Maasak Rantau: Tentang Jalan Hidup Nan Berliku

Parintangrintang: Dua tahun yang lalu, ketika hendak mengakhiri tugas kedinasan saya di pada Pemerintah Kota Kabupaten Lima Puluh Kota, untuk memulai pengabdian pada Pemerintah Kota Payakumbuh, saya menulis sebuah Note di laman Facebook saya. Farewel note yang berjudul Maasak Rantau tersebut, terasa agak sentimentil, tetapi yah, begitu lah adanya. Kenapa tidak, walau rantau diasak (atau dipindahkan) tempat tinggal tidaklah semerta merta berpindah, karena saya masih tinggal di rumah yang sama di Kota Payakumbuh.

Tak ada yang perlu disesali dari Maasak Rantau tersebut. Rantau baru telah menghadirkan sahabat baru, keluarga baru, pengalaman baru, dan tentunya semangat dan motivasi baru.

Inilah, note yang berjudul Maasak Rantau tersebut.

=====¥¥¥¥¥¥====

Hampir enam belas tahun yang lalu, berbekal Petikan SK Gubernur KDH TK I Sumatera Barat tentang Pengangkatan sebagai CPNS, saya, bersama 7 (tujuh) orang teman yang baru saja dikenal beberapa hari sebelumnya (saat menerima SK), datang menghadap kepada Kepala Bagian Kepegawaian (sering disebut UP) Sekretariat Daerah Kabupaten Lima Puluh Kota. Itulah kali pertama saya datang, berbekal ijazah sarjana pendidikan, masih muda dengan semangat membara terbawa arus gerakan reformasi untuk melawan kesewenang-wenangan dan musuh bersama rakyat kala itu: Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN).

Hari itu, Jumat tanggal 29 April 2016, berbekal Petikan SK Gubernur Sumatera Barat juga, saya akan mengakhiri pengabdian sebagai seorang Pegawai Negeri Sipil pada pemerintah Kabupaten Lima Puluh Kota, dan selanjutnya mengabdi pada Pemerintah Kota Payakumbuh, sesuai dengan yang tercantum dalam SK tersebut. Bila pada SK sebelumnya, tidak diketahui kemana akan pergi sebelum melihat SK tersebut, SK yang baru ini murni atas permohonan pribadi. Permohonan diri untuk MAASAK RANTAU.

Berkenaan dengan MAASAK RANTAU ini, izinkan saya menyampaikan permohonan maaf dan juga terima kasih, baik selaku pribadi maupun aparatur sipil negara, kepada Bapak/ Ibu dari seluruh jajaran Pemerintah Daerah Kabupaten Lima Puluh Kota. Permohonan ini tentunya ditukan utamanya pada Bapak/Ibu pejabat Eselon II, Eselon III, Eselon IV, Pejabat Fungsional tertentu dan Fungsional umum serta THL pada SKPD tempat saya pernah bertugas, seperti: Bappeda, Dinas Pendidikan, Bagian Perekonomian Sekretariat Daerah, dan Inspektorat Kabupaten Lima Puluh Kota. Bila ada perkataan, perbuatan, dan perlakuan saya selama menjalankan tugas kurang berkenan dihati Bapak/Ibu, kiranya mohon dimaafkan.

Selanjutnya, izinkan juga saya menyampaikan ucapan terima kasih yang sedalam dalamnya kepada Bapak Bupati Lima Puluh Kota (sesuai dengan periodenya) yang telah:

  1. Memberi kesempatan untuk ikut menyusun berbagai dokumen perencanaan sejak dari Repetada, Renstrada, dan Poldas pada awal-awal otonomi daerah, sampai dengan RKPD, RPJMD, dan RPJPD sekarang ini.
  2. Memberi kesempatan mengikuti berbagai DIKLAT tentang perencanaan baik yang dilaksanakan oleh BAPPENAS, KEMENDIKNAS, dan KEMENDAGRI.
  3. Memberi kesempatan untuk berkompetisi untuk mendapatkan beasiswa dari PUSBINDIKLATREN BAPPENAS, sehingga, sebagai anak kampung, saya berkesempatan untuk kuliah di Program Pascasarjana Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.
  4. Memberi kesempatan untuk mengimplementasikan ilmu yang saya peroleh diperguruan tinggi (Ilmu Jenjang S1) dengan menjadi Sekretaris Dinas Pendidikan dan menjadi seorang Kepala Bidang Ekonomi dan Kepala Bagian Administrasi Perekonomian (Ilmu Jenjang S2).
  5. Memberi kesempatan untuk berinovasi seperti menerbitkan PDRB Kabupaten Lima Puluh Kota dalam dua pendekatan (Pendekatan Sektor dan Pendekatan Penggunaan) semenjak tahun 2007 setelah pulang tugas belajar.
  6. Memberi Kesempatan untuk mengeksplor berbagai hal tentang gambir (walaupun seminggu setelah melapor kepada Bupati untuk memakai Tinta Pemilu Berbahan Gambir di Kampung saya, saya dibebastugaskan) sehingga pernah ada DEKLARASI GERBANG GAMBIR NUSANTARA oleh Bapak Gubernur Sunatera Barat, Bupati Lima Puluh Kota, UNAND, POLITANI Payakumbuh, BAPPENAS, KEMENRISTEK, DPRD Lima Puluh Kota, dan Petani Gambir itu sendiri.
  7. Memberi kesempatan untuk mengenal konsep pembangunan ekonomi berbasis pengembangan ekonomi lokal dan daerah (PELD).

Dengan membebastugaskan (baca: menonjobkan) saya, telah membuka cakrawala pemikiran saya, sehingga saya:

  1. dapat berkarya dan menerbitkan sebuah buku tentang kampung halaman saya,
  2. memperoleh gambar dan dokumen tentang tambang emas Mangani (yang mungkin tidak dimiliki oleh orang-orang di Kabupaten Lima Puluh Kota) yang sedang disusun dan dipersiapan untuk menjadi sebuah buku,
  3. memiliki blog pribadi sehingga dapat tetap berekspresi, ketika pena sudah tidak berguna lagi untuk bermohon, meminta ataupun menyetujui.
  4. dapat berjuang untuk menjadi seorang Perencana profesional yang kompeten dan bersertifikat (baca: Fungsional Perencana)

Semoga semua itu dibalas oleh Allah SWT, dan menjadi bekal dan kekuatan yang berharga bagi saya untuk menggapai dan mengisi hari esok yang lebih baik ketika RANTAU SUDAH DIASAK.

Dari perpustakaan pribadi saya, sayup-sayup terdengar “SADANGKAN MANINGGAKAN TAMPEK LAHIA LAH DIKARAJOKAN, APOLAI HANYO MA-ASAK RANTAU”.

Kubang Gajah, 29 April 2018

nspamenan@yahoo.com

Advertisements
This entry was posted in My life. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s