TIDAK PERLU, GUBERNUR, BUPATI DAN WALIKOTA DI SUMATERA BARAT SAJIKAN SINGKONG

Parintang-rintang: Eits, jangan salah sangka dulu. Ini bukan larangan sebagai bentuk pembangkangan pada keinginan Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara. Ini hanyalah sebuah pemberitahuan bahwa, berdasarkan perkembangan yang ada, di Sumatera Barat orang tidak suka makan singkong, tetapi makan kapelo.

Singkong, yang dalam bahasa lain disebut ketela pohon, ubi batang, dalam bahasa Minang sering disebut kapelo atau belo. Singkong atau kapelo memang sekarang lagi trend. Apalagi sejak diberitakan secara luas di media masa dan di-share secara masif pada berbagai media sosial oleh para Jokowi lovers bahwa instansi Pemerintah wajib menyajikan singkong dalam berbagai acara dan pertemuan.

Sepertinya, kata seorang teman membayangkan, di meja tamu kantor pemerintah, dalam kotak kue yang dibagikan pada saat rapa,t akan selalu ditemukan singkong, sebagai penganan wajib. Singkong, yang dimaksudnya adalah singkong atau kapelo yang rebus atau bakar. Bila memang singkong dalam bentuk itu yang disajikan, benar kiranya, tidak perlu Gubernur, Bupati dan Walikota memerintahkan seluruh instansi Pemerintah di Sumatera Barat mulai 1 Desember menyajikan singkong atau kapelo sebagai penganan dalam berbagai acara dan kegiatan.

Satu hal yang patut diketahui bersama adalah, di kalangan masyarakat Sumatera Barat, hanya saat masih mentah dan selesai direbusla atau dibakar sajalah singkong atau kapelo ada dalam nama jenis makanan. Di luar itu, apapun jenis dan bentuknya, ada nama tersendiri. Disamping itu, menyajikan singkong atau kapelo dalam makna di atas dianggap sebagai sesuatu yang kurang kreatif.

Di Sumatera Barat, terdapat lebih dari dua puluh (20) jenis nama makanan yang terbuat dari singkong atau kapelo. Aneka makanan tersebut bukanlah barang langka yang susah dicari karena keterbatasan produksinya. Makanan tersebut diproduksi dalam jumlah yang sangat banyak, berton-ton banyaknya, melibatkan ratusan bahkan ribuan tenaga kerja dengan perputaran uang yang sangat besar.

Berikut ini daftar makanan yang terbuat dari singkong atau kapelo dengan nama tanpa kata singkong atau kapelo:

