AMPEK PANDEKA PANARUKO LUAK AGAM

PARINTANG-RINTANG. Warna kemerahan masih membentang di langit. Matahari baru saja tenggelam di ufuk barat. Obor, sebagai sumber penerangan di malam yang gulita baru mulai dinyalakan. Bulan sabit kecil baru beranjak naik. Malam itu, bulan keempat di sekitar tahun 1295 M. Di beranda rumah gadang yang keempat puncaknya menyerupai tanduk kerbau menjulang kelangit, tampak seorang lelaki gagah, dengan sebilah keris melintang di sekitar perutnya, sedang mondar mandir. Gelisah. Sambil sesekali merapikan kain sarung yang melintang dari bahu kanan, pria tersebut terus memandang ke halaman rumahnya. Malam ini, pria yang biasa di panggil Datuk Suri Dirajo tersebut bersiap-siap menunggu kedatangan empat pria paruh baya yang kini menjadi pimpinan kelompok masyarakat di Nagari Pariangan Kerajaan Bungo Setangkai. Mereka adalah Si Agam, Si Endah, Si Api dan Si Basa. Semuanya adalah dubalang tangguh orang kepercayaan Datuk Suri Dirajo di Nagari Pariangan.

Sinar kemerahan di ufuk barat sudah mulai memudar, bulan sabit pun mulai meninggi. Cahayanya menembus dedaunan di sekitar rumah gadang, istana milik Datuk Suri Dirajo tersebut. Datuk Suri Dirajo terlihat semakin gelisah. Empat orang kepercayaannya, yang dipanggilnya tadi sore untuk menghadap, belum juga datang. Malam ini ada empat hal penting yang akan disampaikannya pada mereka. Bagi Datuk Suri Dirajo, Nagari Pariangan yang dipimpinnya terlihat semakin maju. Kehidupan rakyat semakin makmur. Sawah dan ladang yang diteruko beberapa tahun yang lalu mulai menghasilkan. Dalam pikirannya, Datuk Suri Dirajo menginginkan adanya perluasan daerah kekuasaannya. Untuk itu, ia perlu menugaskan orang terbaiknya untuk mencari daerah baru. Pilihannya jatuh kepada empat orang tadi.

Ketika Datuk Suri Dirajo masih hanyut dalam rencana dan pemikrannya, dari kejauhan terdengar derap kaki kuda. Makin lama makin kencang. Seketika Datuk Suri Dirajo tersentak dari lamunannya. Dia segera menoleh ke luar. Tak lama kemudian berjalan ke pintu dan berdiri di atas tangga rumah gadang tersebut. “Mereka sudah datang,” bisiknya dalam hati.

Tak berapa lama, rombongan berkuda itupun sampai. Tampak empat orang pria gagah dengan ikat kepala yang menjulang memasuki halaman rumah Datuk Suri Dirajo. Mereka memperlambat lari kudanya untuk berhenti. Salah seorang dari mereka, segera melompat turun dan menghaturkan sembah. Sementara tiga orang lainnya masih duduk terpaku di atas kudanya masing-masing.

“Ada apakah gerangan Tuanku memanggil kami berempat?”, kata pria tadi sambil menetap Datuk Suri Dirajo yang masih berdiri di jenjang rumah gadang.

“Hoi, Endah, Api dan Basa, apa lagi yang kalian tunggu. Turunlah dan segeralah kalian naik ke rumah gadang ini”, menyahut Datuk Suri Dirajo.

Mereka bertiga segera turun dari kuda, dan berdiri sejajar dengan Agam yang telah lebih dulu berdiri di halaman.

Mereka berempat segera naik ke rumah gadang mengikuti Datuk Suri Dirajo yang telah terlebih dahulu masuk dan terlihat bersila di bagian paling kiri rumah gadang tersebut. Setelah semuanya duduk, Datuk Suri Dirajo mendehem beberapa kali untuk memulai pembicaraan.

“Wahai Agam, Endah, Api dan Basa, sengaja kalian berempat kupanggil datang malam ini karena ada hal penting yang ingin aku sampaikan”, kata Datuk Suri Diraja.

“Hal penting apakah itu Tuanku?”, menjawab Si Agam sambil melihat kepada ketiga orang temannya.

