TABEK, KEARIFAN LOKAL YANG TERLUPAKAN (Dari Catatan Akhir Tahun 2011)

PARINTANG-RINTANG: Hampir satu tahun mengurusi perencanaan atau koordinasi perencanaan bidang ekonomi, tak terasa banyak hal yang dialami yang menambah nuansa dan pengalaman baru yang dapat direfleksikan pada kehidupan di kampuang halaman. Sering kali menghadiri pertemuan tentang upaya peningkatan ketahanan pangan, peningkatan produktifitas pertanian membuat istilah embung menjadi sesuatu yang sering dibahas secara serius dan bahkan berulang-ulang.

Semula, ketika mendengarkan  kata  embung, yang terlintas dipikiran adalah waduk yang dibangun dengan membuat tanggul penahan air sungai. Cukup banyak dana yang digelontorkan oleh pemerintah untuk memperbaikai embung: baik dalam rangka peningkatan produksi padi maupun dalam rangka pencapaian swasembada daging sapi dan kerbau tahun 2014. Terlintas dalam ingatan embung itu mungkin ampang atau baramban. Lama kelamaan ketika  lebih sering membicarakan kegunaan embung itu, maka munculah pemikiran bahwa yang dimaksud dengan embung itu adalah tabek. Embung digunakan sebagai tempat penampungan air yang digunakan untuk mengairi sawah dan memberi minum ternak.

Catatan ini (Tabek, kearifan lokal yang terlupakan) bukan ditujukan untuk membahas berapa banyak anggaran yang digunakan untuk pembangunan atau revitalisasi embung maupun seberapa efektifkah dampak  program tersebut terhadap peningkatan produksi padi maupun ternak. Akan tetapi digunakan untuk bercermin diri pada kondisi kampung halaman (Nagari Panampuang) yang sebagian besar sangat kesulitan dalam meningkatkan produksi padi ataupun produktifitas lahan pertanian (sawah). Ketergantungan yang sangat besar terhadap adanya aliran air dari Sirangkak Gadang (baramban atau bendungan yang sering kali disebut-sebut oleh orang tua-tua sebagai sumber air untuk nagari Panampuang) menyebabkan tidak terealisasinya revitalisasi Sirangkak Gadang yang berada di pinggang Gunung Marapi membuat orang malas untuk menanam padi dan cenderung bergantung pada curah hujan. Musim hujan yang tidak menentu dalam beberapa tahun terakhir ini sebagai akibat dari pemanasan global dan kerusakan lingkungan menyebabkan hasil yang didapat tidak optimal.

Pertanyaan besar yang muncul dalam pikiran adalah kenapa dulu inyiak dan enek kita tidak takut akan kekeringan dan tetap mengolah sawah ketika musim hujan hanya berlangsung singkat. Jawaban sementara untuk itu adalah karena adanya tabek.

Dulu, untuk sebagian teman-teman se-angkatan atau yang lebih tua, ketika masih duduk dibangku sekolah dasar mandi bakacimpuang (berenang)  ka tabek merupakan aktifitas yang sangat mengasyikkan ketika pulang mangaji. Mandi ka tabek surau atau mandi ka tabek Lauik merupakan saat yang menyenangkan. Mungkin sama nikmatnya dengan mandi ke water boom bagi anak anak sekarang ini. Di samping mandi ka tabek Lauik atau ka tabek surau, bagi dunsanak yang tinggal di Rawang, Pantang Lamo, Kayu Katiak, Nuriang, Surau Labuah, Parik Panjang, Ngopoh ataupun Kubu maka mandi di tabek Tanipah di Bancah atau Tabek Siladiang di Kuruak juga merupakan pengalaman yang  tak terlupakan. Sekitar tiga puluh tahun yang lalu, sungguh sangat banyak ditemukan tabek di Bancah ataupun di Kuruak.

Di Kuruak, mulai persawahan yang berbatasan dengan Pakan Kaluang, Rawang, Pantang Lamo sampai ka Luanyia yang berbatasan dengan Labuang Pakan Akaik, diperkirakan terdapat lebih dari 20 buah tabek. Masing-masing tabek memiliki nama tersendiri, misalnya Tabek Siladiang, Tabek Dama, Tabek Kamba, dan (dek lupo) lain-lain. Hal yang sama juga ditemukan di Bancah. (Masihkah anak-anak sekarang mengenal nama ini?).

