Catatan (Tak) Penting Tentang Hasil Pilkada DKI Putaran Kedua

Parintangrintang: Tiga (3) jam setelah pemungutan suara ditutup, ketika hasil perhitungan suara melalui Quick Count sudah stabil dengan persentase data masuk di atas 90 persen, beberapa Ahok lovers (baik yang terang-terangan mendukung maupun pura-pura tidak mendukung) menulis pada status mereka bahwa yang menjadi pemenang Pilkada DKI adalah Legowo. Ada juga yang menulis pemenangnya adalah Christiano Ronaldo, bahkan ada yang menulis dengan tanda seru (sebagai simbol kemarahan) pemenangnya adalah ketua sebuah organisasi dan ketua sebuah partai. Mereka jadi lupa (tepatnya pura-pura lupa) siapa calon yang dipilih warga DKI dalam pilkada tersebut.

Fenomena apakah ini? Apa lagi kalau bukan cinta yang berlebihan dari Ahok lovers sehingga tidak bisa digantikan (mungkin juga tidak bisa menerima kekalahan).

Tampaknya tidak hanya Ahok lovers yang kaget dengan hasil Pilkada DKI putaran kedua ini. Pengamat dengan segudang teoripun tak menyangka hasil yang mengejutkan ini.  Surprise tidak hanya pada siapa yang menjadi pemenang, lebih dari itu persentase selisih perolehan suara yang belasan persen membuat pengamat dan peneliti terkaget-kaget.

Kenapa Pentahana Bisa Kalah?

Ah, ternyata cinta saja tidak cukup, menjaga lisan sikap harga menghargai ternyata juga penting.
Ada kata-kata bijak dari Poor Richard Almanak-nya Benjamin Franklin yang patut diinap-inapkan, “silence is not always a sign of wisdom but babbling is ever mark of folly“. Buzzering dan bullying yang masif di dunia maya, setelah 5 tahun berlalu dari keberhasilan kampanye tebar pesona di dunia maya berbasis relawan ala Jokowi-Ahok, akhirnya mengalami titik balik.
Titik balik itu, dalam pemahaman saya, bermula dari kejadian lucu ketika mesin pencari terbesar (yang katanya juga pengemplang pajak di Indonesia) google secara otomatis mengganti frasa “bersih karena Foke” dengan “bersih karena Ahok”, setelah adanya adu agumen antara Ahok dan Anis tahun yang lalu. Dua hari pertama orang tercengang. Ahok menang telak lewat di dunia maya berkat google.
Akan tetapi pada hari ketiga munculah meme “tidak bersih karena Foke” yang diganti google menjadi “tidak bersih karena Ahok”. Kata yang mengerti dengan program komputer, google ikut bermain. Ah entahlah. Main apa yang dimaksud banyak pula yang takut menjelaskan.
Ketika ” babbling di Kepulauan Seribu terjadi terjadi secara tiba-tiba, tiba-tiba saja terjadi pertempuran di dunia maya, ada yang namanya bullying, twitwar, buzzering, meme war dan entah apa lagi.
Dalam beberapa kesempatan sering terjadi pertempuran berdarah darah selama berjam-jam dengan hasil minimal block dan unfriend, dan maksimal lapor polisi. Hi hi.. mengerikan.
Perang terbuka yang terjadi tak jarang menjadi ajang buka borok. Sayangnya, beberapa kali mengenai kaum tengahan yang masih belum menentukan sikap. Terlebih lagi, para relawan baru yang berbasis haters terhadap kubu lain yang sering datang dengan konsep yang membuat blunder. Para aktor di belakang layarpun juga kurang kreatif dan masih terlena dengan pola lama. Terkadang mereka cenderung rasis dan mendiskreditkan kelompok tertentu.

Catatan tak penting tentang hasil Pilkada DKI Putaran kedua.

Ada beberapa hal yang patut dicatat dari kegagalan pasangan pentahana dalam Pilkada putaran kedua ini:

1. Baju Kotak

Penggunaan baju kotak-kotak sebagai simbol ternyata tidak terlalu ampuh lagi. Lima tahun berlalu dan telah membuat (bukan hanya) orang Jakarta terkotak-kotak tak lagi dapat menjadi simbol mereka adalah kita. Pendek kata baju kotak-kotak sudah jadi old fashioned symbol  setelah 5 tahun.

Ternyata, baju kotak-kotak sebagai icon hanya cocok untuk Jokowi (bukan Ahok dan bukan juga Djarot).

