DINDING BELASUNGKAWA

Di bagian kanan meja kerja setengah biro, berbahan triplek jati, berwarna kecoklatan yang sedikit terkelupas pada sudut sebelah kanan dekat laci yang sudah copot gagang penariknya, terletak barisan buku-buku berbahasa asing dan berbahasa Indonesia, yang sebahagian di antaranya terlihat lusuh karena sudah terlalu sering dibolak balik, dibaca.

Di tengah meja, persis di sebelah lampu belajar dengan bola lampu hemat energi berdaya 18 watt, terdapat lima buah dokumen yang baru di bawa dari kampus tiga hari yang lalu. Dokumen tersebut milik mahasiswa bimbingannya, ditumpuk dan menjadi dua kelompok. Satu tumpukan, yang dijilid dengan cover plastik bening, adalah 3 buah tesis yang masing-masingnya diperkirakan setebal 250 halaman. Ketiganya tampak penuh dengan coretan balipoin berwarna merah, dengan beberapa bagian halamannya terlipat, sehingga kelihatan lebih tebal dan sedikit awut-awutan.

Satu tumpukan lainnya, yang terlihat lebih tipis- setebal 80 halaman- dan dijilid biasa tanpa cover plastik, terdapat dua skripsi mahasiswa bimbingannya yang sudah kesekian kalinya dikoreksi tetapi masih ditemukan kesalahan yang sama. Pada skripsi tersebut terlihat coretan pena warna merah dengan empat buah tanda seru yang berderet yang sepertinya mengindikasikan instruksi yang berulang. Di bawahnya, pada skripsi yang satunya lagi, setelah diberi coretan yang cukup panjang terlihat sebuah tanda tanya yang dibuat sangat besar juga berulang.

Persis di bawah sorotan lampu belajar, terletak selembar kertas berisi abstrak dari makalah yang akan diajukan pada panitia seminar di universitas tempatnya dulu mengambil gelar S1 dan S2. Abstrak tersebut, tampaknya juga belum sepenuhnya selesai, karena masih terdapat coretan pensil di antara baris-baris paragraf yang sudah selesai di cetak.

Di sebelah kiri meja kerja, tampak dua cangkir kosong yang pada dindingya menempel butiran-butiran hitam kopi yang mengering. Dua cangkir kopi itu telah menjadi saksi bagaimana tiga buah tesis, dua buah skripsi, dan sebuah abstrak makalah dibolak-balik dan dicorat-coret. Sepertinya malam ini adalah malam pembalasan karena tidak ada halaman yang luput dibaca, diperiksa berulang-ulang bahkan diberi catatan.

Larut malam baru saja berlalu. Detak jam di dinding semakin jelas kedengarannya. Bunyi kendaraan, yang biasanya lalu lalang di jalan depan rumah, sudah sangat jarang terdengar. Cuaca yang biasanya panas menyengat bahkan hingga tengah malam sekalipun sudah berganti dengan semilir angin dingin. Jam di dinding sudah menunjukan angka tiga. Tak terasa sudah lebih enam jam dia duduk di ruangan kerjanya. Matanya pun juga sudah mulai berat menahan kantuk. Kelopak matanya terlihat sedikit menyipit. Kantung-kantung di bawah kedua matanya terlihat membengak.

Ketika hendak berdiri, melangkah ke kamar mandi untuk mencuci muka sebelum tidur, matanya tiba-tiba tertuju pada tablet mini berbungkus sarung kulit bewarna maron. Sejak sore tadi, benda yang biasanya begitu dekat dengannya tersebut tak pernah dibuka, tak pernah dipegang, tidak diaktifkan. Walau sudah hampir tak mampu melawan kantuknya, diambilnya juga tablet mini tersebut. Dibuka tutupnya, lalu ditekan pinggir kanan atasnya, bergetar tanda menyala. Setelah meletakkannya lagi di meja, dia terus berjalan ke arah kamar mandi yang ada di sebelah kamar utama.

Selesai cuci muka, walaupun sudah mulai terasa dingin, diambilnya gelas di rak piring yang tinggal satu lagi itu.

“Bussseeeet. Dari tadi siang dia belum sempat cuci gelas dan piring” desisnya.

