BEYOND OPENING CEREMONY ASIAN GAMES 2018 (Mencintai dengan tetap memberi koreksi; Membenci dengan tetap memberi apresiasi; Berbagi bukan untuk mengundang caci maki)

IMG_20180819_142923_651Parintangrintang: Keren, cool. Itulah kata yang saya pilih dan dirasa cocok untuk menggambarkan pembukaan pesta olah raga terbesar yang pernah dilaksanakan di Indonesia sejak tahun 1962.

Pesta olah raga tingkat Asia, Asian Games 2018, pemilihan tuan rumahnya sudah ditentukan sejak 8 tahun yang lalu. Keinginan menjadi tuan rumah kala itu pasti dilandasi dengan keinginan yang kuat untuk menghadirkan sesuatu yang spektakuler. Pesta pembukaan yang menakjubkan, stadion yang megah, fasilitas penunjang yang modern, dan juga prestasi berupa medali yang banyak tentulah bagian dari mimpi mereka yang berjuang melakukan berbagai lobi untuk memenangkan pemilihan kala itu. Semuanya itu akan menjadi kebanggaan kita semua bangsa Indonesia.

Tadi malam, upacara (pesta) pembukaan yang meriah telah dihadirkan. Tanpa banyak narasi, pertunjukan digelar. Semua tersenyum sumringah. Semua seakan mengamini bahwa pesta itu adalah karya satu orang saja yakni orang nomor satu.
Dibalik pesta meriah tanpa kata-kata itu ada beberapa pernyataan dan pertanyaan yang menggelitik hati.

1. Ini karena Pak De. Kalau presidennya bukan Jokowi pasti acaranya gak bakalan semeriah ini. Benarkah? Sepertinya mereka tidak percaya dengan kemampuan anak-anak Indonesia; terkecuali tunduk dan mendapat restunya. Entahlah, bagi saya siapapun presidennya, acara yang sudah dirancang lama ini akan tetap spektakuler. Karena bagi saya, ketika ditanya “Siapa Kita? Indonesia”. Kita bekerja untuk Indonesia bukan untuk presidennya. Bukankah presiden dipilih untuk bekerja bagi Indonesia.

2. Apakah pada Olimpiade Rio 2016 sebagai ajang pesta olah raga tertinggi, tidak menampilkan Walikota Rio de Janeiro sebagai kota penyelenggara? Sama halnya dengan pertanyaan apakah Gubernur Jakarta akan diberi kesempatan untuk menyampaikan ucapan selamat datang pada acara pembukaan yang spektakuler itu jika gubernurnya bukan Anies Baswedan.
Sepertinya, tidak. Tidak ada sambutan Walikota Rio de Janeiro dalam ceremony pembukaan Olympiade Rio 2016. Jadi, wajar saja tidak ada sambutan Gubernur Jakarta dalam acara pembukaan tersebut siapapun gubernurnya.

3. Apakah Gubernur DKI Anies Baswedan akan diberi kesempatan untuk menyerahkan medali ketika kontingen Indonesia berhasil meraih medali, khususnya medali Emas? Jawabannya pastilah tidak. Masalahnya, dapat medali emas itu langka. Kalaupun dapat 10 emas pembagiannya sudah jelas. Jangan berharap, terlalu tebal dan mewah karpet merah panggung pengalungan medali itu untuk Gubernur DKI. Pengalungan medali untuk cabang yang tidak diraih kontingen Indonesia saja, sepertinya cukup layak untuk dipertaruhkan. Kalaupun ada, pastilah untuk olah raga yang tidak populer.

4. Sudahkah MRT, LRT yang dijanjikan itu dapat dipakai untuk kepentingan Asian Games 2018? Kata sebagian orang, sebagiannya lagi belum. Sepertinya harus dibuktikan sendiri, bila ada kesempatan ke daerah dimana fasiltas yang disediakan tersebut berada.

5. Apakah acara pembukaan Asian Games 2018 itu spektakuler? Tentu saja dan seharusnya begitu. Dari tahun ke tahun, setiap pembukaan even olah raga semacam Olimpiade ataupun Asian Games haruslah spektakuler, karena menyangkut kehormatan sebuah negara untuk dikenang para peserta, penonton baik langsung maupun lewat media elektronik. Kalau spektakuler sudah seharusnya; kalau tidak pastilah malu, kemana muka hendak disurukkan.

6. Siapakah yang paling berperan dalam pembukaan Asian Games itu? Untuk mendapatkan hasil yang maksimal diperlukan seorang creative director yang mengatur setiap menit bahkan detik rangkaian acara itu, dan kita punya sumber daya manusia yang cakap untuk itu.

7. Pelajaran apa saja yang dapat dipetik dari acara pembukaan itu? Ada banyak pilihan, tergantung dari siapa yang memberi penilaian. Kalau cebong dan kampret sudah jelas penilaian yang mereka berikan.

Bagi saya, bukan dalang, apalagi wayang yang dapat membuat sebuah pertunjukan spektakuler, yang dipilih dalang menjadi pengatur pertunjukan lah yang menentukan, bukan hanya nasib tokoh dalam cerita bahkan nasib dalang itu sendiri. Untuk kepentingan pertunjukan, demi kehebatan dalang, apa saja bisa dijungkirbalikan, bahkan dalangpun tak perlu banyak bicara dan cukup tersenyum karena bisa merusak pertunjukan. Sepertinya untuk setiap pertunjukan yang kita lihat sehari-hari, sang dalang telah diatur creative director sang manajer panggung. Ah, inikan tergantung bagaimana kita memaknainya.

Akhirnya saya lebih memilih untuk tidak mengidap syndrome “Mencintai tanpa koreksi; membenci tanpa apresiasi, dan berbagi untuk mengundang caci maki”

Kubang Gajah, 19 Agustus 2018

nspamenan@yahoo.com

Advertisements
This entry was posted in Politik dan Kekuasaan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s