SEKOLAH ITU PERLU, TELADAN ITU PENTING

PARINTANG-RINTANG: Pagi itu, sekitar jam 07:10 WIB, ketika selesai mengantarkan anak ke sekolahnya di MTsN Koto Nan Ampek, saya melihat pemandangan yang sangat langka untuk kondisi tahun ini bahkan abad ke 21 ini. Sewaktu hendak berbelok kembali ke Jalan Soekarno-Hatta Payakumbuh, hendak melanjutkan perjalanan ke Bukit Limau, Sarilamak, lokasi Perkantoran Pemerintah Kabupaten Lima Puluh Kota, dihadapan saya melintas sepeda ontel berwarna hitam yang dikendarai seorang bapak berusia di atas lima puluh (50) tahun sedang membonceng anak perempuannya. Remaja berusia 16 atau 17 tahun dengan berseragam sekolah tersebut dengan santai menikmati perjalanan panjang dari rumahnya menuju sekolah, sambil sesekali tersenyum. Tidak terlihat wajah malu ataupun gengsi dari paras siswi MAN 2 Kota Payakumbuh tersebut. Dengan penuh semangat dia turun lalu menyeberang memasuki gerbang sekolah. Kemudian berlalu diantara kerumunan siswa lainnya memasuki ruangan kelasnya. Sang bapak juga terus berlalu mengayuh sepedanya di antara hilir mudik mobil dan sepeda motor kembali ke rumahnya.

Sungguh, pemandangan ini menjadi sesuatu yang sangat menarik dan langka bagi saya. Kalau hanya menyaksikan siswa setingkat SMP dan SMA bersepeda ke sekolah sampai saat ini masih sering saya lihat. Sangat jarang orang tua mau mengantarkan anaknya ke sekolah menempuh jarak beberapa kilometer dengan bersepeda. Lebih langka lagi melihat seorang remaja putri mau dibonceng dengan sepeda ontel orangtuanya ke sekolah. Tidak jarang mereka hanya mau di antar ke sekolah dengan menggunakan motor bahkan mobil. Yang lebih banyak adalah anak sekolah yang tidak memiliki surat izin mengemudi (SIM) membawa motor ke sekolah.
Peristiwa ini merupakan kelanjutan dari cerita yang saya peroleh ketika sebulan yang lalu mengunjungi Bapak H. Amir Syakur yang sedang sakit di kediaman anak beliau di Ciputat Tangerang Banten. Dalam diskusi dengan Ibuk Nurni, istri beliau ada hal yang sangat menarik yang kami bicarakan yaitu tentang keinginan bersekolah dan perjuangan yang dilalui seseorang. Ada banyak contoh yang dikemukakan. Banyak yang sukses, walau tidak sedikit juga yang gagal. Kesimpulannya yang dapat saya ambil adalah, pendidikan itu memang perlu, tapi untuk suskes perlu ketelandanan. Keteladanan yang dimaksud adalah keteladanan untuk melanjutkan pendidikan.

Saya yakin, saat ini, tidak ada yang percaya dan mau membiarkan hal ini terjadi pada anak-anaknya. Tapi coba tanyakan pada uda Atman Ahdiat bagaimana rasanya berjalan kaki pulang sekolah di panas yang terik ketika masih di Taman Kanak-Kanak. Uda Atman, yang ketika itu berusia enam tahun, di tahun 1970, berjalan kaki lebih dari tiga kilometer dari Biaro ke Nuriang di Panampuang. Hanya untuk mendapatkan pendidikan tingkat Taman Kanak-Kanak yang saat itu belum ada di Panampuang dan hanya ada di Biaro, Ibu Kota Kecamatan Empat Angkat Candung. Begitu berat medan dan jalan yang harus ditempuh oleh uda Atmann sebagai seorang murid TK. Hal ini terjadi karena Bapak Amir Syakur dan Ibu Nurni tahu bahwa pendidikan itu memang perlu. Sekarang, seperti kata beliau, sekolah yang sudah ada dimana-mana telah merubah paradigma anak muda, dan menjadikan sekolah sebagai kewajiban, terutama kewajiban orang tua. Orang tualah yang wajib menyekolahkan anaknya, sehingga harus diantar pakai motor, mobil, jemputan khusus, atau diberi motor tersendiri. Uuhhh, saya teringat bagaimana dulu, di pertengahan tahun 1980-an terbiasa berjalan kaki sejauh lima kilometer dari Nuriang ke Koto Tuo Balai Gurah, ketika bersekolah di SMP. Masih adakah yang mau mengerjakannya?

Bagi saya, apa yang saya lihat pagi ini, seorang remaja putri yang tidak malu dan gengsi pergi sekolah, diantar pakai sepeda ontel adalah sebuah keteladanan. Dan keteladanan itu jauh labih penting dari sekedar keinginan untuk bersekolah mendapatkan pendidikan. Diantara hiruk pikuk modernisasi yang mengakibatkan erosi nilai, gengsi dan rasa rendah diri, ternyata masih ada keteladanan.Sekali lagi, saya ingin mengatakan, “SEKOLAH ITU PERLU TAPI KETELADANAN ITU PENTING UNTUK MENGGAPAI CITA-CITA DAN MASA DEPAN YANG LEBIH BAIK”.

Wassalam

nspamenan@yahoo.com
Sarilamak, 24 Februari 2014

Advertisements
This entry was posted in Kisah dan Sajak. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s