MENELUSURI GOOGLE MENCARI JEJAK FAKIH SAGHIR TUANKU SAMING SYEKH JALAL ADDIIN (JALALUDDIN) #1

Parintangrintang: Beberapa waktu yang lalu, secara berturut-turut saya menemukan salinan pdf dari beberapa buku terkait dengan pergolakan paderi di Sumatera Barat. Salah satunya adalah buku yang dipublikasikan oleh Dr. Hollander bertahun 1857. Buku tersebut berisi naskah beraksara (huruf) arab melayu (aksara jawi?). Naskah inilah kemudian yang dikenal dengan Surat Keterangan Syekh Jalaluddin (SKSJ). Naskah yang di dunia maya penggunaan dan ujung analisisnya bisa saja berbeda 180 derajat. Tergantung untuk apa analisanya dibuat.
Salah satu dari buku tersebut adalah buku yang berjudul Verhaal van den Aanvang Der Padri-Onlusten Op Sumatra door Sjech Djilaal Eddin Maleische Tekst met Aanteekeniggen (Kisah Awal Kerusuhan  [Perang] Padri di Sumatera oleh Sjech Djilal Eddin – Teks berbahasa  Melayu dengan beberapa tambahan penjelasan). Pengantar dan penjelasan buku tersebut menggunakan bahasa Belanda yang dilengkapi dengan uraian cara membaca naskah beraksara arab melayu tersebut. Edisi pdf (yang dapat diunduh dari google books) tersebut menggunakan cara membaca yang terbalik dari cara kita membaca biasa. Bila biasanya kita membaca aksara laten dari halaman kiri ke kanan (dalam hal dokumen pdf dari atas ke bawah) maka dalam edisi ini dari kanan ke kiri (bawah ke atas). Demikian juga sebaliknya, tulisan yang beraksara arab melayu. Sementara itu judul dari salinan teks berakasara arab melayu tersebut adalah Hikayat Syekh Jalal Addiin.
Judul Buku
Dalam banyak literatur, Hikayat Syekh Jalal Addiin ini lebih sering disebut dan dikenal sebagai Surat Keterangan Syeikh Jalaluddin (SKSJ). Kenapa SKSJ judulnya? Semuanya tentu adalah pilihan dari pengalih aksara hikayat tersebut. Menurut hemat saya, judul teks tersebut adalah Hikayat Syekh Jalal Addiin dan bukan Surat Keterangn Syekh Jalaluddin.
Kata hikayat mungkin kata serapan dari bahasa arab. Hikayat itu maknanya serupa dengan cerita.  Oleh karenanya dalam literatur di Sumatera Barat atau melayu kata hikayat sering digunakan. Tidak heran bila dulu kita sering mendengar Hikayat Cindua Mato, Hikayat Sabai Nan Aluih, Hikayat Nan Tongga Magek Jobang, Hikayat Puti Balukih, dan hikayat lainnya. Dengan demikian pemberian judul naskah tersebut sebagai Hikayat Syekh Jalal Addin sudah selaras dengan judul hikayat yang menggunakan nama-nama tokoh pada hikayat sebagaimana disebutkan di atas.
Hikayatpun tidak hanya berisi cerita fiksi tetapi lebih sering berupa ringkasan sejarah seperti terdapat dalam buku Enam Belas Tjeritera Hikajat Tanah Hindia yang dikarang oleh G.J.F Biegman cetakan Gobernemen di Betawi pada tahun 1894.
Hal yang sangat menarik untuk diketahui bagi saya adalah  siapa penulis hikayat tersebut sebenarnya. Sederhananya, dimanakah kita bisa menemukan bigorafi penulisnya. Lebih tepatnya siapakah sebenarnya Faqih Saghir Alamiyah Tuanku Saming Syekh Jala Addin Ahmad Kota [Koto] Tuah itu sebenarnya?
Alamat Surat
[Alamat Surat keterangan dari pada saya Fakih Saghir Alaamiyah Tuwanku Saming Syeikh Jalal Addin Ahmad Koto Tuah juwa Adanya Wallahulhadi Ila Sabiil Ar rasaad]
Berdasarkan naskah yang didapat dari google di atas saya mencoba menelusuri nama tersebut lebih jauh di google. Ternyata dalam berbagai literatur sering kali hanya digunakan satu nama baik oleh penulis Belanda maupun penulis berkebangsaan Indonesia. Lebih jauhnama tersebut terdiri dari tiga kelompok (nama) yaiut: (1) Fakih Saghir, (2) Tuanku Saming, (3) Syekh Jalal Addin Ahmad Koto Tuah.