“Untung masih ada satu ini,” katanya dalam hati.

Setelah mengisi gelas dengan air yang tinggal separuhnya dalam dispenser, dia segera berjalan santai ke kamar kerja. Diambilnya, tablet mini yang sudah menyala itu lalu diaktifkannya tombol data. Dengan sigap tangannya menyentul layar tablet tersebut. Segera, aplikasi facebook terbuka. Tapi sayang, akunnya tak bisa langsung terbuka. Dia harus log in dulu. Perlahan disentuhnya huruf-huruf yang ada.

Dengan menggunakan huruf kecil dia mulai menyentuh huruf put  i  dan seterusnya diikuti angka yang mengindikasikan tahun kelahirannya dan diakhiri nama domain emailnya. Lalu enter.

Tak berapa lama, segera keluar akun facebook atas nama Puti Panyuruik, dengan gambar profil seorang perempuan, berbaju kuruang basiba warna kuning kecoklatan dengan jilbab berwarna yang sama serta songkok/tikuluak dari kain panjang batik corak lama kecoklatan di atasnya. Foto profil yang baru beberapa hari di upload tersebut begitu disukainya. Betapa tidak. Seumur hidupnya itulah baru pertama kali dia memakai yang namanya baju kuruang basiba. Terlihat masih cantik, walaupun sudah mulai terlihat guratan kecil di wajah penanda usia yang mulai menua.

Lama menjadi wanita modern, dengan jenjang pendidikan strata tertinggi, serasa jadi aneh, memakai pakaian seperti itu. Di saat orang lain mengagungkan aneka model berbasis post-modernisme, dia akhir-akhir ini malah tertarik mengoleksi baju seperti itu. Ada rasa bangga memakainya dan menjadikannya foto profil.

Tiba-tiba, matanya mulai menatap tajam. Ada barisan ungkapan duka cita yang terpampang pada layar tabletnya berbaris berjejer ke bawah. Satu persatu, teman-teman, senior, adik-adik dari kampus tempatnya dulu menimba ilmu yang berteman dengannya menulis pada timeline sebuah akun. Akun, yang ketika diperiksa, belum berteman dengannya. Akun itu bernama Solicitous Boy, dengan gambar profil seorang pria bertopi membelakangi kamera, dengan wajah yang samar-samar, hampir tak teridentifikasi.

Dalam ungkapan belasungkawa tersebut, akun Dewi Kenanga misalnya, menulis:

“Selamat jalan sahabatku, Panca, semoga amal ibadahmu diterima di sisiNya dan keluarga yang ditinggalkan tabah.”

Akun lain, Muhammad Rafik menulis:

“Selamat jalan Bung Panca Ameh. Masih terngiang ditelingaku pekikmu. Semoga semangat dan integritasmu menjadi inspirasi bagi generasi muda sekarang ini. Ya Allah, Ampunilah dosa-dosa sahabatku ini, terimalah segala amal kebaikannya, dan tempatkanlah dia disorgamu.”

Tak henti-benti ungkapan belasungkawa itu muncul. Tak tau dari mana asalnya berita itu. Jam sudah menunjukkan pukul 03:30. Setelah bolak-balik memeriksa profil tersebut, dia mulai bisa mengenali akun Selocitous Boy yang dipanggil dengan Panca. Ya, Panca, lengkapnya Bujang Panca Ameh, itulah nama asli pemilik akun tersebut. Nama yang begitu akrab ditelinganya. Tiba-tiba darahnya berdegub kencang. Timbul perasaan tidak menentu.

“Mungkin kah itu dia?” desahnya.

“Orang yang sudah begitu lama kucari. Walau tak mungkin lagi bertemu dengannya di alam nyata, di dunia mayapun terus ku cari. Tetapi kenapa aku baru bisa bertemu dengannya sekarang.” bisiknya dalam hati.

“Oooooh my God” teriaknya lirih.

“Kenapa ini bisa terjadi. Kenapa aku tidak teliti.” Katanya sambil memeriksa deretan nama-nama permintaan pertemanan yang belum dikonfirmasinya.

