Pantai Penyu Ampiang Parak (Alternatif Wisata Pantai di Pesisir Selatan)

img_20170101_115219

PARINTANGRINTANG: Carocok dengan pulau Cingkuak (Chinco) dan aneka permainan airnya, Mandeh dengan gugusan pulaunya yang indah, Batu Kalang dengan hamparan batu besarnya yang menakjubkan, serta Jembatan Aka yang melegenda, siapa yang tidak kenal?

img_20170101_121504_255

Lalu, pernahkah anda mendengar PANTAI PENYU AMPIANG PARAK? Jangankan Pantai Penyu Ampiang Parak, nama Ampiang Parak saja mungkin tidak banyak yang tahu. Ampiang Parak, sebuah nagari di Kecamatan Sutera Kabupaten Pesisir Selatan, terletak di sepanjang pantai sekitar 45 km ke arah selatan Painan ibu kota Pesisir Selatan.

img_20170101_102955

Ampiang Parak adalah sebuah nagari tua, yang sudah eksis jauh sebelum Belanda menjajah wilayah Sumatera Barat (Sumatra’s Westkust). Ampiang Parak merupakan salah satu dari sepuluh Bandar kecil yang makmur ke arah selatan Painan. Kesepuluh bandar kecil tersebut diantaranya adalah Batang Kapas, Taluak, Taratak, Surantiah, Ampiang Parak, Kambang, Lakitan Palangai, Sungai Tunu dan Pungasan. Semuanya itu terkenal sebagai Banda Sapuluah.

Ah, kita tidak berbicara tentang sejarahnya, tetapi tentang potensi Ampiang Parak yang potensial untuk dikembangkan  sebagai kawasan wisata pesisir. Potensi yang sangat menarik untuk digali. Potensi yang berbeda dan cenderung melengkapi eksplorasi kawasan pantai dan pesisir yang sebelumnya dikembangkan di Carocok, Mandeh ataupun Batu Kalang.

Yang dimaksud dengan Pantai Penyu Ampiang Parak adalah kawasan pantai sepanjang muara Batang Ampiang Parak ke arah utara. Pantai dengan bentangan pasir berwarna putih ini terbilang unik. Pantai ini terpisah dengan daratan. Nah, unik kan. Untuk bisa mencapai pantai tersebut harus menyeberang menggunakan payang atau sampan yang dilengkapi dengan motor tempel. Penyeberangan yang membutuhkan waktu sekitar 5-10 menit tanpa harus membelah ombak.

img_20170101_103612img_20170101_110044

Pantai Penyu Ampiang Parak adalah sebuah pantai yang telah mendapatkan sentuhan konservasi lingkungan dari kelompok pencinta lingkungan, tepatnya Pokmaswas Laskar Pemuda Peduli Lingkungan. Sebelum menjadi Pokmaswas, Laskar Pemuda Peduli Lingkungan ini sebetulnya adalah gabungan dari sekelompok pemuda Nagari Ampiang Parak yang khawatir dengan kemungkinan gerusan dan terjangan ombak yang menghantam pantai (seperti bencana tsunami). Kelompok pemuda peduli lingkungan yang diketuai oleh Hardiman ini, bersama dengan kelompok masyarakat lainnya, unsur pemerintah daerah, bahkan TNI secara bersama-sama menanami pantai dengan pasir yang berwarna putih tersebut dengan aneka tumbuhan. Pada awalnya secara swadaya ditanami ketapang (katapiang), setelah mendapat perhatian dan mendapat bantuan dari pemerintah kemudian mulai ditanami dengan pinus dan juga bakau. Sekarang ini deretan pinus berwarna kehijauan menghiasi pantai tersebut. Disamping itu, pada muara sungai yang memisahkan pantai dengan daratan juga ditanami bakau atau mangrove. Bakau-bakau tersebut mulai tumbuh dan mengeluarkan akar yang tegak menjulang. Semua tanaman tersebut pada akhirnya membuat pantai tersebut semakin kokoh dan diperkirakan kuat menghadapi terjangan ombak.

img_20170101_104134

Lalu kenapa disebut Pantai Penyu? Pantai yang bersih dan luas yang bebas dari gangguan itu kemudian menjadi semacam magnet bagi penyu (katuang, bahasa lokal) untuk mendarat dan bertelur. Menurut pengelola, di sepanjang pantai tersebut terdapat sekitar 300 ekor penyu yang mendarat dan bertelur setiap musimnya. Musim bertelur tersebut adalah saat yang cukup berat bagi pengelola konservasi dan pencinta lingkungan karena mereka harus berpacu dengan masyarakat sekitar yang sudah terbiasa sejak dulunya mencari dan menjual telur penyu (katuang). Bagi sebahagian kecil masyarakat, telur katuang tersebut adalah  mata pencaharian mereka. Walaupun kita dan juga mereka tahu mengambil telur katuang tersebut melanggar undang-undang.

