NAGARI PANAMPUANG DALAM PERSPEKTIF TAMBO, DOKUMEN DAN PETA (LAMA)

PARINTANG-RINTANG: Beberapa tahun yang lalu, ketika duduk istirahat siang di warung minum di sebelah kantor tempat saya bertugas, saya berjumpa dan berbincang santai tentang kampung tempat saya berasal. Sewaktu saya mengatakan saya berasal dari daerah di Luak Agam, si Ibu juga mengatakan bahwa nenek moyangnya juga berasal dari sana. Mereka sudah menetap di sana sudah lebih dari delapan keturunan. Neneknya, yang dulu pindah dari daerah di Luak Agam tersebut, menetap di daerah yang sekarang disebutnya sebagai kampungnya tersebut pada awal abad ke 19. Kepindahan nenek moyangnya tersebut disambut baik dan kemudian menyanda (malakok) pada ninik mamak di daerah tersebut dan akhirnya merubah sukunya sesuai dengan nama suku tempatnya malakok tersebut.

Percakapan terus berlanjut, dan saya bertanya apa nama suku dari nenek si Ibu tersebut. Dia menjawab bahwa dulu neneknya bersuku Jambak, sedangkan dia bersuku Pitopang Basah karena ninik tempat neneknya malakok tersebut bersuku Pitopang. Saya tidak begitu paham dengan penamaan suku di daerah tersebut pada waktu itu. Karena neneknya bersuku Jambak, saya melanjutkan pertanyaan apa nama daerah tempat neneknya tersebut berasal. Dia mengatakan bahwa neneknya berasal dari Gantiang. Karena penasaran saya melanjutkan pertanyaan apakah Gantiang itu nama nagari atau kampuang. Dia tidak dapat menjawab dengan pasti apakah Gantiang yang dimaksud itu nama nagari atau kampung.

Namun dia memberikan keterangan lebih lanjut yang mengejutkan saya. Nenek dan Ibunya masih berhubungan dengan keluarga tempat mereka berasal tersebut. Dulu nenek dan ibunya masih sering datang ke kampungnya tersebut terutama bila ada hajatan dan kemalangan. Demikian juga dengan saudara sepasukuan dari kampungnya tersebut, mereka juga akan datang bila ada hajatan dan kemalangan. Karena penasaran saya bertanya dimana lokasi tempat saudara sepasukauan yang disebutnya tersebut. Dengan mudah dia menyebutkan bahwa Gantiang yang dimaksudnya tersebut dekat Biaro. Kalau mau pergi ke sana sekarang mereka harus melewati bangunan penjara (LP Kelas II) Bukittinggi. Saya menyela dengan mengatakan bahwa Gantiang yang dituju tersebut ada di Nagari Panampuang Kecamatan Ampek Angkek. Si ibu mengatakan bahwa dia tidak mengenal Nagari Panampuang karena dari catatan neneknya mereka disebut sebagai orang Gantiang bukan orang Panampuang.

Lama saya mencari jawaban, kenapa nenek moyang si Ibu tersebut menyebut dirinya sebagai orang Gantiang dan bukan orang Panampuang.

Jawaban pertama saya peroleh ketika membaca buku Sejarah dan Monografie Adat Kenagarian Panampung IV Angkek Luhak Agam yang disusun oleh H. Azwar Dt. Mangiang. Buku yang berisi tambo sejarah dan adat tersebut terdiri dari lima bagian dimana setiap bagiannya dilengkapi dengan daftar pustaka dari buku-buku yang ditulis oleh penguasa Belanda, penguasa lokal, sejarawan dan hasil wawancara, dan cerita turun temurun (cucuran).

Jawaban kedua, yang terus dikembangkan, saya peroleh ketika merambah dunia maya berselancar dengan google memasukkan beberapa kata kunci seperti Panampoeng, Penampoeng, Panampung, Panampuang atau Ampat Angkat, IV Angkat, Ampek Angkek maupun kata Oud Agam atau Fort De Kock dan Sumatra’s Westkust. Walaupun belum memuaskan, kata-kata kunci tersebut mampu membawa saya pada laman internet yang menyajikan Staatsblad yang dikeluarkan Pemerintah Kolonial Belanda pada pertengahan abad ke 19 serta peta topografi yang dibuat kartografer Belanda yang di dalamnya memuat nama-nama tempat di Nagari Panampuang.

Jawaban tersebut dipaparkan dalam tulisan ini dengan menguraikan kisah tentang sejarah Nagari Panampuang dalam balutan tambo, Nagari Panampuang era Perang Paderi, Nagari Panampuang dalam spot peta yang dibuat oleh penjajah Belanda.

1. NAGARI PANAMPUANG MENURUT TAMBO

a. Gantiang si Ampek Angkek

Dalam berbagai literatur, sering disebutkan bahwa Ampek Angkek merupakan empat nagari yang pertama di Luhak Agam. Ampek Angket tersebut sering di terjemahkan sebagai empat nagari di Kecamatan Ampek Angkek Sekarang. Adapun yang disebut Ampek Angkek tersebut adalah Balai Gurah, Biaro, Lambah dan Panampuang. Definisi ini masih dipercaya dan banyak digunakan sampai sekarang, baik dalam referensi lawas Wikipedia maupun pada buku-buku tentang asal usul Luhak Agam.

