BARINGIN GADANG DI PAKAN KALUANG: KISAH SEBUAH BANGKAI MOBIL TUA

PARINTANG-RINTANG: Tulisan ini, barangkali hanyalah secuil kisah dari hari Bela Negara, ketika Yogyakarta diduduki Belanda dan PDRI berpusat di Sumatera Barat. Tulisan ini dapat juga menjadi referensi sejarah lokal Nagari Panampuang untuk diketahui generasi muda i Nagari Panampuang baik yang ada di rantau maupun di kampung halaman

***********************************

BARINGIN GADANG DI PAKAN KALUANG: KISAH SEBUAH BANGKAI MOBIL TUA

Baringin Gadang di Pakan Kaluang
Ureknyo manjelo ka Bukareh
…..

Demikian sebait sampiran pantun yang sering didengar ketika mengikuti acara perpisahan murid kelas VI SD Negeri No. 1 Larak sekitar tahun 1980-1985, ketika saya bersekolah di SD tersebut yang memang terletak di Pakan Kaluang. Pantun ini barangkali dibuat untuak mengungkapkan kekaguman orang Panampuang akan keberadaan sebatang pohon beringin yang sangat besar dan kokoh. Bertahun-tahun pohon itu kokoh berdiri menjadi penjaga Nagari Panampuang. Sampai robohnya pohon beringin itu, bersamaan dengan rubuhnya rezim Orde Baru yang didukung oleh partai Partai Golkar dengan lambangnya pohon beringin, diperkirakan umur pohon beringin tersebut lebih dari 400 tahun. Dapat dibayangkan, betapa tuanya dan besarnya pohon beringin tersebut karena diameternya saja lebih panjang dari panjang lapangan bola voli yang kini menggantikan pohon beringin tersebut.
Di bawah pohon beringin itu, dulu, kata orang tua-tua,  ada sebuah pasar yang disebut Pakan Kaluang. Pakan Kaluang mungkin berarti pasar tempat dimana banyak kelelawar, karena memang di batang pohon beringin itu dulu banyak ditemukan kelelawar atau kaluang tinggal. Dalam budaya Minangkabau keberadaaan pasar merupakan salah satu pilar penting dari keberadaan atau eksistensi sebuah nagari. Tidak hanya itu, Pakan Kaluang juga merupakan tempat dilaksanakannya pertemuan niniak mamak rang Panampuang karena disana ada batu tempat duduk para ninik mamak dalam bermusyawarah sebagai bagian dari medan nan bananeh. Ada lima suku di Panampuang: Jambak, Koto, Guci, Tanjuang dan Sikumbang. Dengan demikian, Pakan kaluang merupakan tempat yang penting bagi masyarakat Panampuang. Hal ini terbukti sampai kini dengan masih ditempatkannya Ibu Nagari Panampuang di Pakan Kaluang pada era otonomi daerah dan sebelumnya sampai dengan tahun 1978 ketika nagari diganti dengan desa.
Begitu kuatnya peranan Pakan Kaluang sebagai ibu Nagari Panampuang, barangkali disebabkan oleh keberadaan pokok pohon beringin tersebut. Batang yang besar, tinggi dan kokoh tentu merupakan land mark dari Nagari Panampuang. Sebagai salah satu dari empat nagari dari Ampek Angkek sebagai wilayah pertama di Luhak Agam, tentu keberadaan Pakan Kaluang ini merupakan salah satu pilar utama Panampuang disamping adanya sebuah batu prasasti di Ganting yang menasbihkan keberadaan Panampuang sebagai salah satu nagari tertua di Luak Agam.
Ada banyak hal yang dapat digali dari keberadaan pohon beringin tersebut. Hal pertama tentunya terkait dengan perkiraan usia pohon beringin tersebut. Perlu kajian, atau mungkin penelitian yang lebih mendalam oleh peneliti Panampuang tentunya. Kajian juga bisa dilakukan terhadap sebab musabab kenapa beringin yang sangat besar itu akhirnya tumbang dan mati. Cerita ini dapat dihubungkan dengan kejatuhan rezim Orde baru di bawah Soeharto.
Setiap orang Panampuang (atau yang pernah menetap, bermain di Panampuang, khususnya Pakan Kaluang) yang berusia di atas 20 tahun pasti memiliki kenangan tersendiri terhadap batang beringin tersebut. Secara pribadi ada satu hal yang sangat menarik bagi saya terkait dengan keberadaan Baringin Gadang tersebut. Ketika dulu sedang keluar main waktu sekolah, kami sering memanjat pohon tersebut untuk sekedar bermain atau bersembunyi sewaktu bermain mancikmancik.

