Karena 6 X 4 (HUJATAN) ≠ 4 X 6 (PEMBELAAN)

Parintang-rintang: Sesungguhnya, saya, semula tidak tertarik dengan postingan di media sosial tentang perbedaan 4 x 6 dengan 6 x 4. Karena masih baru, saya tidak begitu memperhatikannya dan lebih memilih menunggu beberapa lama sebelum membaca komentar dan respon masyarakat dunia maya tentang permasalahan tersebut.

Sejatinya, hal ini pernah terjadi di lingkungan saya sekitar dua tahun lalu. Walaupun perkaliannya tidak persis sama. Tetapi terjadi pada kelas yang sama yakni kelas dua. Seorang wali murid protes pada guru kelas karena feed back dari pekerjaan rumah yang dikerjakan oleh anaknya dinyatakan salah oleh guru kelas 2. Dengan mengajukan berbagai teori matematika yang diperolehnya di Perguruan Tinggi orang tua tersebut bersikukuh mengatakan bahwa perkalian tersebut sama, sang guru sudah salah menilai pekerjaan rumahnya dan diakhiri dengan pernyataan guru tersebut tidak professional serta tidak mendidik.

Hal ini tentu menyesakkan dada sang guru. Apa yang salah dengannya? Kenapa pula dia dikatakan tidak professional dan terlebih lagi disebut tidak mendidik? Sambil mengurut dada guru (yang dulunya hanya tamat Sekolah Pendidikan Guru (SPG) dan kemudian melanjutkan pada Universitas terbuka untuk memperoleh gelar Ahli Madya Pendidikan (AMaPd)) tersebut berjalan gontai pulang dengan ratusan pertanyaan dikepalanya. Apakah dia harus membenarkan jawaban si murid yang memang tidak sama dengan kompetensi yang seharusnya dimilikinya pada tingkatan kelas dua sekolah dasar? Bisa membedakan mana yang (dalam kasus di atas) 6 X 4 dan mana yang 4 X 6. Pekerjaan rumah itu bukan soal objektif yang pilihannya adalah hasil akhir. Ini proses bagaimana sebuah konsep dipahami pada tahapan dini. Konsep yang ditanamkan sesuai RPP menyebutkan bahwa murid dapat memahami bahwa “konsep” perkalian adalah penjumlahan berulang yang selanjutnya nanti akan diperkenalkan dengan “pembagian” sebagai pengurangan berulang. Bila dia membenarkan jawaban anak maka saat itulah sebenarnya dia disebut tidak professional karena tidak paham dengan tugas dan rencana pengajaran yang telah ditetapkan. Bila jawaban tersebut dibenarkan pada saat itulah dia dikatakan tidak mendidik. Membetulkan saja jawaban tersebut akan membuat dia tidak bisa mengevaluasi apakah anak muridnya sudah memahami kompetensi yang dia ajarkan sehingga perlu dilakukan remedial dan lain sebagainya. Bila itu dilakukan apakah dia mendidik. Begitulah pergulatan pemikiran sang guru dalam perjalanannya.

Untuk menjawab dengan logis terstruktur terhadap kejadian yang dialaminya tadi dia merasa tak mampu. Perbedaan tingkat pendidikan, dan umur yang terpaut cukup jauh membuatnya enggan untuk berdebat. Seharusnya inilah yang dijelaskan oleh orang yang ahli dengan matematika, memahami paedagogy, dan yang penting berpengalaman mendidik anak-anak berusia 7 s/d 8 tahun, usia anak kelas dua SD. Tapi siapakah yang mampu melakukannya.

Kondisi diatas, dalam kasus sebagaimana yang heboh di media social beberapa hari ini, sebenarnya mirip dengan kisah guru sebagaimana yang diceritakan di atas. Perbedaannya adalah kasus ini dibicarakan di media social. Ribuan mungkin puluhan ribu orang membacanya dan kemudian spontan melakukan hujatan. Mendukung pendapat si penulis yang mahasiswa tersebut. Secara umum hujan tersebut tidak banyak mungkin hanya satu poin saja. Di sisi lain guru yang dihujat tersebut mungkin melakukan pembelaan satu kali saja mungkin dengan ribuan analisis. Tetapi hasilnya tidak sama hujantan menang melawan pembelaan artinya 1000 X 1 hujatan tidak sama dengan 1X seribu ungkapan pembelaan.

Masyarakat dunia maya yang cenderung responsif agresif lebih menyukai hujatan dari pada pembelaan. Akibatnya, terlebih pada kasus-kasus nyleneh seperti in,i siapapun yang melakukan pembelaan tinggal menunggu waktu saja untuk di bully. Tidak perlu analisa yang mendalam terkait dengan konteks dimana, pada umur berapa dan kenapa hal ini terjadi untuk menghujat. Hampir mustahil mereka yang menghujat itu pernah membaca Kurikulum, RPP, buku panduan untuk kelas dua SD. Yang penting segera di-smash, karena ada target yang seakan siap untuk menjadi bulan-bulanan.

Pernahkan terpikir dan dianalisa, bila soal ini diberikan kepada siswa kelas tiga SD maka tidak dibutuhkan lagi jawaban seperti yang diminta tersebut. Hal ini dikarenakan pada tingkatan tersebut anak dianggap sudah mengerti dan memahami konsep perkalian dan juga pembagian.

Tapi apa daya, semua sudah bicara, dari unsur kementrian pendidikan dan kebudayaan, politisi, ahli dan sebagainya sudah memberikan komentarnya. Sekilas sepertinya banyak yang menyatakan sang guru “memang salah”. Tentunya hal ini tidak hanya terjadi pada guru kelas dua dimana adik sang penulis sekolah, tetapi pada hampir pada seluruh guru kelas dua. Bukankah kurikulum dan kompetensi yang diajarkan sama.

Habis sudah asa guru kelas dua SD. Niat untuk menanamkan konsep perkalian sepertinya dianggap sebagai sebuah kesalahan. Kesalahan yang memang tidak diketahuinya, Bila hal ini memang tidak tepat kapankah konsep itu harus diajarkan. Pada saat kelas satu?

Akhirnya, apakah memang lebih banyak yang memilih 6 X 4 (hujatan) = 4X6 (pembelaan) atau masih ada yang menganggap 6X4 (hujatan) ≠ 4X6 pembelaan. Kita tunggu saja.

Wassalam

Advertisements
This entry was posted in Interest. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s