TENTANG KITA (UNTUK DILIHAT 10 TAHUN LAGI)

PARINTANGRINTANG: Sore kemaren, Sabtu 4 Februari 2017, ketika sedang bercukur alias memotong rambut, saya terlibat percakapan agak serius dengan si uda tukang pangkas rambut. Percakapan dimulai dengan komentarnya tentang semakin banyaknya rambut berwarna putih memenuhi kepala saya.
“Semakin kelihatan saja rambut yang warna putih, Da”, katanya ketika memulai mendorong mesin cukur listrik disamping pelipis sebelah kanan saya.
“Tentu saja”, jawab saya. “Lagi pula kepala ini sering kena panas, wajar sajalah warnanya memudar” imbuh saya.
“Sudah pernah dicat? Maksudnya di ” Bigen” supaya tetap hitam?” tanyanya sambil berjalan ke arah kiri.
“Belum, lagian buat apa? Bukankah rambut yang memutih ini pemberian Allah SWT. Satu lagi, dan saya percaya itu, katanya mewarnai rambut itu tidak sesuai dengan ajaran agama.” jawab saya sambil memejamkan mata.
“Banyak yang berpikiran seperti itu. Sejak 10 tahun terakhir sudah sangat jarang yang mencat hitam rambutnya.” katanya sambil meletakkan mesin cukurnya di atas meja.
“Oh, ya?” kata saya sedikit kaget.
“Kira-kira penyebabnya apa ya?” tanya saya.
“Entahah. Tapi kondisi ini seiring dengan berubahnya pakaian anak sekolah. Kini murid-murid perempuan rata-rata berkerudung. Tidak hanya di sekolah agama seperti MTsN dan MAN, tetapi hampir pada semua sekolah.” jawabnya sambil memainkan gunting dan sisir di atas kepala saya.
“Oh, betul juga itu” sela saya. “Saya kira bukan anak sekolah yang pakai kerudung sekarang. Hampir semua perempuan muslim di tempat kita ini memakai kerudung. Guru guru di sekolah, para PNS di kantor kantor pemerintah, bahkan polisi pun sekarang pakai jilbab dalam melaksanakan tugas.” ujar saya sambil menggoyangkan kepala karena ada rambut yang jatuh dan menyangkut di alis mata saya.
“Kalau masalah berkerudung atau berjilbab itu, sepertinya bukan hanya untuk kalangan pemerintah atau anak sekolah saja Pak. Saat ini, karyawan perusahaan juga sudah tidak malu lagi pakai jilbab. Bahkan pegawai Bank yang dulu sering kita lihat memakai pakaian seksi dengan rok pendek 15 sentimeter di atas lutut dan rambut yang dipotong pendek bak artis, untuk memamerkan tengkuknya yang putih mulus sekarang sudah sangat jarang terlihat. Saya kira lebih banyak mereka itu memakai pakaian yang menutup aurat dan berjibab tetapi tetap terlihat cantik.” katanya sambil merebahkan kursi cukur ke belalang.
“Ya, betul itu. Saya setuju. Kalau diingat ingat, pada pertengahan tahun 2004 ketika saya berangkat ke Jakarta untuk melanjutkan kuliah, para ibuk-ibuk, teman-teman, dan adik-adik di kantor tempat saya bekerja tidak pakai jilbab. Mereka pakai rok span dengan rambut tergerai kala itu. Bergaya bak peragawati. Kata orang untuk menyaingi pegawai bank yang seksi-seksi itu.” ujar saya sambil tertawa “Ha ha ha….”
“Tapi, dua tahun kemudian, ketika saya pulang setelah selesai kuliah tahun 2006, saya agak kaget juga. Tidak ada lagi yang pakai rok span, semuanya pakai jilbab. Walaupun belum seperti sekarang ini gayanya.” kata saya lagi.
“Tapi Pak, walau pakai jilbab, kelakuan anak anak sekolah itu rasanya tidak jauh berbeda dengan kelakuan anak-anak dulu. Demikian juga dengan perilaku korupsi, walau pakai jilbab tetap saja mereka korupsi. Jadi untuk apa pakai jilbab kalau perilakunya masih seperti itu.” sergahnya bersemangat.
“Begitu ya” ulas saya.
“Kalau menurut Bapak, dengan tidak memakai jilbab apakah perilaku itu akan lebih baik, sama saja atau lebih buruk?” tanya saya lagi.