Kapelo dalam Aneka Bentuk

Kapelo dalam Aneka Bentuk

  1. Tumang, kapelo yang direbus lalu ditumbuk dan dicampur dengan gula merah atau saka
  2. Lapek Ganefo, lepat yang terbuat dari kapelo parut yang dikukus setelah dibungkus dengan daun dengan pisang dengan terlebih dahulu memasukkan campuran kelapa parut dan gula merah di dalamnya. Nama Ganefo barangkali diambil pada saat peristiwa Ganefo, lepat ini dibuat atau diperkenalkan.
  3. Cimuih atau Kacimuih, adalah kapelo serut yang dikukus dengan daun pandan pandan ditambah taburan sedikit gula dan kelapa serut di atasnya pada saat disajikan.
  4. Putu, adalah kapelo parut yang dikukus dengan terlebih dahulu menempelkannya pada tutup panci spesial dengan irisan daun pandan dan serutan gula merah. Di wilayah Kabupaten Agam Timur, Putu ini di jual dengan satuan roda. Putu sa roda, berarti putu yang masih utuh satu bulatan sebesar tutup panci dengan serutan kelapa di atasnya.
  5. Godok, adalah kapelo yang direbus direbus lalu dihaluskan dan dibulatkan untuk kemudian dicelupkan dalam adonan tepung untuk selanjutnya digoreng.
  6. Kue Badak, sejenis kroket yang terbuat dari singkong kapelo dengan memasukkan bumbu dan cabe giling kasar kasar di dalamnya.
  7. Tapai, adalah tape yang terbuat dari kapelo sebagai hasil fermentasi .
  8. Goreng Tapai, gorengan terbuat dari tapai yang dicelupkan kedalaman adonan tepung.
  9. Goreng Tongkang, kapelo yang dipotong sepanjang sepuluh sampai lima belas cm digoreng sampai empuk setelah sebelumnya dicelupkan ke dalam adonan tepung.
  10. Karupuak Sanjai, kata Sanjai mengacu kepada nama kampung dalam wilayang Kota Bukittinggi di Sumatera Barat. Dahulunya, daerah tersebut, merupakan daerah sentra produksi keripik dari kapelo yang diiris tipis lalu digoreng. Penamaan tersebut seiring dengan penerapan konsep one village one product yang sudah dikembangkan (mungkin) sejak zaman Kolonial Belanda bersamaan dengan penamaan Nasi Kapau, Tenung Kubang, Suji Koto Gadang, Sabit Alai, dll. Yang disebut karupuak sanjai adalah keripik yang rasanya tawar berwarna putih kekuning-kuningan diiris melintang sehingga berbentuk bulat setebal 1 mm.
  11. Sanjai Balado, adalah keripik yang diversifikasi produk Karupuak Sanjai. Sanjai Balado dibuat dengan mengaduk karupuak sanjai dengan minyak cabe ataupun dengan mengolesinya dengan sasu cabe kental. Dalam perkembangannya Sanjai balado ini tidak hanya yang berbentuk bulat tetapi juga yagn diiris memanjang setebal 1 cm selebar singkong dengan panjang kira-kira lima belas (15) cm.
  12. Karak Kaliang, adalah kerupuk yang dibuat seperti angka delapan. Keripik ini berbeda dengan Karupuak Sanjai karena terbuat dari adonan tepung kapelo dengan campuran kunyit untuk pewarna kuning yang dibulatkan seperti stick keju dan kemudian digoreng.
  13. Karupuak Bunta, adalah jenis kerupuk yang berbentuk bulat berwarna putih. Terbuat dari kapelo yang direbus lalu digiling atau dihancurkan sampai halus dan dicetak bulat dengan diameter lima (5) atau sepuluh(10) cm berbentuk bulat atau bunta dalam bahasa lokal. Hasil cetakan lalu dijemur, dan bila sudah kering siap untuk digoreng. Kerupuk ini di pasar sering disebut sebagai Karupuak Kamang, Karupuak Salo, Karupuak Padang Tarok atau Karupuak Piladang. Kata-kata dibelakang kata Karupuak mengindikasikan daerah sentra produksi kerupuk tersebut diproduksi.
  14. Karupuak Laweh, adalah sejenis kerupuk yang ukurannya cukup besar berbentuk bulat dan berwarna kekuning-kuningan. Kata laweh berarti luas karena ukurannya yang besar tersebut. Terbuat dari kapelo yang diserut, lalu ditempelkan pada tutup panci untuk dikukus, dan kemudian dijemur untuk dikeringkan. Bila sudah kering baru digoreng.
  15. Rubik, adalah kapelo yang direbus lalu diiris halus sampai ke sumbu dengan lebar sekitar 1 (satu) sampai satu setengah (1,5) cm. Setelah diiris tipis lalu dijemur dan baru bisa digoreng bila sudah kering.
  16. Karupuak Cancang, adalah kapelo yang dipotong dadu lalu digoreng. Kerupuk ini bisa dikonsumsi dalam rasa biasa maupun yang diberi rasa cabe.
  17. Karupuak Lento, adalah kerupuk yang dibuat dari adonan tebung kapelo yang ditipiskan berbentuk bulat atau oval, digoreng tanpa perlu dijemur atau dikeringkan
  18. Karupuak Katam, dibeberapa tempat disebut juga sebagai Karupuak Roda Gandiang, adalah serutan kapelo yang diberi bumbu dan kunyit agar gurih dan bewarna kekuning-kuningan, dengan cetakan sebesar kaleng susu dengan tinggi dua (2) cm. Digoreng langsung setelah dicetak. Nama Karupuak Katam mengacu pada proses penyerutan dengan menggunakan alat yang disebut katam, sedangkan nama roda gandiang, mengacu kepada bentuknya seperti roda yang bila disusun akan berbentuk seperti roda yang bergandengan.
  19. Kerupuk Padeh, adalah kerupuk yang dibuat dari tepung kapelo yang diberi adonan cabe yang sangat banyak sehingga terasa pedas. Setelah dicetak kerupuk ini dikeringkan dan selanjutnya digoreng.
  20. Karupuak Kinco, kata kinco dalam bahasa Minang berarti bahan tambahan atau bahan penyampur. Kerupuk ini adalah kapelo yang dipotong dadu dengan ukuran 1X1 cm yang digunakan sebagai bahan tambahan dalam masakan rendang. Dengan demikian, tentu akan terasa seperti rendang.
  21. Karupuak Lado, adalah kapelo yang diiris serong dan tipis, lalu digoreng dan diaduk dalam minyak cabe.

