KURIKULUM 2013 DAN REVOLUSI MENTAL

PARINTANG-RINTANG: Salam. Selamat Hari Guru.

Walaupun sering kali dipanggil Pak Guru, sejatinya saya tak pernah menjadi guru di sekolah manapun (dalam arti jadi guru kelas, guru Bimbingan dan Konseling, atau guru bidang studi). Panggilan guru diterima pada sekitar delapan belas tahun yang lalu ketika masih menjadi mahasiswa IKIP Padang. Kini, panggilan itu sudah sangat jarang didenganr walaupun pada beberapa tempat dan kesempatan masih dipanggil Pak guru.

Oleh karenanya, ketika beberapa waktu lalu sangat ramai diperdebatkan tentang Kurikulum 2013, saya tidak tertarik untuk ikut campur dan beropini dalam perdebatan tersebut. Namun demikian saya juga tak dapat mengindahkan begitu saja wacana yang berkembang. Dengan kata lain, saya mencoba menjadi pendengar dan penyimak yang baik dari setiap wacana yang muncul.

Kini, ketika di media sosial ramai muncul wacana peninjauan ulang pelaksanaan Kurikulum 2013, yang dimulai oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah dan Kebudayaan, saya tergelitik untuk ikut serta. Kritik dan (bahkan) hujatan terhadap Kurikulum 2013 ini sekarang meluncur liar bak bola salju. Semakin lama semakin besar. Hal ini tentunya tidak sehat. Kondisinya persis seperti perdebatan tentang kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Yang setuju, tidak berani bersuara lantang walau memiliki alasan yang mungkin sangat masuk akal. Yang menolak, bersuara lantang walaupun terkadang alasan yang diberikan sumbang dan ikut-ikutan. Bedanya, satu didukung pemerintah satu lagi dipromotori oleh pemerintah untuk ditolak.

Entah karena ingin berbagi dalam rangka memperingati hari guru, yang memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan kurikulum 2013, atau karena ingin bola salju itu semakin liar, saya mencoba berbagi pendapat tentang implementasi kurikulum 2013 dalam kaitannya dengan Revolusi Mental yang didengung-dengungkan Presiden Jokowi dalam kampanyenya beberapa waktu yang lalu.

Ada beberapa alasan mengapa saya berani menulis ini. Pertama, pengalaman tekait dengan manajemen sumber daya manusia pendidikan termasuk guru. Kedua, pengamalan menarik mengikuti acara pembagian rapor belajar tengah semester anak di sebuah madrasah. Yang terakhir, diskusi singkat memahami rapor tengah semester tersebut.

Walaupun tidak pernah menjadi guru, saya punya bekal pengalaman menjadi instruktur lembaga kursus selama lebih dari lima tahun. Meskipun tidak sama, pengalaman tersebut dapat menjadi pertimbangan dalam menganalisis permasalahan ini. Disamping itu, pengalaman dan interaksi selama menjadi pengajar beberapa mata kuliah pada beberapa perguruan tinggi swasta sejak tahun 1998 dapat menjadi referensi serta dapat menambah pemahaman saya tentang apa sebenarnya yang dikhawatirkan oleh berbagai pihak terkait kurikulum 2013 tersebut. Saya yakin, mahasiswa yang dulu saya ajar sekarang sudah menjadi guru pada berbagai sekolah tersebar di Sumatera Barat, mulai dari Kabupaten dan Kota Solok, Kabupaten Solok Selatan, Kabupaten Sijunjung, Kabupaten Darmasraya, Kota Sawahlunto, Kabupaten Padang Pariaman, Kota Pariaman, Kabupaten Lima Puluh Kota, Kota Payakumbuh, Kabupaten Agam, Kota Bukittinggi, dan bahkan pada beberapa kabupaten/ kota di Riau dan Jambi. Pengalaman tersebut diperkaya dengan pengalaman menjadi menejer internal (Sekretaris) pada kantor Dinas Pendidikan serta menjadi aparat yang melakukan pemeriksaan (auditor) pada lembaga pendidikan. Semua ini dapat memperkaya khazanah berpikir tentang apa, siapa dan bagaimana profesi guru itu sebenarnya dan kenapa banyak yang begitu resisten dengan kurikulum 2013.

Tidak dapat dipungkiri, bahwa perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi informasi dan media sosial sangat berpengaruh dan telah menyentuh berbagai aspek kehidupan. Dulu, jargonnya adalah sepandai-pandainya murid, guru jauh lebih pandai karena mereka lebih dulu belajar dan mendapatkan informasi dari sang murid. Tapi kini, zaman berubah. Sering kali, karena kecanggihan teknologi informasi, murid lebih dulu tau dari guru. Akibatnya sering timbul situasi dimana guru tidak siap untuk menjawab pertanyaan murid. Kondisi ini diperparah lagi dengan kurangnya dasar-dasar pengetahuan yang dimiliki oleh sang guru. Mengajar hanya berbekal catatan yang diberikan dosen ada waktu kuliah. Kuliahpun sering bersifat borongan tanpa ada tugas dan feedback yang seharusnya sebagaimana dimaksud sistem SKS.