Menurut Azwar Dt. Mangiang, kata Ampek Angkek merupakan sebutan bagi rombongan yang dikirim dan ditugaskan oleh Dt. Suri Dirajo pemimpin Nagari Pariangan untuk mencari daerah baru sebagai pemukiman guna ditaruko dan dicetak sawah baru. Untuk melaksanakan tugas tersebut ditunjuklah empat orang kepercayaan yang sekaligus pemimpin kelompok masyarakat Nagari Pariangan. Mereka adalah Si Agam, Si Endah, Si Api dan Si Basa. Pimpinan dari empat orang tersebut adalah si Agam. Rombongan yang dipimpin oleh empat orang tersebut bergerak ke arah timur Pariangan melingkari Gunung Marapi menuju arah utara. Perjalanan mereka terhenti ketika mereka melihat kilauan pantulan cahaya dari sumber mata air pada dataran yang sangat luas. Kilauan cahaya tersebut disebut sebagai Si Camin Kapanehan. Sumber mata air tersebut menjadi tempat perhentian pertama untuk mencari daerah untuk bermukim. Karena pimpinan rombongan tersebut adalah si Agam dan dia yang memerintahkan rombongan untuk mendatangi sumber mata air tersebut, maka luak Si Camin Kapanehan itu disebut juga sebagai Luak si Agam (Tanah di sekitar si Camin Kapanehan merupakan Pusako tinggi dari Rajo Agam). Dari Si Camin Kapanehan Luak si Agam, rombongan tersebut kemudian mencari calon tempat untuk bermukim. Ke selatan dari Si camin Kapanehan merupakan daerah yang diperuntukkan bagi si Endah. Karena pengikut si Endah membangun balai yang yang terbuat dari kayu gurah di sana maka daerah peruntukan si Endah ini disebut Balai Gurah. Si Api memilih daerah di sebelah timur Si Camin Kapanehan. Di daerah tersebut kemudian dibangun candi dan biaro (biara), sehingga wilayah yang diperuntukkan baginya tersebut di sebut Biaro. Sementara itu, si Agam memilih ke utara dari si Camin Kapanehan. Dia bertemu dengan lembah sehingga daerah yang dikuasainya dinamakan Lambah. Si Basa memilih daerah lebih ke utara lagi dari Si Camin Kapanehan. Perjalanannya terhenti pada sebuah daerah genting yang diapit oleh dua buah sungai. Daerah yang di peruntukkan bagi si Basa ini disebut Gantiang. Setelah menentukan daerah tempat bermukim, mereka kembali ke Pariangan. Sebagai penguasa di daerah baru tersebut, kepada mereka diberi gelar Raja. Sehingga mereka disebut sebagai Rajo Endah, Rajo Api, Rajo Agam dan Rajo Basa. Perkembangan masyarakat dengan perkawinan antar pengikut kemudian kepada pimpinan kelompok ditambahkan gelar Datuk. Daerah yang mereka kuasai tersebut kemudian disebut sebagai Ampek Angkek. (Baca: Ampek Pandeka Panaruko Luak Agam)

Keberhasilan empat orang yang berangkat bersamaan ini menjadi inspirasi dari keberangkatan rombongan lain ke arah yang dituju rombongan Raja Agam. Setiap rombongan yang berangkat tersebut selalu dipimpin empat orang. Patokan utama perjalanan mereka adalah Luak Si Agam, Si Camin Kapanehan.

Tambo memang sangat rendah tingkat kepercayaannya karena hanya cerita dan kisah yang diturunkan dari mulut ke mulut yang bersifat tuturan. Namun demikan sebuah tambo juga dipercaya memiliki batang tubuh kisah yang mungkin terjadi. Hanya detailnya yang mungkin berbeda terrgantung pada daya ingat dan kemampuan bertutur si pencerita. Dari tambo yang diceritakan di atas, pada awalnya memang tidak ada daerah di Ampek Angkek yang disebut Panampuang. Ampek Angkek terdiri dari Balai Gurah, Biaro, Lambah dan Gantiang.

b. Gantiang si Amban Purek

Seperti disebutkan di atas, wilayah yang disebut sebagai Ampek Angkek yang terdiri dari empat Nagari dipimpin oleh Datuk Raja Agam. Dalam perkembangannya, di kerajaan Pagaruyuang Ampek Angkek disebut juga Luak Si Agam. Di antara ke empat Nagari tersebut Balai Gurahlah yang berkembang paling pesat. Perkembangan yang pesat tersebut menyebabkan terjadinya pemekaran Nagari Balai Gurah. Pemekaran ini menjadikan Kubu Tuo sebagai nagari sendiri dengan nama Batu Taba. Bersamaan dengan itu Ampang Gadang juga menjadi Nagari sendiri. Dua Nagari tersebut sewaktu di bawah naungan Balai Gurah adalah daerah yang maju dan makmur sehingga disebut sebagai “Si Gombak Balai Gurah”. Perisitiwa pemekaran tersebut dinamai sebagai munggunting si Gombak Balai Gurah.

