalau sekarang seh, pada tau semua.

Ada-ada saja sumber uang receh yang dimintanya, kemaren dulu dia minta uang receh dari mpu lontar, pembuat duplikat surat-surat kerajaan. Kalau tidak, stop bekerja sama dengan mpu tersebut. Sebelumnya, ketika para abdi Umada sibuk melayani utusan dari kerajaan lain yang akan membantu kerajaan Sukuteko, dia minta receh pada abdi yang memesan soru-nya. Kalau tidak, dia yang akan mencari dan/atau membeli sorunya. Pokoknya setiap kali belanja harus ada receh yang diterimanya.

Dulu, kata abdi yang biasa mengurusi masalah soru ini, para abdi di Umada, tidak peduli dengan harga, yang penting sorunya muantap, dan utusan kerajaan yang datang puas. Puas.

============================================================

Pagi itu istana kepatihan Umada tampak sibuk. Para hulubalang dan senopati lalu lalang keluar masuk ke ruang utama dimana Nyi receh biasa menghabiskan hari-harinya. Tak seperti biasanya, mereka sibuk membawa kain dan baju baru. Tak ketinggaalan makanan dalam aneka bentuk dan ukuran dikumpulkan. Beberapa saat kemudian, kereta yang biasa membawa senopati utama Wakil Nyi Receh, bergerak meninggalkan kepatihan. Bergerak cepat ke arah barat.

Di dalam ruangannya, Nyi Receh sedang duduk manggut-manggut tersenyum. Hari ini pakaian kebesaran telah disiapkan. Kereta kencana pun telah dipesan. Pasti penampilanku akan sangat menawan. “Aku akan menjadi patih yang paling banyak menarik perhatian”, gumam Nyi Receh. “Aku, Nyi Receh, lebih hebat dari Dewi Kunti, Ibunya para Pandawa itu. Aku memiliki kekuasaan, aku dapat berbuat semua yang ku mau. Tak ada yang dapat menghalangiku. Walau Dia dihormati oleh para kesatria, aku lebih terhormat. Karena akulah ksatria itu. Aku, juga lebih hebat dari Dewi Drupadi, Istri Yudistira, yang walaupun manis, tapi tetap hitam. Walaupun bijaksana, telah ditelanjangi oleh Dursasana. Akulah yang terhebat”, gumam Nyi Receh sambil mengangguk-angguk.

Tiba-tiba dia kaget bukan kepalang, ketika Paido, abdi dalem yang biasa beroperasi di dekat ruangannya masuk, sambil merunduk.

“Ada apa?”, bentak Nyi Receh.

“Anu, Maaf, Kanjeng Patih, kereta kencana yang dipesan kemaren sudah siap,”

“Kereta apa?, apa maksudmu?”

“Itu Kanjeng Patih, yang kemaren, kemaren kan Kanjeng Patih pesan kereta buat acara hari ini.”

“Nggak usah, eh, nggak jadi. Saya sudah pesan kereta yang paling hebat.”

“Lalu gimana Kanjeng Patih?”

“Itu urusan mu, mana ku tau. Sudah, segera keluar. Tidak tau orang lagi sibuk nih.”

Keluarlah Paido dengan perasaan heran, “Bukankah, Nyi Receh yang kemaren menyuruh aku memesan kereta.”

Di dalam. Nyi Receh terlihat tersenyum sumringah. “Mana mungkin aku mamakai kereta itu. Apa dia tidak tau siapa aku? Aku Nyi Receh, Patih Umada yang terkenal itu. Lagian, dapat apa aku kalau dia yang memesan kereta itu. Dia pula yang mendapatkan receh-receh idaman ku. Ha ha…., sekarang, aku bisa dapatkan sendiri receh-receh itu. Aku hebat.”

Kemudian Brak, pintu ruang Nyi Receh, bergetar. Rupanya Senopati Utama Wakil Nyi Receh datang membawa juru hias ternama. Konon kabarnya dialah yang merias Dewi Drupadi ketika dipinang Yudistira. Dia jugalah yang merias para istri Arjuna.

“Kanjeng, patih”, Senopati utama berujar. “Nyi Makup sudah datang”

“Pagi Kanjeng Patih” kata Nyi Makup. “Wah, baju Nyi cantik sekali”, ujarnya.

“O iyalah, Baju mahal ini, tak ada satupun yang bisa beli di sini.”