“Antah lah Pak.” jawabnya pelan sambil mengoleskan sabun di pipi saya untuk selanjutnya dicukur menggunakan pisau.
“Kalau menurut saya, dan setiap orang boleh berbeda, mungkin lebih buruk. Kenapa begitu? Karena media informasi sekarang ini sangat banyak, mudah diakses dan murah harganya. Hal hal yang menurut kita negatif dan buruk begitu gampangnya dilihat bahkan oleh anak-anak kecil sekalipun. Kalau korupsi, saya kira seperti kejahatan lainnya. Mungkin kita setuju dengan apa yang dikatakan Bang Napi. Jadi perilaku maksiat dan korupsi tergantung pada niat pelakunya dan juga pada kesempatan yang diperolehnya. Niat sangat ditentukan oleh pribadi yang bersangkutan bukan ditentukan oleh pakaian yang bersangkutan. Kesempatan ditentukan oleh norma, aturan dan regulasi yang ada. Lagi pula jilbab yang dipakai itu bukan untuk mencegah korupsi, tetapi sebagai syariat agama, sama halnya dengan mencat rambu agar tetap hitam itu tadi.” celoteh saya sambil mengangkat badan mengikuti kursi cukur yang diangkat ke posisi semula.
“Kalau menurut Bapak, apakah 10 tahun lagi atau sekitar tahun 2025, anak anak sekolah, pegawai pemerintah, pegawai Bank masih seperti ini atau sudah berubah?” tanya nya pada saya sambil merapikan kumis saya dengan gunting kecilnya.
“Ha ha ha…. Jadi tukang ramal pula saya. Ha ha ha… Okelah kalau begitu Tapi jangan tanya jodoh atau ramalan bintang ya, ini hanya OTA kita di sini saja. Saya kira akan berubah. Angin di atas sedang berubah. Arah yang selama ini kita lihat dari pertanda pada bintang di langit sudah tidak dianggap bahkan cenderung dihilangkan. Kini makanan tanduklah yang menentukan. Sekarang bintang itu jauh, lebih sering tertutup awan gelap. Kalaupun cerah sering dianggap tidak ada atau tidak terlihat. Kalau yang bertanduk itu dekat, bahkan sering tidak terlihat, bahkan banyak juga yang merasa seperti yang punya tanduk, walaupun dianya seekor kuda yang jelas jelas hanya untuk pelajang bukit.” cerocos saya sambil memejamkan mata ketika tengkuk dan bagian belakang kepala saya dipijat.
“Apa maksud nya itu? Kurang paham saya. Masih atau berubah?” tanyanya lagi.
“Berubah” kata saya.
“Anak sekolah akan berpakaian seperti teman-teman perempuan kita bersekolah dulu lagi. Begitu juga dengann ASN dan yang lainnya itu. Yang berjilbab itu akan langka, karena berkembang persepsi yang kurang baik tentang mereka yang berhijab itu. Memang masih lama 10 tahun lagi. Tapi kalau belajar pada periode sebelumnya, 10 tahun cukup untuk merubah budaya berpakaian dari berpakaian rok mini dengan tengkuk terlihat menjadi berpakaian yang menutup aurat dengan trend hiabnya. Begitu juga sebaliknya.” imbuh saya.
Ambo raso iyo, tapi ambo dak yakin.” katanya sambil membuka jepitan kain penutup yang ada.
“Entahlah. Kalau memang iya, terima sajalah. Kalau sudah nasib, begitulah adanya. Nasib kita akan tetap sama. Banyak omong masuk kandang harimau; salah ngomong masuk kandang ular, yang tidak ngomong kena tanduk. (Antahlah nyo; Kok iyo bana, tarimo sajo lah nasib, Nan kito ka coitu juo. Banyak wak dak satuju masuak kandang harimau; satuju sajo wak masuak kandang ula; Nan dak mangecek kanai tanduak)” kata saya sambil berdiri.

Seperti apa 10 tahun yang akan datang? Adalah tugas kita memaknainya. Lebih  dari semua itu persiapkan diri, perkuat keimanan. Hidup akan semakin keras untuk yang berprinsip. Pada keduanya: Yang mempertahankan dan yang hendak merubah.

Kubang Gajah, 5 Februari 2017

@nalfira/nspamenan@yahoo.com

Advertisements
This entry was posted in Politik dan Kekuasaan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s