Di sebelah barat batang beringin tersebut terdapat sebuah bangkai mobil yang sudah tinggal rangka chasisnya saja. Bangkai mobil yang ukurannya cukup besar itu sering menggangu pikiran saya. Mobil siapakah gerangan? Kenapa Bangkai mobil itu ada disana? Dan sejak kapan berada di sana? Bangkai mobil itu sebagian besar sudah dibalut akar batang beringin tampaknya mobil itu sudah sangat lama berada di situ.
Lebih dari 25 tahun -sampai awal tahun 2010 ini- saya masih belum tau siapa pemilik dan kenapa bangkai mobil itu berada disana. Sempat juga rasa ingin tahu tersebut hilang dalam pikiran saya ketika Beringin Gadang itu akhirnya tumbang dan tidak ada bekasnya lagi.
Akan tetapi, tiba-tiba rasa ingin tau tersebut terjawab ketika beberapa waktu yang lalu saya diberi buku Samudera Tak Berpantai: Kumpulan Catatan Berbagai. Buku yang ditulis oleh yang sangat terhormat Pak Tuo (begitu biasa saya panggil) Amir Syakur Alias Inyiak Aguang itu membangunkan pikiran saya pada suasana masa lalu. Bermain sambil memanjat batang beringin atau menonton pertandingan bola volly dari cabang dan dahannya agar dapat melihat dengan mudah orang-orang yang sedang bertanding sambil sesekali melihat dan memandangi rangka mobil tua di dekat pohon beringin tersebut.
Lalu, bagaimana sebenarnya cerita tentang mobil tua itu. Panjang ceritanya, cukup heroik kisahnya, bagaimana dan kenapa bangkai mobil tua itu ada di sana?
Pada tanggal 18 Desember 1948, Belanda melancarkan agresinya yang ke II dengan membom Kota Jogjakarta dan seterusnya menahan Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohd. Hatta. Jogjakarta dapat diduduki, dua hari kemudian giliran Bukttinggi di bom oleh bala tentara NICA. Bukittinggi dibumihaguskan. Seluruh pejabat sipil dan militer menyingkir keluar kota. Tujuannya adalah Kamang, dan daerah lain disepanjang bukit barisan serta di lerang Gunung Merapi dan Singgalang. Namun demikian Kamang adalah tujuan utama karena sangat dekat dengan Koto Tinggi sebagai basis PDRI. Sehingga koordinasi berlangsung lebih mudah. Dalam perjalanan pengungsian tersebut, salah satu jalur yang ada dan mudah dilalui adalah rute Bukittinggi-Biaro-Lambah-Panampuang-Koto Baru-Salo dan Pintu Koto untuk seterusnya ke Rumah Tinggi atau Batu Baraguang di Kamang. Jalur tersebut tentu saja melewati Pakan Kaluang.
Malam-malam pengungsian tersebut, begitu banyak pejalan kaki, mobil, truk dan sebagainya berlalu lalang melewati jalur tersebut. Pada satu malam, ada satu truk besar bermuatan penuh beras sahingga kelebihan kapasitas melewati Pakan Kaluang. Mobil itu merupakan perbekalan logistik tentara untuk dikirim ke Kamang. Apa daya, karena kelebihan muatan, mobil itu mogok di Surau Lauik (350m sebelum Pakan Kaluang). Mujur bagi sopir truk, mobil itu mogok tidak jauh dari rumah orang tua Inyiak Maisir Thaib”, seorang pegawai Jawatan/Kantor/Badan Penerangan RI di Bukittinggi. Beliau dikenal luas di kalangan masyarakat sebagai tokoh pejuang dengan tulisan-tulisannya yang kritis disamping novel-novelnya yang digemari kala itu. Karena tulisan dan roman itulah kenapa beliau pernah diasingkan Kolonial Belanda ke Kalimantan dalam usia yang sangat muda (20 tahunan).