2. Pertanyaan Kejutan

Pertanyaan kejutan terkait dengan KUA (Kebijakan Umum Anggaran) seperti yang diajukan Djarot pada Sandi ternyata tidak ampuh lagi menjatuhkan penilaian pemilih pada calon. Masyarakat mulai tahu bahwa pertanyaan semacam itu tidak layak ditanyakan di forum itu karena pertanyaan seperti itu adalah pertanyaan untuk calon Kepala Badan Keuangan Daerah atau calon Sekretaris Daerah yang diajukan oleh Pansel Pejabat Tinggi Pratama atau Madya.

Pertanyaan ini mirip dengan pertanyaan kejutan Jokowi pada Prabowo dalam debat Capres tentang tugas Tim TAPD. Pertanyaan tentang tugas Tim yang dipimpin oleh Sekda dengan Sekretarisnya Kabiro Perekonomian atau Kabag Perekonomian, bukan level pemilihan Presiden karena sudah sangat teknis.
Artinya, pertanyaan seperti itu tidak lagi menarik simpati dan tidak memperlihatkan si Penanya hebat, sedangkan yang ditanya yang masih kebingungan bodoh.

3. Misconcept Visualization

Konsep visualisasi yang ditampilkan dengan menampilkan pentahana sebagai orang yang terzalimi dan menjadi bagian dari arus bawah dengan menggunakan simbol simbol agama tertentu tak mempan meraih simpati. Konsep yang jelas-jelas salah kaprah ini (terbukti ada video yang dihapus dari timeline pentahana) semakin diperburuk dengan keberpihakan media pendukung yang sudah melewati batas yang diterima khalayak. Tak terkecuali video yang direncanakan sebagai video pamungkas yang ternyata? Aaaa “babbling” juga ternyata.

4.  Menara Gading Anti Korupsi

Keberhasilan menampilkan sosok pentahana sebagai Menara Gading anti korupsi melalui fragmen hanya saya yang anti korupsi sedangkan yang lain pasti korupsi sekecil apapun memang menjadi magnet yang kuat.

Akan tetapi, pola bahwa hanya saya satu-satunya yang menjadi perulangan dari kebiasaan zaman orde lama malah menimbulkan kecurigaan banyak pihak. Pesona “satu-satunya” tersebut menjadi sesuatu yang menakutkan di masa depan. “Hanya saya yang benar kalian yang tidak setuju salah.”

5.  Pemilih yang Tidak Bertambah

Persoalan sebagaimana dikemukakan di atas adalah gambaran dari hasil perolehan suara Pilkada putaran ke-2.
Semula, banyak survei yang memperkirakan kemenangan pentahana walaupun dengan selisih margin yang kecil. Kuncinya, kata survei tersebut adalah adanya perpindahan pemilih Agus-Silvi ke pentahana. Nyatanya perpindahan tidak terjadi sesuai yang diharapkan.
Kenapa tidak terjadi perpindahan sesuai yang diinginkan? Jawabannya sederhana saja. Pemilih Agus-Silvi yang 17% itu pastilah loyalis, SBY lovers dan pembenci pelecehan terhadap mantan pemimpin yang tidak terima dan tidak suka dengan cara-cara kotor menjatuhkan lawan yang dimainkan kubu pendukung pentahana.

Testimoni mantan ketua KPK beberpa hari menjelang Pilkada memang bisa menggerus suara Agus-Silvi, sehingga perolehannya di bawah 20% tapi tidak cukup kuat untuk menarik mereka ke kubu pentahana. Mereka memilih ke kubu penantang yang didukung mantan ketua KPK yang juga disingkirkan rezim ini, tapi tak membuat testimoni seperti itu.

Pelajaran (tidak) berharga
Terdapat beberapa pelajaran (tidak) berharga dari Pilkada DKI ini. Pelajaran yang terdekat adalah

1. Sangat kentalnya rasa dan sentimental keagamaan;

2. Sangat mudahnya anak bangsa ini menjadi terkotak kotak karena pilihan,

3. Perlu kaji ulang tentang metode yang digunakan lembaga survei dalam memperkirakan hasil Pilkada

4. Munculnya bintang media sosial baru secara instan lewat cara sharing dan copy paste sebanyak-banyaknya.

5. Dukungan partai politik yang datang merapat diujung masa kampanye sepertinya ada dan tiada.

6. Lewat riuh rendah Pilkada ini pula saya semakin yakin bahwa audit (sebagai hisab di dunia) perlu dilakukan oleh pengelola lembaga sosial dan keagamaan, kalau tidak kita hanya akan jadi bulan-bulanan.

Akhirnya, sama dengan pengalaman saya sebelumnya, dimana pilihan saya tidak akan menang ternyata tidak terbukti.

Wassalam
Kubang Gajah, 20 April 2017

nspamenan@yahoo.com

Advertisements
This entry was posted in Politik dan Kekuasaan and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s