Siapakah Fakih Saghir?
Sering kali dalam tulisan tentang asal muasal perang paderi dan juga dalam kajian tentang naskah SKSJ, Fakih Saghir disebut sebagai salah seorang murid Tuanku Nan Tuo, seorang ulama terkenal dan dihormati di Minangkabau pada abad ke 18. Sebagai murid Tuanku nan Tuo, dia satu angkatan dengan Tuanku nan Renceh, seorang ulama dengan karakter yang keras dalam menegakkan syariat islam di Ranah Minang kala itu. Dalam SKSJ dapat ditemukan bagaimana pendiriannya. Itu saja.
Lalu siapa dia sebenarnya. Fakih Saghir, selain sebagai murid Tuanku Nan Tuo, apakah juga  merupakan anak dari Tuanku Nan Tuo Koto? Fakih Saghir merupakan satu-satunya anak Tuanku Nan Tuo Koto yang hidup setelah peristiwa penyerangan terhadap Tuanku Nan Tuo setelah peperangan antara paderi dan kaum hitam semakin memanas. Apakah Fakih Saghir itu nama kecilnya? Sepertinya tidak.
Fakih Saghir itu mungkin julukannya sewaktu kecil. Pemberiah nama Fakih atau Pakiah dalam masyarakat Minangkabau, terutama Luak Agam, mereferensikan seorang yang terpelajar dalam hal agama; sedangkan kata Saghir dalam bahasa arab berarti kecil. Dengan demikian nama Fakih Saghir mengindikasikan bahwa dia adalah seorang terpelajar dalam bidang agama seperti bapaknya Tuanku Nan Tuo. Bapaknya dianggap sebagai tokoh/ulama yang lebih tua, sedangkan dia adalah si kecil yang akan menjadi penggantinya. Ringkasnya Fakih Saghir adalah julukan memiliki makna Pakiah Ketek, atau Pakiah nan Ketek.
Sementara itu, nama Tuanku Saming, menggambarkan bahwa yang bersangkutan adalah ulama yang memimpin sebuah pendidikan agama islam di Minangkabau. Pendidikan islam dimaksud adalah pendidikan berbasis surau. Pendek kata bila seseorang dipanggil tuanku, maka berarti dia menjadi ulama sekaligus guru di sebuah surau. Tuanku Saming adalah ulama dan guru yang mengajar di Surau Cangkiang. Cangkiang adalah jorong (kampuang?) yang terletak antara Jorong Sitapuang di Nagari Balaigurah dengan Nagari BatuTaba di Kecamatan Ampek Angkek. Sungguh hal ini perlu dijelaskan karena banyak penulis membuat kesalahan dengan menyebut Ampek Angkek sebagai sebuah desa. Sementara itu saya tidak tahu pasti apa arti kata “saming”, apakah kata tersebut berarti “mulia” atau “mendengar”. Jadi Tuanku Saming itu Tuanku nan Mulia, atau Tuanku nan Mendengar. Mohon Pencerahan.
Lalu bagaimana dengan pengucapannya “saming” atau “samiang”. Melihat kepada penjelasan Hollander dalam buku Verhaal van den Aanvang Der Padri-Onlusten Op Sumatra door Sjech Djilaal Eddin Maleische Tekst met Aanteekeniggen (1857), bacaannya memang “saming”. Bila anda berada di Nagari Balai Gurah, anda akan mendengar orang menyebut /kucing/ bukan /kuciang/, menyebut /anjing/ bukan /anjiang/, menyebut /sitapung/ bukana /sitapuang/. Silakan datang ke sana bila ingin membuktikannya.