“Lagian, kalau beli baju ini, aku dapat bonus banyak”

“Bonus apa maksud Kanjeng Patih, kayak beli minuman aja,”

“Kamu nggak tau ya, Aku dapat banyak receh dari hasil beli baju ini”

“Maaf Kanjeng Patih, saya nggak ngerti maksud Kanjeng Patih”, kata Nyi Makup.

“Mana ngerti kamu,” tapi udah lah.”Aku bisa terlihat lebih cantik nggak?”

“Tentu saja Nyi, Kanjeng Patih pasti lebih cantik dari Ratu Lula.”

“Apa, kamu bisa membuatku lebih cantik dari Ratu Lula? Tidak bisa. Tidak bisa. Itukan majikanku. Apa kata Ratu Lula nanti. Bisa kiamat aku. Jangan. Tidak usah secantik Ratu Lula. Cukup secantik Dewi Kunti atau Dewi Drupadi saja. Satu lagi. Jangan lupa lebihkan beberapa receh dari tagihan yang Nyi buat. dan berikan padaku” ujar Nyi Receh.

“Baik. Gusti Patih”, kata Nyi Receh.

“Gusti Patih, Acara Ualang tahunya segera dimulai”, kata Senopati Utama.

“Iya. Iya.” Jawab nyi Receh.

Setelah selesai, Nyi Receh keluar dan mamanggil beberapa Senopati kesayanggannya.

“Aku mau berangkat menghadiri, ulang tahun berdirinya Kadipaten ini”

“Katanya hari ini juga peresmian perkawinan kembali Raja Buba dengan Ratu Lula” bisik Nyi Tartur.

“Sudah jangan diteruskan”..

===============================================================

Sang surya masih enggan memperlihatkan parasnya. Halaman kepatihan Umada masih terlihat sepi. Hujan yang mengguyur selama hampir sepertiga malambelum mampu mengusir awan yang bertengger di pegunungan sebelah timur Bumi Sukuteko. Yang masih tersisa hanyalah genangan air dan lumpur.

Matahari masih terlihat malu-malu. Beberapa senopati dan punggawa mulai berdatangan. Satu persatu kereta dan kuda yang membawa patih dan punggawa mulai ditambatkan. Tak jauh dari tambatan kereta, beberapa orang punggawa terliht asyik mengobrol. Tak tau apa yang dibicarakan, tapi mereka terlihat cekikan.

Sang surya mulai memperlihatkan sinarnya. Semua pengawal, senopati, punggawa dan abdi dalem masih saja terus mengobrol ngalor-ngidul. Tidak seperti bisanya. Ada apa ya? Rupanya mereka dari tadi memperhatikan kereta-kereta yang berdatangan.

“Kok tidak ada Ki Suvi, kereta kebesaran Nyi Receh hari ini”, kata Ki Paruga.

“Memang tidak ada”, kata Nyi Lumpi.

“Kemana Nyi Receh?” Tanya Ki Paruga.

“Katanya ke Negeri Krosak” jawab Nyi Lumpi.

“Negeri banlu? Dimana itu?” sergah Ki Paruga.

“Itu. Disebelah timur dekat Negeri Banlu” timpal Nyi Tartur.

“Mau apa Nyi Receh di sana?” tanya Ki Paruga tidak sabaran.

“Plesiran” jawab Nyi Lumpi sinis.

“Bukan. Bukan plesiran, tapi mendampingi para kesatria terpilih melihat-lihat Negeri Krosak” jawab Nyi Tartur.

“Siapa ya, yang beruntung menemani Nyi Receh, plesiran ke Negeri Krosa?” tanya Ki Paruga.

“Katanya, Nyi Receh pergi dengan Ki Pagasuta” kata Nyi Lumpi.

“Oh, ya?” ….. ulas yang lain sambil mangut-mangut.

Dung……..dung……….dung………, tiba tiba gong kebesaran kerajaan bergema. Semua kaget dan mulai bertanya-tanya. “Ada apa ini? Ada apa ini? “ ujar para senopati, punggawa, dan abdi dalem.

“Para kawula, abdi dalem, ponggawa, dan senopati. Hari ini adalah hari istimewa. Hari Takadu. Hari yang yang sangat istimewa bagi Raja Buba. Semua kawula, abdi dalem, ponggawa, senopati dan patih diundang menghadiri pesta Takadu yang digelar oleh Raja Buba dan Ratu Lula di pendopo kerajaan.” teriak Senopati Utama.