Dengan demikian pada tahapan selanjutnya dan ketika masih dibawah kekuasaan Kerajaan Pagaruyang, yang disebut sebagai Luak Agam tidak hanya empat Nagari yang pertama, tetapi enam nagari dengan adanya pemekaran Batu Taba dan Ampang Gadang. Jadi Luak Agam ketika masih mengakui Pagaruyang adalah Balai Gurah, Biaro, Lambah, Gantiang, Batu Taba dan Ampang Gadang.

Seabagai bagian dari Pagaruyuang, Luak Agam memilih untuk menggunakan adat Koto Piliang yang mereka pakai. Adat Koto Piliang pada prinsipnya memiliki filosofi ”Berlanggam Nan Tujuh, Berbasa Nan Ampek dan Berajo nan Tigo Selo, dengan memakai sistem Bajanjang Naiak Batanggo Turun“.

Adat Koto Piliang yang dipakai Luak Agam pada mulanya termasuk ke dalam Lareh Nan Panjang. Berbeda dengan Pagaruyuang, Luak Agam tidak mengakui Langgam nan Tujuh dan hanya mengakui Raja Pagaruyung sebagai Raja Alam. Sebagai Pembantu Raja Alam, di Luak Agam dibentuklah Basa Ampek Angkek. Basa Ampek Angkek ini terdiri dari:

  1. Pamuncak di Balai Gurah
  2. Suluah Bendang di Biaro
  3. Aluang Bunian di Lambah
  4. Amban Puruek di Gantiang

Mekanisme kerja Basa Ampek Angkek tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:

Jika terjadi suatu permasalahan di Nagari-Nagari Luak Agam maka harus diselesaikan terlebih dahulu oleh kerapatan masing-masing kaum. Jika belum dapat diselesaikan dibawa ke kerapatan suku. Jika tidak dapat diselesaikan oleh ke Kerapatan suku dibawa ke Kerapatan Nagari. Bila tidak dapat diselesaikan pada tingkat Nagari dibawa ke Pamuncak Luak Agam di Balai Gurah. Pamuncak Luak Agam membuat keputusan yang apabila merasa tidak puas yang bersangkutan dapat membawanya ke Raja Alam untuk naik banding. Keputusan yang dibuat oleh Raja Alam berdasarkan nasehat dari Basa Ampek. Keputusan itu menjadi sesuatu yang bersifat final atau dengan kata lain “bakato putuih, mambiang tabuak”. Titah Raja Alam pertama kali disampaikan kepada Gantiang. Dari Gantiang titah tersebut disampaikan ke Pamuncak di Balai Gurah. Dari Balai Gurah titah tersebut dilegakan ke Biaro. Dari Biaro diteruskan ke Lambah. Dari Lambah titah tersebut di kembalikan ke Gantiang.

Sebagai bagian dari Pagaruyuang Raja Alam akan datang ke Luak Agam satu kali dalam tiga tahun. Sebagai tempat kediaman raja di Luak Agam, dibangun sebuah balai di Biaro. Dengan demikian terdapat dua balai di Biaro. Sehingga balai yang ada di biaro disebut sebagai Balai Bakamba. Dari kondisi inilah maka kemudian Biaro disebut sebagai Surambi Luak Agam. Perkembangan selanjutnya, sampai kini Biaro tetap menjadi pusat kegiatan dan pemerintahan di Ampek Angkek.

Sebagaimana dikemukakan di atas, setiap nagari memiliki satu jabatan dalam Basa Ampek Angkek. Jabatan itu diemban oleh Nagari bukan orang perorangan. Gantiang memikul amanah sebagai Amban Puruek.

Amban Puruek, menurut Azwar Dt. Mangiang dapat diartikan sebagai Bendahara. Tugas Amban Puruek adalah membayar “Ameh Manah, Tagok Bubuang” kepada raja yang dipungut sekali tiga tahun dan diserahkan kepada Raja ketika datang ke Luak Agam. Ameh Manah, Tagok Bubuang dapat diartikan sebagai pajak yang dibayarkan untuk menguatkan pemerintahan.

Makna semantik dari Ameh Manah, Tagok Bubuang dapat diuraikan sebagai berikut:

Ameh Manah artinya pajak. Tagok artinya sendi. Bubuang sama dengan Tiang Bubuangan yang berarti tonggak penyangga atap. Dengan demikian Ameh Manah, Tagok Bubuang dapat diartikan sebagai pajak yang dibayarkan untuk memperkuat kerajaan sebagai pelindung. Dengan demikian Gantiang merupakan pengumpul dari pajak yang dipungut setiap nagari untuk diserahkan kepada Raja Alam di Pagaruyuang ketika melakukan kunjungan satu kali tiga tahun. Pajak tersebut tidak diantarkan ke Pagaruyuang tetapi diserahkan pada Raja Alam ketika tinggal di Biaro untuk beberapa waktu dalam menyelesaikan perkara yang naik banding setelah diputuskan oleh Basa Ampek Angkek ataupun menyampaikan titah baru sebagai bagian memperkuat kerajaan Pagaruyuang.

c. Dari Gantiang ka Panampuang

Sebagaimana dikemukan di atas dalam fungisnya sebagai Basa Ampek Angkek tugas sebagai Amban Puruek. Tugas sebagai pengumpul pajak yang dipungut oleh nagari-nagari di Luak Agam ini secara turun temurun dilakoni oleh Nagari Gantiang. Pemberian tugas ini barangkali didasarkan pada kemampuan Rajo Basa sebagai pemimin Gantiang yang pintar berhitung, jujur, tegas, pekerja keras dan tidak neko-neko. Hal ini dapat dilihat pada keputusannya untuk memilih Gantiang yang berada di atas tebing yang sulit untuk menanam sawah sebagai tempatnya pertama menetap.

