Mamikek Balam, Catatan Tentang Sebuah Hobi Lama

Parintang-rintang: Hari baru menunjukkan pukul sembilan pagi. Embun di rerumputan di jalan setapak menuju rimba itu belum sepenuhnya menghilang disinari panasnya matahari. Seorang pria setengah baya berusia sekitar 40-an tahun berjalan tergesa membelah semak menuju belukar pada hutan kecil di atas tebing yang menjadi pertemuan dua buah sungai di kampung yang terletak di pinggir bukit barisan tersebut. Sepintas itulah deskripsi awal yang sederhana dari sebuah foto yang dikeluarkan pada situs Media-KITLV.nl yang berjudul Minangkabau man met vogelkooi op Sumatra’s Westkust atau dalam bahasa Indonesianya Pria Minangkabau dengan sangkar burung di Pantai Barat Sumatra yang dibuat sekitar tahun 1910.

Minangkabau man met vogelkooi op Sumatra's Westkust 1910Dengan memakai tutup kepala yang menyerupai destar, pria tersebut berjalan gagah di antara rimbunnya dedaunan pohon pisang yang diselingi daun talas. Tangannya memegang sangkar burung berbentuk bulat dengan tutup yang terbuat dari kain beludru tebal. Selimut sangkar tersebut dibuat khas dengan dua buah ujung yang menjulai. Pada kedua ujung tersebut digantungkan jambul merah sehingga membuat sangkar tersebut terlihat mewah. Dalam sangkar berjeruji bambu yang dihaluskan dengan alas yang juga terbuat dari anyaman bambu tersebut. Pegangan sangkar tersebut terbuat dari ukiran ranting kayu bercabang yang mengkilat setelah terlebih dahulu divernis. Pada gantungan tersebut juga tersangkut sebuah tabung berdiameter 5 cm yang diberi tutup. Tabung tersebut adalah tempat menyimpan getah; sedangkan pada sisi luarnya merupakan tempat menggantungkan jerat berupa jaring yang bila dibentangkan akan cukup luas. Jaring penjerat burung balam ini sering disebut jarek samato.

Seekor burung balam berdiri sambil menunduk mengintip apa yang terjadi di dunia luar. Burung balam tersebut diberi tali dengan ikatan anyaman benang yang disebut katorok. Tali pengikat tersebut keluar melalui bulatan tempat memasukkan balam yang terletak di lantai sangkar. Pada ujung tali pengikat terdapat tambang yang terbuat dari tulang yang dihaluskan.

Pria tersebut terus berjalan sambil memegang sebuah tongkat yang digunakan untuk menambatkan balam sekaligus sebagai tempat bertengger burung balamnya nanti ketika dikeluarkan dari sangkarnya. Sesekali dari mulutnya menyembul asap dari rokok daun. Rokok daun ini terbuat dari tembakau yang ditanam di daerah Padang Sindir Laras Guguk di Afdeeling Lima Puluh Kota dan dikenal sebagai tembakau Payakumbuh. Tembakau dinamai santo tersebut digulung dengan daun enau yang dibelinya di pasar Bukittinggi pada hari Rabu yang lalu. Daun tersebut adalah hasil dari pucuk enau yang dikeringkan setelah terlebih dahulu dibuang lapisan licin di atas daun agar mudah digulung. Daun tersebut dipotong sepanjang 15 cm setelah dijemur dan berwarna kekuningan. Daun dan santo tersebut disimpan dalam kantong yang terbuat dari anyaman daun mansiro berbentuk dompet, sehingga sering disebut dompet santo. Dompet santo ini memiliki anak dengan ukuran yang lebih kecil untuk meletakkan santo atau tembakau tersebut.

Tanpa memakai sandal, pria dengan celana jawa berbahan batik serta sarung batik yang melintang dari bahu kanan ke sisi kiri, terlihat tidak perlente sedikitpun. Sarung tersebut akan digunakan untuk menutupi tubuhnya ketika bersembunyi dalam pondok sederhana yang dibuatnya ketika sedang mamikek (memikat) Balam.

Ya, hari itu adalah hari dimana dia akan pergi menangkap burung balam yang disebut sebagai mamikek balam. Mamikek balam adalah suatu hobi yang dimiliki oleh kalangan tertentu sama hal nya dengan memancing bagi yang lainnya.

Hobi ini sangat unik. Mamikek balam adalah menangkap burung balam dengan menggunakan burung balam. Proses penangkapan menggunakan daya tarik si burung balam yang dimiliki. Daya tarik yang dimiliki tersebut menyebabkan burung yang ada di alam bebas tertarik untuk datang ke tempat balam tersebut ditambatkan, dimana jerat atau getah sudah dipersiapkan. Sebagai daya tarik disiapkan burung balam dengan usia, perawakan dan bunyi yang menarik bagi burung burung betina (untuk kawin) atau burung balam jantan untuk bertarung menjadi pejantan dominan.