“Sudah lebih dari lima tahun kita membangun nagari Pariangan ini. Aku tahu dan melihat, kalian berempat adalah orang yang sangat gigih membangun Nagari ini. Kerja keras kalian telah membuat nagari ini menjadi makmur dan berkembang. Aku sangat senang. Namun demikian ada kerisauan dalam hatiku. Kalau nagari sudah makmur, rakyat sudah berkembang biak, aku tentu akan semakin menua. Saya yakin diantara kalian tentu ada yang berkeinginan untuk menjadi raja juga sama seperti aku.“ kata Datuk Suri Dirajo.

“Kenapa Tuanku berkata seperti itu? Bukankah kami ini adalah orang-orang yang selalu setia kepadamu. Dahulu, ketika kami masih sangat muda, Tuanku yang mengajari kami bersilat, belajar berburu, berperang, menaruko (membuka lahan) hutan untuk dijadikan sawah dan ladang”, menjawab si Endah.

“Tidak mungkin rasanya kami akan berebut kekuasaan dengan Tuanku.” sergah si Basa.

“Bukan begitu maksud ku,”jawab Datuk Suri Dirajo, ”Aku juga seperti kalian ini dulunya. Atas perintah Raja Bungo Setangkai, aku membawa kalian dan rombongan lainnya mencari daerah baru untuk mencari tempat hidup. Pilihan ku jatuh pada tempat ini. Nagari yang oleh Raja Bungo Setangkai dinamai Pariangan. Oleh karenanya aku ingin kalian juga seperti aku, pergi mencari daerah baru. Untuk hidup dan berketurunan”.

“Kemanakah kami akan pergi” bertanya si Api.

“Berjalanlah kalian mengelilingi Gunung Merap ini. Bila kalian menemukan tanah dan lahan yang baik untuk bercocok tanam, kalian bisa menetap di sana. Bila kalian sudah menemukannya kalian bisa membawa kelompok kalian kesana dan tentunya kalian bisa menjadi penguasa di tempat tersebut. Karena kalian berempat, maka carilah empat tempat yang cocok. Hiduplah dengan damai.” titah Datuk Suri Dirajo.

Malam semakin larut, hanya suara jangkrik yang menemani pembicaraan kelima ornag tersebut. Tak berapa lama embun mulai menyelimuti Nagari Pariangan, cahaya bulanpun semakin redup terhalang awan dan embun. Tak berapa lama keempat orang tadipun berdiri, dan segera menuruni anak tangga menuju tempat tambatan kuda masing-masing.

Seminggu kemudian.

Menjelang tengah hari, setelah melewati Bungo Setangkai dan Tabek Patah, sambil terus memacu kudanya di antara semak dan belukar yang menutupi kaki Gunung Marapi, empat pria gagah dengan senjata terhunus terselip di samping tampak memandang sebuah kilatan cahaya di sebelah barat. Panas terik di siang itu membuat kilatan cahaya itu seperti pantulan sebuah cermin. Si Agam sebagai yang dituakan dan memiliki ilmu silat yang paling tinggi diantara mereka melihatnya sebagai petunjuk.

“Lihat ada cahaya!” teriak si Agam seraya menunjuk ke arah barat. Dengan segera keempat orang tersebut mengarahkan kudanya ke tempat cahaya itu berasal. Setelah beberapa lama, mereka sampai dan berhenti di sebuah sumber mata air.

“Berhenti!” teriak Si Agam. “Rupanya tempat genangan air itulah yang menjadi sumber cahaya yang kita lihat tadi” ucap Si Agam.

“Ayo kita turun sebentar,” kata Si Agam lagi sambil meloncat dari kudanya.

“Cahaya yang kita lihat tadi rupanya pantulan dari air ini” katanya sambil mengarahkan pandangannya sekeliling.

“Ya seperti pantulan cermin.”kata Si Api.

“Bagaimana kalau kita namakan tempat ini Si Camin Kapanehan. Karena sumber mata air ini terlihat seperti cermin ketika terkena panas matahari” menyela si Basa.

“Mungkin inilah petunjuk bagi kita. Lihatlah sekeliling Si Camin Kapanehan ini. Hamparan tanah yang subur. Sangat cocok untuk bercocok tanam.”ucap si Agam.

“Betul, tanahya pun gembur. Pasti banyak sumber air di sekitar ini, memang tempat ini sangat cocok untuk bercocok tanam” si Endah menimpali perkataan Si Agam.

