2010: THE GLORY OF POLITICS THE FALL OF ECONOMICS

Hasil paripurna DPR tanggal 2-3 Maret 2010 telah dikeluarkan dan sudah diketahui banyak orang. Kesimpulannya adalah Boediono dan Sri Mulyani adalah orang yang paling bertanggung jawab terhadap “kesalahan” penanganan kasus century sebagai upaya pencegahan dampak sistemik krisis ekonomi global yang terjadi pada tahun 2008.

Bila dicermati dengan seksama setiap kali ada krisis selalu terjadi pertarungan antara dua dimensi: politik dan ekonomi.Dengan kata lain krisis ekonomi merupakan pertarungan antara politcs vs economics.

Dimulai dari krisis moneter, yang berujung kepada krisis ekonomi dan politik tahun 1998, setidaknya sudah 3 kali Indonesia menghadapi krisis yang nyaris serupa tapi tidak sebangun: krisis moneter 1998, krisis energi 2005, dan krisis ekonomi global 2008.

Krisis yang pertama

Krisis moneter yang terjadi pada tahun 1998 menyebabkan berbagai lembaga keuangan dan perbankan kolaps. Krisis ini menyebabkan terjadinya kirisis politik yang berujung pada lahirnya orde reformasi. Krisis ini telah merubah rezim politik yang telah lama membelenggu Indonesia di bawah orde baru.

Bila mengacu kepada apa yang terjadi pada tahun 1998 krisis yang terjadi telah merubah berbagai sendi kehidupan bernegara. Dampak krisis 1998 tersebut menyebabkan kehancuran ekonomi dan merubah tatanan politics. Peranan negara dalam ekonomi dikurangi. Masalah moneter sepenuhnya diserahkan kepada BI sebagai regulator, pemerintah hanya bermain pada tatanan kebijakan fiskal. Dari sisi politik, sistem sentralistik yang telah mengakar sejak zaman orde baru berganti dengan sistem desentralistik.

Kesimpulan yang dapat diambil dari krisis 1998 adalah: the fall of economics; the glory of politics.

Krisis kedua

Krisis energi tahun 2005 menyebabkan terjadinya pembengkakan subsidi bahan bakar minyak. Harga BBM internasional yang mencapai angka US$.140/barrel membuat pemerintahan kelimpungan dalam menutup subsidi BBM. Kebijakan yang diambil untuk mengatasi krisis energi ini adalah dengan mengurangi subisidi melalui mekanisme meyesuaikan harga BBM dalam negeri dengan harga pasar dan konversi minyak tanah ke BBM.
Rakyat marah, pengusaha gundah dan DPR buncah. Berbagai demo digalang untuk mendelegitimasi kebijakan yang dianggap tidak pro rakyat itu. DPR sebagai wakil rakyat segera menyiapkan berbagai langkah untuk menanggapi keputusan pemerintah tersebut. Hak angket disiapkan, namun tidak mampu menembus logika seluruh anggota dewan. Hak angket gagal.

Singkat kata, krisis energi tahun 2005 membuat situasi kebijakan ekonomi yang besandar pada ilmu ekonomi mampu mengalahkan nafsu politik dengan kata lain, krisis eenergy 2005 ini menghasilkan the glory of economics; the fall of politics.

Krisis ketiga
Krisis ketiga adalah krisis ekonomi global yang telah menghancurkan sendi-sendi ekonomi Amerika dan uni Eropa. Banyak perusahan bankrut dan bank pun tutup. Pasar saham ambruk, rakyat pengutang di menjerit. Pada kuartal kedua tahun 2008, krisis tersebut mendekati Indonesia, semua berteiak perlu adanyan tidakan nyata pemerintah mengantispasi dampak dari krisis ekonomi global tersebut. rekasi Pemerintah bereaksi cepat. Pengalaman krisis ekonomi 2005 tersebut membuat pemerintah PD. Kebijakan dibuat. Salah satunya adalah dengan membailout bank Century. Krisis berlalu. Perekonomian Indonesia selamat.

Pada tahun 2010, kebijakan bail out ini dipertanyakan. Hak angket digalang, Pansus dibuat. Hasilnya, kebijakan bail out dvonis salah. Walaupun mungkin kebijakan untuk mengurangi dampak krisis dari sis ekonomi tidak sepenuhnya salah, namun dari sisi politik, hasilnya sudah nyata. Kebijakan tersebut salah. Implikasi logis dari dampak krisis ekonomi global tahun 2008 terhadap pertarungan antara politik dan ekonomi adalah: the glory of politics; the fall of economics.

Dengan demikian, skor sementara untuk pertarungan antara politics and economics adalah 2:1. Bila kita mengacu apa yang selalu disampaikan oleh politisi menyikapi kasus Century, maka biarkan sajalh pertarungan itu seperti air yang mengalir. Namun, bila kita mengacu pada fundamental ilmu ekonomi, berdasarkan tren yang ada, maka proyeksi selanjutnya sudah bisa diperkirakan. Politiks yang menyelamatkan muka wakil rakyat; atau ekonomi yang menyelamatkan perut rakyat akan terus berduel. Entah sampai kapan.

(Parintang-rintang, 5 Maret 2010)

Advertisements
This entry was posted in Politik dan Kekuasaan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s