SATU TAHUN DI BOVEN DIGOEL BUKAN SATU TAHUN DI LOGAS

PARINTANGRINTANG: Sama seperti hari-hari sebelumnya, tidak ada yang aneh terasa dari pagi menjelang siang, pada hari Rabu tanggal lima Februari tahun dua ribu empat belas, tepat satu tahun yang lalu. Sudah menjadi tugas pokok, bila atasan langsung berhalangan menghadiri, membuka atau memimpin sebuah rapat, maka kewajiban sayalah untuk melakukannya. Hari itu, sekitar dua jam, menjelang Jam satu, saya memimpin rapat dan diskusi tentang pengembangan pariwisata di Kabupaten Lima Puluh Kota bersama Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olah Raga dan pemangku kepentingan lainnya. Diskusi dalam bentuk curah gagas (brain storming) yang berlangsung hangat, alot, dan penuh keakraban disertai dengan guyonan dan tawa itu rupanya merupakan hari terakhir bagi saya menjadi seorang Kepala Bagian Perekonomian Setda Kabupaten Lima Puluh Kota. Siangnya, beberapa saat sebelum pelantikan para pejabat eselon, saya dikabari oleh Sekda – PNS dengan jabatan tertinggi di Kabupaten- bahwa saya harus melepaskan itu semua. Artinya, mulai siang itu, sebagaimana sering saya kemukakan maka goresan pena saya tidak lagi ada maknanya; apakah untuk memberi persetujuan, permohonan ataupun perintah. Kata teman saya, itulah saatnya kekuasaan dicabut. Kembali menjadi PNS biasa dengan jabatan fungsional umum.

Terkejut? Pasti saya terkejut. Sedih? Saya tidak ingat persis, seperti apa kesedihan saya saat itu. Marah? Sayapun tidak tahu harus marah pada siapa. Malu? “Tidak perlu malu kalau kita tidak berbuat salah dan tidak senonoh” pitaruah Bapak saya. So What? Gitu lo.
Rekan kerja dan kawan berkata “Bapak tetap dapat berdiri dengan kepala tegak. Menatap ke depan. Karena menurut saya bapak diberhentikan bukan karena bodoh dan tidak mampu.“
Mungkin betul. Tapi saya merasa aneh saja. Menduduki satu posisi (jabatan) efektifnya hanya 25 hari kerja. Apa ya? Yang telah saya sumbangkan kepada daerah ini. Apakah telah terjadi semacam investasi yang tidak bermafaat terhadap diri saya. Sama dengan banyak proyek pemerintah yang hanya dilihat output-nya saja. Tidak pernah terpikir outcome, impact apa lagi benefit dari biaya yang dikeluarkan oleh Pemerintah untuk menyekolahkan saya ke pulau seberang.
“Aaaahhh. Jangan terlalu dipikirkan. Tetap semangat dan selalu tegar dalam menjaga integritas dan jati diri.“ bisik nurani saya berulang kali.
Kini, tepat setahun setelah peristiwa itu, saya hampir sudah tidak peduli lagi dengan apa yang terjadi. Rasanya memang tidak ada perih yang membaluri perjalanan satu tahun ini. Saya percaya yang peduli dan berperan dalam masa depan kita adalah diri kita sendiri.
Saya patut berbangga pada diri sendiri, bukan bermaksud menyombong, saya telah melewati semua tingkatan dalam ilmu manajemen. Semua institusi terkait POAC (Planning, Organizing, Actuating dan Controlling) sudah saya masuki. Lengkap sudah.
Untuk pilihan karir ke depan beberapa minggu setelah peristiwa itu, saya memutuskan untuk mengikuti kebijakan nasional melalui UU ASN dengan mengikuti Diklat Jabatan Fungsional Tertentu yakni Jabatan Fungsional Perencana (JFP). Saya sudah ikuti Diklatnya, sudah peroleh DU-PAK atau BA-PAK nya, Bahkan SK Angka kreditnya pun sudah saya terima. Kata yang berwenang persetujuan untuk menjadi JFP madya pun sudah keluar. Sekarang tunggu SK-nya saja. Mudah-mudahan segera keluar.
Selain dari pada itu, ada kepuasan yang lebih mendalam yang saya rasakan dari beberapa tulisan dan hasil googling serta penelitian sebagai bentuk kreatifitas selama satu tahun.
Dalam satu tahun ini, saya menemukan beberapa dokumen sejarah yang penting (menurut saya) yang dilengkapi dengan hampir 15 buah foto tentang sejarah tambang emas Mangani, yang sekarang lebih sering ditulis Manggani. Perbedaan tulisan itu menyebabkan kawasan pertambangan emas Mangani, yang kalau kita masih dijajah oleh Belanda konsesinya baru berakhir tahun 1985, menjadi hilang. Apalagi sekarang, kawasan tersebut sudah menjadi kawasan suaka alam. Jadilah Mangani sebagai Kota Tambang yang hilang. Saya punya dokumen sejarah dan buku laporan perusahaan yang mengelolanya serta foto Mangani dengan kereta gantung dan rumah sakitnya. Saya yakin, sangat susah menemukan foto-foto itu di Lima Puluh Kota, di Sumatra Barat maupun di Indonesia. Sejauh ini google belum mampu menyajikan foto Mangani di Komputer di hadapan saya.
Disamping itu, saya juga dapat data tentang kali pertama kereta api dari Payakumbuh berangkat ke Limbanang serta kerta terakhir dari Limbanang ke Payakumbuh. Lengkap dengan nama stasiun dan rencana pembangunan stasiunnya. Saya juga paham kenapa Belanda membangun jalur kereta itu dan kemudian membongkarnya tahun 1935.
Banyak informasi saya peroleh dalam kurun waktu satu tahun terakhir, yang orang Lima Puluh Kota tidak mengetahuinya. Tapi saya tidak ingin informasi itu saya miliki sendiri, maka semuanya saya tuangkan dalam notes di facebook dan dalam tulisan di blog pribadi saya http://www.parintangrintang.wordpress.com Sekarang sebagian dapat diakses, terkecuali foto-foto yang merupakan hak eksklusif yang nantinya akan saya tampilkan dalam buku “Mangani Kota Tambang yang Hilang” yang masih terus diperbaiki.
Saya juga senang ketika ada yang merujuk pada tulisan pada blog saya, sebagai orang pertama yang memberi nama “Titian Selfie” pada Taman Ngarai Maaram Bukittinggi.
Tuhan menjadikan kita untuk menjadi umat yang tidak berputus asa, tetap semangat dan berguna bagi orang lain. Saya berterima kasih kepada teman, sahabat, keluarga, orang tua dan orang-orang yang dicintai dengan tetap mendukung dan percaya bahwa saya adalah orang yang tegar dan berintegritas.
Dengan pencapaian satu tahun ini, saya ragu, apakah harus marah atau berterimakasih kepada “mereka”, seperti kata beberapa orang teman, yang telah menzalimi saya.
Sepertinya hanya akan menghabiskan energi kalau membicarakan apa yang “mereka” perbuat pada saya. Saatnya mengembangkan diri, berbagi ilmu dan spirit serta menulis dan menulis.
Akhinya saya ingin mengatakan, apa yang saya alami ini sebagai “Satu Tahun di Boven Digoel Bukan Satu Tahun di Logas“
Di depan banyak tantangan dan peluang menarik. Tergantung kita menyikapinya.

Wassalam

kubang gajah, 5 Februari 2015

@nallfira/ nspamenan@yahoo.com

Advertisements
This entry was posted in My life. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s