SUNGAI JANIAH: BUKAN SEKEDAR IKAN SAKTI

sungai janiah

Parintangrintang: Sudah cukup lama saya tidak datang ke tempat ini, objek wisata ikan sakti Sungai Janiah. Dulu, semasa masih bersekolah di SD, SMP, (mungkin juga) SMA, sekali setahun datang juga berwisata (pai malala) ke tempat ini. Waktu yang dipilih biasanya di hari Raya Idul Adha. Pada saat itu, hanya ada dua pilihan transportasi yang kesemuanya berjalan kaki.

Bedanya, yang satu tidak perlu masuk sungai untuk menyeberang alias lewat jembatan; yang satunya lagi harus menyingsingkan celana, mengangkat sandal menyeberangi sungai. Rute pertama adalah melewati jembatan di depan Mesjid Nurul Ihsan Lurah, terus ke Parik Siku di Sungai Baringin Nagari Panampuang menyeberang parit ke Tabek Panjang Baso. Sepertinya rute ini yang adalah rute dari selatan. Sementara itu rute kedua melewati kampuang Dalam Pakan Nagari Koto Baru terus melewati Lapau Mak Bauik menyusuri tepi sungai, menyebrangi sungai, meniti pematng sawah, melewati pondok batu bata, dan berhenti sejenak di bawah batang beringin. Sepertinya rute ini adalah jalan menuju ke lokasi Tabek ikan sakti dari arah barat.

Dalam kurun waktu hampir tiga dasawarsa tersebut, rasanya tidak ada perubahan mencolok dari Tabek Ikan Sakti Sungai Janiah ini. Ikan yang dilihat rasanya masih ikan dari jenis yang sama. Yang dijual pun masih sama kerupuk ubi (karupuak kamang) untuk dikasih ke ikan, dan pensi untuk dimakan dan terkadang dikasih ke ikan. Ada yang bertanya kenapa bukan pelet yang dijual untuk diberiksn kepada ikan-ikan tersebut. Jawabannya, seperti biasa hanya senyum saja. Bagi saya, itu bagus, pelet selain bisa berpengaruh pada ekosistem, secara ekonomi lebih menguntungkan bagi industri yang berada di tempat lain nun jauh di sana; sementara kerupuk kamang dan pensi nilai tambahnya tidak akan jauh-jauh dari wilayah itu.

Bedanya, selain airnya yang mulai menghijau dan tidak lagi jernih mungkin tidak ada lagi orang mencuci di pinggirnya plus tambahan tempat duduk seperti halte beralaskan kayu di pinggirnya. Satu lagi, lokasi agak lebih bersih walaupun masih ada pengunjung yang tidak membuang sampah ke dalam tempat yang disediakan.
Aduh, terlalu panjang pembukaanya.
Kenapa saya harus menuliskan bukan sekedar ikan sakti Sungai Janiah?
Seperti biasa, kalau bertemu dengan orang tua-tua saya suka bertanya tentang asal-usul, adat istiadat dan suku di suatu tempat.
Maka bertanya lah saya sambil maota-ota dengan seorang Bapak, yang saya panggil Inyiak.
Pertanyaan pertama adalah, “Dari mana asal usul orang sungai Janiah?”
Jawabannya membuat saya kaget, “Dari Kubuang Tigo Baleh, sebuah tempat di perbukitan itu (sambil menunjuk ke sebelah utara).”
“Dari Arah Kampeh?” saya mencoba mengklarifikasi.
“Bukan, kalau hendak ke Kampeh (nama sebuah jorong di Nagari Simarasok Kecamatan Baso Kab Agam) lewatnya se-jalur dengan tiang Sutet itu,” ulasnya.
“Tempat seperti apa itu Kubuang Tigo Baleh itu?” tanya saya lagi.
“Sebuah hamparan yang cukup luas, kini jadi peladangan orang. Orang Kampeh itu yang banyak berladang di sana sekarang,” ulas bapak itu lagi.
“Apa peninggalan zaman saisuak yang masih tersisa di sana. Ada batu mejan, batu bersurat atau sejenisnya? tanya saya lagi.
“Tidak ada, atau entah lah, tetapi di sana masih dapat dijumpai sumur tua yang cukup besar, ” jawab si Inyiak.
“Apa arti dari Kubuang tigo baleh tu Nyiak?” tanya saya lebih jauh.
“Kubuang itu tidak pula jelas artinya bagi saya, tetapi yang dimaksud dengan tiga belas itu adalah tiga belas pintu masuk atau pintu keluar.” jelas Inyiak itu lagi.
“Mungkin bukan Kubuang ya Nyiak, tapi Kuruang, karena berkaitan dengan gerbang masuk dan keluar,” sela saya.
“Entah lah, tetapi nama Sungai Janiah ini adalah nama sebuah jalan keluar dari sana,” jawab bapak itu.
“Jadi Sungai Janiah itu bukan tempat ini ya Nyiak?,” tanya saya seraya menunjuk Tabek Ikan Sakti tempat kami berdiskusi.
“Bukan, ini semula hanyalah tabek milik orang bertanam tebu, kopi atau pisang. Karena ada anak orang yang bertanam tebu itu hilang dan tidak ditemukan, dan di tabek itu yang semula tidak ada ikan lalu muncul ikan, maka disebutlah anaknya yang hilang itu jatuh ke tabek dan menjadi ikan. Cerita itu banyak yang percaya, lama kelamaan ikannya menjadi banyak dan orang pun percaya itu ikan sakti. Akhirnya ceritanya menyebar dan banyak yang tertarik datang dan berkunjung. Mulailah orang bermukim di tempat ini. Kalau tidak banyak yang datang sejak dulu, tidak mau orang bermukim di sini. Sudah jelas tempatnya sakti” kata bapak itu lagi.
“Jadi tempat ini ramai karena ada nilai ekonomisnya ya Nyiak. Inyiak sendiri rumahnya dimana?” tanya saya lagi.
“Nenek saya tinggal di pinggiran bukit di sebelah utara itu. Dulu daerah itu ramai, sekarang orang cenderung membangun rumah ke arah ini. Masalahnya sederhana, fasilitas sekolah, transportasi, dan listrik.” jawabnya lagi.
“Ada berapa suku di sini Nyiak?” tanya saya.
“Di Sungai Janiah ada 7 (tujuh) suku” jawabnya.
“Sungai Janiah ini nagari atau jorong Nyiak?” tanya saya.
“Jorong, nagarinya Tabek Panjang” jawabnya.
“Kalau di Tabek Panjang ada berapa suku?” tanya saya lagi.
“Sepuluh, suku” jawabnya.
“Apakah orang Tabek Panjang berasal dari Kubuang Tigo Baleh juga?” tanya saya lagi.
“Hmmm, mungkin tidak, karena Tabek Panjang itu adalah tabek yang ada di dekat SD berseberangan dengan mesjid ketika masuk dari arah Baso tadi. Sebaiknya ditanya ke orang Tabek Panjang saja, biar tidak salah”, jawabnya.
“Terakhir Nyiak, apa hubungan antara Kubuang Tigo Baleh asal orang Sungai Janiah ini dengan Kubuang Tigo Baleh di Solok?” tanya saya.
” Tidak tau juga, mungkin mereka juga berasal dari sini, karena nama-nama tiga belas jalan masuk/keluar tersebut juga menjadi nama nagari di Solok. Ada nama Salayo, Cupak, Koto Anau, dan Sungai Janiah di Kubuang Tigo baleh itu. Rasanya tiap daerah punya tambo, yang tentunya dipercayai oleh masing-masing nagari,” kata si bapak agak panjang lebar.

