MANGANI KOTA TAMBANG YANG HILANG: (BUKAN SEKEDAR) JEJAK JERMAN DI INDONESIA

PARINTANG-RINTANG: Majalah Tempo Nomor 11 tertanggal 17 Mei 2015 dalam rubrik IQRA mengupas secara mendalam sebuah buku yang berjudul Hittlers Griff Nach Asien yang oleh Tempo diterjemahkan menjadi (“Jerman Mencapai Asia”). Kupasan khas ala Tempo dilengkapi dengan aneka gambar, dan tentunya wawancara dengan pengarang buku tersebut, Horst H. Geerken. Tempo sesuai pakemnya, secara tajam menyoroti keberadaan NAZI di Hindia Belanda, lengkap dengan informasi tentang lokasi Kantor pusat plus kantor cabangnya di Hindia Belanda. Tidak lupa pula ditampilkan tokoh yang menjadi aktor utama keberadaan Nazi di Hindia Belanda, Walther Hewel, disertai dengan fotonya pada tahun 1940.

Buku, yang menurut Geerken kepada Tempo disusun dari arsip-arsip rahasia Jerman, mengungkap bahwa Nazi, khususnya Hittler, sangat ingin menguasai kekayaan Alam Hindia Belanda yang melimpah ruah. Walther Hewel datang ke Hindia Belanda saat berusia 23 tahun untuk bekerja sebagai Asisten Administrator pada perkebunan Neglasari di Garut pada tahun 1927. Dia akhirnya suskses menjadi salah satu inisiator berdirinya perwakilan Nazi di Luar Negeri. Buku tersebut, seperti ulasan di Tempo, terus merambat mengulas ke berbagai sisi menceritakan masuknya pengaruh Nazi keIndonesia. Banyak oraganisisi seperti organisasi perjuangan pergerakan, sampai melatih  PETA di masa pendudukan Jepang disebut memiliki aroma Nazi. Tidak ketinggalan cerita penemuan sepatu Lars Tentara Jerman diloakan Surabaya, dan kisah  mesin tik Jerman dan kaitannya dengan Proklamasi. Sepertinya, memang sangat sedikit yang kita tahu tentang apa yang terjadi di Hindia Belanda, di awal abad ke 20 sampai Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dan menjadi Negara yang berdaulat.

Tidak seperti Geerken yang bukan penulis kemaren sore, saya hanyalah anak bawang (penulis pada status, note dan blog pribadi). Sesungguhnya, bila buku itu diberikan kepada saya, saya tidak akan paham dan mengerti, karena tidak bisa berbasa Jerman. Secara pribadi, saya tidak puas dengan apa yang dikemukan dalam ulasan Tempo. Saya beranggapan kehadiran Jerman di Hindia Belanda sudah ada jauh sebelum NAzi berkuasa di Jerman.

Walaupun tidak memuaskan saya, buku tersebut (dari yang saya baca di Tempo) telah memperkuat asumsi saya tentang Imperialisme Barat di Hindia Belanda. Saya belum menemukan buku atau tautan tentang “Kita orang Hindia Belanda itu memang jajahan Belanda secara administrasi, tetapi dijajah oleh banyak bangsa asing secara ekonomi”.

Sesudut Pemandangan Mangani Camp 1921-1922 (doc. Andreas Rosenstingl Family)

Sesudut Pemandangan Mangani Camp 1921-1923 (doc. Andreas Rosenstingl Family)

Asumsi ini tak senganja lahir. Ketika saya sedang melakukan penelitian kecil-kecilan untuk sekedar parintang-rintang, berusaha untuk mendapatkan data dan gambar di dunia maya tentang sejarah dan perkembangan Tambang Emas di Mangani Afdeeling (baca: Kabupaten) Lima Puluh Kota Padangsche Bovenlanden Sumatra’s Westkust (Padang Daratan Sumatra Barat). Tidak satupun gambar tentang Mangani saya temukan.

