Dangau, Surau, dan Lapau: Balada Lelaki Minang Zaman Saisuak

Parintangrintang: Menjelang berbuka sore ini, saya berbincang santai dengan Bapak. Hari ini Bapak berbuka bersama dengan semua anak dan cucunya. Buka ini adalah kali pertama kami melakukanya setelah berpulangnya kerahmatullah Biyai (Amak) kami kira-kira sebulan yang lalu. Perbincangan kami dimulai dengan topik tentang Mamak (pamannya dari satu rumah gadang) yang tewas pada tahun 1959 ketika baru saja melangsungkan pernikahannya kala itu. Saya tidak begitu tertarik dengan peristiwa itu. Saya lebih tertarik dengan cerita tentang hubungan kekerabatan Mamaknya itu dengan Kakek Bapak saya. Rupanya mereka tinggal berdekatan.
Iseng saya bertanya apakah Bapak mengenal kakeknya seperti halnya anak-anak kami mengenal Bapak (yang oleh anak-anak kami dipanggil Inyiak). Bapak mengaku tahu siapa kakeknya, dan menjelaskan bahwa kakeknya tinggal di sebuah dangau, tak jauh dari tempat kami tinggal sekarang ini.
“Kenapa kakek Bapak tinggal di dangau (pondok/rumah sederhana)?” tanya saya.
“Mungkin beliau sudah bercerai dengan nenek atau mangucia (pergi dari rumah) kala itu”, jawab Bapak.
“Laki-laki di Minang ini, dulu, kalau sudah ditinggalkan istri karena meninggal, bercerai, maupun mangucia akan kembali ke rumah rumah gadang sukunya. Akan tetapi karena tidak ada tempat (kamar) untuknya di rumah gadang maka dibangunlah sebuah pondok sederhana (dangau) untuknya tinggal” kata Bapak menjelaskan.
“(B)apak tidak perlu meninggalkan rumah ini karena rumah ini (tempat kami berbuka) bukanlah rumah gadang yang dibangun Mamak, tetapi rumah yang Bapak bangun untuk kami sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada keluarga. Lagi pula zaman ini bukan lagi zaman saisuak, ketika Inyiak Bapak harus tinggal di dangau.” saya menyela.
Tak berapa lama, waktu berbukapun tiba.

Dari cerita Bapak tersebut, akhirnya saya paham kenapa pada tahun 1970-an sampai tahun 1980-an banyak dijumpai Dangau atau pondok kecil di kampung kami yang ditempati kakek-kakek yang berusia di atas 60 tahunan.

Rupanya, dangau itu adalah tempat tinggal bagi para lelaki yang sudah tidak lagi mendapatkan tempat di rumah gadang istrinya, dan tidak mungkin tidur di rumah gadang dimana saudara perempuan dan kemenakannya tinggal. Dengan adanya dangau tersebut sebagai tempat tinggal, seorang laki-laki dapat mempertahankan harga dirinya. Dangau tersebut digunakan sebagai tempat tinggal. Di malam ataupun di siang hari dangau adalah tempat mengajarkan berbagai macam hal tentang kehidupan seperti silek dan parundiangan (alua pasambahan) pada para kemenakan atau siapapun yang berminat. Tidak jarang, dangau adalah tempat bagi para lelaki muda lain untuk juga menumpang tidur karena tidak tempat tidur baginya di rumah ibunya.
Bila dangau atau pondok kecil tersebut adalah tempat tinggal, maka lelaki minang membutuhkan Surau sebagai tempat untuk membersihkan diri dan melaksanakan ibadah. Dulu, hampir setiap mesjid atau mushalla yang disebut Surau memiliki tabek (kolam) yang berfungsi sebagai tempat pemandian umum. Di surau ini juga lelaki yang memiliki pengetahuan keagamaan mengajarkannya kepada masyarakat sekitar. Bagi lelaki dengan ilmu agama yang tinggi, disamping mengajar pada surau milik nagari atau jorong; dia biasanya membangun surau sendiri, yang seringkali juga menjadi tempat tinggalnya.
Berbeda dengan dangau dan surau, lapau adalah media sosial zaman saisuak. Di lapaulah berbagai hal disampaikan, didiskusikan, diperdebatkan dan tak jarang diputuskan. Apapun itu, satu hal yang pasti, lapau adalah tempat pertama yang dituju para lelaki yang tinggal di dangau dan surau di pagi hari. Sejak subuh lapau sudah menyediakan sarapan pagi yang enak: ketan goreng, bubua samba, yang ditemani teh (manis/pahit), kopi maupun kawa.
Kini, ketika zaman saisuak dengan nuansa dan aroma penjajahan yang kental telah berganti, norma kehidupan telah berubah, poligami sudah sangat berkurang. Pola hubungan keluarga dimana “laki-laki adalah milik kaumnya, kamanakan bak kato mamak, anak bagantuang jo padi di lumbuang yang menjadi bagian ibunya” berganti dengan pola “kamanakan makanan tunjuak; anak makanan bahu.” Artinya peran seorang laki-laki sudah semakin jelas, yaitu: sebagai seorang mamak dari kaumnya dia adalah seorang penasehat (fungsi tunjuak),  sebagai seorang bapak, dia adalah pencari nafkah (fungsi bahu) bagi anak-anaknya.

Kini, dangau memang sudah sangat jarang ditemukan. Bukan hanya karena tinggal di dangau dengan segala keterbatasan bisa dikategorikan sebagai keluarga miskin, pemahaman dan pengamalan ajaran agama  sudah semakin baik, terutama untuk memuliakan orang tua. Di samping itu, dibanyak tempat di ranah minang (terutama di kampung saya) seorang lelaki tidak mau dianggap atau dikategorikan sebagai penduduk miskin. Entah kalau zaman juga telah mengikis harga diri.

Wassalam

Kubang Gajah, 10 Juni 2017

nspamenan@yahoo.com

Advertisements
This entry was posted in Ranah nan Manggadangkan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s