Pada posisi terbawah dari deretan nama tersebut. Terpampang permintaan pertemanan dari akun “Selocitous Boy”. Permintaan ini mungkin sudah sangat lama diterimanya tapi belum juga dikonfirmasi. Dia memang enggan mengkonfirmasi akun anonim seperti itu tetapi juga tidak mau menghapus permintaan tersebut.

Tak terasa, dibalik penyesalannya itu, butiran air hangat mengalir perlahan dari sudut kedua matanya. Semakin lama semakin deras, isak tangis disertai sedu sedan mengiringi deraian air mata tersebut.

Tiba-tiba, ingatannya melayang pada suatu siang di bulan Agustus lebih sekitar 25 tahun yang lalu. Waktu itu, sebagai gadis muda calon mahasiswa yang baru saja lulus seleksi penerimaan mahasiwa, dia datang ke kampus  jurusan dimana dia diterima. Dengan wajah yang masih lugu, dan membawa persyaratan yang dituangkan dalam Buku Panduan Pendaftaran Mahasiswa Baru, dia memasuki ruangan jurusan sambil melihat kiri-kanan sambil mencari-cari wajah yang memungkinkannya untuk bertanya. Di depannya, tampak beberapa mahasiswa dan juga calon mahasiswa sepertinya sedang duduk memegang sebuah map sambil memandang terus ke pintu masuk. Sepertinya mereka sedang menunggu seseorang. Setelah melihat kedatangannya, wajah itu segera berpaling ke arah yang lain, karena dia bukanlah orang yang mereka tunggu.

Dia pun bingung, harus bertanya pada siapa. Taka ada yang melihat ke arahnya. Tiba-tiba, dia kaget. Ada suara cempreng terdengar dari dari arah belakang.

“Permisi. Jangan berdiri di depan pintu. Banyak yang mau masuk.” kata seorang pria yang usianya tak jauh darinya. Pria itu barangkali satu atau dua tahun lebih tua darinya. Karena merasa tidak menghalangi dia tidak melangkah menjauhi tempatnya berdiri.

“Haloooo”, terdengar suara itu lagi “Ibuk, eh Dik, tolong digeser berdirinya. Saya mau lewat.”

“Oh, saya maksudnya, Maaf” katanya.

“Ya, kamu. Siapa lagi yang ada di pintu ini. Hanya kamu kan?” kata pria itu lagi.

“Kan masih bisa lewat. Kenapa harus saya yang pindah” jawabnya.

“Berani kamu ya. Masih calon mahasiswa sudah berani membantah” kata pria itu lagi sambil menatapnya tajam.

“Memangya kalau calon mahasiswa tidak boleh jawab ya” jawabnya dengan melangkah sedikit merubah posisi berdirinya.

Kini dia berhadap-hadapan dengan pria tersebut, memandang penuh selidik matanya berjalan dari bawah sampai ke atas sehingga mereka berhadap-hadapan.

“Siapa sih dia? Sok sekali” umpatnya dalam hati, sambil terus memperhatikan dengan penuh selidik.

Pria itu,bersepatu kulit warna coklat yang ujungnya sudah mulai memutih seperti sudah lama tidak disemir dan tanpa kaus kaki. Dia memakai celana jeans abu-abu yang sudah sedikit kumal dan hem biru bercorak lurik yang dibiarkan terlepas tak dimasukkan . Di keningnya terlihat butiran-butiran keringat yang mengalir sampai ke pipinya. Wajahnya memerah, sedikit berkilat, dibasahi keringat. Rambutnya ikal dan panjang sehingga poninya menutupinya sebahagian keningnya. Tangannya memegang sebuah map kertas berwarna hijau.

Dia terus mengarahkan pandangannya pada pria itu, perlahan terus ke atas sehingga dia dapat melihat dengan jelas pria yang menyuruhnya minggir tersebut. Lama dia menatap, tak bergeming sedikitpun. Pria itu juga menatapnya dengan tatapan tajam. Wajahnya yang semula dingin perlahan mulai berubah. Seulas senyum tersungging dari bibirnya.

“Mahasiswa baru ya?” sapa pria itu dingin.

“Betul Pak, eh Kak” jawabnya sambil memperlihatkan senyum dengan sedikit kecut.

“Oooh, dari mana?” tanya pria itu lagi.