Tidak seperti Tambang Emas di Salido Pesisir Selatan Sumatra Barat, Tambang emas Lebong Tandai dan Lebong Sawah di Bengkulu yang begitu mudah di dapatkan di dunia maya, tambang emas mangani menjadi begitu misterius. Tidak ada satupun situs di internet yang dapat menyuguhkan gambar-gambar tentang tambang emas di Mangani tersebut (kecuali blog ini parintangrintang.wordpress.com atau yang mengambilnya dari blog ini). Ketika bertanya pada aparatur pemerintah lokal maupun masyarakat Sumatra Barat umumnya, Kabupaten Lima Puluh Kota khususnya, hampir tidak ada yang mengetahui apa nama perusahaan yang melakukan eksplorasi penambangan di Mangani tersebut. Nama Mangani memang terkenal, akan sangat sulit menemukan foto di tambang emas Mangani koleksi orang Sumatra Barat.

Tidak adanya gambar tentang tambang Emas Mangani di situs Media-KITLV.nl, yang sering menjadi rujukan dalam pencarian gambar-gambar tentang Hindia Belanda (Indonesia di masa Penjajahan), menjadi alasan pertama untuk menyimpulkan bahwa penambangan emas di Mangani tersebut tidak dilakukan oleh orang-orang Belanda. Artinya, karena arsip berupa foto, peta dan lain sebagainya tidak dimiliki oleh  orang Belandan maka tidak ada yang disimpan di Museum Belanda entah di Troppen Museum atau di Perpustakaan Leiden. Kondisi yang sama juga dapat dipertanyakan pada Museum Nasional atau Badan Arsip Nasional apakah mereka memiliki foto-foto tentang penambangan emas di Mangani.

Kesimpulan ini diperkuat dengan kontak tidak sengaja saya sekitar satu tahun yang lalu dengan Andreas Rosenstingl, seorang ahli medis dari Wina Austria. Sapaannya pada sebuah akun, dalam Bahasa Inggris, dengan mencantumkan kata Mangani dan tidak pernah direspon selama berbulan-bulan menarik perhatian saya. Dari sanalah kontak bermula sampai akhirnya saya mendapatkan kisah perjalanan kakeknya, seorang dokter yang bekerja untuk perusahaan yang bernama Mijnbouw Maatschappij Aequator. Dr. Walther Rosenstingle, dua kali bertugas di Mangani, sekitar tahun 1912-1913 dan tahu 1921-1923.

Kartu Pos Untuk Dr.Roesnstingl (Koleksi Decampe.net)

Kartu Pos Untuk Dr.Roesnstingl (Koleksi Decampe.net)

Dr.Walther Rosesntingl datang pertama sebagai bujangan sekitar tahun 1912. Dia datang untuk keduakalinya pada tahun 1921 dengan membawa istri yang sedang hamil dan seorang anak perempuan. Pulang ke Austria dengan membawa istri yang sudah hamil sejak di Mangani serta dua orang anak perempuan pada tahun 1923. Dari cucu dari anak yang dibawanya dalam kandungan dari Mangani inilah saya mendapatkan cukup banyak gambar tentang kehidupan di pertambangan emas Mijnbouw Maatschappij Aequator di Mangani. Keluarga tersebut mengoleksi sejumlah gambar antara tahun 1921-1922 tersebut. Gambar di bawah ini adalah foto keluarga Dr. Walther Rosenstingl dengan istri dan ke dua putrinya pada tahun 1922.

W. Rosesntingl Family 1922 (Koleksi Andreas Rosenstingl)

W. Rosesntingl Family 1922 (Koleksi Andreas Rosenstingl)

Gambar tersebut melengkapi cuplikan jurnal yang saya miliki, yang menyebutkan bahwa di Mangani tersedia fasilitas yang cukup lengkap seperti gudang, perkantoran, base camp karyawan, penginapan, rumah sakit, gedung pertemuan, pembangkit listrik, kereta gantung, kereta pengangkut barang lengkap dengan relnya.

Penjelajahan di dunia maya tentang Mijnbouw Maatschappij Aequator (MM Aequator) ini hasilnya sungguh mengejutkan saya. Kesimpulan tentang imperialisme Barat di Hindia Belanda belumlah final. Fakta tentang Mangani, tempat dimana MM Aequator berada jauh lebih menarik. Ada beberapa informasi penting yang saya dapatkan.  Pertama, sebelum penambangan dilakukan oleh MM Aequator eksplorasi dan eksploitasi penambangan dilakukan oleh West Sumatra Mijnen Syndicaat, dari tahun 1906-1911 dengan direkturnya P. Grammel. Perusahaan ini berdiri di Roterdaam. Eksplorasi oleh West Sumatra Mijnen Syndicaat merupakan pengembangan penambangan emas oleh rakyat yang sudah ada jauh sebelum Belanda menguasai Padangsche Bovenlanden pada awal abad ke 19. Barulah pada tahu 1911 penambangan dilakukan ole MM Aequator, setelah membeli konsesinya dari West Sumatra Mijnen Syndicaat.  Dr. Walther Rosensttingl bekerja di MM Aequator dan berangkat ke Mangani setelah tamat kuliah. Pertanyaannya adalah kenapa MM Aequator lebih memilih dokter Walther Rosenstingl bekerja diperusahaan pertambangan ini. Dia bukanlah dokter berkebangsaan Belanda tetapi berkebangsaan Austria. Bukankah Austria lebih dekat ke Jerman dari pada ke Belanda?