“Wahai Endah saudaraku, karena engkau memang sangat pandai bercocok tanam maka sebaiknya daerah ini diberikan kepada mu.” berujar si Agam.

“Bagaimana menurut kalian?”, tanyanya sambil melirik kepada Si Api dan Si Endah.

“Tapi bukankah Tan Agam yang pertama kali melihat Si Camin Kapanehan ini.” menyahut Si Endah. “Betul. Tapi engkaulah yang paling cocok untuk tinggal di sekitar tempat ini. Engkau, keluarga dan pengikutmu nanti bisa bercocok tanam di sini.” Katanya meyakinkan Si Endah.

“Sekarang saatnya kita lanjutkan perjalanan mencari tempat lainnya” kata Si Agam sambil segera naik ke atas pelana kudanya.

“Baiklan Tan Agam, Karena daerah sekitar Si Camin Kapanehan ini sudah diberikan kepada ku, maka luhak ini sebaiknya tetap milik mu. Jadi Si Camin Kapanehan adalah luhak Si Agam.”menjawab Si Endah sambil menaiki kudanya.

“Nanti kita sampaikan kepada Datuk Suri Dirajo bila ada saudara kita yang lain akan mencari daerah baru, Mereka harus mencari Luhak si Agam. Tandanya adalah dengan mencari di siang hari Si Camin Kapanehan. Bila mereka melihat cahaya dan sampai di Luhak Si Agam, dari sanalah mereka bergerak mencari daerah baru untuk pemukiman mereka serta tempat untuk bercocok tanam” berkata si Api yang bijaksana.

Daerah di sekitar Si Camin Kapanehan tersebut kemudian menjadi milik Si Endah. Kemudian Si Endah diberi gelar Rajo oleh Datuk Suri Dirajo sehingga lebih dikenal sebagai Rajo Endah.

Daerah yang dikuasai oleh Rajo Endah dan pengikutnya ini terus berkembang. Perkembangan daerah tersebut pada mulanya pada bagian tenggara dan selatan dari Si Camin Kapanehan. Karena kemakmuran yang diperoleh di daerah tersebut pengikut Si Endah (mendirikan sebuah Balai Besar yang terbuat dari Kayu Gurah. Ketika keluarga dan pengikut Rajo Endah mengembangkan daerahnya ke arah barat dan barat daya dari tempat tersebut mereka menyatakan diri sebagai orang dari Balai Gurah. Demikian juga dengan rombongan lain baik yang ditugaskan oleh Datuak Suri Dirajo maupun kerajaan lainnya untuk mengembangkan wilayahnya melalui Luhak Si Agam, mereka memanggil penduduk di sekitar Si Camin Kapanehan tersebut sebagai orang Balai Gurah.

(Dalam perkembangannya Si Camin Kapanehan kemudian berubah nama menjadi Si Camin-Camin. Sekarang Si Camin Kapanehan hanya dikenal oleh orang Balai Gurah saja. Dan nama yang dikenalpun hanyalah Si Camin. Si Camin, tabek tuo yang mungkin sudah tidak berfungsi lagi)

Setelah memutuskan daerah di sekitar si Camin Kapanehan sebagai milik Si Endah, keempat orang tersebut segera melanjutkan perjalannya ke arah utara. Tidak terlalu jauh dari Si Camin rombongan tersebut berhenti pada sebuah tempat yang sangat sejuk. Tidak jauh dari tempat merek berhenti terlihat sebuah bukit kecil.

“Wahai saudara-saudaraku” berkata Si Api “Kita butuh tempat yang baik untuk beribadat kepada yang maha kuasa”.

“Dimanakah tempat cocok menurutmu wahai saudaraku Api?” berkata Si Agam.

”Kita perlu membangun Biaro. Tetapi dimanakan tempat yang tepat menurutmu saudara Api?” berkata si Basa.

“Kami tau, sebagai orang yang memahami agama kita dengan baik dan sebagai seorang yang taat engkau pasti mengetahui dimana tempat yang baik untuk membagun sebuah Biaro” berkata Si Endah sambil terus menatap ke bukit kecil itu.