“Dari tadi, eh dari sini” jawabnya coba melucu.

“Bisa juga ya bercanda. Tidak lihat-lihat siapa yang bertanya. Awas kamu” katanya sambil berlalu menuju ruangan dosen yang di pintunya tertulis “Bagi yang tidak berkepentingan dilarang masuk”.

Karena tidak tau apa yang harus dilakukan, diapun keluar dari ruangan itu. Berjalan pelan menuju bangku beton yang berada di bawah pohon rindang di sekitar kampus itu. Di sana dilihatnya banyak juga calon mahasiswa lain yang memegang map kertas seperti yang dibawanya. Diapun duduk dan menggabungkan diri bersama mereka sambil memperkenalkan diri dan tanya sana sini membuka pembicaraan. Kesimpulannya sama. Semua masih bingung dengan apa yang akan dan harus mereka kerjakan.

Selagi asyik bersenda gurau dengan teman-teman yang baru saja dikenalnya, tiba-tiba dilihatnya pria yang tadi menyapanya dengan ketus dan menyuruhnya minggir datang dan berjalan ke arahnya.

“Kamu, ya kamu, yang berbaju putih  dan rok jeans, sini” katanya sambil menunjuk ke arahnya.

“Saya kak?” katanya sedikit heran, sambil melihat pada teman-teman barunya. Ternyata tidak ada yang memakai baju putih dengan rok jeans abu-abu.

“Tidak mengerti ya, apa yang saya ucapkan? Calon mahasiswa apa ini?” katanya lagi sambil memanggil dengan kedua tangannya.

Tidak enak dengan apa yang didengarnya, dia pun mendatangi pria tersebut.

“Ada apa, Kak?” tanyanya dengan perasaan sedikit takut.

“Sini kamu, ikut saya”, jawab pria itu, sambil berjalan ke arah bangku beton lain tak jauh dari tempatnya tadi duduk dan berkenalan dengan calon mahasiswa lain.

Dengan sedikit takut, dia berjalan mengikuti pria itu.

“Berdiri saja, jangan ikut-ikutan duduk. Kamu itu masih calon mahasiswa. Masak duduknya sama dengan saya yang sudah senior” kata pria itu lagi dengan nada yang dibuat-buat agar terdengar sedikit galak.

“Iya, Kak” jawabnya lugu.

“Sudah selesai diisi semua blanko yang diterima dari Biro Akademik?” tanya pria itu dengan nada penuh selidik.

“Sudah Kak, tapi saya tidak tau apa yang harus diisi dengan kode mata kuliah ini. Saya juga tidak tau apa mata kuliah yang harus saya ambil” jawabnya sambil memberanikan diri.

“Oo, gampang itu. Sekarang silahkan lihat di papan pengumuman yang berada di dinding kantor jurusan sebelah timur. Saya kira pembagian kelas dan kode mata kuliah yang harus diambil semester satu dapat dilihat di sana” kata pria itu sambil menunjuk ke arah yang dimaksud.

Tanpa menunggu lebih lama lagi, dia segera berjalan ke arah yang ditunjukkan. Belum beberapa langkah dia berjalan, tiba-tiba dia dipanggil lagi.

“Hei, jangan pergi dulu. Masih ada yang mau disampaikan. Pergi saja tanpa- ba-bi- bu” kata pria itu lagi.

“Ada apa lagi. Kak?” tanya nya sambil berjalan kea rah pria itu.

“Tinggalkan map itu di sini” perintahnya .

“Bawa saja satu buku buat mencatat. Buat apa repot-repot bawa-bawa map ke sana” imbuhnya.

“Iya, tinggalkan aja map itu. Sini saya pegang” katanya lagi.

Dengan sedikit ragu ditinggalkannya map tersebut. Semula dia hendak meninggalkan tasnya di atas bangku beton tersebut. Tapi tidak jadi karena pria itu menyuruhnya membawa saja tas yang sejak tadi di sandangya.

“Jangan ditinggalkan di sini. Nanti ada yang hilang saya pula yang jadi terdakwa mengambil uang calon mahasiswa baru” katanya sambil mulai membolak balik blanko yang ada dalam map kertas tersebut.