Ah, seandainya saya punya waktu, bisa bertanya kepada orang tua yang lain, pasti bisa dibandingkan, dilengkapi perbincangan itu tadi.

Jadilah kunjungan saya kali ini, bukan sekedar jalan jalan, tetapi juga mendapat pengetahuan baru dimana, ada nagari yang tidak satu sejak semula dapat hidup berdampingan sebagai satu nagari.

Ternyata nama Sungai Janiah itu bukan nama tabek yang menjadi objek wisata yang sedang saya kunjungi tersebut.
Ada Kubuang Tigo Baleh, suatu tempat di dekat bukit barisan yang mirip dengan Kubuang Tigo Baleh di Solok.Kalau membaca sejarah/tambo tentang Kubuang Tigo Baleh yang ada di Solok, dituliskan nenek moyang mereka berasal dari Agam. Padusi dari bundokanduang.wordpress.com/2010/12/13/kubuang-tigo-baleh/ misalnya (diakses 30/10/2017 pukul 11:00 WIB) menyebutkan “Dari naskah Tjuraian Asal Mula Negeri Solok dan Salajo, diperoleh keterangan bahwa nama Kubuang Tigo Baleh berasal dari datangnya 73 orang dari daerah Kubuang Agam ke daerah yang sekarang disebut Kabupaten dan Kota Solok. Kutipan yang persis sama juga dapat dilihat padaminangheritage.id/2011/11/15/kubuang-tigo-baleh-dan-sejarahnya (diakses 30/10/2017 pukul 11:05 WIB). Sejauh ini, itulah informasi yang diketahui tentang asal usul dari nenek moyang orang Kubuang Tigo Baleh, berasal dari Kubuang Agam. Dimana Kubuang Agam tersebut? Belum ada informasi. Mungkin saja Kubuang Agam yang dimasud itu adalah Kubuang Tigo Baleh yang ditunjukkan Inyiak itu tadi. Wallahuallam.

Menarik. Entahlah. 

Namun demikian ini hanya ota-ota saja, bukan penelitian, yang dituliskan sebagai pisau untuk mengasah pisau literasi, sesuai dengan istilah yang ada di zaman now ini.

Wassalam.

Kubang Gajah, 29 Oktober 2017

nspamenan@yahoo.com

Advertisements
This entry was posted in Ranah nan Manggadangkan, Traveling and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s