BAKO BOOT CAMP: Belajar Mandiri di Rumah Inyiak

Parintangrintang: Kata (istilah) boot camp pertama kali saya kenal sebagai bahan mata kuliah reading. Namun saya tidak ingat secara persis kapan dan dimana bahan bacaan yang berjudul boot camp itu saya berikan untuk mahasiswa bahasa Inggris yang saya asuh kala itu. Walaupun demikian, wacana yang berjudul boot camp ini begitu berarti dan lengket dalam pikiran saya.
Eh. Boot camp itu apa ya?
Boot camp (berdasarkan bahan reading yang saya berikan tersebut) adalah kegiatan mengirim anak-anak ke suatu pusat pelatihan dalam rangka mendisiplinkan anak, mengurangi tingkat kenakalan anak, meningkatkan kepatuhan anak, meningkatkan rasa percaya diri anak, memotivasi anak untuk mau belajar dan seterusnya. Boot camp itu seperti barak pelatihan prajurit. Kalau sudah seperti barak pelatihan prajurit, saya tidak ingin menggambarkan apa lagi. Setiap orang punya persepsi sendiri, apa lagi saya yang tidak pernah mengikuti pelatihan di tempat seperti itu. Jadi cuma bisa mereka-mereka.
Yang menarik dari boot camp itu bagi saya adalah hasil dan dampaknya (outcome dan impact) berupa sikap dan sifat disiplin, rasa percaya diri, sikap saling menghormati, saling membantu dan berbagai interaksi sosial lainnya yang terbentuk setelah di-boot camp-kan.

Lalu, kata “bako”. Kata bako berasal dari bahasa Minang. Bako berarti kelompok keluarga yang merupakan saudara dari orang tua laki-laki kita. Kenapa kelompok keluarga? Sistem matrilineal di Minangkabau menjadikan kekerabatan berbasis suku yang diturunkan dari garis keturunan ibu. Jadi bako adalah adik atau kakak orang tua laki-laki, baik saudara seibunya maupun saudara sepupunya dari saudara perempuan ibunya. Ah, susah juga mendeskripsikannya, pokoknya bako adalah saudara yang hubungan kekerabatannya berasal dari pihak/keluarga bapak (ibu dari bapak).

Karena berasal dari dua bahasa dan dua budaya yang juga berbeda maka perlu dijelaskan apa yang dimaksud dengan bako boot camp. Tentunya sesuai dengan versi saya.
Sebagaimana judulnya, bako boot camp adalah latihan kemandirian anak dengan cara tinggal beberapa hari di rumah bako. Bagi sebagian orang hal ini mungkin aneh, terutama bagi yang bako-nya ada di subaliak dapua alias pada rumah atau kampung yang berdekatan. Tidak demikian halnya dengan yang tinggal berjauhan. Apa lagi di zaman now dimana anak-anak lebih sibuk dengan gadget, tatkala yang jauh serasa dekat, dan yang dekat tidak terlihat.

Tertarik dengan dampak positif dari boot camp, kondisi anak-anak zaman now dengan gadgetnya, dan kurangnya interaksi antara anak-anak dengan masyarakat di kampung bakonya, beberapa hari yang lalu anak-anak diantarkan ke kampung untuk menikmati pengalaman “Bako boot camp” selama beberapa hari. Mumpung sedang libur sekolah.
Senangkah mereka atau keberatankah mereka?

Pertama, agak keberatan. Segera mereka akan kehilangan akses Wifi. Apa lagi Piala Dunia sedang berlangsung. Seperti biasa mereka terlihat cemberut, tapi tetap menurut. Jadilah mereka mengikuti bako boot camp selama beberapa hari, sebagai pengisi libur kenaikan kelas.

Saya tidak sabar untuk mengetahui apa dampak dari bako boot camp yang bisa mereka peroleh. Adakah meningkat kemandirian, rasa hormat, kemampuan berinteraksi, tenggang rasa, tolong menolong mereka.

Ah, harapan yang terlalu tinggi.
Setelah empat hari, tersebab ada hari libur nasional mendadak, dan kebutuhan akan teman nonton sepak bola piala dunia, dijemputlah anak-anak yang sedang mengikuti bako boot camp tersebut.

Walaupun tidak terencana, sebelum pulang mudik dari bako boot camp kamipun berjalan-jalan ke beberapa objek wisata tak jauh dari rumah Inyiak (kakek) tempat anak-anak dibootcampkan. Ada banyak canda dan tawa selama perjalanan, terutama tentang cerita dan dialog yang mereka dengarkan selama mereka tinggal ditempat Inyiak.

Diantara cerita itu adalah, pergi ke Lapau Mandan untuk minum kopi dan atau kopi susu pada pagi ataupun sore hari lengkap dengan dialog orang di lapau yang mereka dengar. Cerita lainnya adalah pergi ke mesjid untuk ikut shalat Zuhur dan Ashar berjamaah bersama Inyiak dengan dialog penawaran untuk azan ashar yang semula tidak dipahami. Maklum, bagi orang tua di kampung azan itu disebut abang. Tak ketinggalan jalan di pematang sawah menemani ibu/ tante/eteknya ke sawah. Semuanya diceritakan dan dibahas secara menarik penuh canda dan tawa.

Semula kami menyangka, pembelajaran bersosialisasi dan pengetahuan lintas budaya itu sajalah yang mereka dapatkan. Ternyata tidak. Sekarang ada tanggung jawab untuk membereskan lantai yang kotor dengan menyapunya, dan beberapa hal lainnya. Demikian juga dengan kebiasaan yang tidak melulu harus memegang gadget karena berkomunikasi langsung juga asyik.
Ternyata Bako boot camp itu cukup efektif bagi anak-anak zaman now yang terbelenggu gadget. Paling tidak bagi anak-anak kami. Ternyata juga Bako boot camp itu sebenarnya adalah belajar mandiri di rumah Inyiak, yang dulu sering kami, eh kita, maksudnya saya lakukan.

Kubang Gajah, 28 Juni 2018

nspamenan@yahoo.com

Advertisements
This entry was posted in Interest, My life. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s