KAWA DAUN, BUKAN SEKEDAR (MELAYU) KOPI DAUN

PARINTANG-RINTANG– Saya masih ingat. Pada saat libur sekolah, di awal Juli tahun 1982, ketika matahari baru separohnya terlihat dari deretan bukit barisan yang menjadi batas alam Kabupaten Agam dan Payakumbuh, ketika embun masih terlihat pada jaring laba-laba yang terlihat mengkilat di antara dedaunan kayu, saya, yang pada saat itu baru saja menerima rapor kenaikan kelas, berjalan bergegas ke rumah Nek Rawana.

Nek Rawana, yang biasa kami panggi Nek Ana, adalah salah seorang diantara nenek se pasukuan saya. Pagi itu Nek Rawana akan menjamu saya minum kawa (sarapan) pagi. ‘’Assalamualaikum”, saya menyapa dari halaman. “Waalaikumsalam” terdengar sahutan dari dalam rumah. “Eee baa kok jagai bana ang tibo” kata Nek Rawana kepada saya.

Tapi Enek mayuruah den pagi ka siko” jawab saya. “Kawa alun lai, aie sadang bamasak baru”, ujar Nek Ana. Saya tak menjawab, tapi langsung bergegas ke dapur, ikut berdiang mengusir dinginnya pagi itu.

Di atas tungku kayu yang sedang memasak air tersebut, tampak daun kopi yang sedang dikeringkan. Daun kopi dikeringkan dengan cara ditusuk seperti sate lalu digantungkan di atas tungku. Proses pengeringan bisa berhari-hari. Daun kopi tersebut bila sudah benar-benar kering, setiap pagi akan dijadikan sebagai bahan pembuat air kawa. Siangnya daun kopi yang sudah dijadikan untuk mebuat kawa tersebut akan diganti dengan daun baru. Sehingga di atas tungku tersebut akan selalu terdapat tusukan daun kopi yang dikeringkan.

Daun kopi yang sudah keringkan harus dihaluskan dengan cara diremas-remas di dalam plastik atau kain sehingga benar-benar menjadi halus. Setelah halus daun kopi kering tersebut dimasukkan ke dalam cerek atau teko. (Dalam bahasa Nek Ana, cerek atau teko itu disebut kumbuak. Walau kedengarannya sangat kuno, secara fonologis, saya yakin kata kumbuak tersebut diserap dari bahasa aing, entah arab, Belanda atau Inggris).  Setelah itu, segera disiramkan air mendidih ke ke dalamnya. Segera bau harum menyeruak membelah dinginnya pagi. Aia Kawa sudah sipa untuk diminum.

Untuk meminum kawa daun, Nek Ana menyuruh saya mengambil dua buah sayak (tempurung kelapa yang sudah dibersihkan) yang ditelungkupkan bersebelahan dengan piring makan. Ketika saya beringsut mengambil sayak, Nek Ana mengambil pangua (kukuran,parutan), dan mulai mengukur (memarut) kelapa yang tadi dibelahnya. Selesai memarut kelapa, yang tidak sampai separuhnya, Nek Ana segera turun ke dapur untuk mengambil ketan yang tadi dimasaknya. Ketan lalu dimasukkan ke dalam piring. Kelapa yang tadi diparut segera ditaburkan di atas ketan. Saya kira minum kawa pagi akan segera dimulai. Tapi tunggu dulu, Nek Ana kemudian membuka tudung saji, dan mengelurakan sanok pisang dari dalamnya. Sanok pisang adalah kolak pisang batu dengan kuah gula merah yang sangat kental.

Minum kawa pun segera akan dimulai. Air kawa lalu dituang ke dalma sayak. Sanok pisang diletakkan di atas ketan. Sungguh menggugah selera penuh sensasi. Sungguh nikmat dan tak dapat terlupakan.

************

Sesungguhnya, tradisi minum aia kawa ini sudah berlangsung lebih dari satu abad yang lalu. Ketika Pemerintah Kolonial Belanda menerapkan sistem tanam paksa dimana rakyat di daerah jajahan harus menanam kopi. Kopi menjadi barang yang sangat mahal. Tidak sembarang orang dapat meminumnya. Hanya kalangan tertentu yang dapat meminumnya. Rakyat jelata, walaupun memiliki ladang kopi tak boleh meminumnya. Sejak saat itu, karena kebutuhan dan keinginan untuk meminum kopi, rakyat jelata mulai berinisiatif memanfaatkan daun kopi sebagai pengganti biji kopi. Hal ini tentunya tidak akan menjadi persoalan bagi kaum kolonial. Perkembangan ini menjadikan daun kopi sebagai komoditi yang cukup penting dan diperdagangkan pada tingkat lokal. Dibalik itu, karana masyarakat hanya mengkonsumsi daun kopi, bukan kopi sebagaimana lazimnya, sering kali kaum pribumi di sumatera khususnya di Sumatera Barat disebut sebagai Melayu Kopi Daun.