Nama Tuanku Saming atau Samiang ini lebih banyak digunakan oleh administrator Belanda. Penulis Belanda menggunakan nama Tuanku Sami, atau Tuanku Samik, dan Tuanku Samit untuk mereferensikan tokoh ini. Tuanku Saming/ Sami/ Samit adalah Regent Pertama Agam. Dia diangkat oleh Belanda sebagai regent Agam pada tahun 1826, bersamaan dengan pengangkatan Sultan Alam Bagagar Syah (kemenakan Raja Moening) sebagai regent Tanah Datar. Dalam Almanak van Nederlandsch Indie voor Het Jaar 1826 terdapat nama keduanya dalam daftar pejabat yang diakui oleh Pemerintah Kolonial Belanda. Informasi yang lebih meyakinkan tentang pengangkatannya sebagai Regent agam terdapat dalam Herinneringen uit den Levensloop van een Indisch Ambtenaar van 1815 tot 1851 bagian ketiga yang ditulis oleh E. Francis dan diterbitkan di Batavia tahun 1859 oleh H. M. Van Dorp seperti di bawah ini:

De oude vorst van Manangkabau Radja Moening of Toeankoe Nan Toeah, kwam ook in het jaar 1826 te overlijden, Zijn neef, sultan Alam Begagar Sjah, was als regent van Tanah-datar opgetreden, en Toeankoe Sami een zoon van een der erste stichters van de sekte der Padries, als regent van Agam, zoodat het gezag, dat fe voren in één persoon was vereenigd, als nu verdeeld uitgeoefend werd, hetgeen een zeer doeltreffende maatregel is geweest, dien de ondervinding in de toekomst heeft geregtvaardigd 

Sebutan Syekh Jalal Addin Ahmad Koto Tuah dapat dipahami dengan mengelompokkan nama tersebut atas empat bagian. Bagian pertama merujuk kepada gelar Syekh. Syekh dalam bahasa arab berarti kepala suku, pemimpin, atau orang yang ahli agama. Dalam kasus ini, kata “syekh” berarti orang yang ahli agama. Hal ini dapat dipahami karena beliau adalah seorang guru agama di Cangkiang Nagari Balai Gurah. Kedua, nama Jalal Addiin kemungkinan adalah nama kecil beliau yang diberikan oleh ayahnya. Ketiga nama Ahmad kemungkinan adalah nama Tuanku Nan Tuo Koto Tuo. Nama Jalal Addin Ahmad adalah penamaan dengan gaya islam dimana nama ayah diberikan dibelakan nama anak. Sedangkan Koto Tuah adalah tempat surau dimana Orang tua dari Syekh Jalal Addiin ini berasal. Koto tuo yang dimaksud adalah Koto Tuo Balai Gurah Ampek Angkek. Hal ini pulalah yang melatarbelakangi lebih seringnya nama Syekh Jalal Addin digunakan dalam berbagai literatur.
Penggunaan nama Syekh Jalal Addiin, yang kemudian ditulis sebagai Jalaluddin akan muncul dalam biografi dua ulama terkenal asal Minangkabau di Mekah, Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi dan Syekh Taher Jalaluddin Al-Falaki. Keduanya bersaudara dari ibu yang beradik kakak putri tokoh terkenal yang hidup di Koto Tuo Ampek Angkek.
Nama Syekh Jalal Addiin muncul dalam silsilah Syekh Taher Jalaluddin. Syekh Taher Jalaluddin merupakan anak dari seorang ulama di Cangking yang bernama Tuanku Muhammad yang bergelar Tuanku Cangkiang (Tjankiang). Namanya juga sering dituliskan sebagai Tuanku Muhammad Cangkiang. Tuanku Muhammad Cangkiang ini adalah anak dari Tuanku Jalaluddin. Diperkirakan, setelah suraunya dibakar oleh orang hitam (lawan orang paderi), surau Cangkiang dibangun kembali dan Tuanku Saming Syekh Jalaluddin menyerahkan pengelolaan surau ini kepada anaknya yang bernama Tuanku Muhammad Cangkiang.
Ayah dari Tuanku Jalaluddin ini adalah Tuanku Nan Tuo Koto Tuo. Ini berarti, Tuanku Jalaluddin ini sebenarnya adalah Syekh Jalal Addiin, atau Syekh Jalaluddin. Seperti yang dikemukakan di atas Tuanku Saming memiliki surau di Cangkiang. Anaknya, Tuanku Cangkiang inilah yang menjadi guru di surau Cangkiang Tersebut.
Dengan demikian Syekh Taher Jalaluddin yang terkenal di semenanjung Malaya itu adalah cucu dari Fakih Saghir alias Tuanku Saming, alias Syekh Jalal Addiin, yang juga merupakan cicit dari Tuanku Nan Tuo Koto Tuo.
Wassalam
Kubang Gajah, 30 Oktober 2017
nspamenan@yahoo.com
Advertisements
This entry was posted in Paderi, Agam dan Minangkabau and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s