Selesai melihat papan pengumuman dan mencatat seperlunya, dia kembali ke bangku beton tempat dimana pria tadi masih duduk menunggu.

Dalam hati dia terus bertanya “ Siapa ya orang ini. Sok wibawa. Sok ngatur, sok hebat. Huh menyebalkan.”

Selesai mencatat kode mata kuliah dan pembagian kelasnya dia kembali ke tempat mahasiswa senior itu.

“Bagaimana Puti? Sudah dapat kode mata kuliah yang mau diambil semester ini? Kelas Apa? Siapa Penasehat Akademiknya?” tanya pria itu sok akrab ketika dia sampai ke tempatnya tadi meninggalkan mapnya.

“Puti. Bolehkan saya memanggil seperti itu?” tanyanya, “ Atau ada panggilan lain yang disukai, Rui, misalnya?” kata pria itu sambil tetap memegang map miliknya.

“Puti. Panggil saja Puti” jawabnya sedikit malu-malu.

Tak berapa lama, datang seorang calon mahasiswa baru dengan membawa map yang sama seperti yang dibawa Puti.

“Uti…….., sedari tadi aku mencarimu. Kulihat namamu dalam pengumuman Minggu lalu. Akhirnya ketemu di sini” kata calon mahasiswa baru tersebut sambil memeluknya.

“O, jadi namanya Uti, ya. Bukan Puti” kata si pria tersebut

“Boleh saya panggil nama Uti juga?” katanya menimpali.

“Terserah, tapi itu biasanya panggilan dari sahabat lama atau orang-orang terdekat saja” jawab Puti sambil merunduk mengambil map miliknya yang berada di atas bangku beton.

“Mau, saya mau juga jadi orang terdekat, yang pasti spesial itu” kata si pria itu cepat menimpali.

“Tidak, cukup Puti saja” jawab Puti dengan nada keberatan.

“Oke, kalau begitu saya tetap akan panggil kamu dengan Uti, walau kamu keberatan, walau tidak suka atau tidak mau dipanggil dengan nama itu” katanya seakan tidak peduli dengan keberatan yang disampaikan Puti.

Ketika, hendak pamit, temannya yang bernama Tisna berujar, “Hebat kamu, baru satu hari di sini sudah kenal kakak senior. Siapa ya namanya? Kenalin dong?”

“Mana ku tau. Aku juga tadi kena damprat. Pas lihat-lihat di kantor tadi. Katanya menghalangi jalan masuk. Aku cuek aja. Terus waktu aku lagi ngobrol sama teman-teman lain di sana dia mendatangi ku dan mengajakku duduk di sini” jawab Puti.

“Ngomong-ngomong, siapa namanya?” kataTisna lagi dengan rasa ingin tahu yang sangat tinggi.

“Nggak tau, eh belum tau” jawab Puti pendek.

“Waduh, gimana sih kamu. Sudah ngobrol panjang tapi nggak tau sama siapa?” tukas Tisna sambil berjalan ke arah mahasiswa senior itu..

“Kak, kalau boleh tau Kakak ini namanya siapa ya?” kata Tisna pada pria itu.

“Buat apa? Nanti pas OPSPEK nama saya dicatut lagi. Ha ha ha ha…” jawab pria itu.

“Ya sudah. Kalau tidak mau. Tapi jangan marah kalau nanti kami panggil Kucel.” Kata Tisna.

“Enak saja Kucel. Mentang-mentang berpakain rapi dan cantik saya dibilang Kucel” kata pria itu.

“Ya sudah, kalau nggak mau ngasih tau namanya, suka-suka kita dong” kata Tisna dengan cepat menimpali.

“Panca. Panggil saja Kak Panca” kata pria itu.

“OK. Terima kasih Kak Panca akhirnya dikasih tau” tukas Puti cepat

”Kami pergi dulu ya. Bye” imbuh Tisna.

Itulah pertemuan pertamanya dengan Panca, lengkapnya Panca Ameh. Seorang mahasiswa semester tujuh tahun itu.   Pertemuan pertama yang begitu berkesan. Tidak akan pernah terlupakan sepanjang hidupnya.

