PARODI PP 84/1999

PARINTANG-RINTANG: Tulisan ini dibuat pada bulan Agustus tahun 2010 melalui jejaring sosial Facebook, ketika surat kabar lokal gencar memberitakan tentang desakan Pemerintah Pusat pada Gubernur Sumatera Barat dan Bupati Agam kala itu untuk segera melaksanakan PP 84 Tahun 1999.

Tulisan ini kembali di upload melalui Blog Parintangrintang.wordpress.com dalam rangka mengumpulkan tulisan yang tercecer pada beberapa media sosial selama ini mengantisipasi kemungkinan kebijakan keras ala Mendagri baru. Sudah lebih tiga tahun dari waktu perkiraan saat itu yakni tahun 2011, sekarang tahun 2014. Memang peristiwa yang digambarkan itu tidak terjadi. Jadi selamat menikmati saja bagi yang belum pernah membaca.

Prologue

Parodi ini, sebagaimana judulnya hanyalah kisah fiktif belaka tentang apa yang akan terjadi pada beberapa tahun mendatang ketika arogansi kekuasaan dan nafsu kebebasan telah meracuni wilayah yang menjadi perdebatan dari keberadaan PP 84/ tahun 1999.

Cerita yang akan ditampilkan tentunya menyangkut mereka yang terkena langsung dampak pelaksanaan PP itu. Dampak yang dirasakan oleh mereka yang tidak pernah dikunjungi apalagi ditanyai oleh Anggota DPR ketika mereka reses katanya. Mereka yang membayar pajak, menikmati fasilitas publik yang ada selama ini dan tentu saja akan membayar transportasi kos yang lebih besar akibat beralihnya lokasi fasilitas publik yang ada selama ini ke lokasi baru di wilayah yang masih disebut Kabupaten Agam. Entah dimana letaknya tidak ada yang mau tau. Mungkin di langik nan ka tujuah.

Kesalahan penulisan nama atau ketikan bukanlah hal yang disengaja. Ide dan saran demi kebaikan dapat dipertimbangkan. Diskusi yang komprehensif dapat juga kita lakukan.

Peringatan 30 Tahun SMAN 1 Ampek Angkek

Hari itu senin 11 Juli 2011. Langit cerah, matahari muncul dari perbukitan sebelah timur Kabupaten Agam dengan teriknya. Tampak mobil berlalu lalang dari arah Biaro menuju Lambah. Marawa dan bendera merah putih tampak terpasang di sepanjang jalan. Dari arah Simpang Biaro hanya beberapa meter dari tempat tukang bakso telah berdiri dengan ringkih gerbang perbatasan dengan hiasan harimau tertunduk lesu, tertulis kata-kata “Selamat datang di Kabupaten Agam”. Sementara itu bila kita berjalan dari arah Nagari Lambah, terlihat dengan kokoh gerbang dengan ukiran rumah gadang, bertuliskan kata-kata “Selamat datang di Bukittinggi Kota Wisata“.

Sepintas perbedaan kedua gerbang perbatasan itu tidak menjadi perhatian mereka yang lewat. Gerbang itu baru saja didirikan sebagai betuk implementasi dari pelaksanaan PP 84 tahun1999. Pembangunannya hampir bersamaan dengan peringatan 30 tahun berdirinya atau dimulainya pembangunan SMAN Empat Angkat Candung yang kini bernama SMAN 1 Ampek Angkek di Jorong Lambah Tangah Nagari Lambah. Tujuannnya adalah agar acara akbar yang rencananya akan dihadiri oleh orang-orang penting dan terkenal itu (dari gubernur sampai anggota DPR) juga dapat mengukuhkan pada Mendagri (yang sejak jadi gubernur selalu mendesak untuk segera mengimplementasikan PP 84) bahwa instruksinya telah dilaksanakan.

Hari sudah pukul 10. Para tamu sudah mulai datang. Yang pertama datang adalah rombongan Indrawadi Mantari seorang citizen journalist, berikutnya adalah rombongan Mohammad Asrial Jang Pangek, dan beberapa angkatan lainnya. Setelah mereka yang berombongan datang, maka datanglah rombongan para mantan: Drs. Aristo Munandar mantan Bupati Agam, Drs. Nadran Agus mantan sekda Agam, Drs. Harzi Zein mantan Pembantu Bupati Agam wilayah timur, Prof Sufyarma Marsidin, mantan kepala Dinas Pendidikan Kab Agam,

Setelah rombongan para mantan lewat datanglah rombongan mereka yang menjadi pejabat. dimulai dari Prof. Irwan Prayitno Gubernur Sumbar, Taslim Chaniago Anggota DPR RI, Yandril Wakil Ketua DPRD Agam, Melfi Abra Asisten Sekdako Bukittinggi dan (masih banyak lagi yang dak tantu dek awak dan tolong ditambahkan).

Jam sudah menunjukkan pukul 10:30 WIB. Tari pasambahan telah dimainkan, sirih sudah dicabiak oleh pak Gubernur. Acara akan segera dimulai.

