Maisir Thaib, Anak Panampuang dengan Ujung Pena Setajam Pedang

Screenshot_2016-12-28-20-43-21Parintangrintang: Dalam berbagai kesempatan ketika pulang kampung sewaktu libur kuliah sekitar 25 tahun yang lalu, saya sering bertanya kepada orang tua-tua sewaktu duduk di lapau di Pakan Kaluang maupun di Surau Labuah tentang sebuah nama yang beberapa kali saya temui di buku dan jurnal di perpustakaan kampus IKIP Padang, yaitu Maisir Thaib (Martha).

Nama yang cukup dikenal dan diperbincangkan dalam berbagai essay itu, cukup familiar bagi orang tua-tua yang ada di lapau tersebut, termasuk orang tua saya. Kata bapak saya, Maisir Thaib itu bersaudara se ayah dengan Helmi Thaib tokoh yang saya tahu bekerja Kandepag dan tinggal di Kayu Katiak, Jorong Kubu Nagari Panampuang. Kemudian, kata Bapak saya lagi, Maisir Thaib itu merupakan dunsanak satu suku dengan Tan Iyan Mandan yang membuka warung minum di Pakan Kaluang. Selanjutnya,  salah seorang anak beliau adalah Letkol Taufik Martha menjadi Bupati Pasaman (Saat itu) . Selebihnya, baru saya ketahui kemudian.

Salah seorang yang cukup mengenal beliau adalah mendiang Pak Tuo Amir Syakur. Dari Nyiak Aguang (panggilan populer Pak Tuo Amir Syakur) saya mendapatkan beberapa informasi tambahan tentang Maisir Thaib, terutama dari buku “Samudra Tak Berpantai” yang saya konfirmasi langsung bila saya singgah ke Nuriang setelah melihat rumah tua keluarga saya di Rawang.

Diskusi singkat saya dengan anak beliau Achyar Martha juga memperkaya pengetahuan saya tentang dimana beliau menetap di Bukittinggi.

Terakhir, sebuah kiriman gambar dari sahabat Efri Yoni Baikoeni melengkapi referensi dan pemahaman saya tentang Maisir Thaib ini. Akhirnya ada beberapa cerita yang ingin saya bagi tentang Maisir Thaib ini.

Maisir Thaib merupakan Anak dari Engku Thaib Labai Mudo, seorang ulama yang mendirikan sekolah Agama di Rawang yang diberi nama Madrasah Diniah School (sebuah sekolah modern berbentuk klasikal pertama di Panampuang). Thaib Labai Mudo adalah anak seorag guru Tharikat di Surau Jambak Nagari Panampuang. Ibu beliau bernama Biyai Rapi, suku Koto dimana rumah gadang beliau terletak di Surau Lauik. Beliau bersaudara seibu dengan Kasim Dt. Basa Nagari. Beberapa anak Kasim Dt Basa Nagari ini diantaranya adalah Ibuk Yusniar Kasim (pernah jadi guru SMA N Ampek Angkek) dan Dr Faisal Kasrino (seorang ahli pertanian dari IPB). Ayah beliau Thaib Labai Mudo meninggal dalam pengungsian di Nagari Kubang Kecamatan Guguak Kabupaten Lima Puluh Kota ketika meletus  agresi militer Belanda ke dua.

Maisir ThaibMaisir Thaib lahir  pada pertengahan tahun 1921 (lihat gambar) di Nagari Panampuang Kecamatan Ampek Kabupaten Agam Provinsi Sumatera Barat. Dalam gambar disebutkan beliau lahir di Penampoeng,  S.W.K. S.W.K. merupakan akronim dari Sumatra’s Westkust yaitu nama residen yang kemudian berubah menjadi Provinsi Sumatera Barat. Sejak kecil sudah terlihat kepintaran Maisir Thaib karena dalam usia 5 tahun (tahun 1926) sudah masuk sekolah Melayu. Setelah tamat dari sekolah melayu, Maisir Thaib muda masuk ke Sumatera Thawalib Parabek. Dari Sumatera Thawalib Parabek lalu pindah ke Sungayang (di Tanah Datar) pada tahun 1935. Selesai mengikuti pendidikan di sana, di usia 15 tahun Maisir Thaib melanjutkan pendidikan ke  sekolah Normaal Islam di Padang pada tahun 1936 dan tamat tahun 1938 dengan memperoleh ijazah diploma no 1. Pada tahun 1940, Maisir Thaib pindah ke Jawa Timur menjadi Direktur Sekolah Pondok (Pesantren) Modern Gontor di Ponorogo. Tidak lama di Gontor, Masir Thaib kemudian pindah ke Kandangan Borneo (Kalimantan Selatan)  menjadi Direktur dan guru “Noermaal Islam”. Berdasarkan  penelusuran dari berbagai sumber, kemungkinan besar, Normaal Islam dimaksud sekarang bernama Pesantren Rasyidiyah Khalidiyah. Diperkirakan KH. Idham Khalid yang pernah memimpin Normaal Islam ini pernah belajar pada Maisir Thaib. Salah satu pengaruh Maisir Thaib terhadap KH. Idham Khalid adalah dengan berangkatnya Idham Khalid muda menuntu ilmu ke Pesantren Modern Gontor pada tahun 1943-1944.

