Gerbang Gambir Nusantara: A Local and Regional Economic Development (Model) Solution?

Parintang-rintang: Setelah magrib, kemaren, tanggal 28 September 2016, sebuah pesan pendek masuk ke akun media sosial saya. Pesan singkat yang dikirim oleh Ketua Asosiasi Gambir Indonesia (APEGI), Ir. Rinaldi tersebut berbunyi “Perkembangan Gambir makin kancang (Kencang) Pak.” Saya lalu membalasnya “Mantap, Pak”. Setelah saling menyapa dan berbagi informasi, lalu saya teringat tulisan saya di Blog ini tahun 2014 yang berjudul “Gambir, Revolusi tak Berujung Pangkal”.

Saya tidak tahu apa maksud pesan pendek tersebut. Namun demikian saya memahaminya sebagai jawaban dari tulisan tersebut. Intinya, sekarang permasalahan gambir mulai terlihat ujungnya. “Syukurlah, kalau memang sudah ada titik terang. Berarti apa yang dideklarasikan 5 tahun lalu (15 Desember 2011) sudah ada titik terang dan secercah harapan”, kata saya dalam hati.

Berita di Koran Haluan 21 September 2016

Berita tentang harga gambir di Koran Haluan 21 September 2016

Pesan pendek tersebut, sangat sesuai dengan kondisi di Kabupaten Lima Puluh Kota, daerah penghasil Gambir utama di Provinsi Sumatera Barat itu. Seminggu yang lalu, (21 September 2016) Koran Haluan, menulis berita dengan judul “Harga Gambir Menggembirakan”.  Dalam berita tersebut, dituliskan bahwa pada hari Selasa 20 September 2016 harga gambir di tingkat petani adalah sebesar Rp. 50.000,- per kg. Bahkan, bulan-bulan sebelumnya harga gambir mencapai harga Rp. 60.000,- sampai Rp. 65.000,- per kg. Hal ini tentunya berita yang sangat menggembirakan bagi petani gambir di Kabupaten Lima Puluh Kota. Kegembiraan saya yang lainnya adalah kutipan ucapan dari pernyataan Zenia Casanova, seorang pemuka masyarakat Maek (salah satu daerah penghasil Gambir di Kecamatan Bukik Barisan Kabupaten Lima Puluh Kota). Seperti yang dikutip Haluan, dia yang mengatakan, “Mahalnya harga gambir karena masyarakat tidak mau lagi membuat gambir pesanan yang bercampur dengan tanah. Sekarang petani benar-benar mempertahankan mutu gambir asli.” Itu yang saya suka, pernyataan dan tekad masyarakat untuk memproduksi gambir berkualitas baik.

Suasana Rapat UKL-UPL

Foto unggahan Susy Erlinda tentang Rapat UKL-UPL

Sambil, tersenyum saya teringat postingan seorang teman dari Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Lima Puluh Kota yang mengunggah foto suasana pembahasan dokumen Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UKL-UPL) yang diprakarsai oleh PT. Sumatera Resources International,  yang akan membangun pabrik pengolahan gambir di Kecamatan Pangkalan Kabupaten Lima Puluh Kota.

Awal tahun lalu, ketika masih menjadi pegawai pada Pemerintah Kabupaten Lima Puluh Kota, saya sempat berdiskusi singkat dengan Ketua APEGI tentang komoditi Gambir. Kami bercerita tentang perkembangan usaha yang tengah dilakukan pemerintah dalam rangka pembenahan komoditas gambir, seperti pembangunan gudang gambir dalam rangka persiapan program resi gudang, penentuan harga terendah yang masih menguntungkan petani dan rencana intervensi pasar pemerintah melalui Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (BAPPEBTI). Waktu berlalu, saya pun harus mengakhiri bakti saya di Kabupaten Lima Puluh Kota, setelah lebih dari 2,5 tahun disiasiakan pemimpinnya. (Kok curhat sih)

Kembali ke cerita gambir. Semuanya kabar tersebut sesungguhnya adalah hal yang menggembirakan. Sepertinya, kekhawatiran dan kritik saya tentang “Gambir, revolusi yang tak berujung pangkal” mulai menemukan jawabannya. Lebih jauh, seperti pesan yang saya terima, “gambir jalannya semakin kencang”. Ada beberapa poin penting yang perlu saya garis bawahi terkait dengan hal-hal tersebut di atas.