Sifat seperti ini jugalah yang menyebabkan Rajo Alam di Pagaruyuang untuk untuak memilih Gantiang sebagai penerima titah pertama yang diberikan kepada Lauak Agam. Setelah diterima Gantiang baru titah disampaikan oleh Gantiang ke Balai Gurah sebagai daerah yang makmur untuk selanjutnya disampaikan ke Biaro dan Lambah dan selanjutnya di kemalikan ke Gantiang untuk disampaikan ke Rajo Alam.

Semua tugas tersebut, sifatnya menampung, baik ameh manah yang dikumpulkan nagari-nagari maupun titah Rajo Alam. Dalam perkembangannya, tugas menjadi panampuang yang titiak dari ateh (titah Rajo Alam) maupun yang tabik dari bawah (Ameh Manah, Tagok Bubuang) merubah nama Gantiang menjadi Panampuang.

Secara semantik kata panampuange dapat diuraikan sebagai berikut. Kata dasarnya adalah tampung. Awalan pa dapat berarti alat atau wadah. Dengan demikian kata Panampuang berarti alat yang digunakan untuk menampung. Secara luas Nagari Panampuang berarti nagari yang menjadi wadah untuk menampung berbagai hal yang diperintahkan oleh Rajo alam di Pagaruyuang untuk dilaksanakan oleh nagari-nagari di Luak Agam

2. NAGARI PANAMPUANG DALAM SEJARAH DAN DOKUMEN

a. Panampuang dan Perang Paderi

Perang Paderi, dalam berbagai perspektif sering dianggap sebagai sebagai perang hitam putih yang direpresetasikan sebagai perang antara kaum adat dan kaum ulama. Perang ini, pada mulanya timbul akibat gerakan pembaharuan kehidupan masyarakat oleh para ulama dengan penekanan pada pelaksanaan syariat Islam. Ada beberapa tokoh sentral dalam perang paderi sebelum kemunculan Tuanku Imam Bonjol sebagai tokoh sentral di akhir perang paderi.

Dua tokoh sentral tersebut adalah Tuanku Nan Tuo di Koto Tuo Nagari Balai Gurah Luak Agam dan Tuanku Nan Renceh di Bansa Kamang. Keduanya adalah guru dan murid. Keduanya adalah ulama yang gigih menyampaikan syariat Islam dan memperbaiki kehidupan masyarakat yang jauh dari ajaran islam. Bedanya adalah yang satu (Tuanku Nan Tuo) dengan pengalamnnya mengajarkan dengan perlahan dan kooperatif, yang satunya lagi (Tuanku Nan Renceh) sebagai tokoh muda menjalankannya dengan pola yang radikal dan sering konfrontatif. Dalam berbagai hal keduanya sering dipertentangkan walau sebenarnya mereka adalah guru dan murid dan tujuan mereka adalah sama. Namun, dalam berbagai catatan, misalnya Catatan Fakih Saghir, sering kali Tuanku Nan Renceh dianggap sebagai seorang yang kejam.

Terkait dengan keberadaan Gantiang atau Panampuang dalam pergolakan pemikiran dan pertentangan antara kaum adat dengan kaum agama maupun antara ulama golongan tua (Tuanku Nan Tuo) dengan ulama golongan muda (Tuanku Nan Renceh cs), belum ditemukan dalam referensi tentang nama tokoh yang ikut berperang baik.

Namun demikian, ada diperkirakan dalam konflik tersebut, orang Panampuang lebih dekat pada kelompok Tuanku Nan Renceh. Kedekatan ini, bila melihat kepada jalur jalan antara Kamang di satu sisi dan Koto Tuo di sisi lain, Panampuang adalah Jalur yang biasa dilalui Tuanku Nan renceh ketika bepergian dari Kamang ke Koto Tuo ketika belajar dengan Tuanku Nan tuo. Hal ini didukung oleh pernyataan Moerdowo (1963) dalam buku Reflection on Indonesian Arts and Culture, halaman 273. Dalam buku tersebut Moerdowo menulis:

“…. The movement gained rapidly in strength in the Agam district of Panampung, Baso, Tjandung, Kota Tua and Kamang….”

“Gerakan ini dengan cepat mendapat dukungan kekuatan di Luak Agam yaitu di Panampung, Baso, Tjandung, Kota tua dan Kamang.

Berdasarkan apa yang ditulis oleh Moerdowo ini, dapat disimpulkan bahwa pada tahap awal dari gerakan paderi orang-orang Panampuang mendukung gerakan paderi yang disebarkan oleh Tuanku Nan Renceh cs.

Sebuah Peta yang dibuat tahun 1830, membagi wilayah Sumatra Barat atas dua bagian yaitu Bovenlanden sebagai daerah yang dikuasai oleh Belanda dan Padriesche Landen sebagai daerah yang dikuasai oleh Kaum Paderi dapat dijadikan referensi bahwa Luak Agam pada tahun 1822 adalah daerah yang disebut sebagai Padriesche Landen.