Masa-masa sekolah di Normaal Islam Padang menjadi kawah penggemblengan bagi seorang Maisir Thaib dalam dunia tulis menulis. (Dunia yang pada akhirnya membawanya menjadi seorang pegawai dinas penerangan di Bukittinggi). Bakat menulis tersebut, yang disertai dengan daya nalar dan pikiran kritis, menjadikannya seorang penulis yang disegani.  Terbukti, seorang Maisir Thaib dengan menggunakan nama penulis Martha di usia 18 tahun (tahun 1939) sudah mampu menghasilkan karya yang menggegerkan kala itu. Beberapa buah karangannya (kemungkinan Cerpen) dimuat di Roman Pergaoelan (sepertinya majalah cerita). Kamang Affaire, itulah judulnya yang diterbitkan oleh penerbit Penjeiaran Ilmoe di Fort De Kock (Bukittinggi). Jadilah Kamang Affaire menjadi sebuah cerita yang sangat sensasional dan fenomenal kala itu.

Screenshot_2016-12-28-20-32-31Pada hari Rabu tanggal 12 Maret 1941, Pengadilan (Landstraat) Bukittinggi yang dipimpin oleh Mr. Dr. Knottenbelt mengadili Maisir Thaib (Martha) atas delik pengaduan tentang buk yang ditulisnya yang berjudul “Leider Mr. Semangat”. Martha dituduh melanggar pasal 153  dan dihukum selama  1 tàhun 6 bulan Penjara.. Ketika putusan bersalah atas diterbitkannya buku ini dikeluarkan Maisir Thaib menjabat sebagai Direktur sekolah Normaal Islam di (Amuntai, Kandangan, Kalimantan Selatan). Eksekusi penahanan  Maisir Thaib dilaksanakan pada tanggal 26 November 1941 dengan menempatkannya pada penjara di Kandangan. Hanya tiga malam di penjara Kandangan, pada tanggal 29 November 1941 dia dibawa ke Banjarmasin untuk selanjutnya dikirim ke Penjara di Fort De Kock (Bukittinggi, Sumatera Barat). Di lain versi, sebelum di kirim ke Fort De Kock, Masir Thaib harus menghabiskan beberapa waktu di penjara Sukamiskin Bandung. Seperti, yang dituliskan dalam otobiografinya, “Menempuh Tujuh Penjara: pengalaman seorang perintis kemerdekaan generasi terakhir” Maisir Thaib harus menginap di tujuh penjara dalam menyelesaikan hukumannya.

Setelah menyelesaikan hukumannya, pada tahun 1944 Maisir Thaib menikah dengan Djarani Ghalib puteri Ghalib Datuk Sati yang berasal dari Lawang, Matua. Mereka menikah di Kayu Tanam, tempat tinggal Datuk Sati yang menjadi pegawai Jawatan Kereta Api.Worldcat Martha

WorldCat Identities mencatat bahwa selama hidupnya, Maisir Thaib (Martha) menghasilkan 26 buah karya yang diterbitkan dalam 40 penerbitan. Karya-karya tersebut tersebar pada 69 Perpustakaan diseluruh dunia. WorldCat identities mengidentifikasi bahwa Martha mulai menulis dan mempublikasikan karyanya pada tahun 1940. “Leider Mr. Semangat”. Namun demikian, dari sumber lain, tercatat pada tahun 1939, Maisir Thaib sudah menulis buku yang berjudul “Bahaja Homo-Sexualiteit dan Bagaimana cara Membasminja” yang diterbitkan di Fort De Kock oleh Boekhandel en Uitgever A.M. Djambek). Tahun 1948-1949 diperkirakan menjadi masa paling produktif seorang Maisir Thaib. Dalam periode agresi Belanda ke II ini, Maisir Thaib bekerja sebagai pegawai jawatan Penerangan Sumatera Tengah di Bukittinggi. Empat karyanya diterbitkan pada periode tersebut. Periode produktif berikutnya adalah sebelum meletusnya pemberontakan Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PRRI) tahun 1958. Dalam periode yang semakin memanas di Sumatera Tengah tersebut 3 karya dihasilkannya. Periode produktif sebelum meletusnya pemberontakan PRRI ini, hampir serupa dengan tahun – tahun sebelum meletusnya Pemberontakan PKI yang lebih dikenal dengan peristiwa G30S/PKI. Situasi panas ranah minang pada tahun 1964-1965 menjadikan Maisir Thaib sangat produktif dalam berkarya. Karya Maisir Thaib terakhir adalah Menempuh Tujuh Penjara: pengalaman seorang perintis kemerdekaan generasi terakhir, yang diterbitkan di Padang oleh Syamza Offset Print pada tahun 1992.

