Motif Songket dan Tenunan Silungkang Seabad Yang Lalu

Parintang-rintang:Pada suatu kesempatan, ketika melihat gambar motif tenunan, saya ditanya, “Sering mendengar istilah Pucuak Rabuang (Pucuk Rebung) kan? Kalau iya apa itu? ” Saya jawab sekedarnya, “Motif ukiran atau tenunan”

Motif Tenun Silungkang

Motif Tenun Silungkang

“OK. Kalau Pucuk Djawa atau Pucuk Kelapa?”, gantian sayayang bertanya.” Mana ku tau”, jawabnya. Dan si penanyapun segere berlalu.

Saya teringat kejadian itu ketika melihat postingan media sosial dan ekspos berbagai media cetak dan elektronik tentang karnaval songket di Sawahlunto. Selama tiga hari yakni, dari tanggal 28 s/d 30 Agustus 2015, Kota Sawahlunto, menggelar Sawahlunto International Songket Carnaval. Kegiatan tahunan ini merupakan kalender pariwisata sekaligus ajang promosi aneka produk industri tenunan, tidak hanya produk lokal Sawahlunto (bac: Silungkang) tenunan tetapi juga produk daerah lainnya di Sumatra Barat.

Kegiatan tersebut, seperti ditulis Antaranews.com, pada hari pertama, diisi dengan agenda Pawai Budaya yang menampilkan berbagai kreasi busana berbahan songket yang dilakukan oleh kelompok masyarakat, organisasi sosial, dinas instansi pemerintah, BUMN, sekolah dan sebagainya serta melibatkan desainer-desainer lokal.

Selanjutnya, pada hari kedua diselenggarakan Konferensi Songket yang akan mengulas songket sebagai aset budaya dan pengembangannya dengan peserta yang terdiri dari perajin songket, peserta pameran songket, praktisi budaya, desainer, serta pemerhati Silungkang.

Sesungguhnya, sayatertarik dengan kegiatan pada hari kedua, yang mengulas songket sebagai aset budaya. Adakah dalam konferensi tersebut di bahas motif songket khas Silungkang, yang diantaranya ada pertanyaan saya pada teman di atas.  Sebagai pencinta foto, dokumen, dan peta lama  tertarik untuk mengulas apa saja motif songket yang ada di Sawahlunto khususnyaSilungkang pada kurun waktu 1 (satu) abad yang lalu.

Saya tidak mengetahui, karena tidak hadir dalam kegiatan tersebut, apakah budayawan atau desainer yang hadir dan menjadi pembicara dalam konferensi tersebut mengulas atau paling tidak memperkenalkan nama-nama motif yang pernah ada satu tahun yang lalu. Ulasan tersebut tentunya terkait dengan nama-nama motif songket Silungkang yang ada sekarang ini. Berapa banyakkah motif lama yang masih eksis, berapa banyakkah motif baru yang muncul, serta adakah motif kontemporer yang hadir dan kini jadi trend.

Dalam buku yang berjudul “De De Inlandsche Kunstnijverheid in Nederlandsch Indië (Motif asli Kerajinan tangan Hindia Belanda)” yang ditulis oleh J.E. Jasper dan Mas Pirngadie, bagian kedua “De Weefkunst (Tenunan)” yang diterbitkan oleh Mouton & Co tahun 1912, halaman 249 – 250 disebutkan nama-nama motif tenunan Silungkang.

Terdapat 37 nama motif tenunan Silungkang yang diregistrasi oleh J.E. Jasper dan Mas Pirngadie dalam buku tersebut. Motif Silungkang tersebut memiliki kemiripan dengan beberapa motif tenunan yang sudah di identifkasi oleh Jasper dan Mas Pirngadie, diantaranya motif Sangir dan Talaur serta motif limaran (Jawa) dan Tumpal (Jawa).

Secara umum, motif tersebut dapat dikelompokkan atas beberapa jenis motif yaitu: Tjoekie (13 varian), Poetjoek (8 varian), Boengoe (4 varian), Salimpok (2 varian), Taboer (2 varian), Mata /mato (2 varian), dan motif lainnya.