Dalam kancah perang Paderi, Azwar Dt. Mangiang menyebutkan bahwa Luak Agam sebagai basis utama gerakan paderi merupakan tujuan utama perluasan wilayah kekusaannya. Pada saat itu pusat kekuasaan Paderi adalah Kapau. .

Dalam memperluas kekuasaanya, Belanda pada tanggal 28 Juni 1822 dapat menguasai Tabek Patah dan membuat Benteng di sana. Tidak lama kemudian, pada tanggal 18 Juli 1822 Belanda menguasai Guguk Si Gandang di Pandai Sikek dan membuat benteng di sana. Pendirian dua benteng tersebut merupakan upaya menguasai Luak Agam dari dua arah, barat dan timur.

Dari Arah timur, seperti disebutkan Azwar Dt. Mangiang, Kapau berbatasan dengan Panampuang dan Biaro. Untuk menaklukkan Benteng Paderi di Kapau, Belanda terlebih dulu harus menaklukkan Baso, Candung, Panampuang dan Biaro. Keempatnya, sebagaimana dikemukakan oleh Moerdowo dan Azwar Dt. Mangiang juga merupakan basis dari Paderi.

Pertempuran Belanda menaklukkan Baso berlangsung pada tanggal 14 Agustus 1822. Pada hari itu juga Baso dapat ditaklukkan. Setelah Baso diduduki, serangan diteruskan ke Lundang Panampuang dengan tujuan utama mengusai kubu pertahanan paderi di Bukit Pinjauan dan Parit Kumbang. Serangan pertama ini dapat dipatahkan karena kaum paderi di Panampuang juga dibantu oleh kaum Paderi dari Baso dan Candung. Barulah pada serangan ke dua kaum Paderi Panampuang di kalahkan dengan dikuasainya dua kubu tersebut. Akhirnya kaum paderi Panampuang bergabung dengan paderi Biaro untuk membangun kubu pertahanan di Lubuk Agam guna membentengi Kapau.

Serangan Belanda ke Benteng Paderi di Kapau berlangsung pada tanggal 15 Agustus 1822, dengan hasil kekalahan di Kubu tentara Belanda dengan korban 5 orang perwira dan 82 orang prajurit bawahan. Belanda akhirnya kalah dan kembali Batusangkar.

b. Panampuang dalam Dokumen Belanda

Sepanjang penelusuran dalam berbagai dokumen Belanda, terutama pada abad ke 19, hanya ada tiga dokumen yang jelas-jelas menuliskan nama Panampuang, yang ditulis Panampoeng. Dokumen tersebut adalah:
1) De Vestiging En Uitbreiding der Nederlanders ter Weskust Van Sumatra yang diterbitkan oleh P.N. Van Kampen, Amsterdam Tahun 1850.
Dalam buku De veistiging En Uitbreiding der Nederlanders ter Weskust Van Sumatra, Bijlage C (Pembentukan dan perluasan Belanda di pantai barat Sumatera, Lampiran C) yang berjudul Tafereelen uit den aanvang der Padriesche on lusten in het landschap Agam, (Situasi awal dari kerusuhan oleh Kaum Paderi di daratan Agam) halaman 243, catatan kakinya memuat Nama Panampuang. Nama Panampuang tercatat sebagai salah satu Kota (Koto) di Ampek Angkek yang merupakan sebuah distrik di Agam. Distrik Ampek Angkek ini terdiri empat Koto yaitu: Panampuang, Baso, Canduang dan Koto Tuo.
“Dit is een distrikt in Aagam,…. de Ampat Anke genoemd. Dit Distrikt bestaat uit vier Kotta’s: Panampoeng, Basso, Tjandong, dan Kota Toeah.” (Gambar a)

Catatan Kaki Bijlage C

Catatan Kaki Bijlage C

 

 

 

 

 

 

 

Ada hal yang mengejutkan dari catatan kaki ini. Yang disebut Ampek Angkek bukanlah Balai gurah, Biaro, Lambah, dan Panampuang sebagaimana kita ketahui selama ini berdasarkan tambo dan dokumen lainnya, tetapi Panampuang, Baso, Canduang, dan Koto Tuo. Panampuang dan Koto Tuo (di Balai Gurah), memang berada di wilayah yang kita kenal sebagai Ampek Angkek. Baso dan Canduang tidak dikenal sebagai wilayah Ampek Angkek. Kemungkinan masuknya Baso dan Canduang dalam buku ini dikarenakan pembagian wilayah pada saat pembuatan buku tersebut yakni setelah mulai meletusnya Perang Paderi, Wilayah tersebut masuk ke dalam Ampek Angkek. Namun demikian perlu tulisan dan data pembanding untuk menguji kebenaran catatan kaki dari lampiran C pada buku ini.
2) Besluit van den Gouverneur-General van Nederlandsch Indie van den 22sten April 1863, no 25.
Selanjutnya dalam Dokumen yang berjudul “Besluit van den Gouverneur-General van Nederlandsch Indie van den 22sten April 1863, no 25.“ juga dituliskan nama Panampuang sebagai nama sebuah Nagari. Besluit ini merupakan pembagian Sumatra’s Weskut berdasarkan Regent dan District. Pada saat itu District Agam yang termasuk pada regent Padangsche Bovenlanden terdiri sebelas Laras, yaitu:
1. Laras Ampat Angkat
2. Laras Tjandoeng
3. Laras Kamang (Boekit)
4. Laras Sallo
5. Laras Kapau
6. Laras Tilatang
7. Laras Mageh
8. Laras Banoehampoe
9. Soegie Poear
10. IV Kota
11. Basso
Dokumen itu merupakan Surat Keputusan gaji yang diterima oleh kepala laras (Larashoofd) dan Penghulu Kepala sebagai kepala Nagari per tahunnya. Gaji seorang kepala Laras pada saat itu adalah sebesar ƒ. 960 pertahun sedangkan gaji seorang penghulu kepala adalah sebesar ƒ. 240 pertahun. Pada gambar b berikut diperlihatkan nama Panampoeng sebagaimana dimaksud. Namun demikian, belum ada data nama Penghulu Kepala Panampuang saat itu.