Bila telah sampai pada tempat dianggap layak untuk mamikek, burung balam yang ada dalam sangkar tersebut akan dikeluarkan. Tempat yang layak yang dimaksud adalah pada dataran dimana si pamikek dapat melihat atau mendengar suara burung balam yang bertengger di ranting dan cabang pohon dengan jelas. Balam yang dikeluarkan akan ditambatkan pada kayu bercabang tempat bertengger yang telah dipersiapkan.

Seperti yang dikemukakan di atas, burung balam yang dibawa tersebut adalah balam dewasa dengan bunyi yang menggelegar untuk memancing balam lain. Bunyi tersebut biasanya bertingkat-tingkat, yang disebut dengan gayo. Balam yang dibawa biasanya adalah balam dengan bunyi tigo (tiga) gayo. Dengan balam tigo gayo tersebut, balam jantan lain akan tertantang untuk turun dan mendekat, demikian juga dengan balam betina. Untuk menangkap balam tersebut, biasanya digunakan jerat atau getah. Getah dibalurkan pada kayu yang dibawa sebagai tempat bertengger. Sedangkan jerat ditebar di tanah disekitar tempat balam pemikat ditambatkan.

Siang yang cukup terik merupakan waktu yang sangat tepat untuk mamikek. Bila burung balam sudah dikeluarkan dari sangkarnya, getah telah dibalurkan dan jerat telah di rentang, maka si pamikek akan segera mencari tempat untuk bersembunyi. Dengan menggunakan kain sarung yang dibawa untuk menutupi tubuhnya si pamikek berdiri bak patung dibalik patahan ranting yang kayu yang disusun sebagai tempat persembunyian.

Seorang pamikek haruslah seorang yang sabar, karena dibutuhkan waktu beberapa jam dalam mamikek. Burung balam pamikek akan berbunyi nyaring untuk menarik perhatian balam lainnya. Bunyi nyaring tersebut tidak hanya sekali tetapi berulang-ulang sampai dengan ada sahutan bunyi dari balam lainnya. Bunyi yang bersahutan tersebut terkadang bak lengkingan saxophone dan suling pada konser musik klasik. Bila burung balam yang ada dipohon sudah terpikat sehingga merasa nyaman dan siap untuk bertarung atau kawin, maka dia akan turun dari ranting atau cabang menuju lokasi balam pamikek ditambatkan. Kedatangan tersebut tidak langsung ke tempat yang dituju, tetapi secara perlahan melompat dari ranting ke ranting sehingga lebih dekat dan akhirnya turun ke tanah siap untuk bertarung. Dalam pertarungan itulah burung yang dipikek akan hinggap di getah yang sudah dibalurkan atau melompat pada rentangan jaring yang sudah disiapkan. Dengan kata lain balam sudah masuk jarek atau lengket di getah. Sang pamikek akan segera pulang dengan tambahan seekor burung balam baru. Namun demikian, tidak jarang, burung yang datang itu tidak terpikat sehingga memutuskan untuk terbang menjauh. Entah karena kaget dengan bunyi atau bayangan dari tempat persembunyian si pamikek, atau curiga dengan rentangan jerat, atau tidak tertarik atau tertantang oleh balam pamikek.

Bila hal itu terjadi maka berakhirlah sudah. Jarek akan segera digulung, getah akan segera dimasukkan dalam tabung. Balam pamikek dimasukkan ke dalam sangkarnya. Si pamikek pun pulang, membawa burung balam baru dalam kantung yang disiapkan dan menempatkannya di atas sangkar, atau pulang dengan tangan hampa.

Dari gambar yang berusia lebih dari satu abad yang dirilis dalam situs Medi-KITLV. nl tersebut, kegiatan mamikek balam (birds catching) merupakan hobi yang sudah sangat lama. Kegiatan ini biasanya dilakukan oleh para pria berprofesi petani pada hari libur kerja. Kegiatan ini seperti refreshing bagi mereka. Mamikek biasanya dikerjakan pada hari balai (pasar). Pulang dari menjual hasil bumi ke pasar, karena tidak memungkinkan lagi untuk menggarap ladang atau sawah, maka pergi mamikek merupakan salah satu pilihan. Bagi orang Minangkabau habi mamikek sama posisinya dengan hobi berburu babi (boars hunting) atau memancing (fishing) di sungai atau tabek (kolam).

Sekarang ini, mamikek juga bagian dari hobi. Pada beberapa daerah diberlakukan larangan untuk menangkap burung dengan menggunakan senapan. Menangkap balam dengan menggunakan senapan bisa diberi sangsi. Oleh karena itu, walaupun burung balam tidak atau belum termasuk burung yang dilindungi (?) populasinya terus bertambah. Tidak heran, di pekarangan kantor atau rumah yang banyak pohonnya, dari pagi menjelang siang kita dapat melihat burung balam hinggap di atas bubungan atau berjalan di tanah mematuk-matuk membabalik bebatuan mencari makanan.

Ah sayup sayup terdengar lagu SALAH PIKEK nya Kardi Tanjung yang menginspirasi tulisan ini.

Cubo cubo lah denai cubo
Mamikek balam untuak pamenan
Tapi denai indak manyanko……

Wassalam

Kubang Gajah, 22 Februari 2015
nspamenan@yahoo.com

nspamenan@yahoo.com

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s