Dari 21 (dua puluh satu) jenis makanan di atas walaupun masih banyak lagi jenis makanan yang mungkin dapat ditambahkan dalam daftar tersebut, tidak ada satupun yang ada kata singkong kapelo-nya.

Dari daftar jenis makanan di atas, maka kita dapat mengelompokkannya atas beberapa hal, seperti: (1) waktu dan tempat makan, (2) tempat produksi, (3) tempat penjualan, dan (4) nilai ekonomis dari makanan tersebut.

A. Waktu dan tempat makan

  1. Tumang, Cimuih,dan Putu,dapat disajikan sebagai makanan selingan di rumah dan tidak berfungsi sebagai snack. Makan ketiganya selevel dengan makan ketan bagi orang Minang karena cukup mengenyangkan
  2. Godok, Lapek Ganefo, Kue Badak, Goreng Tapai, dan Gorang Tongkang, merupakan cemilan yang bisa dinikmati di pagi, sore atau malam hari. Sebagai cemilan, keempatnya dapat disajikan berdampingan dengan bakwan, tahu isi, pisang goreng, atau sukun goreng di warung atau kedai, maupun dimakan bersama sambil bercengkrama, diskusi atau menonton tv di rumah.
  3. Karupuak Sanjai, Sanjai Balado, dan Karak Kaliang dapat dimakan sebagai cemilan setiap saat. Sebelum dimakan, ketiganya seringkali dimasukkan ke dalam wadah berupa Kaleng kaca atau plastik. Sehingga sering kali kita lihat orang menonton tv sambil memeluk kaleng berisi ketiganya.
  4. Karupuak Bunta dan Karupuak Laweh adalah cemilan ringan yang dapat dimakan kapan saja. Paling enak dimakan bila diolesi kuah sate atau dimakan diberi kuah sate dengan ditambahkan mihun di atasnya.
  5. Rubik, Karupuak Katam, karupuak padeh, dan karupuak lado selain sebagai kudapan, biasanya dimakan pada saat makan nasi, makan sate,makan katupek, makan lontong, makan pical, makan miso atau bakso dengan cara mencampurkannya langsung .
  6. Karupuak Cancang dan Karupuak Lento, biasa dimakan sebagai kudapan biasa sebagai selingan kapan dan dimana saja.
  7. Tapai, sangat jarang dimakan begitu saja. Tapai merupakan bahan tambahan ketika menikmati Bubur Kampiun (campuran aneka bubur, kolak, sari kaya, dan ketan) Kolak pisang, maupun es tebak.
  8. Karupuak Kinco, sering kali dapat dinikmati bila sendang makan Nasi Kapau karena walaupun tidak memesan rendang sebagai lauk utama, penjual Nasi Kapau biasanya menambahkan karupuak kinco rendang pada nasi yang dipesan.

B. Tempat Produksi

  1. Tumang, Cimuih, Putu, Tapai, Kue Badak, dan Lapek Ganefo adalah makanan produksi rumahan dan sering kali dibuat sebagai pekerjaan sambilan.
  2. Godok, Goreng Tapai, Goreng Tongkang diproduksi pada warung sederhana yang sering kali ditemukan di pinggir jalan.
  3. Karupuak Sanjai, Sanjai Balado, Karak Kaliang, Karupuak Bunta, Karupuak Laweh, Karupuak Cancang, Karupuak Lento, Karupuak Padeh, Karupuak Katam,Karupuak Kinco, karupuak Lado, dan rubik adalah produk industri rumah tangga (IRT) yang diproduksi dalam jumlah banyak dengan mempekerjakan 3 sampai dengan 5 orang pekerja pada sebuah pabrik sederhana yang sering kali disebut bengkel, dapur atau tungku.