  1. Semakin meningkatnya kesadaran petani akan pentingnya kualitas dan mutu gambir dibanding keinginan untuk menghasilkan gambir dengan volume yang besar dengan mutu yang buruk akibat dicampur.
  2. Mulainya dunia usaha (pemilik modal) berpindah posisi dari pedagang (trader) ke industri pengolahan gambir sebagai dampak dari:
    • Tren penurunan lahan produktif yang disertai dengan moratorium alami pembukaan lahan gambir,
    • Jumlah tenaga kerja (tukang kampo) yang semakin berkurang,
    • Permintaan akan turunan produk gambir yang semakin meningkat,
    • Menurunnya produksi bahan substitusi gambir seperti pinang dan lain sebagainya memaksa dunia industri untuk berada dekat dengan bahan baku. Pendirian Pabrik yang berada di Pangkalan, yang nota bene memiliki akses yang cukup lancar baik ke Pelabuhan Teluk Bayur di Padang, Sumatera Barat maupun Pelabuhan Dumai di Riau adalah beberapa pilihan strategis yang diambil oleh dunia usaha.
  3. Fungsi pemerintah yang hadir di tengah masyarakat sebagai perwujudan “Nawa Cita” untuk:
    • menjamin petani memperoleh harga gambir yang layak dan stabil;
    • memberi jaminan pasokan gambir yang cukup dengan kualitas yang terjamin bagi dunia usaha, melalui:
    • program resi gudang,
    • keterlibatan BAPPEBTI,
    • fasilitasi Pemerintah pusat, provinsi dan daerah,
    • peran serta perguruan tinggi dalam memberdayakan perekonomian masyarakat
  4. Yang paling menyenangkan tentu saja, peranan pers yang tidak hanya menghadirkan kabar buruk tentang “harga gambir yang anjlok, petani menjerit; pemerintah tidak bisa berbuat apa-apa”, tetapi juga mengabarkan “Harga gambir menggembirakan, petani senang menjaga kualitas dan mutu gambir”.

Semuanya senang, semoga petani gambir dapat hidup sejahtera, dan tentu saja mampu membiayai produksinya, membiayai sekolah anaknya, dan menabung untuk esok yang tidak pasti.

Lalu, apa hubungannya dengan saya. Seperti kata seorang teman ”Masih mengurus gambir? Yang biasa mengurus saja sudah lupa”. “Bukankah Bung sudah tidak lagi menjadi pegawai Pemerintah Kabupaten Lima Puluh Kota”, kata teman itu lagi. Ha hai… Entahlah. Tak ada kepentingan sebenarnya; baik untuk urusan pekerjaan, apalagi penghasilan. Mungkin karena senang saja, karena dulu pernah menjadi juru strategi. Sekedar ingin melihat apakah langkah eksperimen dan usaha yang dulu sering diejek “Menaikkan harga gambir kok dengan rapat” seperti apa ujungnya.

Kalau dirunut, apa yang hadir pada hari ini punya keterkaitan dengan peristiwa beberapa tahun yang lalu. Dari sisi perencanaan, output memang bisa dilihat saat itu, outcome dirasakan satu atau dua tahun kemudian, impact dirasakan 3 atau 4 tahun  setelah itu dan benefit akan bisa terlihat setelah 5 tahun kemudian.  Pada sisi inilah sebenarnya saya hadir dan ingin terlibat. Menguji, apakah perjuangan para “Panglima Gambir” “Jenderal Gambir”, “Putri Gambir”, “Ksatria gambir”, dan “Pejuang Gambir” yang berseragam perencana lima tahun lalu ada hasilnya, atau hanya sekedar menghabiskan anggaran dan memberikan jawaban semu dan instan seperti ejekan yang dulu sering didengar. Sekedar mengingatkann dan mereview apa yang diperbuat empat atau lima tahun lalu.

