Desain Pembangunan Tanpa Aljabar

IMG_20180803_194403Parintangrintang: Sekitar 14 tahun yang lalu, ketika baru pertama kali belajar ilmu ekonomi- sebagai dasar ilmu pembangunan ekonomi, saya sangat kaget ketika pada kuliah perdana saya diperkenalkan bahwa, kelulusan saya tergantung dengan 3 jenis jawaban yang dituangkan dalam ujian. Pertama menjawab soalan (permasalahan) dengan narasi, kedua, menjawab soal dengan aneka grafik (gambar), dan ketiga menjawab soal dengan menggunakan aljabar (matematika).

Walaupun ketiganya dibenarkan, namun masing-masing memiliki nilai yang berbeda. Jika dapat menjawab soalan hanya dengan narasi maka sebagus apapun narasi/ argumentasi/ paparan yang ditulisan maka maksimal nilai yang didapat adalah “C”, tidak akan lebih dari itu.

Bila mampu menjawab soalan melalui penjelasan menggunakan grafik dan gambar maka nilai maksimal yang akan diperoleh adalah “B”, dengan kemungkinan nilai terbanyak yang diterima adalah “B-” (baca: B minus).

Sedangkan, kemampuan untuk menjelaskan secara matematis atau Aljabar merupakan satu-satunya cara untuk mendapatkan nilai “A”. Bila dapat membuktikan melalui persamaan Aljabar, menggambarkan dengan grafik, dan menjelaskannya dengan paparan yang jelas, terstruktur dan dapat dipahami maka disitulah nilai “A+” (baca: A plus) baru bisa diperoleh.

Lama baru saya paham, kenapa sudut pandangnya seperti itu. Kenapa penjelasan yang tertuang dalam belasan halaman folio hanya dihargai “C” paling tinggi? Penjelasan dengan kata-kata seringkali bersifat kualitatif yang kurang terukur. Seringkali juga penjelasan yang diberikan tidak runut, melenceng dari fenomena yang ada, tidak lengkap, bahkan seringkali tanpa landasan teori yang jelas. Mirisnya, seringkali pembuktian dilakukan tanpa bukti yang bisa diterima dan perkiraan dampak yang tidak bisa dilihat apalagi diukur.

Untuk bisa menuangkan teori dengan dengan jelas, menambahkan setiap fenomena, dan membuktikan kebenaran sebuah kebijakan yang hendak ditempuh maka penjelasan dengan grafik, yang mempunyai sumbu vertikal (X), dan sumbu horizontal (Y) dengan angka positif dan negatif lebih mudah diterima, dan dipahami. Namun demikian, perkiraan besaran dampak (baik positif maupun negatif) belum dapat dihitung secara pas (mendekati kebenaran).

Oleh karena itu diperlukan perhitungan aljabar untuk membuktikannya. Dengan mengganti fenomena yang ada dengan simbol (X, Y, Z, dst) sebuah fenomena dapat digambarkan, arah dapat segera dilihat (positif atau negatif), titik optimum dapat ditentukan, dan perkiraan dampak bisa dihitung. Oleh karenanya pembuktian tentu dapat dilakukan hanya dengan melihat tanda (>, <, atau =). Dari prinsip tersebut, dapat diketahui bahwa sebuah desain kebijakan dapat dikeluarkan dengan mempertimbangkan dampak jangka pendek, dampak jangka panjang bahkan bisa juga dimasukkan unsur uncertainty (ketidakpastian) sebagai fenomena. IMG_20180803_193631_554

 

Kini, ketika harga pangan melambung, harga BBM melonjak naik, nilai rupiah meroket, beberapa proyek infrastruktur hendak diberhentikan, impor minta dikurangi adakah kebijakan pembangunan yang disusun didesain dengan menggunakan rumus dan formula yang mampu menghasilkan kebijakan komprehensif; atau desain kebijakan pembangunan selama ini sebenarnya hanyalah sebuah kebijaksanaan yang dipilih dari sebuah narasi yang dikemukakan berulang-ulang yang dilengkapi dengan visualisasi angan-angan.

Sejatinya, kebijakan itu hendaklah kebijaksanaan dalam memilih berbagai alternatif pilihan atas berbagai perhitungan yang bisa diuji; bukan atas cerita dan gambar untuk sekedar memuaskan.

Adakah desain kebijakan pembangunan yang dilaksanakan selama ini diputuskan dengan perhitungan menggunakan aljabar yang mumpuni, atau hanya berdasarkan retorika dan gambar semu semata?
Entahlah, seharusnya orang-orang cerdas itu menjadi orang yang mencerdaskan; bukannya menjadi orang yang tidak mencerdaskan (pimpinan) apalagi menyesatkan (pimpinan). Dengan demikian tentu sudah agak jelas kira-kira berapa nilai desain kebijakan pembangunan yang dibuat untuk kurun waktu terakhir ini.

Kubang Gajah, 2 Agustus 2018

nspamenan@yahoo.com

Advertisements
This entry was posted in Politik dan Kekuasaan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s