 C. Tempat Penjualan

  1. Tumang, Cimuih, Putu, Tapai, Kue Badak, dan Lapek Ganefo sering dijajakan atau dijual dipasar-pasar tradisional.
  2. Godok, Goreng Tapai, Goreng Tongkang dijual pada warung-warung minuman, gerobak gorengan di pinggir jalan atau dijajakan keliling kampung atau kompleks.
  3. Karupuak Sanjai, Sanjai Balado, Karak Kaliang, Karupuak Cancang, Karupuak Lento, Karupuak Padeh, Karupuak Katam, Karupuak Kinco, dan karupuak Lado selain dijual eceran di pasar-pasar tradisional juga dijual pada outlet-outlet khusus dengan nama Sanjai “X“. Makanan ini dijual setelah dikemas dengan cantik dan dipacking dengan cukup baik dan menarik.
  4. Karupuak Bunta, Karupuak Laweh sering dijual dalam bentuk mentah (belum digoreng), dan karupuak yang siap untuk dimakan sering kali djiual di pasar tradisional. Biasanya di bawa dengan menggunakan ketiding besar dengan ribuan buah kerupuk tersusun di dalamnya.

D. Nilai ekonomis

Dengan mengacu pada tempat produksi, tempat penjualan, maka dapat disimpulkan bahwa makanan yang diproduksi oleh industri rumah tangga dan dijual pada outlet khusus memiliki nilai ekonomis yang lebih tinggi dibandingkan dengan yang diproduksi secara rumahan dan bersifat sebagai pekerjaan sambilan untuk menambah penghasilan. Faktor Economis of scale, kemasan dan variasi produk menyebabkan nilai tambah produk yang dihasilkan akan semakin tinggi.

Tidak sulit untuk menemukan makanan tersebut. Bila, anda, sekarang ini ada di Bandara Internasional Minangkabau (BIM), akan sangat mudah bagi anda menemukan jenis makanan terbuat dari kapelo. Tidak hanya itu, anda juga dapat dengan mudah menemukan orang yang maeneteng kapelo tersebut di bandara, dikemas dengan apik dan dipacking baik sehingga tidak mudah pecah dalam bentuk Oleh-Oleh Khas Minang. Bila dua puluh persen saja penumpang pesawat membawa oleh-oleh tersebut, dengan rata-rata membawa 2 kg, maka setiap hari lebih dari 1 ton singkong diterbangkan keluar Sumatera Barat ke berbagai kota di Indonesia bahkan manca negara.

Itu baru yang dibawa keluar Sumatera Barat, lewat Bandara. Lebih lima kali lipat dari jumlah itu mungkin dibawa dengan menggunakan jalur darat. Sangat mudah menemukan kapelo dalam bentuk oleh-oleh khas Minang. Di Padang, terdapat outlet-oultet penyedia oleh-oleh berbahan dasar kapelo tersebut yang dikelola dengan professional dan dikemas dengan baik dan menarik. Bila anda pernah melakukan perjalanan darat dari Padang – Padang Panjang – Bukittinggi – Payakumbuh terus ke Pekanbaru. Sangat gampang bagi anda menemukannya. Lima Kilometer sebelum memasuki Kota Bukittinggi, tepatnya sejak dari Nagari Cingkariang Kecamatan Banuhampu Kabupaten Agam kiri dan kanan jalan akan mudah dijumpai tulisan Sanjai “X“ yang menjual oleh-oleh yang dari terbuat dari kapelo tersebut. Barisan Outlet tersebut mencapai jarak lebih dari 50 (lima puluh) kilometer. Tempat terakhir, outlet Sanjai “X“ tersebut terakhir berada pada kawasan Lubuk Bangku, Jorong Aia Putiah Nagari Sarilamak Kecamatan Harau Kabupaten Lima Puluh Kota beberapa menit sebelum anda menikmati indahnya perjalanan melewati Jembatan Layang Kelok Sembilan. Tidak hanya pada jalur tersebut, hampir pada setiap pemberhentian bus keluar Sumatera Barat terdapat outlet Sanjai “X“. Dengan demikian, dapat dibayangkan berapa banyak kapelo yang dikirim keluar Sumatera Barat setiap harinya.