Beliau dengan keluarga sudah terlebih dahulu tiba dari Bukittinggi. Karena mobil sarat muatan itu mogok, sang sopir lalu mencari tempat dan orang untuk menitipkan dan menyimpan beras logistik untuk tentara tersebut. Dengan bantuan Inyiak Maisir Thaib beras itu dibongkar dan disimpan di Surau Lauik. Hanya sebagian kecil saja beras itu yang sampai ke Kamang karena sebagian dimanfaatkan oleh masyarakat di Panampuang.
Nasib mobil tua lebih tragis, mobil tersebut tidak bisa diperbaiki. Karena takut menghambat gerak laju pengungsi yang hendak ke Kamang, dan guna menghindari kecurigaan tentara Belanda, mobil tersebut lalu di dorong ke arah Pakan Kaluang. Tujuannya tentu untuk dapat menyembunyikannya dari pandangan tentara Belanda yang berpatroli dan menggempur gerilyawan yang melarikan diri ke Kamang. Bila sampai di ketahui tentara Belanda, tentu sangat celaka bagi masyarakat di sekitar Pakan Kaluang khususnya dan Panampuang pada umumnya. Tempat yang paling tepat untuk menyembunyikan truk besar tersebut adalah di balik batang pohon Baringin.
Beramai-ramai truk di dorong ke sana sehingga tidak diketahui oleh tentara Belanda. Tidak hanya itu rumput yang tumbuh serta akar Batang beringin yang semakin lama semakin panjang terus menutupi bangkai truk tersebut sehinggga hampir tidak terlihat dan jadi terlupakan. Lama kelamaan, orang Panampuangpun jadi lupa, bahwa dibalik pohon beringin itu ada sebuah bangkai truck. Bangkai truck itu tetap berada di sana, (mungkin) sampai beringin itu akhirnya runtuh. Kemudian dijual jadi besi bekas atau diambil oleh penjual besi bekas yang masuak kampuang kalua kampuang. Akhirnya truk yang berperan penting dalam perjuangan kemerdekaan itu hilang lenyap. Bersamaan dengan itu cerita tentang truck itupun semakin tidak jelas dan bahkan sudah dilupakan orang.
Karena sudah banyak yang lupa, orang yang mengetahui keberadaaan truk itupun semakin sedikit. Sampai akhirnya, ketika ada yang melihat bangkai sebuah truk seperti yang dialami oleh penulis, tak ada yang tau jawabannya. Syukurlah, buku yang saya kemukakan di atas memberi saya jawabannya. Akhirnya, lewat tulisan ini saya ingin berbagi cerita diantara banyak cerita tentang Baringin Gadang di Pakan Kaluang ataupun Nagari Panampuang di masa lalu.

*************************************************

Tulisan ini, seperti beberapa tulisan yang lainnya dalam kategori Ranah Nan Manggadangkan pernah di publikasikan dalam media sosial Facebook dan disalin ke dalam grup diskusi pada sekitar tahun 2010. Kini, tulisan ini dipublikasikan ulang melalui blog parintangrintang.wordpress.com dalam rangka mengumpulkan tulisan yang terserak, menjadi satu buah kumpulan tulisan pada blog pribadi saya ini.

Disamping itu tulisan ini juga mengingatkan saya akan peranan Pak Tuo Nyiak Aguang (H. Amir Syakur) dalam menggembleng saya. Walaupun tidak pernah bersekolah di SMP 4 Bukittinggi dimana beliau adalah mantan guru dan Kepala Sekolah tersebut; seperti halnya saya tidak pernah belajar silat kepada beliau; tetapi saya menganggap saya adalah anak sasian beliau. Saya sangat beruntung, memperoleh kesempatan membaca buku, majalah, koran di rumah beliau di Nuriang Panampuang sama bebasnya seperti anak-anak beliau. Lebih dari itu, dalam berbagai kesempatan penting dalam hidup saya beliau selalu hadir. Mulai dari wisuda S1, mengunjungi saya ketika kuliah pasca sarjana di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, pernikahan bahkan anak-anak saya pun selalu menjadi prioritas bila beliau mencetak buku.

Kini, ketika beliau terbaring sakit, saya dan keluarga belum sempat membezuk beliau ke Jakarta. Doa kami sekeluarga untuk kesembuhan beliau disertai harapan dan doa agar Tuhan memberi kesempatan pada kami untuk datang membezuk.

Tulisan ini, terinspirasi dari buku yang pahbeliau tulis. Bila tulisan ini bermanfaat, biarlah pahalanya sebahagian dilimpahkan oleh Allah SWT pada beliau.

Advertisements
This entry was posted in Ranah nan Manggadangkan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s