“Saya kira di sinilah tempatnya. Entah kenapa perasaanku menjadi sangat tenang berada di sini. Mungkin ini sebuah petunjuk bahwasanya kita perlu mendirikan sebuah Biaro di sini sebagai tempat peribadatan.” berkata Si Api.

“Di samping hasil bumi yang melimpah kita memang perlu mensyukurinya dengan beribadah kepada yang maha kuasa. Saya setuju bila kita nanti membangun Biaro di sini. Dan Engkau Api, karena engkau memang memahaminya maka daerah di sekitar tempat Biaro ini nantinya diserahkan kepadamu” berkata si Agam.

“Baiklah, saudara-saudaraku. Aku bersedia” menjawab Si Api.

Demikianlah daerah tersebut diberikan kepada Si Api. Datuk Suri Dirajo kemudian memberi Si Api Gelar Rajo sehingga dia dipanggil Rajo Api. Daerah tersebut terus berkembang. Pertumbuhan penduduk di sekitar lokasi biaro tersebut menyebakan keturunan Rajo Api meluaskan daerahnya. Perluasan tersebut terutama ke arah Barat dan Barat Daya. Hal ini di karenakan bagian selatan merupakan wilayah yang dikuasai oleh Rajo Endah dari Balai Gurah. Karena Rajo Api bersuku Tanjung dalam penyebarannya kampung yang didirikan diberi nama tanjung seperti Tanjuang Bungo, Tanjung Medan, Tanjuang Alam. Penyebaran lainnya dari pengikut Datuk Rajo Api ini mendirikan perkampungan Lungguak Muto, dan Parik Putuih. Semuanya mengatakan mereka adalah keturunan dan pengikut dari Rajo Api yang berasal dari Biaro.

Setelah menentukan daerah untuk ditinggali oleh Si Api, segera mereka melanjutkan perjalanan ke arah utara. Setelah berjalan sekitar setengah kilometer lagi, mereka kemudian bertemu dengan sebuah lembah.

“Aku sangat menyukai tempat ini. Jika kalian setuju. Aku ingin menjadikan tempat ini sebagai tempatku nanti tinggal.” berkata Si Agam kepada ketiga orang rekannya ketika mereka sampai di lembah itu.

“Dari lembah ini nantinya memang tidak terlalu jauh untuk ke Biaro tempat beribadat yang persiapkan akan kita bangun nanti.”menyela si Api.

“Baiklah kami setuju.” sahut si Basa.

Demikianlah, setelah mereka kembali ke Pariangan dan melapor kepada Datuak Suri Dirajo, di lembah itulah Si Agam memulai membangun pemukiman. Sama halnya dengan Si Endah dan Si Api, Si Agam diberi gelar Rajo juga. Sehingga dia dipanggil sebagai Rajo Agam. Rajo Agam adalah keturunan suku Koto. Dari sanalah, keturunan dan pengikut Rajo Agam meluaskan wilayahnya. Ada yang ke arah Barat Laut dan mendirikan daerah yang dinamai ke Koto Marapak dan adapula yang ke Tenggara dan menamai daerahnya sebagai Koto Hilalang. Namun demikian, mereka selalu menyebut dirinya sebagai orang dari Lambah.

Setelah si ketiga orang sahabatnya memilih tempat untuk menetap, maka tinggalah si Basa yang belum memiliki daerah untuk tempatnya menetap. Akhirnya mereka melanjutkan perjalanan ke arah utara dari Lambah yang telah dipilih si Agam. Perjalanan mereka akhirnya terhenti pada sebuah jurang yang merupakan pertemuan dua buah sungai. Sungai tersebut kemudian bernama Batang Lasi dan Batang Sikabu. Batang lasi mengalir pada bagian timur dari daerah yang telah dipilih oleh kempat orang tersebut; sementara Batang Sikabu mengalir di sebelah baratnya.

Mereka kemudian berbalik arah dan berjalan menyusuri Batang Sikabu. Pada satu bagian terdapat ceruk kecil yang cukup dalam. Akan tetapi hanya beberapa depa saja di depan itu didapati tanah yang masih dapat dilewati. Karena itu mereka menamakan daerah tersebut sebagai Gantiang, yang berarti permukaan tanah yang hampir terputus.

“Berhenti!” teriak Si Agam ketika mereka sampai di tebing yang curam itu.

Pada mulanya si Basa, Si Endah, dan Si Api bersiap untuk memacu kencang kudanya agar dapat melintasi ceruk yang kecil itu.