“Hebat. Hebat.” Teriak para kawula.

“Mantap” balas abdi dalem

“Sttttttt” kata Nyi Tartur dan Nyi Lumpi.

Di pojok dekat pelataran kereta kerajaan, Ki Paruga tampak sedang berdiskusi dengan Nyi Tartur. Ki Paruga belum puas dengan jawaban Nyi Tartur tentang keberangkatan Nyi Receh dengan Ki Pagasuta ke Negeri Krosa. “Tidak mungkin Ki Pagasuta ikut.” Kata Ki Paruga sedikit meninggi suaranya” Aku tau dimana dia sekarang berada.”

“Kalau tidak percaya ya sudah, emangnya kenapa?” kata Nyi Tartur.

Memang. Memang tidak mungkin bagi Ki Pagsuta pergi dengan Nyi Receh. Kondisinya yang sedang sakit-sakitan dalam beberapa minggu ini tidak memungkinkannya untukbepergian jauh. Apalagi ke Negeri Krosak. Lalu dengan siapakh dia pergi?

Dalam perjalannya ke negeri Krosak, Nyi Receh memang tidak didampingi Ki Pagasuta. Dia berangkat bersama Panembahan Sastri Indata. Panembahan ini adalah orang yang sangat sakti mandraguna. Sudah lama menjadi sahabat dan sangat setia pada Nyi Receh. Apapun akan dilakukannya untuk Nyi Receh. Sampai hal yang tetek bengekpun dilakukannya. Salah satu kesaktiannya adalah untuk berubah bentuk. Dia bisa berubah menjadi seseorang sesuai dengan keinginan Nyi Receh. Kalau sudah bepergian dengan Nyi Receh, dia bisa menjadi siapa saja. Kemaren menjadi Arjuna. Ini hari dia menjadi Rahwana. Besok menjadi Sangkuni. Pokoknya bisa. Ilmu ini diperoleh dengan cara berkolaborasi dengan Nyi Receh. Tentu saja dia bisa karena dia adalah murid utama dari Mpu Kalalaso ketika menuntut ilmu di gunung Halimun eh gunung Himalaya.

Maksud utama dari kepergian Nyi receh dengan Panembahan Sastri Indata ini adalah untuk mengurangi biaya bepergian. Karena panembahan ini sangat patuh dan bisa berubah cepat maka pasti banyak receh yang dapat disisakan. Tentu saja banyak hadiah yang bisa dibawa pulang untuk Ratu Lula.

Ya Nyi Receh, sudah bejanji untuk mencarikan Ratu Lula hadiah yang sangat menarik dan langka. Harganya fantastis, mutunya bombastis. Oleh karenanya hadiah itu bisa diberikan kepada Ratu Lula dan Raja Buba yang merayakan hari Takadu. Disamping itu bisa dibawa untuk menemani Raja dan Ratu Lula mengunjungi negeri di atas awan.

Satu lagi, Nyi Receh ingin mendekati para ksatria terpilih agar dia tidak terusik bila nanti raja buba mengundurkan diri. Semua pesona ditebar untuk para ksatria. Nyi Receh bagi-bagi hadiah untuk dibawa pulang ksatria terpilih. Tapi, satu yang tidak boleh lupa, setiap yang dibeli harus ada receh untuk nya.

Baik dan dermawan sekali Nyi Receh.

Tidak. Tidak mungkin karena segera setelah pulang, Nyi receh punya rencana. Semua bill dan tagihan akan diserahkan pada Nyi Lumpi. Tentunya untuk dibayar. Sebagai pengeluaran kepatihan…

================================================================

Sudah tiga purnama berlalu semenjak Nyi Receh diangkat menjadi Patih Umada. Persis seperti yang disampaikan para abdi dalem dimana Nyi Receh pernah memimpin, setiap ada peluang dan kesempatan untuk mengumpulkan receh, selalu dimanfaatkan oleh Nyi receh.

Suasana di Kepatihan Umada sudah jauh berubah dari biasanya. Bila beberapa bulan sebelumnya kesejukan hati dan kesibukan kerja selalu tampak menaungi kepatihan Umada, sejak kedatangan Nyi Receh, jangankan kesejukan, keceriaan pun enggan untuk datang, walaupun hanya sesaat.

Sebagaimana yang pernah diteriakkan Nyi Receh sekitar sewindu yang lalu ketika dia mengunjungi kepatihan Umada, Nyi Receh akan merubah Kepatihan Umada dengan wajah baru. Hal ini terbukti, kepatihan Umada seperti mati suri-seperti tidak ada detak dan denyut kehidupan.