Dari sekian banyak tabek tersebut, ada beberapa hal penting yang perlu dicatat terkait dengan keberadaaanya. Pertama, tabek tersebut umumnya cukup dalam dengan luar berkisar antara 2X2 sampai dengan 3X4 dan banyak terletak di batas antara areal persawahan dengan ladang atau parak masyarakat. Kedua, bila tidak terletak di dekat tebing, maka sebuah tabek akan terletak diantara beberapa sawah. Ketiga, tabek yang digali berada pada posisi yang dapat menjangkau beberapa sawah yang dimiliki oleh suatu suku atau kaum. Keempat, setiap tabek memiliki pematang yang cukup lebar sehingga dapat (saja) dibangun dangau untuk berteduh di tepinya. Kelima, pada setiap pinggiran tabek selalu ditanam pohon yang  dapat berbatang besar. Keenam, pada setiap tabek hampir selalu tumbuh batang jambu biji (paraweh).

Lalu, dimana kerarifan lokalnya?

Pertama, tabek digunakan sebagai sumber pengairan. Inyiak atau Enek kita tidak pernah khawatir sawah akan lakang (kering). Bila musim kemarau datang, ketika sawah mulai ditanam, tatkala padi disawah masih membutuhkan cukup banyak air, maka tabek merupakan sumber air yang sangat membantu. Air tabek dialirkan ke sawah dengan cara mendirikan kincir air. Kincir yang dioperasikan dengan cara berjalan di atas kincir. Dulu, dipagi buta, ketika subuh baru saja berlalu, minum kawa pagi sudah selesai, sangat sering terdengar geretak kincir air yang berjalan seiring dengan semburan air dari tabung tabung air kincir. Sekitar satu sampai satu setengah jam lamanya kincir dijalankan dengan cara berjalan diatasnya (sekarang, seperti lari di atas tread mill di rumah). Sekira-kira cukup untuk mengairi beberapa petak sawah. Bila matahari sudah memperlihatkan parasnya, panasnya sudah mulai terasa, aktivitas inipun dihentikan yang. Semua kembali ke aktifitas rutin lainnya. Hal yang sama kembali di lakukan di sore hari, sepulang dari bekerja, selepas shalat ashar, menjelang magrib, mengincir inipun kembali dilakukan. Kalau tidak sanggup untuk membuat atau membeli kincir maka yang dilakukan adalah dengan jalan manimbo. Manimbo, apa itu?

Manimbo (menimba) air adalah alternatif yang dilakukan untuk menaikkan air ke sawah. Dilakukan pada waktu yang bersamaan dengan mengincir. Caranya adalah dengan mengangkat air dengan belek (kaleng) berupa timbo. Timbo yang terbuat dari kaleng itu dibuat sedemikian rupa dimana tali diikatkan pada kayu yang dipakukan melintang menurut simetri putar. Ada dua kayu yang dipasang pada dua sisi yang berhadapan. Timbo ditarik oleh dua orang dengan kedua ujung kayu diikat tali yang panjangnya sekitar empat sampai lima meter. Jadi, setiap orang memengang dua utas tali. Timbo diayunkan secara bersamaan. Sambil merunduk, bagian yang bolong direndahkan untuk mengisi air. Bila air sudah terisi, tali ditarik sambil berdiri dan bila sudah berada di tepi pematang tali yang  terhubung dengan bagian bawah kaleng yang tertutup diangkat agar air dapat tertumpah ke dalam sawah. Demikian dilakukan secara berulang ulang sampai mataharipun terbit dan memperlihatkan sinarnya. Di sore hari menjelang magrib, hal yang samapun dilakukan. Demikian terus sampai musim hujan tiba atau padi besar dan tidak memerlukan pasokan air yang banyak lagi.

Dua hal tersebut, mangincia dan manimbo, merupakan kearifan lokal yang ditelah dimiliki oleh para inyiak dan nenek kita. Kekeringan dan keterbatasan alam dapat diatasi dengan teknologi yang sederhana  mereka. Hasilnya mereka tidak pernah mengalami gagal panen seperti yang sering kita lihat di televisi.

Kedua, tabek yang dibuat merupakan lumbung dalam arti lain: sebagai tempat penyimpanan air sementara di kala musim hujan datang, dan tempat pembesaran ikan. Oleh karenaya tabek tersebut selalu dijaga agar tidak terjadi pendangkalan: Baik karena tumbuhnya rumput maupun karena pembuangan jerami. Untuk menjaga tabek dan mendapatkan sumber lauk pauk, maka orang akan memancing ikan di sore hari di tabek tersebut. Tabek juga merupakan sember air untuk memberi minuman ternak: sapi atau kerbau. Karena terletak di antara sawah dan parak tempat penambatan sapi maka tabek jadi sumber utama minum sapi dan kerbau. Dengan kata lain, tabek adalah harta yang sangat berharga.