  1. Deklarasi Gerbang Gambir Nusantara

Hari itu, Kamis 15 Desember 2011, hampir seluruh pejabat pada Pemerintah Daerah Kabupaten Lima Puluh Kota Provinsi Sumatera Barat berangkat ke Kota Bukittinggi. Pimpinan Daerah, mulai dari Bupati, Sekretaris Daerah Kepala SKPD yang menangani permasalahan Pembangunan ekonomi, Camat 6 Kecamatan penghasil gambir, Wali Nagari pada 6 Kecamatan penghasil gambir semuanya bergerak ke titik yang sama, yaitu Istana Bung Hatta atau (dulu, Gedung Negara Tri Arga) yang terletak beberapa meter dari Jam Gadang. Kedatangan mereka adalah dalam rangka menghadiri “Workshop Pengembangan Komoditi Gambir” yang akan dibuka oleh Gubernur Sumatera Barat. Workshop tersebut juga akan dihadiri oleh Pejabat dari Kemenko Perekonomian, Bappenas, Kemenristek, Bank Indonesia Cabang Padang, Direktur Politeknik Pertanian Payakumbuh, dan Peneliti dari Universitas Andalas, dan pemerhati gambir tentunya. Workshop yang sangat minim liputan media.

gerbang-gambir-nusantara

Pembukaan Workshop GERBANG GAMBIR NUSANTARA di Istana Bung Hatta

Workshop tersebut merupakan rangkaian akhir kegiatan untuk tahun pertama (2011) Pilot Proyek Pengembangan Ekonomi Lokal dan Daerah (PELD) yang diprakarsai oleh Bappenas. Ada Sembilan (9) daerah yang terpilih setelah melewati serangkaian penilaian selama tahun 2010. Kabupaten Lima Puluh Kota terpilih mejadi salah satu daerah pilot proyek dengan komoditi unggulan gambir.

Gambir merupakan komoditi unggulan dari Kabupaten Lima Puluh Kota. Komoditi ini, sudah ditanam semenjak ratusan tahun yang lalu. Gambir yang hanya dikenal luas sebagai campuran pemakan sirih memiliki banyak manfaat dan kegunaan. Gambir sudah diekspor keluar negeri oleh perusahaan dagang Belanda sejak mereka menguasai wilayah pesisir Sumatra Barat. Sejak dulu sampai sekarang gambir yang diekspor itu masih tetap sama. Di daerah penghasilnya, gambir tersebut di sebut gambir lumpang, yaitu hasil ekstraksi yang diolah sedemikian rupa berwarna kecoklatan. Walaupun memiliki banyak kegunaan di Kabupaten Lima Puluh Kota, gambir yang dihasilkan masih tetap sama. (Baca: Gambir Revolusi Tak Berujung Pangkal.)

Workshop dibuka oleh Bupati Lima Puluh Kota dr. Alis Marajo karena Gubernur Sumatera Barat baru bisa hadir menjelang siang karena menghadiri acara selamatan penganugerahan gelar Pahlawan di Gubernuran Padang. Puncak dari rangkaian acara tersebut adalah penandatanganan sebuah deklarasi bersama semua pemangku kepentingan dalam rangka mendukung pengembangan Komoditi Gambir. Maka pada hari itu sebuah Deklarasi yang secara bersama-sama disepakati sebagai Deklarasi Gerbang Gambir Nusantara ditandatangani oleh:

  1. Gubernur Sumatera Barat, Prof. Dr. Irwan Prayitno
  2. Bupati Lima Puluh Kota, dr. Alis Marajo
  3. Angota Komisi B DPRD Kabupaten Lima Puluh Kota, H. Daliyus
  4. Pejabat yang mewakili Kemenristek,
  5. Pejabat yang mewakili Bappenas,
  6. Direktur Politeknik Pertanian Payakumbuh, Ir. Deni Sorel, MP
  7. Peneliti dari Universitas Andalas Prof. Amri Bachtiar
  8. Perwakilan Petani Gambir, Ir.Rinaldi

Adapun Deklarasi Gerbang Gambir Nusantara tersebut memuat 9 poin utama, antara lain:

  1. Penguatan Kelembagaan Petani
  2. Peningkatan Mutu Produk Gambir
  3. Pengembangan Pengolahan Produk Turunan Gambir Sesuai Kebutuhan Industri
  4. Mendorong Peningkatan Sumber-Sumber Permintaan Produk Turunan Gambir Melalui Pengembangan/Pembangunan Industri Produk Turunan Gambir Untuk Kebutuhan Industri Dalam Negeri
  5. Peningkatan Akses Informasi, Akses Pasar dan Akses Permodalan
  6. Meningkatkan Pendapatan Petani Gambir
  7. Percepatan Penanggulangan Kemiskinan
  8. Mendorong Berdirinya Pabrik Katechin
  9. Menjadikan Gambir Sebagai Komoditi Nasional Penghasil Devisa

Deklarasi ini, meliputi seluruh pemangku kepentingan. Beberapa poin kesepakatan, seperti poin (1) Penguatan Kelembagaan Petani, ditindaklanjuti dengan pendirian Asosiasi Petani Gambir Indonesia (APEGI), poin (2) peningkatan mutu produk gambir ditindaklanjuti dengan uji laboratorium dan sertifikasi gambir olahan beberapa kelompok tani, poin (3) mendorong berdirinya pabrik katechin (pabrik pengolahan gambir) melalui Feasibility study yang dibiayai oleh GIZ, Jerman. Karena, baru tahun pertama, dampaknya  belum dapat dirasakan secara langsung, akan tetapi gaungnya mulai terasa dengan kehadiran Balai Riset dan Standarisasi (Baristand) di bawah Kemenperin, yang melakukan riset dan sosialisasi pemakaian gambir untuk industri seperti tinta pemilu, pewarna tekstil untuk tenunan, dan lain sebagainya. Sebuah Langkah yang masih tertatih-tatih dan belum dirasakan dampak dan keuntungannya. Harga gambirpun masih berkisar antara Rp.10.000,- s/d Rp.12.000,-, petani masih memproduksi gambir yang dicampur.

Dokumen, Gerbang Gambir Nusantara tersebut sepertinya masih tersimpan di Bidang Ekonomi dan SDA Bappeda Kabupaten Lima Puluh Kota. Beberapa gambar terkait kegiatan Deklarasi Gerbang Gambir ini disajikan di bawah ini.

Penandatanganan Deklarasi oleh Gubernur Sumatera Barat

Penandatanganan Deklarasi oleh Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno

 

ttd-bupati-2011

Penandatanganan Deklarasi oleh Bupati Lima Puluh Kota Alis Marajo

Penandatanganan Deklarasi oleh Anggota DPRD Kabupaten Lima Puluh Kota

Penandatanganan Deklarasi oleh Anggota DPRD Lima Puluh Kota Dalius

Penandatangan Deklarasi oleh Direktur Politani Payakumbuh

Penandatanganan Deklarasi oleh Direktur Politani Payakumbuh Deni Sorel

ttd-gub-apegi-2011

Penandatanganan Deklarasi oleh wakil petani gambir, Rinaldi

Panitia Workshop Gerbang Gambir

Panitia Workshop, Kepala Bappeda Lima Puluh Kota beserta seluruh jajaran  (Panglima gambir, Jenderal gambir, Ksatria Gambir dan Putri Gambir)

