MANGANI KOTA TAMBANG YANG HILANG: Ronggengs in de Evenaar Jungle

PARINTANG-RINTANG: Mentari baru saja menyembunyikan parasnya di balik Bukit Guntung. Yang ada hanyalah sinar kemerahan yang menggantung di bawah awan putih di sebelah barat Mangani Camp. Lampu teplok baru saja dinyalakan. Para pekerja yang berada dalam bedeng-bedeng di sekitar Mangani Camp baru saja sampai dengan wajah yang sangat sumringah. Ya. Hari itu adalah hari Sabtu. Hari yang sangat ditunggu-tunggu para pekerja pada Maatschappij Mijnbouw Aequator. Saatnya gajian dan menikmati hiburan.Seperti biasanya para pekerja tersebut akan bersenang-senang melepas lelah setelah menggali bumi mencari bongkahan batu yang siap diolah untuk dikeluarkan emas dan peraknya. Malam Minggu dan hari Minggu merupakan saatnya untuk menikmati hiburan dan melihat alam sekitar diluar Mangani Camp.

Dari dalam rumah dinasnya, Dr Walther, sedang menikmati secangkir kopi pengusir kegalauan di weekend pertamanya di Mangani Camp. Sebagai seorang yang berkebangsaan Eropa, akhir pekan merupakan saat istimewa baginya. Sebagai seorang lajang, akhir pekan merupakan saat yang menyenangkan untuk dihabiskan dengan berbagai acara berupa tarian dan nyanyian. Tentunya waktu seperti itu merupakan saat yang sangat ditunggu-tunggu oleh teman-teman seusianya di sana, di Austria dan belahan Eropa lainnya. Tapi sungguh menyesakkan baginya, jangankan untuk menikmati aneka dansa (tarian) dan nyanyian, bertemu dengan sesama kulit putihpun sangat jarang didapatkannya.

Di tengah kerisauannya, diantara asap tembakau dari pipa cangklongnya, dari kejauahan terdengar suara celoteh riang yang ditingkahi bunyi ranting p atah dan dedaunan kering terinjaktelapak kaki serombongan orang yang berjalan sedikit bergegas. Semula dia berpikir ada kecelakaan yang menimpa para pekerja di camp tersebut yang perlu segera mendapatkan pertolongan darinya. Sambil menunggu, dia terus menatap keluar memperhatikan datangnya orang-orang tersebut. Akan tetapi di pertigaan jalan sekitar seratus meter dari tempat kediamannya, rombongan itu berbelok ke kanan. Diapun heran. Ada apakah gerangan?

Semula dia hanya beranggapan hal itu sebagai suatu kebetulan. Karena besok hari libur, para pekerja mungkin bergembira dengan berkeliling mengunjungi teman-temannya, untuk minum atau bersenda gurau. Namun tak lama kemudian, serombongan orang lewat lagi. Jumlahnya cukup banyak. Lagi –lagi mereka berbelok ke kanan. Dia mulai tertarik, tepatnya curiga. Ada apa dengan para pekerja tersebut? Sambil menghirup kopi yang tinggal sepertiga di cangkir berukiran motif Cina di atas meja kayu sederhana di beranda depan, dia memutuskan untuk berjalan ke arah pertigaan tempat rombongan tadi berbelok.

Dengan langkah yang tertahan, sebagai bentuk kewaspadaan, dia turun dari rumah panggung yang sudah ditinggalinya selama 5 hari tersebut. Sambil berjalan pelan, pikirannya terus menerawang tentang kemana. Di benaknya hanya ada keingintahuan tentang jawaban dari pertanyaan besar yang dan dalam pikirannya. Kemana dan ada apa dengan rombongan pekerja tersebut? Baru dua puluh lima meter berjalan, dia dikagetkan dengan rombongan yang datang dari arah yang sama dengan rombongan yang pertama dan kedua tadi. Namun ada yang sedikit membedakan. Bila rombongan sebelumnya hanya gemuruh telapak kaki, kali ini terdengar dentuman suara gong ditingkahi bebenyian lain seperti clarinet atau suling. Rombongan apa lagi ini? Rasa keingin tahuannya semakin menjadi-jadi.