Selain dikirim keluar Sumatera Barat, aneka makanan tersebut juga dikonsumsi sebagai makanan sehari-hari dalam bentuk yang beragam, dijual pada kedai kopi, gerobak gorengan, dijajakan keliling kampung atau kompleks dan tentunya pasar tradisional.

Kembali kepada kapelo atau singkong, yang disajikan dengan masih mengandung kata kapelo atau singkong didalamnya, bila disajikan seperti itu saja maka nilai ekonomisnya sangat kecil. Bila saat ini, pada tingkat petani satu kg kapelo atau singkong dihargai Rp. 1.500,- s/d Rp. 2.000,-, maka dengan menyajikan kapelo atau singkong rebus maka nilainya paling tinggi Rp. 5.000,- perkg-nya. Bandingkan dengan makanan seperti disebutkan di atas. Karupuak lado, misalnya, 1 kg nya sekarang Rp. 35.000,-, Sanjai Balado satu kilonya Rp. 50.000,- atau lapek ganefo yang satu buah beratnya hanya 50 gram dan dijual paling murah seribu rupiah.

Sepertinya, kata singkong atau kapelo yang dimaksud Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi tersebut, bukanlah singkong atau kapelo dalam arti harfiah, tetapi produk pangan (makanan) lokal. Akan tetapi, terkait pencitraan, agar menjadi bombastis (atau tidak mengetahui terminologinya?) disebutkan singkong atau kapelo harus disajikan sebagai menu kudapan pada instansi pemerintah.

Disinilah permasalahannya. Bila benar singkong atau kapelo, maka akan terjadi peningkatan permintaan singkong di seluruh Indonesia. Di Sumatera Barat saja, khususnya di Bukittinggi dan wilayah Agam Timur, untuk mendapatkan singkong saja pedagang pengumpul harus indent ke petani. Jauh hari sebelum singkong di panen sudah diadakan penawaran tanpa mengijon dengan harga sesuai harga pasar saat itu. Sebagai bukti, datanglah ke Pasar Banto di Kota Bukittinggi pukul lima pagi, setiap karung singkong yang diturunkan dari mobil sudah ada peruntukan untuk siapanya. Berapapun yang dibawa pasti laku, dengan harga menggunakan mekanisme harga pasar. Contoh lain, Kabupaten Lima Puluh Kota, di Sumatera Barat, berdasarkan data Kabupaten Lima Puluh Kota Dalam Angka, pada tahun 2012 menghasilkan 496,12 ton singkong. Produksi tersebut tidak mampu memenuhi kebutuhan industri makanan berbasis singkong di Kota Payakumbuh dan Kabupaten Lima Puluh Kota. Sering kali industri yang memasarkan produknya ke sekitar Kota Bukittinggi dan Padang tersebut membeli ke kabupaten-kabupaten lain di Sumatera Barat bahkan dari Provinsi Riau. Tingginya kebutuhan tersebut menyebabkan harga singkong tidak pernah jatuh sehingga merugikan petani.

Jangan-jangan ini hanya akal-akalan. Dengan menjadikan singkong atau kapelo sebagai trend terpimpin, karena di seluruh Indonesia harus menyajikan singkong atau kapelo, akan terjadi kelangkaan singkong atau kapelo mentah akibat meningkatnya. Konsekwensinya, harus segera dikeluarkan kebijakan impor dengan membuk akran impor singkong atau kapelo dari dari Thailand atau Vietnam. Kalau benar itu terjadi, terbuka celah untuk menjadi Singkong atau kapelo Impor serasa Sapi Australia.

Namun demikian, saya tetap berkeyakinan, yang dimaksud sang Menteri adalah produk pangan (makanan) lokal. Bila benar maksudnya produk makanan lokal maka saya sangat setuju. Hal ini sejalan konsep Pemberdayaan Ekonomi Lokal dan Daerah (PELD) h beberapa tahun terakhir ini diinisiasi oleh Pemerintah Pusat dibawah koordinasi Badan PErencanaan Pembangunan Nasional (Bapppenas). Sebagai seseorang yang pernah ditraining dan dilatih menjadi Trainer of Trainer untuk program Local and Regional Economic Development (LRED) yang dibiayai oleh lembaga donor, dalam rangka kemandirian ekonomi lokal dan regional sebagai penunjang konsep desentralisasi atau otonomi daerah, saya sangat mendukung.