Informasi lainnya adalah adalah dua buah sertifikat saham, berlabel MM Aequator, masing –masing bernilai 100 dan 1000 Gulden. Yang menarik dari sertifikat saham ini adalah digunakannya dua bahasa dalam sertifikat saham tersebut: Bahasa Belanda dan Bahasa Jerman. Pertanyaannya adalah kenapa harus dua bahasa dan kenapa satunya lagi bahasa Jerman. Lokasi MM Aequator berada di Hindia Belanda, jajahan Belanda, Belanda pun bukan jajahan Jerman kala itu..
Hasil lain dari penelusuran itu adalah ditemukannya Kolonial Verslaag yang mencantumkan hak konsesi penambangan untuk wilayah yang disebut Equator selama 75 tahun yang berlaku sejak tahun 1910. Wilayah konsesi penambangan Equator ini meliputi area seluas 987 Ha dengan nilai konsesi sebesar 0,25 Gulden per Ha nya. Pertanyaannya, wilayah konsesinya dalam Kolonial Verslag tahun 1911 itu disebut Equator tetapi nama perusahaannya Aequator.

Semua informasi di atas belum dapat meyakinkan saya sepenuhnya bahwa imperialisme barat sudah berlangsung sejak awal abad ke dua puluh. Saya beruntung, setumpuk dokumen (setelah dicetak) dalam bahasa Jerman dengan judul Geschäftsbericht yang berisikan Geehrte Herren beserta kliping surat kabar tentang MM Aequator dapat saya download dari sebuah situs. Dari laporan tahunan 1912 ditemukan bahwa MM Aequator berpusat di Haag. Akan tetapi sebagian besar komisarisnya berasal dari Jerman. Dua orang komisarisnya (dua nama teratas) berasal dari Gera, yakni George Hirsch dan Huegen Ruckdensel. Dua orang lagi berasal dari Stutgart, yakni Oberst A. von Mangirust dan C. A. Erhardt, serta satu orang dari Berlin yakni D. Von Nimptech. Sedangkan enam orang lainnya dari Belanda. Direkturnya ada tiga orang yakni P. Grammel di Mangani yang tinggal di Fort De Kock (Bukittinggi). P. Grammel adalah mantan direktur West Sumatra Mijnen Syndicaat. Selanjutnya E. B. Young tinggal di Gera-Reus, Jerman dan Z.W. Dekkers jr di Haag Belanda.

Sangat sedikit informasi yang diperoleh tentang siapa pemegang saham begitu banyak perusahaan yang beroperasi di Hindia Belanda. Apakah perusahaan tersebut dimiliki oleh orang Belanda atau oleh orang Eropa non Belanda maupun keturunan Tionghoa. Data yang didapatkan tentang MM Aequator karena komisarisnya kebanyakan berasal dari Jerman,  Laporan tahunannya pun dibuat dalam bahasa Jerman. Dengan demikian pada dasarnya MM Aequator adalah perusahaan milik Jerman yang beroperasi di Indonesia.  Walaupun berpusat di Haag, tetapi dikontrol dari Jerman.

Hal seperti ini mungkin tidak hanya MM Aequator saja. Diperkirakan ada banyak perusahaan lainnya (Maatschappij) yang sahamnya dimiliki oleh orang Eropa non Belanda. Perusahaan tersebut, terutama Cultuur Maatschappij (Perusahaan Perkebunan), kemungkin sahamnya banyak dimiliki oleh orang Eropa Non Belanda terutama Jerman. Di Sumatra Utara khususnya Tapanuli orang sangat mengenal nama Nomensen. Seorang misionaris terkenal dari Jerman. Saya menduga, kehadiran Nomensen tidak hanya menjadi misionaris yang melayani orang-orang Batak tetapi lebih dari itu untuk melayani warga Jerman yang bekerja di berbagai perusahaan, Maatschappij, terutama Cultuur Maatschappij yang tumbuh subur di Tapanuli.