Dengan bergegas, sambil mempecepat langkah kakinya, dia mengikuti rombongan tadi sambil terus menjaga jarak. Tak terasa, dia telah cukup jauh dari tempat kediamannya. Akhirnya rombongan itu berhenti pada satu bangunan cukup besar. Sepertinya bangunan tersebut adalah sebuah aula atau gedung pertemuan karena dibangun memanjang ke belakang dengan pintu besar berdaun ganda yang cukup tinggi. Seperti pintu masuk gereja di Eropa sana.

Diluar gedung tampak berkumpul hampir lima puluh orang pekerja dengan menggunakan tutup kepala yang berbeda dengan yang digunakan oleh masyarakat yang ditemuinya ketika baru sampai di Padang, di atas kereta, di Fort de Kock, di Pajakombo, maupun sampai di Limbanang. Para pekerja yang datang ke gedung tersebut menggunakan tutup kepala dari kain bercorak yang menutupi kepalanya. Memang pada malam itu semua lelaki yang hadir menggunakan blankon, topi khas masyarakat jawa, yang terbuat dari kain batik.

Sambil terus berjalan mendekati gedung tersebut, dia mencoba mengenali satu persatu wajah-wajah keletihan yang sangat haus hiburan tersebut. Para lelaki yang terlihat kurus tersebut, sambil bersenda gurau memandang ke arahnya dengan perasaan heran. Siapa pria Eropa yang belum pernah mereka lihat sebelumnya itu? Dari wajahnya tidak tergambar kebengisan dan kekejaman seorang kontroler atau supervisor pertambangan. Namun mereka tidak peduli, setelah membungkuk dan mengangguk, mereka terus bercakap-cakap dan bersenda gurau. Walaupun tidak memperlihatkan wajah dan rasa herannya, Dr. Walther terus mencoba mengenali logat dan bahasa yang digunakan para pekerja tersebut. Ternyata bahasa yang digunakan mereka berbeda dengan bahasa yang dipakai penduduk di Padangsche Bovenlanden yang sudah ditinggalinya selama beberapa hari ini.

Akhirnya dia sampai di pintu masuk, gedung tersebut. Di dalamnya lebih dari dua ratusan orang duduk bersila sambil terus mengobrol yang diselingi tawa cekikan. Nyala obor besar yang menjadi penerang gedung itu sangatlah terang. Dengan jelas dia melihat sekelompok orang duduk di atas pentas di ujung gedung tersebut sambil mempersiapkan beberapa alat musik. Pada satu pojok terlihat sekelompok perempuan bahenol yang didandani dengan menor sedang bersiap-siap untuk menari. Di luar sana, sinar kemerahan yang tadi menggantung di atas awan di balik Bukit Guntung sudah menghilang. Saat itu kira-kira pukul setengah delapan.

Belum sempat dia berpikir lama tentang pertunjukan apa yang akan dimainkan, para lelaki yang tadi duduk dan mengobrol di luar mulai memasuki gedung seiring dengan semakin intensnya bunyi gong dan gendang yang ditingkahi bunyi rebab dan suling yang dimainkan para pemusik di atas panggung. Tampaknya pertunjukan akan segera dimulai.
Para perempuan penari yang tadi duduk berkumpul di pojok panggung sebelah kanan satu persatu mulai berdiri. Sambil melenggak lenggok mereka menari mengikuti alunan suar musik yang dimainkan. Para lelaki mulai bertepuk tangan diiringi bunyi suitan pertanda kegirangan. Pelepas lelah menikmati hiburan.

Sambil terus memperhatikan gerakan penari, Dr. Walther memperhatikan tingkah dan kelakuan para pekerja tadi. Bila semula mereka hanya duduk-duduk saja, satu persatu mulai berdiri bergoyang mengikuti irama musik yang semakin membahana. Semakain lama semakin banyak hingga akhirnya satu persatu mulai memberanikan diri maju ke depan di depan panggung. Malam semakin larut, kini pra pria tersebut tidak hanya menari di depan panggung. Mulanya hanya satu orang, kemudian diikuti oleh beberapa orang yang lainnya, naik ke atas panggung menari bersama perempuan bahenol dengan dandanan menor. Untuk dapat menari bersama seorang penari, mereka menyelipkan satu sen ke dalam kemben penari tersebut. Tarian semakin lama semakin panas. Semakin banyak saja pria yang ingin menari dengan perempuan bahenol berdandan menor tersebut. Tak lama berselang hampir semua penari yang tadi duduk di pojok ikut berjoget. Karena sudah tidak muat lagi di atas panggung, mereka pun turun ke bawah, ke depan panggung. Semua menari. Selipan saweran semakin banyak. Penaripun semakin bersemangat. Malam semakin larut. Wajah pekerja yang biasanya lesu itu tampak sangat bergairah. Mengusir kebosanan tinggal ditengah belantara, menggali bebatuan yang terkadang disertai pukulan bahkan cambukan, teringat kampung halaman di seberang lautan yang terpaksa harus ditinggalkan.

