BUKAN SIAPA YANG AKAN MEMETIKNYA; TAPI SIAPA YANG MENANAMNYA

Ketapang Pohon Pertama  (9/01/15)

Ketapang Pohon Pertama (9/01/15)

Jangan pikirkan siapa nanti yang akan memetiknya, biarlah pemetiknya nanti memikirkan siapa yang telah menanamnya
Parintangrintang: Setelah memposting penanaman beberapa pohon di halaman sekitar Kantor Bappeda Lima Puluh Kota yang baru di Komplek Pemerintah Kabupaten Lima Puluh Kota di Sarilamak, Kecamatan Harau, saya sangat senang dengan komentar Pak Syukraldi Arlen, tentang sebuah foto yang diunggah. Komentar yang sangat dalam maknanya tersebut begitu enak dibaca dan merasuk ke dalam pikiran saya. Lama saya mencari referensi untuk menjawab berbagai celetukan teman dan sahabat tentang kesiasiaan menanam pohon di lingkungan kantor apa lagi pohon buah-buahan. Bila tak kuat, maka semangat untuk menanam,- apa lagi pohon- bisa tergerus erosi kata-kata nyeleneh tentang betapa kegiatan tersebut adalah sesuatu yang tidak penting.
20150313_101115Menanam pohon, pada dasarnya bukanlah kegiatan yang secara instan dapat dilihat hasilnya. Butuh waktu bertahun-tahun untuk dapat dilihat hasilnya, apa lagi menikmatinya. Jangan-jangan, seperti kata orang, pohon itu baru dinikmati setelah kita tidak ada lagi (sudah pindah tugas atau menghadap yang kuasa). Tapi, bagi sebagian orang, termasuk saya, menanam pohon serta memeliharanya (menyiram, menyiangi, memupuk dan memangkasnya) sehingga tumbuh subur adalah sebuah kepuasan yang tak ternilai. Apalagi ketika kita dapat berteduh di bawahnya sambil menyaksikan burung-burung bersarang dan hinggap di ranting-rantingnya, apa lagi kalau menikmati buah yang dihasilkannya.

Kantor Lama yang hijau (1)

Kantor Lama yang hijau (1)

Bila anda pernah berkunjung ke Kantor Bappeda Lima Puluh Kota yang lama, maka saya yakin anda pernah menikmati sejuknya pohon Ketapang yang rindang, serta pohon-pohon lain yang tumbuh di halaman rumah maupun kebun milik warga di sekitar Kantor tersebut. Butuh waktu yang lama untuk mendapatkannya. . Penanaman pohon tersebut dimulai tahun 2006 oleh Kepala Bappeda Lima Puluh Kota waktu itu, Ir. Ertho Bahro, MS. Perhatian beliau akan keberadaan pohon pelindung menyebabkan semua pihak concern untuk mejaganya, hingga tubuh subur seperti sekarang ini. Sejak saat itu, pohon yang ditanam tersebut tetap menjadi perhatian pimpinan Bappeda, sehingga selalu dijaga dan dirawat. Jadilah pohon yang rindang dan udara yang sejuk menjadi kenangan yang sulit untuk dilupakan ketika para sahabat dan tamu datang berkunjung.

Kantor Lama yang hijau (2)

Kantor Lama yang hijau (2)

Kecintaan untuk menanam pohon ini, hanya dimiliki oleh segelintir orang. Orang lebih suka menikmati buah yang dibeli, apa lagi itu buah impor. Sangat sedikit yang mau menanam pohon, apa lagi di sekitar rumahnya. Jangankan untuk menanam pohon, halaman yang adapun disemen semuanya. Katanya repot untuk menyapu, daun-daun yang gugur hanya akan menajdi sampah. Untuk mendapatkan kesejukan serahkan pada ahlinya, air conditioner (AC).
Ada beberapa alasan kenapa orang malas menanam pohon, diantaranya: tidak punya lahan, tangan tidak dingin sehingga setiap yang ditanaman tidak mau tumbuh, untuk apa menanam pohon kalau tidak ada buahnya, daunnya hanya akan menghasilkan sampah, buat apa ditanam kalau tidak akan menikmati, dst. Alasan-alasan tersebut sepertinya akan selalu muncul bila diajak menanam pohon. Akibatnya, semakin sedikit orang yang mau menanam phon, apa lagi memeliharanya.
Hal yang lebih memilukan adalah, kegemaran untuk menebang pohon yang sudah ada. Alasan seperti pohon ini tidak berbuah, hanya menghasilkan sampah dan ulat, takut ada angin puting beliung menyebabkan mereka lebih suka menebang pohon. Akibatnya, pohon yang ada semakin sedikit, udara terasa semakin panas, dan kelangkaan melihat burung-burung hinggap dan bersarang di pohon.
Teringat dengan kegiatan sewaktu masih kanak-kanak: memanjat pohon jambu biji yang tumbuh di pinggir tabek (kolam), memanjat pohon manggis untuk memetik yang sudah matang maupun yang masih muda, memanjat pohon rambutan, atau pagi-pagi setelah subuh memeriksa apakah ada durian yang jatuh, keinginan untuk menanam pohon seharusnya ada pada setiap kita, generasi yang melihat dunia dengan sekali klik saja. Janganlah kita seperti mereka yang kita panggil mamak atau inyiak (atuk) (mungkin pengalaman pribadi saja), yang entah karena apa sangat suka menebang pohon tapi tapi tak pernah ditanam gantinya.
Bukankah, (sumber daya) alam berupa pepohonan yang ada merupakan warisan yang harus kita jaga dan turunkan kepada anak cucu kita, bukan warisan nenek moyang yang harus kita habiskan. Kalau tidak bisa menanam kenapa harus menebang; kalau ada pohon yang menyejukkan kenapa harus nyalakan AC. Seperti komentar teman di atas; Jangan pikirkan siapa nanti yang akan memetiknya, biarlah pemetiknya nanti memikirkan siapa yang telah menanamnya.
Salam
Kubang Gajah, 13 Maret 2015
nspamenan@yahoo.com

Advertisements
This entry was posted in Interest. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s