Kondisi inilah salah satu penyebab munculnya resistensi dan penolakan terhadap Kurikulum 2013 yang menuntut peran aktif guru dalam bentuk penyiapan media, alat evaluasi, dan journal proses belajar mengajar. Keharusan untuk mempelajari hal yang baru dengan segala persiapannya menyebabkan kurikulum 2013 itu dipandang sebagai sesuatu yang rumit dan menyusahkan. Lebih baik menggunakan kurikulum sebelumnya, yang tinggal copy paste saja, bahan ajar dapat disiapkan. Tanpa membawa mediapun pengajaran dapat dilaksanakan.

Pengalaman menarik yang sesungguhnya adalah pada saat mengikuti pembagian rapor tengah semester beberapa waktu yang lalu. Dimulai dengan permintaan maaf kepala madrasah tentang lambatnya pembagian rapor tengah semester siswa kelas VII dikarenakan pembagian rapor kali ini berbeda dengan pembagian rapor sebelumnya acara pertemuan antara pihak sekolah dan orang tua siswa dimulai. Pemakaian kurikulum 2013 pada tingkat madrasah yang berada di bawah Kementrian Agama baru tahun ini dilaksanakan dan hanya untuk kelas VII dan belum untuk kelas VIII sebagaimana pada sekolah lainnya merupakan inti dari pertemuan tersebut.

Selanjutnya juga disampaikan bahwa kondisi ini tentunya membuat gamang para guru dan wali kelas yang mengajar di kelas tersebut sehingga perlu waktu dan diskusi yang cukup panjang untuk menuntaskan rapor tengah semester dimaksud. Kemudian kepala sekolah juga menyatakan bahwa tidak seperti pada kelas VIII dan IX atau rapor pada tahun-tahun sebelumnya.

“Kini rapor yang akan diterima tidak lagi berisi angka atau nilai ujian dalam bentuk 7, 8, atau 9, tetapi terdiri dari tiga aspek laporan yang masing masingnya berisi beragam informasi, yaitu: Aspek Pengetahuan, Aspek Keterampilan, dan Aspek Sikap. Setiap aspek berisi nilai kuantitatif, nilai kualitatif dan deskripsi capaian hasil belajar dari masing-masing mata pelajaran. Karena baru pertama kali, dan terbatasnya pengetahuan dan pengalaman guru terkait apa yang harus dilaksanakan untuk mendapatkan ketiga nilai tersebut maka untuk rapor tengah semester ini masih belum sempurna walaupun sudah mendekati hal yang diinginkan oleh Kurikulum 2013. Seperti yang dijanjikan, pada saat penyerahan rapor semester semua nilai yang dibutuhkan seperti yang disyaratkan dalam kurikuum 2013 sudah dapat dipenuhi. “ begitu kepala madrasah mengakhiri sambutannya.

UTS rapor

Gambar di atas adalah rapor tengah semester yang dikeluarkan madrasah tersebut. Sebagaimana yang disampaikan kepala sekolah masih terdapat nilai yang kosong. Kekosongan tersebut disebabkan oleh terjadi kesalahanpahamn guru dalam menyusun program sehingga nilai yang seharusnya ada belum dapat dimasukkan dalam rapor tengan semester ini. Perbaikan dan penyempurnaan akan dilakukan pada saat penyerahan rapor akhir semester. Kekurangan tersebut tidak mengurangi arti dari pelaksanaan kurikulum 2013 di Madrasah tersebut karena grand designnya sudah jelas dan dapat dipahami

Ketika giliran wakil kepala sekolah bidang kurikulum menyampaikan lebih detail tentang isi rapor yang akan diserahkan, ada seorang wali murid atau orang tua siswa yang bertanya.

“Buk sepengetahuan kami, rapor ini tidak ada rangkingnya. Kami pernah mendapatkan sosialisasi tentang kurikulum 2013. Hal ini tentunya akan membuat orang tua susah mengetahui sejauh mana kemajuan anak selama bersekolah. Demikian juga dengan tidak adanya rangking. Rangking yang diperoleh anak tentu saja akan yang menjadi kebanggaan orang tua. Disampinng itu juga menjadi pembanding hasil yang diperoleh anak dengan temannya di sekolah. Seharusnya Kurikulum 2013 ini tidak perlu dilaksanakan.” kata bapak tersebut bersemangat.