“Hari ini 30 tahun yang lalu, masyarakat seluruh kecamatan Ampek Angkek Canduang dan Baso datang ke sini untuk bergotong royong membersihkan lahan, menebang batuang untuk membangun sebuah sekolah yang mudah-mudahan dapat membangkitkan harkat dan martabat masyarakat Ampek Angkek Canduang dan sekitarnya. Melalui pendidikanlah kemajuan dan kesejahteraan bisa diperoleh.” Demikian protokol menyampaikan sedikit gambaran pada saat memulai acara.

Puncak dari acara ini adalah pembukaan selubung baru nama SMAN 1 Ampek Angkek. Pembukaan selubung tersebut perlu dilaksanakan karena disamping memperingati 30 tahun berdirinya SMA 1 Ampek Angkek juga sebagai awal dari penggantian plang nama berbagai instasi di Kabupaten Agam. Menjelang acara puncak, sampailah pada acara sepatah kata dari alumni.

“Bapak-bapak,ibu-ibu para undangan, para alumni, donatur, simpatisan yang terhormat. ……sebagai alumni SMA 1 Ampek Angkek saya sangat bangga hadir di sini pada hari ini. Kita yang pernah sekolah di sini pada umumnya adalah panerima beasiswa BPK. Ya penerima beasiswa BPK. BPK yang bisa berarti singkatan Bantiang Pisang Kapelo, atau Banang Pinjaik Kain. Sekarang ini kita lihat sebagian mereka sudah menjadi orang yang berhasil. Ada yang menjadi anggota DPR, DPRD, jadi Pejabat Pemerintah, Pengusaha yang sukses dan lain sebagainya. Kita mesti bersyukur dan harus membantu pembangunan SMA Lambah ini ke depan sehingga menjadi SMA yang berkualitas internasional tanpa harus memungut biaya besar untuk dapat dikatakan menjadi sekolah yang berstandar internasional…….”

Setelah pidato sana sini. Sampailah pada acara puncak, yaitu pembukaan selubung nama sekolah. Pak Gubernur sudah berdiri, didampingi oleh Pak Bupati, Kepala Sekolah, dan Alumni yang menjadi politisi. Pak Gubernur kemudian mulai menekan sirine meresmikan pemakaian nama baru SMA 1 Ampek Angkek sekaligus untuk membuka selubung nama sekolah.

Setelah papan nama dibuka, tepuk tangan semakian meriah. Semua tersenyum dan saling bersalam-salaman. Tiba-tiba semuanya berhenti. Kaget dan juga khawatir. Tapi bagi pak gubernur dan pejabat yang lain hal itu biasa saja. Namun tidak bagi para alumni dan beberapa undangan lainnya.

Ada yang aneh dari papan nama itu. Ya aneh ketika dibaca. Yang Tertulis dengan jelas di papan nama itu adalah SMAN 1 AMPEK KAREK, bukan SMAN 1 ANGKEK sebagaimana biasanya. Setelah membuka acara pak Gubernur bersama rombongan pun berlalu. Pergi ke Kota Bukittinggi melaksanakan hal yang sama peringatan ulang tahun SMP Tanjung Alam.

Hadirin yang tinggal tidak habis pikir kenapa papan nama itu menjadi SMAN 1 AMPEK KAREK. Rupanya itu adalah keputusan masyarakat Ampek Angkek yang terlupakan. Bersama-sama dengan masyarakat Ampek Angkek lainnya sesuai dengan PP 84 tidak dapat menjadi bagian dari perluasan kota Bukittinggi. Mereka tidak mau merubah identitas, untuk menjadi kecamatan baru. Sangat susah mencari nama. Nama yang mereka sukai dan mencerminkan asal muasal mereka. Maka malam sebelum papan selubung dibuka sebagai peringatan ulang tahun ke 30 SMA 1 Ampek Angkek diputuskanlah nama kecamatannya yaitu kecamatan Ampek Karek. Artinya Ampek Angkek yang dikarek. Kalau dulu dalam tambo Ampek nan barangkek sekarang menjadi Ampek nan dikarek-dikarek.

Hal yang sama juga terjadi sewaktu peringantan SMP Tanjung Alam, ketika selubung dibuka nama yang tertulis bukan SMP 13 Kecamantan Bukittinggi Timur, Tapi SMPN13 KECAMATAN AMPEK LAKEK. Nama ini lahir dari masyarakat yang malakek ke Kota Bukittinggi. Tidak mau kehilangan identitas mereka bersatu untuk menyebut dir imereka sebagai kecamatan Ampek Lakek agar kelak bila ditanya oleh anak cucu, mereka bisa jawab dan buktikan mereka adalah bagian dari Ampek Angkek yang menurut tambo Ampek nan sakali barangkek sebagai daerah pertama di Luak Agam.

Cukup sampai disini dulu. Nantikan kisah lainnya tentang rapat penentuan lokasi dan pembangunan ibu kota kecamatan Ampek Karek serta kisah pelayanan publik setelah Kecamatan Ampek Angkek diceraiberaikan oleh PP 84/1999 menjadi kecamatan Ampek Karek di Kabupaten Agam dan Kecamatan Ampek Lakek di Kota Bukittinggi.

Advertisements
This entry was posted in Ranah nan Manggadangkan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s