Motif Tjokie (Cukie) adalah motif hiasan yang memiliki titik fokus atau kunci,biasanya berbentuk diamond atau berlian. Dalam beberapa publikasi yang ada sekarang ini di dunia maya, ada motif cukia Barantai dari Silungkang. Dalam buku yang ditulis oleh Jasper dan Pirngadie lebih dari satu abad yang lalu ini tidak ada motif tersebut. Sedangkan varian Berantai hanya ada pada motif Tabur. Adapun varian motif Tjoekie ini antara lain adalah sebagai berikut:

Motieven van Siloengkangsche weefscls

Motieven van Siloengkangsche weefscls

  1. Tjoekie patola
  2. Tjoekie baridik
  3. Tjoekie batandoek
  4. Tjoekie Batoe Ampa
  5. Tjoekie berbulan
  6. Tjoekie boengo maloer
  7. Tjoekie daoen
  8. Tjoekie kalam koewai
  9. Tjoekie koedo-koedo
  10. Tjoekie soedoet destar
  11. Tjoekie surat-soeratan
  12. Tjoekie tiga balabe
  13. Tjokie Sīmanis besar

Sedangkan motif Poetjoek (pucuk) adalah motif berbentuk segitiga, memanjang dan lancip. Motif Pucuk terkenal adalah motif pucuk Rebung. Akan tetapi pada tenunan Silungkang tidak terdapat motif ini, Motif Pucuk Jawa dan Pucuk Kelapa merupakan motif yang terkenal pada zaman itu. Terdapat 8 varian motif Poetjoek, antara lain:

Motieven van Siloengkangsche weefscls

Motieven van Siloengkangsche weefscls

  1. Poetjoek ikat pinggang
  2. Poetjoek Jawa
  3. Poetjoek kain balapa besar
  4. Poetjoek kalapa
  5. Poetjoek lopor
  6. Poetjoek ranggo patani
  7. Poetjoek sadahan
  8. Poetjoek tjelana

Terdapat 4 varian motif boengo (bunga), yaitu:

  1. Boengo kain
  2. Boengo lado
  3. Boengo lansat
  4. Boengo pandoekoeng

Disamping itu ada 2 varian motif Salimpok. Motif ini adalah motif dengan gambar bintang dipinggir kain. Varian motif Salimpok tersebut terdiri dari:

  1. Salimpok batonggak
  2. Salimpok mato ampat

Hampir sama dengan motif Salimpok, Motif tabur juga mengguankan ornamen bintang. Bedanya, pada motif ini bintang tersebut terhubung satu sama lain. Varian motif Tabur ini terdiri dari:

  1. Tabur barantai
  2. Tabur Kota Gedang

Motif Mata atau mato, adalah motif yang menyerupai mata. Mata ini dilambangkan dengan gambar seperti berlian. Terdapat 2 varian motif mata/mato, yaiitu:

  1. Mata itik ketjil
  2. Mato rangit

Disamping motif tersebut di atas terdapat motif lainnya, antara lain:

  1. Aka tjino
  2. Awan berarak
  3. Djejak boeroeng
  4. Tali (boereong)

Tidak semua motif tersebut disertai dengan gambar, oleh karenanya cukup sulit untuk menggambarkan seperti apa motif tersebut. Berbeda dengan motif dan tenunan Pandai Sikek yang dalam buku tersebut disebutnya sebagai “motievenvan Padang Pandjangsche goud an zilverweefsels”.

Dari motif motif yang ada tersebut terdapat banyak perbedaan antara motif Perlu diingat bahwa, saya bukanlah seorang dekoratif art, ahli tenun, songket maupun sulaman. Bahan ini, tulisan ini hanyalah sebagai motivasi bagi siapa saja yang tertarik dengan tenunan dan songket untuk menggali secara lebih mendalam aneka motif dan filosofi dari setiap motif tersebut.

Kubang Gajah, 29 Agustus 2015

nspamenan@yahoo.com

Advertisements
This entry was posted in Oud Comodity. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s