Daftar Gaji Penghulu Kepala di Afdeeling Agam tahun 1863

Daftar Gaji Penghulu Kepala di Afdeeling Agam tahun 1863

3) Aardrijkskundig en Statistsch Woordenboek van Nederlandsch Indie, Bewerkt Naar De Jongste en Beste Berigten, Tweede Deel K-Q, oleh P.N. Van Kampen Tahun 1869
Dokumen terakhir yang ditemukan adalah kamus Geografi dan Statistik Hindia Belanda, Edisi Revisi (Bagian Kedua K-Q) yang ditulis oleh Prof. P.J. Veth. Kamus yangdalam bahasa Belanda berjudul Aardrijkskundig en Statistsch Woordenboek van Nederlandsch Indie, Bewerkt Naar De Jongste en Beste Berigten, Tweede Deel K-Q. Diterbitkan oleh P. N. Van Kampen pada Tahun 1869. Kamus ini cukup unik dan menarik untuk dipelajari. Dari sekian banyak nama geografis, sedikit sekali yang menuliskan tanggal dan tahun daerah tersebut mengalami sebuah peristiwa. Hal ini tentu sangat menarik untuk dikaji. Asumsi sederhananya adalah ada peristiwa penting terkait dengan hal ini. Pada halaman 669 Kamus Geografi dan Statistik Hindia Belanda tersebut, ditulis gambar (C) berikut :

Kamus Geografi dan Statistik Hindia Belanda

Kamus Geografi dan Statistik Hindia Belanda

Kata Panampuang disebut sebagai “sebuah nagari di Disktrik Ampat Angkat, Afdeeling Agam, Padang Dataran Tinggi (Bovenlanden) Pada tanggal 14 Juli 1819 ditaklukkan oleh Paderi.”
Data ini mendukung apa yang dikemukakan oleh Moerdowo (1963) di atas bahwa Pengaruh Paderi segera mendapat dukungan dari daerah Panampuang. Karena mendapat pengaruh kuat atau ditaklukkan oleh Paderi ini, nama tokoh dan perjuangan masyarakat Panampuang tidak tercatat dalam dokumen sejarah.
Sejauh ini, itulah dokumen tertua yang menggunakan Panampuang yang saya punya.

c.  Nagari Panampuang dalam Peta Lama

Nama-nama tempat dan kampung dalam lintasan sejarah:

  1. Dalam Peta Belanda tentang Sumatra’s Weskust bertahun 1847 (gambar 1), bila dilihat sekilas, memang tidak ada nama salah satu kampung di Panampuang yang masuk dalam peta tersebut. Namun dengan mengacu kepada tanda bulat sebagai sebuah
    GAMBAR 1.  PETA SUMATRA'S WESKUST 1847 (CROPPED) (SUMBER: MEDIA-KITLV)

    GAMBAR 1. PETA SUMATRA’S WESKUST 1847 (CROPPED) (SUMBER: MEDIA-KITLV)

    pusat keramaian tertentu, pada garis yang menghubungkan antara Biro (Biaro) dan Basso (Baso) terdapat sebuah bulatan dengan nama Allam. Dalam berbagai referensi tidak ada nama kampung yang bernama maupun yang berakhiran Allam disepanjang rute tersebut. Sementara itu, pada jalur yang menghubungkan antara Tandjong Allam (Tanjung AlamTabek Patah) dengan Basso ada nama kampung Loending. Dalam referensi yang ada tidak ada nama daerah Loending di lokasi tersebut. Kemungkinan yang terjadi adalah kartografer Belanda salah dalam menamai 2 lokasi tersebut. Seharusnya bulatan antara Biro dan Basso tersebut dinamai Loending yang bisa berarti Lundang di Panampuang.

