TUKANG URIAK

Uriak, mungkin tidak banyak yang mengetahui makhluk apakah itu.
Uriak adalah sebuah alat. Alat yang digunakan untuk mancukia (mengeluarkan) ubi jalar yang dalam bahasa lain disebut kapelo/pelo/telo/ dari tanah. Uriak terbuat dari kayu segenggaman, yang diruncingkan didepannya. Bila sudah cukup umur petani mulai memanen ubi di ladang. Caranya adalah dengan menusuk-nusuk tanah tempat ubi tumbuh. Tujuannya adalah untuk mengetahui apakah ada ubi di bawahnya. Bila ada, ubi jalar tersebut lalu dicoba untuk dikeluarkan dengan mencongkelnya dari dalam tanah. Orang yang mengerjakannya disebut tukang uriak. Satu hal yang pasti tukang uriak ini tidak pernah menguriak kakinya sendiri.

Dalam mengeluarkan ubi tersebut yang sering disebut dengan menguriak, ada beberapa kemungkinan. Ada kalanya juga ubi yang diangkat adalah ubi yang sudah besar dan cukup umur. Namun demikian tidak jarang permasalahan yang diangkat tersebut bernasib seperti ubi. Banyak yang persoalan yang diangkat tersebut batal dilaksanakan karena terluka atau pecah akibat diangkat secara membabi buta.

Memang, pekerjaan tukang uriak yang kelihatannya mudah ini bak pekerjaan seorang pengamat pada acara talkshow di radio, tv atau media sosial. Namun seperti halnya tukang uriak tidak setiap orang dapat melakukannya. Hanya mereka yang memiliki pengalaman tentang hal yang dibahas serta memiliki latar belakang pengetahuan yang cukup, seperti halnya petani yang terlatih menjadi tukang uriak, yang dapat menjadi nara sumber untuk digali atau diuriak .

Namun apa yang terjadi sekarang, dimana-mana muncul orang-orang dengan profesi pengamat dadakan. Layaknya petani yang bukan tukang uriak bukan ubi yang sudah besar yang dicongkel. Akibatnya sering kali dalam talkshow yang digali adalah aib, permasalahan yang tidak substansial yang diperdebatkan. Dalam hal ini, karena platform dan afiliasi media.

Seperti halnya pekerjaan tukang uriak terlalu banyak hal yang tidak perlu yang dicongkel (diuriaknya). Sepertinya fenomena ini menjadi jargon “Nan penting diuriak”, karena uriak dapat dibuat oleh siapa saja.

Pendek kata, fenomena tukang uriak memang sedang semarak sekarang. Dalihnya adalah mencari kebenaran. Tidak tau kebenaran apa. Mungkin kebenaran berdasarkan intuisi belaka bahwa di bawah tanah itu ada kapelo. Kalau tidak ada, diuriak di tempat lain. Tidak ada punishment bagi tukang uriak yang seperti ini. Karena tukang uriak dianggap hebat, bisa mengeluarkan kapelo yang tertutup tanah. Begitu juga pengamat.

Masih lamakah keberadaan tukang uriak seperti ini.

(Parintang-rintang, 3 Februari 2010)

Advertisements
This entry was posted in Politik dan Kekuasaan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s