Pagi hampir menjelang. Sementara deretan ungkapan belasung kawa pada dinding Selocitous Boy semakin panjang. Puti memperhatikan satu persatu ungkapan itu. Ada ungkapan belasung kawa dari Tisna.

“Selamat Jalan Senior. Tak kusangka kau cepat pergi. Aku masih ingat kali pertama berjumpa dengan mu. Maaf kan aku yang dulu begitu tidak sopan pada dirimu. Masihkah kau ingat pada teman ku Puti, yang sering kau panggil Uti. Biarlah aku mewakilinya, bukan begitu Puti Panyuruik. Semoga amal ibadahmu diterima disisiNya. Diampuni segala dosa-dosamu. Alfatihah. Amiiin.” tulis Tisna pada dinding Selocitous Boy.

Tak terasa air mata mengucur semakin deras dari mata Puti Panyuruik. Tangannya segera menyentuh layar, mengurut daftar permintaan pertemanan, mencari nama Selocitous Boy. Yes. Bertemu. Bergetar tangannya menyentuh kotak konfirmasi.

Sebelum menulis ungkapan bela sungkawa pada dinding tersebut, angan dan perasaannya terbang kepada peristwa lalu, tak lama setelah masa pendaftaran mahasiswa baru.

Sore, selesai kuliah, ketika hendak pulang, Puti berjalan berjalan santai bersama Tisna. Perkuliahan yang dimulai sejak pukul 2 siang itu baru berakhir pada pukul setegah lima lewat. Kuliah tiga jam pelajaran yang melelahkan tersebut berakhir lebih lama karena dosen yang mengajar begitu bersemangat memeriksa tugas yang diberikan. Mereka berdua berjalan sambil tertawa berkelakar mengusir kelelahan. Sewaktu sampai di tikungan, yang memisahkan Gedung A dan Gedung B, tiba-tiba didengarnya ada suara yang memanggil-manggil namanya.

“Uti. Uti” begitu jelas di dengarnya.

Sambil memutar badannya dia melihat kiri kanan, mencari sumber suara yang memanggilnya. “Siapa ya?” tanya Puti dalam hati.

Dari kejauahan terlihat mahasiswa senior yang ditemuinya pertama kali ketika datang ke kampus ini beberapa minggu yang lalu, yang menyebut dirinya Kak Panca. Sambil mempercepat jalannya Panca berusaha menyusul Puti dan Tisna.

“Berdua saja, boleh aku temani?” tanya Panca.

“Nggak, bertiga kok” jawab Tisna.

“Sama siapa?” tanya Panca.

“Kan kita bertiga nih, memangnya ada yang merasa tidak kelihatan ya” tukas Puti.

“Ooo, bertiga itu maksudnya, salah sangka saya” balas Panca.

“Kok salah sangka? Emangnya kami bilang apa?” balas Tisna cepat.

“Kiraain, ada yang menunggu” jawab Panca.

“Menunggu siapa?” Tanya Puti heran

“Menunggu Uti” jawab Panca.

“Siapa? Siapa yang menunggu. Nggak ada. Nggak ada kok” jawab Puti.

“Kalau begitu. Biar saya saja yang menunggu, bolehkan” balas Panca.

“Jadi hanya Puti yang ditunggu ya, kalau begitu saya pulang dulu ya. Selamat ya Puti. Selamat bersenang senang” kata Tisna sambil berlalu.

Hari itu, untuk pertama kalinya dia jalan berdua dengan seorang pria. Memutar mengelilingi kampus sampai akhirnya menuju jalan utama menuju halte bis. Pengalaman pertama yang begitu mengesankan. Puti pun pulang dengan perasaan berbunga-bunga. Rasa yang tak dapat diungkapkan dengan kata-kata apapun. Kata orang, itulah rasa jatuh cinta, untuk pertama kali.

Masih jelas dalam ingatannya peristiwa itu, detail perjalanan. Hal-hal yang dibicarakan, juga getar-getar yang dirasakannya.

“Huuufffff” terdengar helaan nafas Puti mengingat semua itu.

Diapun mulai mengetik kata-kata ungkapan belasung kawa pada dinding Selocitous Boy yang sedari tadi dibukanya tapi begitu berat untuk menuliskan sesuatu.