Beberapa foto di bawah yang diambil dari Collectie Tropenmuseum Belanda, memperlihatkan bagaimana daun kopi menjadi komoditi penting yang diperdagangkan. Satu gambar yang berjudul Mannen dragen geoogste arabica koffiebladeren, voor de bereiding van kopi daoen, op het hoofd aan Sumatra’s Westkust memperlihatkan dua orang perempuan paruh baya membawa kopi dengan menjunjung di kepalanya. Foto ini diperkirakan diambil di awal abad ke 20. Dua orang perempuan ini diperkirakan sedang membawa daun kopi ke tempat pengepul untuk selanjutnya dijual di pasar. Gambar ke dua yang berjudul Het vervoer van kopi daoen (koffiebladeren) naar de markt te Pajakoemboeh Sumatra’s Westkust memperlihatkan dua pedati penuh muatan daun kopi sedang berhenti di dekat pasar di Payakumbuh. Pedati tersebut sepertinya baru tiba dari sebuah perjalanan yang cukup jauh. Hal ini terlihat dari kerbau yang sedang makan lahap dan satu ikat daun kopi yang sepertinya baru saja dibongkar. Gambar yang berjudul Voor de bereiding van kopi daoen worden de koffiebladeren geroosterd op een zacht vuur totdat de bladeren bruin en droog zijn geworden, Sumatra’s Westkust memperlihatkan 5 orang perempuan yang sedang menyagai (mengeringkan) daun kopi untuk dipersiapkan menjadi minuman.

Mannen dragen geoogste arabica koffiebladeren, voor de bereiding van kopi daoen, op het hoofd aan Sumatra's Westkust

Mannen dragen geoogste arabica koffiebladeren, voor de bereiding van kopi daoen, op het hoofd aan Sumatra’s Westkust

Het vervoer van kopi daoen (koffiebladeren) naar de markt te Pajakoemboeh Sumatra's Westkust

Het vervoer van kopi daoen (koffiebladeren) naar de markt te Pajakoemboeh Sumatra’s Westkust

 

Mannen dragen geoogste arabica koffiebladeren, voor de bereiding van kopi daoen, op het hoofd aan Sumatra's Westkust

Mannen dragen geoogste arabica koffiebladeren, voor de bereiding van kopi daoen, op het hoofd aan Sumatra’s Westkust

Dalam foto (disamping) yang dibicarakan di atas, tidak ada kata kawa di dalamnya. Secara jelas disebutkan sebagai kopi daun. Oleh karena itu perlu dijelaskan kenapa kita lebih mengenalnya sebagai kawa daun. Kopi adalah kata serapan dari bahasa Inggris (coffee) atau Belanda (koffij), sedangkan kawa berasal dari bahasa arab atau Persia (kahwa). Keduanya adalah kata serapan. Dalam pemakaiannya, kata kopi lebih sering digunakan oleh kaum penjajah dan antek-anteknya, sedangkan kata kawa lebih sering digunakan oleh kalangan pribumi yang berbahasa melayu. (Dalam kenyataannya bahasa melayu memang banyak menyerap bahasa arab dan timur tengah.) Perkembangan selanjutnya kedua kata itu eksis, tetapi sedikit ada perbedaan makna. Kopi digunakan untuk menggambarkan biji kopi sedangkan kawa lebih sering digunakan untuk menjelaskan minuman yang berasal dari daun kopi.

Aie Kawa, yang dikategorikan sebagai minuman kaum pribumi tersebut, dalam literatur sebaiknya diartikan sebagai kopi herbal. Melihat kepada proses pembuatan dan kandungannya aie kawa lebih tepat didefinisikan sebagai kopi herbal dari pada kopi daun. Dengan istilah kopi herbal, kawa daun dapat mengikuti tren yang berkembang dan tidak hanya lagi menjadi konsumsi lokal di Sumatera Barat saja.

Wassalam

Gulidiak 10 Februari 2014

Advertisements
This entry was posted in Oud Comodity. Bookmark the permalink.

6 Responses to KAWA DAUN, BUKAN SEKEDAR (MELAYU) KOPI DAUN

  1. sandella dewi says:

    Salam kenal pak..
    Sangat menyenangkan membaca tulisan Bapak..membuat saya lebih bisa memahami sejarah daerah sendiri (walaupun org tua saya bukan asli minang tp saya kelahiran payakumbuh&dengan bangga menyebut payakumbuh adalah kampung halaman saya)..
    Terimakasih untuk info&foto2nya pak..pasti sangat susah untuk mengumpulkan foto2 itu..
    Semoga kesuksesan selalu menyertai kehidupan Bapak..

  2. harun alrosid says:

    terimakasih,,, menjadi bahan siaran juga( izin saya kutip) (Y)

  3. tarmizibustamam says:

    Tulisan yang bagus, namun ada bebera hal yang saya ingin komentari. Menurut hemat saya “kumbuak” bukanlah kata serapan dari bahasa asing, karena istilah tsb asli bahasa/dialek Minang Payakumbuh. Istilah “kawa’ berasal dari bahasa Arab “قهوة”/kahwah. Begitu juga “cofffee” (bhs. Inggris) atau “koffie” (bhs. Belanda) berasal dari bahasa Arab tsb) Tanaman kopi berasal dari Ethiopia, mengkin orang-orang Arab yang pertama kali meminumnya dan meluas sampai ke seluruh kawasan Turki Usmani.. Kahwah/kahwa bahasa Arab diucapkan kahve oleh orang Turki.. Istilah “kahve” ini diadopsi oleh orang Perancis menjadi “café”. Kemudian orang-orang Inggris dan Belanda kedalam bahasa masing-masing menjadi “coffee” dan “koffie”. Orang Indonesia mengadopsi-nya dari bahasa Belanda menjadi “kopi”.

    Wassalam,
    Tarmizi Bustamam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s