  2. Dalam Peta bertahun 1879 (gambar ), tentang wilayah yang disebut sebagai Fort De Kock, terdapat sepuluh (10) nama tempat di Panampuang yang dituangkan dalam peta tersebut. Adapun nama-nama tempat dalam peta tersebut adalah:
    GAMBAR 2.  PETA FORT DE KOCK 1879 (CROPPED) (SUMBER: MEDIA-KITLV)

    GAMBAR 2. PETA FORT DE KOCK 1879 (CROPPED) (SUMBER: MEDIA-KITLV)

    • Koeboe (Kubu)
    • Tengah Sawah (Tangah Sawah)
    • Pariet Pandjang (Parik Pajang)
    • Gandang (Kandang)
    • Loendang (Lundang)
    • Kasieq (Kasiak di Tangah Sawah)
    • Bantjar (Bancah)
    • Padang Gantang (Gantiang)
    • Pantang Kira (Pantang Kerang)
    • Andoerian (Induriang, Nuriang)

Dalam peta yang menuliskan nama-nama tempat tersebut tidak menyebutkan adanya kata Panampuang. Hal ini barangkali disebabkan oleh karena nama Panampuang tidak mengacu kepada tempat seperti Biaro, Balai Gurah ataupun Baso.

  1. Tiga belas tahun kemudian, dalam Peta Fort De Kock tahun 1892 (gambar ) terdapat dua puluh nama tempat di Panampuang yang dituliskan dalam peta tersebut. Nama-nama tempat tersebut sebagiannya ada pada peta 1879. Ada empat nama tempat yang tertulis dalam peta 1879 yang tidak muncul pada peta 1892 ini, yaitu: Kasieq, Bantjar, Pantang Kira, dan Andoerian.

    GAMBAR 3.  PETA FORT DE KOCK 1892 (CROPPED) (SUMBER: MEDIA-KITLV)

    GAMBAR 3. PETA FORT DE KOCK 1892 (CROPPED) (SUMBER: MEDIA-KITLV)

Adapun nama-nama tempat tersebuta adalah sebagai berikut:

  • Koeboe Kubu)
  • Tangah Sawah (Tangah Sawah)
  • Parit Pandjang (Parik Panjang)
  • BT Kandang (Kandang)
  • Loendang (Lundang)
  • Ganting (Gantiang)
  • Rawang (Rawang)
  • Kajoe Katjik (Kayu Katiak)
  • Soerau Baharoe (Surau Labuah)
  • Padang Lamo (Pantang Lamo)
  • Tabat Tinggi (Tabiang Tinggi)
  • Koto Ambatjang (Koto Ambacang)
  • Tandjoeng Gadang (Tanjuang Gadang)
  • Ampat Kaloeng (Ampang Kaluak)
  • Panindjauan (Paninjauan)
  • Batoe Basar (Batu Basa)
  • Koto Toea (Koto Tuo)
  • Goegoek (Guguak)
  • Padang Sanang (Padang Sanang)
  • Piabang (Piabang)
  • Soengai Barlapak (?)

Dari dua puluh nama tempat tersebut ada beberapa yang mengalami perubahan nama yang cukup signifikan sampai dengan sekarang. Soerau Baroe merupakan nama yang diberikan untuk Surau Labuah. Perbedaan nama ini mengindikasikan pada tahun 1892 tersebut, Surau Labuah sekarang disebut sebagai Surau Baru.

Demikian juga dengan Ampang Kaluak, ditulis sebagai Ampat Kaloeng. Perubahan penulisan ini bisa diindikasikan sebagai kesalahan pada proses fonetik ketika menterjemahkan kata Ampang Kaluak. Kata Ampang sudah sering digunakan, misalnnya pada kata Ampang Gadang.

Padang Lamo, adalah nama yang diberikan untuak Pantang Lamo. Perlu dikaji kenapa sekarang kita menyebutnya Pantang Lamo. Mungkin saja namanya waktu dulu adalah Padang Lamo.

Sementara itu, nama Sungai Barlapak yang dalam peta terletaka antara Padang Sanang dan Piabang, belum saya temukan apa nama tempat itu sekarang.

Dalam peta ini, lagi-lagi tidak ditemdukan kata Panampuang seperti pada peta sebelumnya.

  1. Dalam peta Fort De Kock 1926 (gambar ) hanya terdapat dua (2) tempat yang ada pada peta 1879 dan enam nama tempat yang ada peta 1892 tersebut. Adapun nama tempat tersebut adalah:
    • Pariet Pandjang (1879 dan 1892)
    • Loendang (1879 dan 1892)
    • Rawang (1892)
    • Soerau Laboeh (1892, Soerau Baharoe)
    • Kotoambatjang (1892)
    • Kota Toea (1892, Koto Toea)

      GAMBAR 4.  PETA FORT DE KOCK 1926(CROPPED) (SUMBER: MEDIA-KITLV)

      GAMBAR 4. PETA FORT DE KOCK 1926(CROPPED) (SUMBER: MEDIA-KITLV)

Disamping nama enam tempat tersebut muncul nama seperti:

  • Djambak (Jambak)
  • Pakan Kaloeng (Pakan Kaluang)
  • Kotoranah (Koto Ranah)
  • Rawang (2)
  • Rawang (3)
  • Penampoeng 1
  • Penampoeng 2

Dalam peta ini, muncul nama Rawang 2 dan Rawang 3. Rawang 2 mengacu kepada nama tempat yang yang sekarang ini disebut Rawang. Sedangkan Rawang 3 terletak dekat Pakan Kaluang.