Lapangan Tenis CM Halaban (Foto Leo Haas, Koleksi Traian Popescu)

Lapangan Tenis CM Halaban (Foto Leo Haas, Koleksi Traian Popescu)

Tidak jauh dari MM Aequator ke arah selatan, masih di wilayah Afdeeling Lima Puluh Kota, terdapat perkebunan teh yang bernama Cultuur Maatschappij (CM) Halaban. Sama dengan MM Aequator, sangat sulit mendapatkan gambar dari situs-situs yang terkait dengan Belanda seperti Media-KITLV.nl dan Troppen Museum yang berisi aktivitas perkebunan teh CM Halaban.

Walaupun sudah hampir menjurus pada satu kesimpulan, saya mendapatkan tambahan informasi yang membuat saya menjadi lebih yakin pada kesimpulan tentang MM Aequator. Pada suatu hari di akhir bulan Juni tahun 2015, saya diajak berteman di dunia maya oleh seseorang yang tidak pernah saya duga sebelumnya. Dengan nama orang Eropa Timur, tetapi menggunakan bahasa Jerman, saya dikirimi beberapa gambar dengan pengantar “Photograph Leo Haas, Administrator in Mangani 1916-1930, koleksi Traian Popescu.” Sejak saat itu saya berteman dan berbagi informasi dengan Traian Popescu seorang Senior Research Scientist & investigator at HPR Dr. Schaffler GmbH. Dari Traian saya dapatkan berbagai foto tentang land scape, pemukiman, lubang tambang, sungai, air terjun, fasilitas jalan, pasar dan banyak lagi tentang Mangani melengkapi koleksi saya tentang MM Aequator. Saya semakin yakin dengan apa yang saya teliti dan tulis Mangani, Kota Tambang Yang Hilang.

Lubang Tambang Mangani  (Foto Leo Haas; Koleksi Traian Popescu)

Lubang Tambang Mangani
(Foto Leo Haas; Koleksi Traian Popescu)

Foto hasil jepretan Leo Has seorang adminsitrator pertambangan yang berasal dari Jerman koleksi Traian Popescu itu sangat banyak jumlah dan ragamnya. Selain tentang foto di Mangani (MM Aequator) ada juga foto di Halaban (CM Halaban). Dari koleksi Traian Popescu ini pula didapatkan gambar tentang orang Eropa yang sedang bermain tennis di Lapangan milik CM Halaban. Mereka semua diperkirakan adalah kolega Leo Haas. Dengan kata lain, yang bekerja di CM Halaban juga orang Jerman. Bukankah banyak orang Jerman yang bekerja di perkebunan sama halnya dengan Walther Hewel yang menjadi Adminsitrator di Perkebunan Neglasari Garut. Bukti bahwa awal bahwa CM Halaban berafiliasi ke Jerman adalah didatangkannya peralatan untuk pabrik teh tersebut dari Jerman seperti disebut sebuah Jurnal.

Mesin Pemroses Teh (Foto Leo Haas, Koleksi Traian Popescu)

Mesin Pemroses Teh (Foto Leo Haas, Koleksi Traian Popescu)

Secara tidak langgsung ada dua kesimpulan yang saya dapatkan. Pertama, MM Aequator memang bukan perusahaan milik orang atau pemerintah Belanda, tetapi milik orang Jerman yang mempekerjakan banyak orang Jerman. Kedua, imperialisme Eropa terhadap Hindia Belanda seperti dikemukakan di atas sudah berlangsung lama.

Namun demikian perlu dikaji lebih mendalam apa yang sebenarnya terjadi pada akhir abad ke 19 dan awal abad ke 20 di Hindia Belanda. Kebijakan stratesi apakah yang dikeluarkan oleh Pemerintah Belanda dan Hindia Belanda kala itu.