Dengan tenang lalu dijelaskan, bahwa karena menyangkut tiga aspek penilaian, maka memang tidak dapat disusun rangking yang komprehensif. Terkait dengan pencapaian tentang hasil belajar anak, pada aspek pengetahuan dapat diketahui pencapaian dan prestasi anak, baik dalam pegerjaan tugas-tugas, ulangan harian, maupun ujian tengah semester. Namun tidak dibuatkan total nilai maupun reratanya secara keseluruhan.

Lalu, dengan nada yang sedikit meninggi, wakil kepala sekolah tersebut menambahkan bahwa dalam rapor ini juga digambarkan bagaimana capaian anak dari sisi keterampilan yang biasanya berupa tugas yang dikerjakan anak sebagai sebuah proyek di rumah, serta bagaimana anak bersikap di sekolah yang sebelumnya tidak pernah dilaporkan. Akhirnya, dia menegaskan lagi bahwa rapor ini sebenarnya merupakan gambaran kolaborasi antara sekolah, peserta didik dan orang tua dalam mendidik anak. Semua lalu diam menunggu pembagian rapor yang sebenarnya di kelas masing-masing anak.

Setelah rapor diterima, dan sekilas dibaca, walau masih juga ada keraguan di hati tentang apa yang tadi di dengar di sekolah, muncul rasa optimis tentang mau kemana anak-anak kita dibawa dengan kurikulum 2013 tersebut. Selembar kertas yang diterima tersebut sekilas mirip lembaran hasil studi yang dulu diterima setiap semester ketika kuliah S1. Namun informasi yang diterima sangat berbeda. Informasi yang diterima jauh lebih lengkap. Bagaimana tidak, selain dapat melihat berapa rerata nilai ulangan harian beserta rerata nilai tugas anak di sekolah, terpampang juga nilai murni ujian tengah semesternya. Tak ada rekayasa, apa adanya. Selanjutnya pada aspek tersebut dapat dilihat nilai kualititatif dalam bentuk huruf A, B, C, dan D yang merupakan kalkulasi komprehensif dari tiga nilai yang disebutkan di atas. Nilai tersebut kemudian dberi deskripsi dengan bunyi seperti Kompetensi Pengetahuan Rerata Sangat Baik untuk nilai A, atau Kompetensi Pengetahuan Rerata Baik untuk nilai B.

Beranjak pada kolom yang ada pada aspek keterampilan. Walau terdapat jumlah kolom yang sama, dengan jumlah kolom pada aspek pengetahuan, kolom yang tersedia terdiri dari nilai rerata ulangan keterampilan, rerata nilai pengerjaan proyek, dan rerata nilai porto folio keterampilan yang dihasilkan. Dua kolom selanjutnya sama dengan yang ada pada aspek pengetahuan yakni nilai kualitatif dan deskripsinya. Dari nilai keterampilan tesebut sebagai orang tua kita dapat melihat apakah anak kita di sekolah maupun di rumah telah mengerjakan proyek dan tugas yang diberikan oleh gurunya. Apakah anak sudah mengumpulkan seluruh tugas yang diberikan yang sering juga diukur dengan ketepatan waktu pengumpulannya. Dan seterusnya dan seterusnya. Dari nilai yang tergambar tersebut selanjutnya menjadi tugas orang tua untuk mengontrol, mengingatkan dan membibing anaknya supaya menguasai keterampilan yang diajarkan di sekolah.

Kolom terakhir, aspek sikap, menggambarkan bagaimana seorang anak bersosialisasi dalam lingkungan sekolahnya. Ada nilai observasi yang diberikan oleh guru menyangkut sikap anak dalam kaitannya dengan setiap mata pelajaran yang ada. Demikian juga dengan penilaian anak terhadap mata pelajaran yang diterimanya melalui penilaian terhadap diri sendiri. Tidak ketinggalan tentunya tentang penilaian teman terhadap kemampuan anak melalui penialain antar teman. Gambaran apa yang diperoleh orang tua terhadap sikap anak terhadap suatu mata pelajaran bila guru dan teman sekelasnya memberikan nilai yang tinggi misalnya 4 sementara dia sendiri memberi nilai yang jelek 1. Orang tua dapat mengidentifikasi ada rasa tidak percaya diri dalam diri anaknya.

Dari sini saya mulai memahami apa sesungguhnya yang diinginkan oleh kurikulum 2013. Rapor yang komprehensif dengan memberikan gambaran yang sesungguhnya tentang apa tujuan dari Kurikulum 2013 ini. Saya yakin inilah revolusi mental yang sesungguhnya. Betapa tidak. Rapor yang berisi catatan yang jujur tentang seorang anak di sekolah adalah kuncinya. Tidak ada nilai rekayasa. Sebelumnya nilai yang diperoleh merupakan kombinasi dari aspek pengetahuan, keterampilan, dan sikap anak. Saya yakin, banyak yang pernah mengalami mendapat nilai jelek karena sikapnya yang kurang baik, datang sering terlambat, pakaian awut awutan, sering bertengkar dengan teman bahkan guru walaupun nilainya tinggi, tugas lengkap. Akibatnya orang tua sering tidak diketahui kenapa anaknya mendapatkan nilai jelek. Beda dengan kurikulum 2013, orang tua akan mudah mengatahui apa yang menjadi permasalahan anaknya.