Kata Panampoeng muncul 2 buah yaitu, Penampoeng1 dan Penampoeng2. Penampoeng1 terletak pada daerah di sekitar Lauik, sedangkan Panampoeng2 terletak pada daerah di sekitar Gantiang sekarang. Dua nama Penampoeng ini diperkirakan berbeda dengan Rawang2 dan Rawang3. Dua nama Penampoeng tersebut mengindikasikan daerah tersebut adalah wilayah Panampuang.

  1. Dalam peta Fort De Kock 1943 (gambar ) yang diterbitkan Angkatan Perang Amerika Serikat, tidak terdapat perbedaan nama dengan Peta 1926.

    GAMBAR 5.  PETA FORT DE KOCK 1943 (CROPPED) (SUMBER: MEDIA-KITLV)

    GAMBAR 5. PETA FORT DE KOCK 1943 (CROPPED) (SUMBER: MEDIA-KITLV)

Dari lima peta tersebut, hanya 1 nama tempat yang selalu ada yaitu Lundang. Sedangkan 1 nama tempat muncul pada empat peta yaitu Parit Pandjang. Empat tempat, yaitu Soreau Labuah (Soerau Baroe), Rawang, Koto ambacang dan Koto Tuo muncul pada 3 peta.

  1. Kesimpulan
    1. Pada tahap awal berdirinya, nama Panampuang adalah Gantiang, karena sesuai dengan kebiasaan penamaan suatu daerah tergantung pada kondisi geografis, flora, fauna atau bangunan yang ada pada tempat tersebut pada saat awal ditemukan.
    2. Perubahan dari Gantiang menjadi Panampuang didasarkan kepada fungsi Gantiang sebagai Amban Purek (bendahara pengumpul Ameh Manah Tagok Bubuang) dan sebagai penerima titah yang diturunkan oleh raja alam Pagaruyuang. Fungsi pengumpul dan penerima titah tersebut disebut sebagai Panampuang.
    3. Perubahan dan pemakaian nama tersebut belum jelas kapan waktunya. Perlu dicari dokumen lama terkait dengan pembagian distrik pada keregenan Agam berdasarkan instruksi komadan militer Belanda De Stuers pada tanggal 1 Maret 1825. Pada saat perang Paderi Meletus.
    4. Pada masa perang paderi, Panampuang sudah dikuasai oleh Kaun Paderi sejak tanggal 14 Juli 1819.
    5. Perlu digali informasi, siapakah yang menjadi Penghulu Kepala di Panampuang pada tahun 1863 tersebut, karena berdasarkan data yang ada, Kepala Nagari Panampuang yang tercatah hanyalah Dt. Palimo Bandaro pada tahun 1923 (?)

(KUBANG GAJAH, 31 DESEMBER 2014, nspamenan@yahoo.com)

Advertisements
This entry was posted in Ranah nan Manggadangkan. Bookmark the permalink.

12 Responses to NAGARI PANAMPUANG DALAM PERSPEKTIF TAMBO, DOKUMEN DAN PETA (LAMA)

  1. Hamdi Mahmud says:

    Hebat Pencariaan Nyo… Ambo juga sangat tatarik untuk penelusuran nan modeko. Semoga bisa manjadi titiak awal menelusuri.

  2. Hamdi Mahmud says:

    Salam kenal dan sukes taruih Sutan Pamenan… frm. Kari Marajo

  3. Ambo Salut jo caro Pengumpulan Data Pak Sutan Pamenan ko, Semoga dapek di Taruihkan yo Pak. Dek karano Usaho Apak ko akan sangaik bamanfaat di Kemudian hari untuak Generasi nan akan datang.
    Salam Kenal dari Ambo, Ambo di Kotohilalang.

  4. zulhamdi malin mudo taruih says:

    informasi berharga, ambo menulis seputar sejarah ulama di Balai Gurah, termasuk berhubungan jo penampuang. ambo urang lundang, anak ibuk nazariah.
    ,

    • Oo, Ambo anak Ibuk Nazariah pulo, waktu di SD Larak 1 tahun 1985. Lai buliah sato mambaco tulisan tu, Zulhamdi Malin Mudo

      • zulhamdi malin mudo taruih says:

        dalam proses baru da, penyerahan minangkabau ke ke Belanda 10 pebruari 1921, dari ma bulando tau 14 juli 1819 paderi lah tibo di panampuang? , karano tanggal masihi bari di kenal kamudian, ado uda punyo kenalan da di bulando ataw uda pandai baso ulando?

  5. dodo nofi hidayat says:

    rancak bana pengetahuan nan apak agiah,.mungkin nan dimakasuk soengai barlapak antaro padang sanang jo piabang namo nagarinyo sungai baringin karano padang sanang jo piabang desanyo sungai baringin,
    salam kenal ambo dodo anak padang sanang

  6. assalamualaikum pak saya adalah seorang mahasiswa yang mencari buku tentang adat dan nagari panampuang, kira-kira dimana bisa didapat tu ya pak n ada nggak jdul bku ttg adat dan budaya panampuang

    • Waalaikum salam adinda Muhammad Yusof. Kalau buku mungkin belum ada, akan tetapi makalah atau sejenisnya mungkin ada pada arsip kantor Wali Nagari Panampuang. Adinda bisa menemui bapak Wali Nagari Panampuang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s