PELD atau LRED adalah sebuah konsep pemberdayaan ekonomi lokal (kabupaten/kota) dan regional (gabungan beberapa kabupaten/kota) melalui pemanfaatan sumber daya lokal dengan meningkatkan permintaan produk lokal serta menumbuhkembangkan wirausaha baru (startup company). Penyajian singkong oleh instansi pemerintah, dalam sistem ekonomi, merupakan peningkatan belanja pemerintah untuk belanja produk berbahan dasar singkong. Peningkatan belanja ini berdampak ganda pada perkembangan wirausaha baru. Pada satu sisi, akan melahirkan wirausahawan yang kreatif dan inovatif karena meningkatnya permintaan dan persaingan. Di sisi lain akan memperkenalkan produk lokal tersebut kepada masyarakat sekitar dan para tamu yang datang ke daerah tersebut. Konsep ini dipercaya lebih efektif dibanding sekadar memberikan bantuan alat, modal pada wirausaha baru yang belum ada pasarnya.

Konsep ini, menurut saya, adalah system ekonomi kerakyatan dalam kerangka desentralisasi atau otonomi daerah. Konsep ini hanya dapat diterapkan pada produk lokal dengan ketersediaan bahan baku yang melimpah dan mudah di dapat, sudah dikembangkan sejak lama serta mencerminkan budaya lokal. Misalnya, pengembangan rendang telur di Kabupaten Lima Puluh Kota dan Payakumbuh, Pengembangan minuman Kawa Daun di Kabupaten Lima Puluh Kota atau Tanah Datar, pengembangan makanan berbasis coklat di Padang Pariaman dan Payakumbuh, pemakaian Tenunan Kubang atau Silungkang oleh Pemerintah Daerah Sumatera Barat pada setiap hari Kams, Pemakaian baju muslim sulaman, suji atau terawang pada setiap hari Jum’at. Atau juga pemakaian tinta berbahan dasar Gambir pada setiap pada Pemilihan Umum (Pemilu) di Sumatera Barat bahkan Indonesia, untuk setiap kali pemilihan baik pemilihan Kepala Desa, Wali Nagari, Bupati, Walikota, Gubernur, anggota legislatif dan Presiden. Bila hal ini dapat diwujudkan, konsep Tri Sakti dengan pilar kemadirian ekonomi dapat diwujudkan. Seharusnya, Pemerintah sekarang ini tinggal melanjutkan konsep yang sudah disosialisasikan tersebut dan menggunakan para Jokowi lovers untuk memblow-up nya di dunia maya.

Kembali kepada pernyataan “Tidak perlu, Gubernur, Bupati Walikkota di Sumatera Barat Sajikan Singkong”, sekali lagi memang tidak perlu seluruh mereka menyajikannya. Cukup Walikota Bukittinggi, Bupati Agam, atau Gubernur Sumatera Barat saja yang menyajikannya. Kepala daerah lain, dapat menyajikan makanan lain, seperti Bupati tanah datar yang menyajikan lamang tapai, Walikota Payakumbuh menyajikan galamai dan bareh randang, Bupati Padang Pariaman menyajikan Sala Lauak, Bupati Solok menyajikan buah markisa dan Lamang Pisang. Intinya, semua penganan yang disajikan tidak atau meminimalkan makanan berbahan dasar gandum atau kedelai, yang diimpor. Bila memang hendak memberi singkong atau kapelo pada tamu daerah, tidak perlu repot-repot, cukup datangi saja “Sanjai X”. Ribuan kilogram singkong atau kapelo siap untuk diterbangkan dan diangkut untuk dimakan diluar Sumatera Barat dengan rasa bangga yang tinggi bukan gengsi.

Akhirnya, saya membayangkan rapat hari ini, minuman hangatnya terdiri jenis, Kopi Bukik Apik dan Teh “Sabai” Kawa Daun dengan makanan kecilnya cimuih dalam kemasannya dan kue badak, serta sebuah Jeruk Siam Gunuang Omeh, dengan diawali pengumuman dari pembawa acara “eat lah Kapelo, Sir, Madam”.

Wassalam

(Kubang Gajah, 30 November 2014)

 

Advertisements
This entry was posted in Oud Comodity, Politik dan Kekuasaan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s