Tidak mudah melakukan ini. Keberanian untuk menempatkan setiap aspek pada tempatnya membutuhkan mental yang kuat serta keberanian untuk berubah ke arah yang lebih baik.

Guru, harus bekerja keras untuk mentransfer ilmu kepada siswa agar aspek pengetahuan dapat dicapai oleh siswa secara maksimal. Guru juga harus kreatif menciptakan proyek agar anak memiliki keterampilan yang memadai. Guru juga harus mampu membangun jati diri anak agar memiliki sikap dan mental yang baik, mampu mengapresiasi kerja orang lain, percaya diri, dan meyakinkan gurunya dan orang lain bahwa apa yang dilakukannya berdampak baik pada orang lain.

Orang tua, mulai dari sekarang harus merubah sudut pandangya. Mengirim anak ke sekolah tujuannya tidak lagi untuk memperoleh ranking. Rapor yang diterima tidak lagi sekedar informasi tentag ranking anaknya di sekolah. Lebih jauh, menjadikan sekolah sebagai wadah bagi anak untuk menuntut ilmu, mengasah keterampilan, dan membangun sikap mentl yang baik. Orang tua harus menganggap sekolah sebagai mitra dalam mendidik anak.

Anak, tentu saja akan lebih terpacu untuk memperoleh pengetahuan, menambah keterampilan dan bersosialisasi dengan lingkungan dengan bersikap lebih baik agar diterima oleh masyarakat.

Semua itu, bagi saya, adalah langkah awal dari revolusi mental yang sebenarnya. Hal seperti itulah yang sekarang dibutuhkan oleh dunia pendidikan kita. Semuanya perlu ditumbuhkan kembali. Oleh karenanya keinginan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah dan Kebudayaan untuk membatalkan implemetasi Kurikulum 2013 patut dipertanyakan. Apakah Kurikulum yang digunakan sebelumya lebih dekat maknanya kepada Revolusi mental dari pada Kurikulum 2013 ini. Bila terjadi kekurangan dalam persiapan pelaksanaan Kurikulum 2013, tidak seharusnya mengutuki Menteri sebelumnya atau menyalahkan kurikulum yang disusun. Waktu Pemerintahan yang lima tahun memang tidak cukup untuk mempersiapkan kurikulum dan implementasi yang berjalan mulus. Semuanya menjadi tanggung jawab dari Menteri dari Pemerintahan yang baru untuk mengawalnya. Bila terjadi keterlambatan distribusi buku pegangan, itu bukan kesalahan kurikulumnya, tetapi pada sistem pengadaan dan distribusinya. Bila terjadi kerancuan dalam pemahaman terhadap implementasi di lapangan, itu juga bukan kesalahan kurikulumnya; tetapi kelemahan segenap unsur untuk memahami dan mengimplementasikannya. Bila Kurikulum 2013 dibatalkan implementasinya, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah dan Kebudayaan tidak mendukung semangat Revolusi mentalnya Presiden Jokowi tetapi menerapkan semangat baru Mental Revolusi. Semuanya harus berbeda. Semuanya harus berubah.

Akhirnya, sambil terus mendiskusikan, nilai-nilai yang tertera pada rapor tengah semester anak saya, izinkan saya mengucapkan SELAMAT HARI GURU. Sambil berpesan, Guru adalah guru, bukan pedagang pengecer buku yang berharap diskon dari percetakan; bukan penjual pakaian agar mendapatkan untung setelah memesannya dari konveksi; bukan agen lembaga kursus yang menyalurkan siswa pada sebuah lembaga kursus agar anak didiknya lulus semua dengan nilai tinggi; bukan pengecut yang membiarkan saja anaknya melakukan perbuatan tidak terpuji sambil berpura-pura tidak melihat; bukan diktator yang dapat menghukum siswanya sesuka hati; bukan sosialita yang berganti baju dan sepatu setiap minggu tapi terakhir beli buku waktu masih S1; bukan orang yang tidak kena pajak sehingga tak perlu bayar pajak ketika terima honor dari dana yang berasal dari komite; bukan orang yang rendah diri bila berhadapan dengan birokrasi sehingga selalu berpikir nanti aku beri dan semua bisa dibeli; bukan raja sehingga di sekolah harus dilayani; tapi guru adalah orang yang harus dihormati bukan disakiti, disantuni bukan dikasihani, dipuji bukan dimaki, dibayar tinggi bukan dikebiri.

Sekali lagi, SELAMAT HARI GURU.

Advertisements
This entry was posted in Interest. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s