Diantara bunyi gendang dan riuh rendah sorakan dan nyanyian tersebut, di malam yang semakin dingin, Dr. Walther berjalan keluar. Ronggeng. Itulah nama kesenian yang tadi dilihatnya. Sebagaimana yang disampaikan oleh para pekerja yang tadi sempat berbincang dengannya. Ronggeng, bukanlah kesenian lokal dari penduduk yang ada di Mangani itu. Tidak ada Ronggeng dalam kesenian masyarakat Poear Datar. Wilayah dimana Mangani berada. Ronggeng, sama dengannya, adalah pendatang, yang karena satu dan lain hal bekerja untuk Mijnbouw Maatschappij Aequator. Bila dia adalah seorang yang ditugaskan pada rumah sakit di Mangani Camp, Ronggeng dipekerjakan untuk menghibur para pekerja yang didatangkan dari Jawa sebagai pekerja kontrak. Walaupun banyak diantaranya harus berangkat karena terpaksa akibat hukuman atau ditipu. Ronggeng yang biasanya dimainkan di Alun-alun atau tempat keramaian lainnya. Kali ini dimainkan ditengah belantara di garis khatulistiwa. Pertama kali, Dr. Walther menikmati kesenian dari timur, Ronggengs in de evenaar jungle.
***********************************

Dalam catatan yang disampaikan oleh cucu Dr. Walther, disebutkan bahwa pekerja pertambangan di Mangani pada umumnya berasal dari Jawa. Sebagian besar didatangkan dengan paksa akibat hukuman, ditipu dan lain sebagainya. Disamping para pekerja kontrak dari Jawa terdapat juga para pekerja bebas yang berasal ari penduduk lokal. Kemungkinan mereka berasal dari afdeeling Lima Puluh Kota atau Afdeeling Agam karena letaknya yang berdekatan.

Sumber Data:  Andreas Rosenstingl

Sumber Data: Andreas Rosenstingl

Data pada tabel di atas memperlihatkan para pekerja tersebut dengan jumlah dan populasi mereka berdasarkan tahun. Walaupun tidak ada data time series yang, namun data beberapa tahun tersebut dapat menggambarkan situasi di Mangani Kota Tambang Yang Hilang tersebut pada masa jayanya.

Sebetulnya sangat menarik untuk mengulas data ini. Namun parintang-rintang ini bukan ditujukan untuk membahas secara detail tentang data ini. Sebagai seorang ekonom dan perencana, banyak hal dapat saya kemukakan dari data ini. Namun maaf, bukan pada judul ini akan dibahas karena tujuan dari judul tulisan ini hanya ingin menggambarkan bahwa para pekerja yang dipekerjakan pada pertambangan emas di Mangani pada umunnya bukan lah penduduk lokal. Kebanyakan pekerja berasal dari pulau Jawa. Keberadaan kelompok kesenian, polisi, rumah sakit dan juga pasar (yang akan diceritakan pada edisi selanjutnya) merupakan gambaran bahwa Mangani memang direncanakan untuk menjadi sebuah kota mungkin seperti Kota Sawahlunto. Hal ini diperkuat dengan data bahwa pada pertengahan abad ke sembilan belas Poear Datar yang merupakan wilayah induk dari Mangani merupakan salah satu dari tiga Onderafdeeling di Afdeeling Lima Puluh Kota (Baca: Poea(r) Data(r) dan Hari Bela Negara).

Wassalam
Kubang Gajah 4 Juni 2014 nspamenan@yahoo.com

Advertisements
This entry was posted in Mangani, Kota Tambang yang Hilang. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s