Pagi masih terasa dinginnya, Disana sini terdengar bisik dan cerita para abdi dalem, yang semuanya mulai berani dan terang-terangan mengejek tingkah polah dan perilaku Nyi Receh.

“Nyi Receh menjual roda kereta perang milik senopati utama” kata Nyi Tartur.

“Roda kereta yang mana?” kata Ki Paga Suta.

“Roda kereta kepatihan yang biasa dipakai Nyi Senpoati Utama, roda itu kan baru saja diganti. Roda bekas itu dijual oleh Nyi Receh.” Kata Nyi Tartur.

“Ah masak sih?” Kata Ki Paga Suta.

“Tanya saja sama Nyi Senopati kalau tidak percaya.” Ujar Nyi Tartur.

“Wah pasti tambah banyak receh yang dikumpulkannya. Dia pasti bisa bikin senang Ratu Lula. Dengan receh-receh yang dikumpulkannya itu dia bisa membeli hadiah untuk Ratu Lula.” Sergah Ki Supata.

“Eib, bukan itu saja. Dia juga berhasil mendapat potongan recehan ketika membeli ladam sepatu kuda. Walaupun dia harus bertengkar dengan Ki Sipit Mata pemilik bengkel ladam sepatu kuda,” kata Syatri.

“Dari mana kamu tau?, tanya Ki Supata.

“Aku yang mengantarnya ke bengkel sepatu kuda Ki Sipit Mata,” jawab Syatri.

‘Wah, wah waa….h, semakin dahsyat saja kemampuan Nyi Receh dalam mengumpulkan recehan itu” kata Ki Supata.

Har semakin tinggi, semakin banyak saja para abdi dalem yang bertugas di kepatihan Umada mendengarkan diskusi tentang sepak terjang terbaru Nyi Receh.

Tiba-tiba Nyi Lumpi datang dengan tergopoh gopoh.

“Ada apa Nyi”, kata Ki Pagasuta

“Gawat, Nyi Receh Marah-marah,” kata Nyi Lumpi.

“Apa lagi yang membuatnya gusar? Kata Ki Supata.

“Dia sudah rindu untuk mendapatkan receh-receh terbaru. Mungkin untuk dibelikan sesuatu buat Raja Buba atau Ratu Lula.” Kata Nyi Lumpi.

“Memangnya sudah tidak ada lagi receh yang diambilnya dari anggaran belanja kepatihan utama” kata Ki Paruga.

“Mana ada,” sergah Nyi Tartur, “Semua sudah di babatnya waktu pergi plesiran dengan Raja Buba dan Ratu Lula dua purnama yang lalu.”

“Sekarang, biar dia rasakan, bagaimana susahnya kalau bikin kering air di kepatihan Umada. Tidak ada lagi recehan yang bisa diraupnya. Diapun hanya bisa cuap-cuap tanpa ada yang memperhatikannya” ujar Silamaj tiba-tiba.

“Apa maksud sampeyan?” tanya Ki Supata.

“Kalau dia tidak munafik, dan tidak hanya mementingkan hobinya mengumpulkan recehan, dia bisa dapat lebih banyak, bukankah begitu Nyi Lumpi ” kata Silamaj.

“Iya sih, tapi biar saja dia tau rasa.”kata Nyi Lumpi.

“Dia akan rasakan kalau dia punya perasaan, tapi sayangnya dia tidak punya yang satu itu” timpal Nyi Tartur.

“Ha, ha, ha……, “ semuanya tertawa.

=================================================================

“Biar saja. Taruh saja di sana. Jangan di pegang” teriak Nyi Receh geram ketika kuli angkut Kereta Gatot Kaca mencoba mendekati barang-barang bawaannya.

“Maaf Kanjeng, cuma mau bantu mengangkat dan membereskan barang-barang ini.” jawab salah seorang kuli angkut.

“Awalnya sih mau bantu membereskan, lalu membantu mengangkat, habis itu minta duit. Duit yang diminta duit receh lagi.” celoteh Nyi Receh.