“Kak Panca Ameh, beristirahatlah dengan tenang, maafkan kesalahan Puti ya, Semoga kau ditempatkan di tempat terbaik di sana” tulisnya tertahan.

Ketika hendak melanjutkan kalimatnya, tiba-tiba dia teringat.

Pada suatu siang, ketika mereka jalan berdua menuju gedung B, Panca berkata ”Mungkin aku tidak pantas menjadi orang yang istimewa buat Puti. Mereka yang selalu dekat Puti itulah yang pantas buat Puti.”

“Ada apa?” Puti bertanya lalu diam.

“Pokoknya, aku tak pantas, biarlah aku menjadi teman biasa saja” balas Panca sambil mengusap keringat dingin yang membasahi dahinya.

Puti diam seribu bahasa. Tidak mengerti apa salahnya. Tetap tersenyum dengan air mata yang jatuh ke dalam. Berjalan gontai, menuju halte bis, sambil berharap semuanya hanya mimpi atau paling tidak salah paham biasa. Besok pasti juga akan baik-baik saja. Oleh karenanya dengan berani Puti menolak tawaran Panca untuk mengantarnya pulang sore itu untuk pertama kalinya.

Namun, esok bukanlah seperti hari yang diharapkan. Panca perlahan mulai menjauh, paling tidak bersikap dingin. Sejak sore itu, Panca tidak pernah lagi menunggunya, di dekat gedung B di sore hari ketika kuliah berakhir. Ingin dia bertanya, tapi tidak berani karena selalu dijawab datar. Semakin lama terasa semakin jauh. Tinggalah perasaan itu terpendam dalam hati, bagai lautan tak bertepi.

Puti tetap memendam dalam hati selama bertahun-tahun. Bahkan sampai malam ini. Tidak mengerti apa yang terjadi. Pernah Puti berkeinginan untuk bertanya langsung, tapi akhirnya dibatalkannya. Dia ragu apakah Panca mau menanggapinya, menjawabnya. Itulah yang disesalinya, kenapa tak sekalipun pernah dapat penjelasan dari Panca yang telah sempat mengisi hatinya.

Biarpun hanya sebentar dekat dan tak pernah mendengar Panca menyatakan kata cinta, Puti merasa Panca telah membawa separuh lebih isi hati, rasa cinta dan perasaannya. Walaupun banyak yang dia dengar tentang Panca, tapi tak ada yang dapat diyakini kebenarannya.

Hanya satu yang mungkin, dan dapat dia terima. Beberapa orang dekat Panca pernah berujar Panca cemburu melihatnya berjalan dan dekat dengan kakak-kakak senior lainnya. Panca begitu cemas akan kehilangannya dan lebih memilih untuk tidak terlanjur menyukai Puti lebih dalam. Sehingga dia merasa tidak pantas mejadi teman dekatnya. Akhirnya menjauh. Semakin jauh. Walaupun sudah berpapasan dia tidak memperlihatkan rasa yang sama. Terkadang Puti selalu merasa diawasi Panca dari jauh. Namun lagi-lagi dia tak berani bertanya. Sudah menjadi keinginannya, suatu hari, dalam kondisi apapun, bertanya pada Panca, kenapa dia tiba-tiba mundur dan menjauh darinya.

“Ahh. Kenapa aku begitu larut memikirkannya. Itu kan masa lalu. Aku sudah bahagia sekarang. Aku punya hidupku sendiri. Aku punya karirku sendiri. Aku punya jalan hidup yang ku pilih sendiri. Biarlah semua itu, jadi mozaik kenangan masa lalu yang terlukis pada kanvas kehidupan” bisiknya dalam hati.

Akhirnya, Puti melanjutkan tulisan di dinding itu, “Tuhan ampunilah segala dosa-dosanya, jadikanlah dia sebagai orang yang beriman dan bertakwa di sisi Mu. Amiiin

Enter. Azan Subuh pun terdengar dari Musholla kompleks tempatnya tinggal. Pagi sudah datang, bersama pesan belasungkawa di dinding akun nama yang selalu dirindu.

(Parintang-rintang, 5 Desember 2014)

Advertisements
This entry was posted in Kisah dan Sajak. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s