img_20170101_112934

Keberadaan Pokmaswas Laskar Pemuda Peduli Lingkungan pada awalnya berusaha  untuk mengurangi jumlah telur penyu (katuang) yang diambil masyarakat, disamping untuk menimbulkan kesadaran masyarakat untuk menjaga kelestarian alam. Untuk membantu masyarakat yang kehilangan mata pencaharian tersebut, kawasan yang sudah hijau itu lalu diarahkan sebagai daerah wisata. Untuk menyamakan nomen kelatur penamaan pantai penyu sebagai objek wisata maka dilekatkan lah nama “Kawasan Ekowisata Konservasi Penyu Ampiang Parak”. Sebagai kawasan ekowisata yang berjuang untuk kelestarian lingkungan, Laskar Pemuda Peduli Lingkungan ini pada mulanya berharap bantuan dari kepada kelompok pencinta lingkungan dan penggiat pariwisata untuk membiayai kegiatannya, untuk seterusnya berupaya membiayai diri sendiri dan menjadi sumber nafkah bagi anggotanya dan tentu saja masyarakat sekitarnya.

img_20170101_105601

Saat ini, untuk berkunjung ke lokasi pantai penyu tersebut, pengunjung hanya dikenakan biaya (sewa) perahu (sampan) penyeberangan (Rp. 3.000,- dewasa dan Rp.2.000,-) tanpa biaya lainnya. Sampai disana pengunjung dapat melihat tempat telur penyu yang sedang mengalami proses pengeraman, tempat pembesaran penyu yang baru menetas, sisa-sia penyu yang sudah di-release (masing-masing satu untuk setiap periode), dan sebuah sampan yang digunakan oleh anggota laskar menyelamatkan penyu ataupun melepaskan penyu ke lautan luas.

Sekitar Februari tahun ini, dari telur yang akan menetas, diperkirakan  akan dilaksanakan proses release.  Release ini menjadi salah satu peristiwa konservasi yang akan dijual dan diekspose kepada masyarakat. Disamping release anak penyu ke lautan lepas, ada hal menarik yang dapat dijual, yaitu perkiraan kedatangan penyu ke pantai untuk bertelur. Menurut Hardiman, ketua laskar pemuda peduli lingkungan, salah seorang anggota Pokmaswas tersebut memiliki kemampuan untuk membaca tanda-tanda alam kapan penyu-penyu tersebut akan mendarat dan bertelur di pantai. Kemampuan tersebut tentunya dapat dijual kepada para wisatawan, khususnya wisatawan minat khusus.

img_20170101_110128img_20170101_112504

Kedatangan pengunjung ke lokasi tersebut merupakan kegiatan wisata (ekowisata) yang tujuannya tentu saja meningkatkan perekonomian masyarakat. Transaksi ekonomi akan terjadi, mulai dari berbelanja bahan makanan dan minuman, dan juga hasil laut tentunya. Hasil laut berupa ikan tentunya sudah jamak ditemukan di daerah pesisir. Di muaro batang Ampiang Parak kita dapat memperoleh ikan segar. Disamping ikan, akhir-akhir ini kepiting dan ranjungan semakin mudah diperoleh masyarakat berkat semakin suburnya bakau di muaro. Wisata kuliner yang telah terlebih dahulu terkenal di Ampiang Parak ini adalah sate lokan.

img_20170101_110327

Memang masih banyak yang perlu dilengkapi dari Ekowisata Konservasi Ampiang Parak ini. Hal pertama yang perlu dipikirkan segara adalah memilih maskot. Perlu disosialisasikan “Penyu Ampiang Parak” yang menjadi maskot kawasan Ekowisata ini.  Maskot inilah yang kemudian menjadi Icon kawasan ini. Disamping itu, perlu juga dibuat nama pantai Penyu Ampiang Parak sebagai icon selfie, sesuai dengan selera kekinian masyarakat pengunjung pariwisata.

img_20170105_171743

Pendaftaran Pelepasan Penyu (foto @ppl_laskar)

Kemudian, dermaga keberangkatan dan kedatangan dari daratan ke bibir pantai perlu segera dibangun. Untuk meningkatkan keamanan, (walaupun tidak harus menerjang ombak) pengunjung perlu dilengkapi dengan pelampung pengaman. Setiap kali penyeberangan, pengunjung perlu didampingi pramuwisata yang dapat menjelaskan berbagai hal tentang Kawasan Ekowisata tersebut. Setelah mendapatkan penjelasan tentang konservasi penyu tersebut, pengunjung juga dapat diajak untuk menjadi orang tua angkat dari penyu-penyu yang ditetaskan. Tidak ketinggalan tentunya penjualan aneka souvenir terutama maskot kawasan konservasi ini, seperti boneka, kaos, sticker dan lain sebagainya.

img_20170101_110227

Akhirnya, Pariwisata tidak hanya semata berdasarkan potensi alam yang ada ataupun sinergi antara rekayasa teknologi dan kapital, tetapi dapat juga didasarkan pada kepedulian dan kecintaan pada lingkungan. Pantai Penyu Ampiang Parak ini salah satunya.

Kubang Gajah, 5 Januari 2017

@nalfira / nspamenan@yahoo.com

 

 

Advertisements
This entry was posted in Traveling and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s