“Ada apa? Kenapa kita harus berhenti?” tanya Si Endah.

“Sebaiknya kita tidak menyeberang. Kita kembali saja dan mencari daerah lain.” kata si Agam.

“Hari sudah semakin sore. Kemana lagi kita akan pergi?” tanya si Basa .

“Kita harus mencari tempat yang cocok untuk tinggal dan bercocok tanam untuk kau tinggali, Basa” jawab si Api.

“Sebaiknya kita hentikan pencarian kita sampai di sini. Biarlah aku menetap di sini nantinya. Jurang yang tidak terlalu lebar ini tidak terlalu sulit bagiku dan para pengikutku untuk menyeberangi tanah Gantiang ini.” menjawab Si Basa.

“Baiklah. Kalau begitu, kita beristirahat di sini. Besok kita kembali ke Pariangan” kata si Agam.

Karena tidak ingin nantinya terpisah dengan ketiga sahabatnya Si Basa memutuskan untuk memilih tempat di sekitar perhentian itu sebagai tempatnya bermukim nanti. Seperti ketiga sahabatnya, sekembalinya ke Pariangan Si Basa juga diberi gelar Rajo oleh Datuak Suri Dirajo. Sehingga dia dipanggil Rajo Basa.

(Dalam pengembangan daerahnya, pengikut Rajo basa banyak yang bersuku Jambak. Maka didirikanlah kampuang yang bernama Jambak ke arah selatan dari Gantiang dan berbatasan dengan Lambah. Untuk menandai batas antara Gantiang dan Jambak maka Rajo Basa membangun sebuah tugu Prasasti yang menjadi Batas antara Gantiang dan Jambak. Dalam perkembangannya, keturunan dan pengikut Rajo Basa ini disebut sebagai orang Gantiang. Gantiang lebih dikenal oleh masyarakat yang berasal dari daerah ini yang melakukan imigrasi ke luhak lain di Minangkabau atau daerah lainnya. Sehingga mereka selalu menyebut nenek moyang mereka berasal dari Gantiang)

Demikianlah keempatnya orang kepercayaan Datuak Suri Dirajo tersebut bersepakat dan memutuskan untuk kembali ke Pariangan. Tidak beberapa lama kemudian keempat orang tersebut (beserta sejumlah pengikutnya) kembali ke daerah yang telah mereka pilih untuk menetap di tanah baru tersebut. Rajo Endah menetap di tempat yang kemudian bernama Balai Gurah. Rajo Api menetap di daerah yang kemudian bernama Biaro. Rajo Agam menetap di daerah yang kemudian bernama Lambah dan Rajo Basa menetap di daerah yang bernama Gantiang.

Keberhasilan empat orang tersebut menemukan daerah baru di sisi lain gunung Marapi tersebut menjadi inspirasi bagi penguasa Nagari Pariangan untuk mengirim rombongan lainnya dengan jumlah yang sama yakni empat orang. Beberapa periode rombongan terus berangakat. Semuanya diperintahkan untuk pertama kali menuju Si Camin Kapanehan, Luhak Si Agam. Namun demikian, dalam perkembangannya hanya rombongan yang pertamalah yang dikenal sebagai Ampek Angkek (Empat Angkat). Oleh karena itu Ampek Angkek dalam berbagai versi tambo dan sejarah dianggap sebagai daerah pertama Luhak Agam.

Akan tetapi, data kekinian terutama temuan data berdasarkan catatan Belanda dan catatan sejarah yang ditulis oleh kaum pribumi, tidak ada Gantiang dalam tambo tentang Ampek Angkek dan Luhak Agam, yang ada hanyalah Panampuang.

Hal ini akan coba dijelaskan dalam perkembangan Ampek Angkek dan juga perkembangan Nagari Panampuang pada tulisan berikutnya yang memuat tugas pokok keempat keturunan empat orang tersebut setelah menetap di Luhak Agam.

(Tulisan ini terinpirasi dari buku Monografie Adat Nagari Panampuang karangan Inyiak Azwar Datuk Mangiang)

Wassalam

Kubang Gajah 2 April 2014 nspamenan@yahoo.com

 

 

Advertisements
This entry was posted in Kisah dan Sajak, Ranah nan Manggadangkan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s