  1. Komitmen Bersama Menuju Gambir Yang Berkualitas

Melihat respon yang cukup baik walaupun dampaknya belum dirasakan, pada tahun 2012 dilaksanakan Workshop Gerbang Gambir Nusantara sebagai kelanjutan dari Deklarasi Gerbang Gambir Nusantara dengan tema utama Komitmen Bersama Menuju Gambir Yang Berkualitas. Di samping untuk memperingati satu tahun deklarasi Gerbang Gambir Nusantara, juga untuk membangun komitmen yang lebih luas dari seluruh pemangku kepentingan, terutama pemangku kepentingan lokal seperti  Pemerintah Daerah, Dewan Perwakilan Rakyat, Petani dan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat, dan Pemerintah Pusat tentunya.

Peringatan ulang tahun dan sekaligus Workshop Gerbang Gambir Nusantara diadakan pada tanggal 21 Desember 2012. Kegiatan tersebut dilaksanakan sebagai pertemuan semua stakeholders yang telah bekerja secara sinergis selama ini dalam pengembangan Gambir, khususnya di Kabupaten Lima Puluh Kota baik di tingkat pusat, provinsi maupun daerah. Momen ini nantinya juga dijadikan sebagai ajang pertemuan untuk melakukan evaluasi kegiatan yang telah dijalankan selama tahun 2012 oleh masing-masing pihak, dan sudah sejauh mana pencapaian daerah menuju petani yang sejahtera.

Dalam pertemuan tersebut juga dilaksanakan  penandatanganan piagam “Komitmen Bersama Menuju Gambir Yang Berkualitas”. Di samping itu, juga diserahkan sertifikat mutu gambir hasil olahan petani yang dikeluarkan oleh Balai Riset dan Standarisasi Industri (Baristand) Padang. Sertifikat tersebut menjadi tolak ukur bagi kelompok tani dalam meningkatkan kualitas gambir yang mereka hasilkan dan menjadi rujukan bagi petani kepada calon pembeli (buyers) tentang mutu gambir yang mereka hasilkan.

Piagam Komitmen Bersama Menuju Gambir Yang Berkualitas tersebut ditandatangani oleh Ketua Apegi, ketua 8 Kelompok tani dari 6 Kecamatan Penghasil gambir di Kabupaten Lima Puluh Kota. Acara tersebut juga dihadiri oleh Wakil ketua DPRD Kabupaten Lima Puluh Kota dan beberapa orang anggota DPRD yang berasal dari Daerah Pemilihan yang menghasilkan gambir.

Isi dan Penanda tangan Komitmen Bersama

Piagam Komitmen Bersama menuju Gambir yang berkualitas

Dalam jangka pendek, komitmen tersebut belum dirasakan dampaknya. Perlu waktu untuk sosialisasi. Yang lebih penting lagi adalah perlu bukti bahwa mutu yang lebih baik berbanding lurus dengan harga yang lebih baik. Untuk membantu kelompok tani mengetahui dan mengenal mutu gambir yang mereka hasilkan, pemerintah daerah mengupayakan uji mutu gambir 100 kelompok tani di Kabupaten Lima Puluh Kota. Hasilnya dipetakan dalam bentuk daerah penghasil gambir kualitas baik, sedang dan kurang bagus. Hasilnya disosialisasikan pada berbagai pertemuan dengan kelompok masyarakat dan kelompok tani, dan pemangku kepentingan lainnya. Dampaknya, jumlah kelompok tani yang menghasilkan gambir dengan mutu kurang bagus juga semakin berkurang, walaupun pada beberapa tempat masih ada yang melakukan pencampuran. Foto Isi piagam dan penandatanganan piagam, serta penyerahan sertifikat mutu gambir ditampilkan di bawah ini.