“Tidak perlu, aku tidak perlu bantuan kalian. Aku bisa mengangkat sendiri. Tidak satupun diantara kalian yang boleh menyentuhnya. Barang itu adalah benda-benda berharga milik Paduka Yang Mulia Raja Buba dan Ratu Lula. Tidak pantas orang seperti kalian mengangkatnya. Itu semua barang-barang keramat.” hardik Nyi Receh ketika seorang lagi kuli angkut Kereta Gatot Kaca mencoba mendekat.

Di dalam hati Nyi Receh berkata “Membiarkan kalian mengangkat semua benda-benda itu naik ke atas kereta Gatot Kaca, berarti aku harus menyerahkan recehan berharga milikku pada kalian. Bisa bangkrut aku.”

“Tidak akan pernah teradi semua itu” desis Nyi Receh sambil menarik barang-barang bawaan Raja Buba dan Ratu Lula mendekati kereta Gatot Kaca.

Rupanya hari itu adalah hari keberangkatan Raja Buba, Ratu Lula dan Nyi Receh ke negeri Jahe. Sebagaimana santer terdengar dalam desas desus beberapa minggu terakhir ini, Raja Buba dan Ratu Lula akan melaksanakanan plesiran dalam rangka menyongsong Mangkatnya Raja Buba tiga bulan lagi. Ya tiga bulan lagi raja Buba akan mangkat (Masanya Ngak Berpangkat). Untuk menunjukkan darma baktinya sebagai patih yang hebat sekaligus setia, Nyi Receh mati-matian membujuk Raja dan Ratu Lula untuk pergi plesiran ke Negeri Jahe.

Negeri Jahe adalah negeri yang makmur, terkenal dengan kedisiplinannya. Orangnya ulet, tekun, kreatif dan pintar. (Ada suatu hal yang tidak pernah didengar Nyi Receh penghasilan mereka besar. Sehingga tidak satupun yang menggunakan uang receh. Bahkan peduli pada recehanpun mereka tidak).

Setelah menaikkan semua barang ke kereta Gatot Kaca, Nyi Recehpun duduk dibagian belakang sambil menyeka peluhnya.

“Syukur. Tidak satupun recehanku keluar. Aku selamat” Gumam Nyi receh sambil mengangguk-angguk. Dan terus terangguk.

Kereta mulai bergerak secara perlahan.

“Toooooooot”

Tiba-tiba terdengar suara aneh yang membuat kaget Nyi Receh. Dia tersentak, segera menyeka matanya.

“Ada apa ya? Pikir Nyi Receh.

“Dalam beberapa saat lagi kita akan segera memasuki Negeri Jahe. Silakan berpegangan erat sambil berdoa. Kereta Gatot Kaca ini akan memasuki badai hebat.” Terdengar sayup-sayup suara pembantu sais Kereta Gatot Kaca.

“Ufff…, sudah hampir sampai rupanya” gumam Nyi Receh.

“Tapi kok dia bilang ada badai hebat? Apa betul? Ah bohong semua itu. Tidak percaya aku. Masak cuaca sebagus ini dibilang mau badai. Kelakuan mereka ini persis seperti kelakuan pembatu-pembantuku itu. Semuanya penuh dusta” Nyi Receh terus bergumam.

Hampir sepeminuman teh berlalu. Badai sebagaimana yang disampaikan oleh pembantu sais kereta itu belum juga datang.

“Betul kan, perangai mereka ini sama dengan para senopati, ponggawa, abdi dalem dikepatihan Umada. Bikin orang sibuk aja.” Nyi Receh terus meyakini apa yang ada dipikirannya..

Tiba-tiba Kereta bergoyang pelan ke kiri dan kekana. Lama-lama goyangannya semakin cepat dan diselingi dengan goncangan yang semakin hebat. Nyi Receh yang sedari tadi tidak berpegangan terdorong kesana kemari.

Tiba-tiba dia berteriak hebat.

“Toloooooooooong!!!!!!” teriaknya.

Raja Buba dan Ratu Lula yang sedari tadi telah berpegangan erat kaget dan meoleh pada Nyi Receh.

“Apa yang kau takutkan Receh,“ kata Ratu Lula.”Inikan perjalanan biasa”

“Tidak apa-apa yang mulia, cuma kaget saja. Dan saya tadi terbayang dengan receh-receh yang telah saya kumpulkan. Apa jadinya semua itu kalau goncangan tadi membuat kereta ini jatuh dan hancur, Kanjeng Ratu” jawab Nyi Receh.

Esok hari, setelah melewati perjalanan yang menegangkan dan melelahkan, Rombongan plesiran itu sampai di Negeri Jahe.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s