Ketiga, pada sisi tabek yang ditumbuhi pohon keras dan jambu biji menyimpan kearifan lain. Akar pohon dan jambu biji yang tumbuh di sisi tabek merupakan alat untuk menahan dan menyimpan air. Teringat akan program reboisasi yang digalakkan, inyiak dan enek kita dahulu sudah memahami dan melaksanakannya. Walaupun mereka tidak mengetahui istilah tersebut, tapi mereka sudah melakukannya.

Terakhir, yang lebih menakjubkan, menanam buah-buah ditepi tabek merupakan cara untuk mendapatkan asupan buah-buahan segar.  Jambu biji sangat baik untuk kesehatan. Jambu biji yang dikonsumsi pastilah buah organik yang tidak tersentuh pestisida. Wajar saja sangat jarang mereka mengalami gangguan kesehatan terekait dengan penyakit demam berdarah dan sejenisnya.

Lalu, apanya yang terlupakan?

Sekarang ini, bila kita melintas dari Pantang Lamo ke Rawang, dari Rawang ke Surau Labuah, Dari Surau Labuah ke Nuriang, maka sudah sangat sulit untuk menemukan tabek yang dulu bertebaran di Kuruak. Ada yang ditimbun dengan sengaja dan dijadikan bagian dari sawah, ada juga yang dibiarkan menjadi dangkal karena ditumbuhi rumput banto atau ditimbuni jerami.  Hal yang sama juga akan ditemukan bila kita berjalan dari pantang lamo ke Parik Panjang, Dari Parik Panjang ke Pakan Kaluang atau dari Pakan Kaluang ka Ngopoh. Masih adakah Tabek Maco? Masih adakah Tabek Tanipah dan tabek-tabek lainnya? Atau masihkan Tabek Lauik yang sekarang sama dengan Tabek Lauik yang kita lihat dulu. Dulu Tabek Lauik adalah sumber air untuk mereka yang bersawah di daerah di bawahnya bahkan sampai ke Parik Nuriang disamping sebagai sumber air untuk memutar kincir air untuk menumbuk padi. Sekarang? Untuk pembesaran ikan saja mungkin.

Dari semua gambaran tersebut, dapat disimpulkan sementara bahwa perubahan dan reformasi yang terjadi telah menghancurkan kearifan lokal yang ditinggalkan inyiak dan enek kita. Pertama, sekarang ini, bila padi sudah ditanam dan musim kemarau tiba, tidak ada lagi aktifitas mangincia atau manimbo. Bukan karena padinya tidak butuh air tetapi karena tabek yang dulu menyupai air sudah tidak ada lagi. Terjadilah kekeringan. Padi tidak tumbuh dengan baik. Alhasil panenpun sangat tidak memuaskan. Orang tidak mau lagi bertanam padi karena air tidak ada. Menjadi petani sudah tida lagi menarik. Bertani menjadi sesuatu yang termarjinalkan. Manggalaeh atau marantau merupakan pilihan utama.

Sekitar dua puluh lima tahun yang lalu pernah dibangun sistem irigasi dengan pompanisasi. Namun tidak jalan karena tidak masuk dalam hitung-hitungan para kerabat kita. Program sistem irigasi pompanisasi ini menjadi sia-sia (istilah lain dari membuang-buang uang negara). Semestinya program yang diluncurkan saat itu adalah revitaliaasi tabek. Sehingga tabek yang dulu digali oleh Inyiak dan Enek kita tidak tertimbun atau hilang. Program revitalisasi yang memungkinkan untuk mempertahankan keberadaan tabek baik luas maupun kedalamannya mungkin lebih bermanfaat dibanding sistem irigasi bawah tanah dengan pompanisasi. Bila yang dilaksanakan adalah revitalisasi tabek maka tabek yang dulu ada dapat distandarisasi berapa luas dan kedalamannya sehingga dapat membantu mengatasi masalah  kekurangan air. Program revitasliasi ini tentunya dapat didukung dengan kegiatan pembangunan kincir air manual dari bahan yang lebih ringan, murah dan tahan lama pengganti bambu.  Kalau perlu bisa bongkar pasang bahkan portable tanpa harus menggunakan biaya ekstra seperti pembelian bensin dan lain-lain.

Singkatnya, perkembangan tiga puluh tahun terakhir ini masyarakat kita telah bekerja tanpa memerhatikan kearifan lokal yang sudah diturunkan oleh Inyiak dan Enek kita. Hal ini lebih diperparah lagi dengan program pemerintah yang menyamaratakan eksekusi progam tanpa mempelajari kearifan lokal ditengah-tengah masyarakat.

Wassalam

Kubang Gajah, 26 Desember 2011; nspamenan@yahoo.com

Advertisements
This entry was posted in Interest. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s