Worskshop Gerbang Gambir Nusantara 2012

Sambutan Anggota DPRD Kabupaten Lima Puluh Kota

tanda-tangan-apegi

Penandatanganan Piagam Komitmen oleh Ketua APEGI

Penandatanganan Komitmen oleh Petani

Penandatanganan Piagam Komitmen oleh salah seorang Ketua Poktan gambir

Penandatanganan Komitmen bersama oleh Wakil Ketua DPRD

Penandatanganan Piagam oleh Wakil Ketua DPRD Kabupaten Lima Puluh Kota

Foto bersama setelah Penandatanganan Komitmen

Foto bersama setelah penandatanganan Komitmen

3. Gerbang Gambir Nusantara Impact & Benefit

Seiring dengan membaiknya kualitas, ditambah lagi dengan berkurangnya jumlah produksi dan (self moratorium) ladang gambir (baca: tidak ada pembukaan ladang baru), serta turunnya nilai tukar mata uang rupiah terhadap dolar, harga gambir mulai menanjak naik. Beberapa produk dalam negeri yang dengan produk hilir gambir juga mulai diluncurkan ke pasar. Banyak yang melihat, munculnya kekhawatiran industri di luar negeri akan kekurangan pasokan bahan baku sehingga ada kecenderungan untuk melakukan melakukan stocking. Produksi yang semakin berkurang dengan mutu yang lebih baik menyebabkan indikator ekspor, yang selalu diukur dengan jumlah kontainer yang dikirim menurun dalam kuantitas berat; tetapi bertahan dan cenderung meningkat dalam kuantitas nilai uang (rupiah).

Kondisi terkini dari Gambir ini merupakan dampak dan keuntungan (impact and benefit) dari apa yang dilakukan lima tahun lalu. “Menuju petani gambir yang sejahtera sekaligus mengurangi angka kemiskinan dan sekaligus” seperti harapan Bapak gubernur 5 tahun yang lalu. (Gambar headline berita)

Berita media online

Syukurlah, kalau dampaknya memang baik. Oleh karena itu apresiasi dan kredit patut diberikan kepada Bapak Gubernur Sumatera Barat Prof. Dr. Irwan Prayitno yang memperhatikan aspirasi dan analisa para perencana di Bappeda Provinsi Sumatera Barat, khususnya Ibu Reti Wafda, Kepala Bidang Ekonomi, yang gigih mendorong keterlibatan Pemerintah Provinsi dan para perencana yang masih muda-muda di Bappeda Kabupaten Lima Puluh Kota kala itu. Khusus untuk Bappeda Lima Puluh Kota, ungkapan “Panglima Gambir”, “Jenderal Gambir”, “ksatria gambir” dan “Putri Gambir” yang sering disebutkan teman-teman di pemerintah pusat mungkin bukan lagi dianggap sebagai sebuah ejekan tetapi sebuah apresiasi akan pemahaman dan konsistensi . Apresiasi selayaknya juga diberikan kepada, Ir. Rinaldi,  Ketua Apegi dan Ir. Syaqib Sidqi, M.Si, tenaga ahli regional Pendamping dari Bappenas, yang banyak membantu bisa disebut sebagai “Pejuang Gambir”.

Esok dan seterusnya, mungkin orang akan lupa dengan semua itu. Apalagi bagi saya yang sudah tidak memiliki akses pada kebijakan yang dibuat tentang gambir. Rumah dan induk semang sudah berganti. Saya hanya dapat melihat dari “rantau sebelah” dengan kapasitas sebagai seorang pengamat amatiran.

Tulisan ini juga bukan bermaksud untuk “manggapik daun kunyik.” Tetapi sekedar berbagi dan mudah-mudahan dapat menjadi referensi sederhana tentang bagaimana mengatasi masalah dan memajukan perekonomian lokal dan regional di daerah.

Wasssalam

Kubang Gajah, 29 September 2016

nspamenan@yahoo.com

 

Advertisements
This entry was posted in Oud Comodity. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s