Bermula dari informasi yang sangat mengejutkan saya berupa sebuah dokumen, yang berjudul Foreign Affairs 1920 volume III , setebal 32 halaman (PDF) yang merupakan korespondesi antara pejabat Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat (Secretary of State) dengan pejabat Kementerian Luar Negeri Belanda (The Netherland Misnister for Foreign Affairs). Dokumen tersebut mengungkap tekanan yang dialami pemerintah Kolonial Belanda dalam rangka implementasi strategi eksploitasi pertambangan sumber daya alam di wilayah Nusantara (Nederland Indische). Artinya imperialisme barat terhadap wilayah Hindia Belanda telah berlangsung sengit saat itu. Tidak hanya negara-negara Eropa tetapi juga Amerika Serikat. Dari temuan dokumen tersebut akhirnya ditemukan sejarah ekslploitasi sumber daya alam Nusantara sebagai bentuk imperialisme barat.

Imperialisme tersebut melalui serangkaian kebijakan yang dibuat oleh Pemerintah kolonial terkait pertambangan di Hindia Belanda. Kebijakan pertama adalah pembentukan Komisi Khusus Pertambangan (Special Commitee for Mining) atau dalam bahasa Belanda disebut Bijzender Comite voor de Mijnbouw pada tahun 1852 berdasarkan Besluit No 52/1852. Komite ini kemudian berganti nama menjadi Jawatan Pertambangan Kolonial (Colonial Mining Office) yang dalam Bahasa Belanda disebut Dienst van het Mijnwezen. Kebijakan kedua adalah lahirnya undang-undang Pertambangan Hindia Belanda (Indies Mining Law) yang dalam Bahasa Belanda disebut Indische Mijnwet pada tahun 1899. Kebijakan ketiga adalah amandemen pertama dari Indische Mijnwet pada tahun 1904. Setelah dilaksanakannya amandemen ini tahun 1904, dikeluarkanlah ordonansi pertambangan atau Mijnordonnantie pada tahun 1907. Pada tahun 1918, dikeluarkanlah amandemen kedua Indische Mijnwet. Amandemen kedua ini merupakan kebijakan terakhir tentang pertambangan yang dikeluarkan oleh pemerintah kolonial Belanda. Undang-undang Pertambanggan tersebut secara bertahap memberikan kesempatan pada individu maupun perusahaan untuk melakukan eksploitasi sumber daya alam melalui pertambangan. Amandemen kedua merupakan puncak dari pemberian hak kepada individu dan perusahaan untuk menguasai konsesi pertambangan. Hak tersebutpun berkembang dari semula hanya untuk individu dan perusahaan Belanda menjadi terbuka bagi bagi negara lainnya termasuk Amerika Serikat.

Leo Haas di depan Gedung Societeit Aequator (Koleksi Traian Popescu)

Leo Haas di depan Gedung Societeit Aequator (Koleksi Traian Popescu)

Kembali ke tulisan Tempo edisi 11 tanggal 17 Mei 2015, keberadaan perwakilan Nazi di Hindia Belanda pada saat itu dengan pusatnya di Batavia dengan cabangnya tersebar di Surabaya, Bandung, Medan, Padang dan Makassar pada tahun 1931 mungkin tidak sepenuhnya benar. Bisa saja itu hanya sebuah klub seperti di Mangani yang disebut “Societeit Aequator”. Keikutsertaan seorang warga negara dalam sebuah organisasi di wilayah perantauannya tidak serta merta mengindikasikan sebagai anggota aktif dari organisasi yang ada di negaranya. Mengingat mereka sudah sejak lama tinggal di negara yang jauh dari tempatnya berasal menjadi keanggotaan dari sebuah perkumpulan tentu saja kebutuhan untuk bersosialisasi. Keberadaan MM Aequator dan CM Halaban jauh sebelum Nazi berkuasa (sebagai contoh), tentu menegaskan bahwa Hindia Belanda itu sudah dilirik Jerman jauh sebelum Hittler dengan Nazinya. Laars Sepatu Tentara dan Mesin Ketik yang ada belum tentu semuanya supply Nazi untuk kemerdekaan RI. Bisa saja semua itu adalah peninggalan perusahaan milik Jerman yang diambil oleh para pejuang, ketika perusahaan milik orang Eropa non Belanda (terutama Jerman) menjadi tersia-sia akibat penyerbuan dan pendudukan Belanda oleh Jerman. Sekali Lagi, Manggani Kota Tambang Yang Hilang, bukanlah sekedar jejak Jerman di Indonesia.

Wassalam, Kubang Gajah, 31 Juli 2015

nspamenan@yahoo.com

Advertisements
This entry was posted in Mangani, Kota Tambang yang Hilang. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s