Sebagai penulis Maisir Thaib adalah penulis yang gelisah. Gelisah terhadap kondisi negaranya. Seperti dikemukakan di atas, banyak karyanya lahir pada pada saat bangsa ini penuh ketegangan. Lebih jauh, Maisir Thaib dapat dianggap sebagai penulis yang kontroversial, yang dalam istilah Maisir Thaib disebut sebagai karangan yang menggemparkan. Selain karangannya yang berjudul “Leider Mr. Semangat” yang diterbitkan oleh Penjiaran Ilmoe pada tahun 1940 dan “Kamang Affaire yang dimuat dalam Roman pergaulan terbitan Penjiaran Ilmoe tahun 1939 , terdapat dua buah buku lainnya  yang dianggap menggemparkan yaitu: “Kesehatan diri” dan “Oestaz A. Masjoek” (1940). Buku pertama diprotes oleh Dr Aboe Hanifah, yang menyebabkannya timbulnya  polemik yang cukup panjang. Sedangkan buku yang kedua menimbulkan protes dan polemik dengan ulama Perti kala itu.

Dari  daftar yang dibuat WorldCat berikut ini, dapat diketahui diperpustakaan mana saja diseluruh dunia buku-buku karya Maisir Thaib dapat diakses.  Buku terbanyak yang dimiliki oleh perpustakaan yang menjadi jaringan WorldCat organization adalah buku “Menempuh Tujuh Penjara: pengalaman seorang perintis kemerdekaan generasi terakhir”.

Pada daftar di bawah ini dapat dilihat 18 dari 26 judul karangan (seperti diidentifkasi oleh WorldCat identities) dan tahun terbit karya Maisir Thaib. Masih banyak judul buku atau karangan yang belum dimasukkan dan teridentifikasi, sehingga bila ada tambahan lainakan diupdate secepatnya.

No

Judul

Tahun
1 Kamang Affaire 1939
2 Leider Mr. Semangat 1940
3 Kesehatan diri 1940
4 Oestaz A. Masjoek 1940
5 Sjahrir Pegang Kemoedi 1946
6 Repoloesi Indonesia meletoes 1946
7 Tindjauan sedjarah 1950
8 Tiongkok merah 1950
9 Berdiri dan leburnja negara-negara boneka 1950
10 Lima menit terachir dari Hindia Belanda : fiktif 1951
11 Tuanku Imam Bondjol: Tjerita Sedjarah untuk Sekolah Rakjat 1955
12 Sumatera Tengah Membangun 1956
13 Ilmu bumi kabupaten Padang Pariaman dan kotapradja Padang 1961
14 Timbunan majat di selat Dardanella 1963
15 Ihja ulumiddin 1966
16 Pemamfaatan [sic] zakat untuk pembangunan sarana ke-agamaan 1973
17 Menempuh tujuh penjara : pengalaman seorang perintis kemerdekaan generasi terakhir 1992
18 Bahaja homo-sexualiteit dan bagaimana membasminja ?

Seperti halnya putra-putri atau anak nagari Panampuang lainnya (bahkan sampai sekarang), Maisir Thaib tidak banyak menghabiskan usianya di kampung halamannya. Pengembaraan menuntut ilmu membuatnya menjelajahi berbagai negeri di Hindia Belanda kala itu. Setelah kembali dari penjara, Maisir Thaib bergabung dengan pemerintah Republik Indonesia yang baru lahir. Kemampuannya menulis menempatkannya pada jawatan penerangan provinsi Sumatera Tengah di Bukittinggi. Bekerja di Bukittinggi mengharuskannya tinggal menetap di Bukittinggi. Di bukittinggi, terakhir keluarga Maisir Thaib tinggal di Jalan Tandikat No. 83 yang berada di belakang Rumah Sakit Ahmad Muchtar Bukittinggi. Setelah berangkat ke Jawa, untuk menetap bersama anak-anak beliau, rumah tersebut dijual. Seperti diceritakan putera beliau Achyar Martha, koleksi buku-buku Maisir Thaib sebagian tersimpan di rumah tersebut. Ada kemungkinan buku-buku tersebut masih tersimpan di sana. Atau telah lenyap seiring pemilik rumah yang baru telah menjualnya sebagai barang bekas. Jika masih tersisa, ada baiknya buku-buku tersebut direstorasi dan disimpan pada perpustakaan daerah, entah oleh siapa.

Sampai saat ini, tak satupun buku ataupun karangan Inyiak Maisir Thaib yang pernah saya baca. Demikian juga teman atau sahabat lain yang jauh lebih tua umurnya. Buku-bukunya begitu langka. Saya tidak tahu, apakah kelangkaan buku tersebut berimbas pada berkurangnya penulis dari nagari yang dulu ditulis sebagai “Panampoeng  S.W.K.” ini. Wallahualam.

Wassalam,

Kubang Gajah, 13 Juni 2017

nspamenan@yahoo.com

 

Advertisements
This entry was posted in Interest, Tokoh Panampuang. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s