MANGANI, KOTA TAMBANG YANG HILANG: Tabaks van Pajakombo

Perkebunan Tembakau di Afdeeling Lima Puluh Kota Awal abad ke 20

Perkebunan Tembakau di Afdeeling Lima Puluh Kota Awal abad ke 20

PARINTANG-RINTANG: Sudah tiga kali dia melihat arloji berwarna perak yang tersimpan di kantong baju putihnya. Rantai jam mewah (pada zaman itu), yang dibelinya beberapa hari sebelum berangkat ke Amsterdam sebagai bekal menuju Mangani di equator, tergantung pada salah satu kancing bajunya. Penampilan yang begitu mentereng tersebut berlawanan dengan raut wajahnya yang mulai memperlihatkan kecemasan dan kekhawatiran. Sendirian di negeri yang sangat asing tentulah membuatnya tidak nyaman.

Hari itu Minggu, kira-kira pukul sebelas siang. Dokter muda yang akan memulai tugasnya sebagai dokter di Mangani, lokasi pertambangan milik Mijnbouw Maatschappij Aequator tiba di Pajakombo. Kira-kira satu jam yang lalu dia sampai degan menggunakan kereta api pukul sembilan setelah sebelumnya bermalam di Fort de Kock. Seperti yang ada dalam pikirannya selama dalam perjalanan dari Fort de Kock ke Pajakombo yang menakjubkan itu, dengan siapakah dia akan ke Mangani camp, lokasi pertambangan tersebut. Belum ada yang datang menjemput, sebagaimana dijanjikan oleh pria yang menjemputnya di Emmahaven dua hari yang lalu.

“Sabar” desisnya dalam hati.

“Berapa lama aku harus menunggu?” pikirnya. “Barang bawaan begitu banyak, terutama alat-alat kesehatan dan kebutuhan pribadi. Kemana harus diletakkan.” Dia terus berpikir.

Tanpa pikir panjang lalu dia memanggil seorang kuli panggul untuk mengangkat barang-barangnya. Dia berjalan ke kantor stasion diikuti pribumi kuli panggul tersebut. Dia memang tidak bisa berbahasa lokal namun sangat fasih berbahasa Belanda. Untunglah pribumi tersebut mengerti dengan bahasa Belanda yang diucapkannya dengan diiringi gesture atau tepatnya bahasa tarzan. Di sana tertulis Pajakombo 320b-26. Setelah bercakap-cakap dengan kepala stasion, dia lalu menyuruh kuli panggul meletakkan beberapa barangnya di ruangan kepala stasion. Dia pun berjalan meninggalkan stasion.

Demikianlah, untuk mengisi waktu menunggu jemputan dari petugas Mijnbouw Maatschappij Aequator dia lalu berjalan untuk melihat kota yang baru saja didatanginya tersebut. Hari itu adalah hari pasar di Pajakombo. Banyak pedagang dari daerah sekitar yang datang. Ada yang dari Afdeeling Oud Agam, Fort van Deer Capelen, ataupun yang berasal dari Onderafdeeling Lima Poeloeh Kota sendiri seperti dari Onderafdeeling Poear Datar dan Onderafdeeling Halaban. Baru beberapa puluh meter berjalan, pandangannya tertuju pada sabuah toko yang yang sangat ramai didatangi orang. Toko yang cukup besar, atau bisa juga disebut sebagai gudang, tersebut terletak di jalan stasion atau Stasionweg. Toko yang bertuliskan Tjoa S.P Tabak en Gambir Handel itu begitu ramai dikunjungi. Pemilik toko, seorang Tionghoa, yang sudah cukup lama tinggal di Pajakombo tersebut melihat kedatangannya. Sambil membungkuk memberi tanda penghormatan pria tersebut menyapanya. Mulanya dengan bahasa melayu yang patah-patah.

Mengetahui pria yang baru datang tersebut tidak mengerti apa yang diucapkannya, pria tionghoa tersebut menyapanya dengan bahasa belanda yang juga patah-patah. Dengan tersenyum dokter Walther menghampirinya dan mengulurkan tangannya.

“Selamat datang Meneer, apa yang bisa saya bantu?“ itulah kira-kira yang diucapkannya dan diteruskan dengan “Tuan pasti orang baru di sini ya? Belum pernah saya melihat tuan sebelumnya. Kami menyediakan tembakau yang terkenal itu” demikan pria Tionghoa itu mencoba menarik perhatian dokter Walther.

“Tembakau, ya saya pernah mendengar Sumatra merupakan daerah penghasil tembakau terkenal. Apakah daerah ini merupakan penghasil tembakau juga? “ dokter Walther mulai tertarik dengan apa yang disampaikan pria tersebut. “Ya tuan, Pajakombo Tabak atau tembakau Pajakombo merupakan salah satu varietas tembakau yang paling enak dan terkenal” ulas pria tersebut.

“Kalau begitu berikan saya satu paket untuk saya coba.”kata dokter Walther sambil mengeluarkan sejumlah uang dari kantongnya.

“Tidak usah Meneer.”jawab pria itu sambil tersenyum.

Matahari baru saja beralih ke barat. Orang-orang yang ramai tadi terlihat meninggalkan pasar dan menuju sebuah bangunan. Mereja hendak ke mesjid mengerjakan shalat zuhur. Dokter Walther kemudian mencoba menikmati aroma asap tembakau Pajakombo yang terkenal seantero Hindia Belanda itu sambil menunggu jemputan datang.

***************

Sejak pertengahah abad ke 19, Padangsche Bovenlanden sudah dikenal sebagai daerah penghasil tembakau. Dalam Het ombilien-kolenveld in de Padangsche bovenlanden en het transportstels tergambar data produksi berbagai komoditi sejak tahun 1865-1869 dengan satuan yang bervariasi seperti pikols, babans dan stuks (lihat gambar). Produksi tembakau pada kala itu sangat bervairasi mulai dari 4.700 babans pada tahun 1865 kemudian turun menjadi 2660 babans pada tahun 1866, naik menajdi 5.472 babans pada tahun 1867, turun menjadi 1.469 babans pada tahun 1868 dan hanya 252 babans pada tahun 1869. Walaupun dalam data statistik pada buku itu tidak disebutkan daerah mana yang menjadi penghasil tembakau kala itu namun data lain menunjukkan bahwa Afdeeling Lima Poeloeh Kotta merupakan penghasil utama tembakau di Padangsche Bovenlanden ini.

Deskripsi tentang Lokasi Penanaman Tembakau di Afdeeling Lima Puluh Kota

Deskripsi tentang Lokasi Penanaman Tembakau di Afdeeling Lima Puluh Kota

Berdasarkan buku De Nuttige Planten Van Nederlandsch-Indië Tevens Synthetische Catalocus Der Verzamelingen Van Het MUSfc M Voor Economische Botanie Te Büitenzorg Deel IV, tembakau yang dikembangbiakkan di Pajakombo tersebar pada beberapa daerah yaitu: di Padang Sindir (Laras Goegoe), Pijobang (Laras Soengei Baringin), Padang Bonai (Laras Kota nan IV) , dan Doerian Gadang (Laras Batoe Hampar). Semua tembakau itu dijual di pasar Pajakombo dan lebih dikenal dengan nama tembakau pajakombo atau Pajakoembo-tabak. (Lihat gambar Tabak van Pajakombo).

Beberapa gambar yang diperoleh dari CollectieTropenmuseum di bawah inimemperlihatkan kebun tembakau dan pengolahan tembakau di Lima Puluh Kota yang kemungkinan berada pada daerah yang disebutkan di atas.

**********

Pondok Tempat Pengeringan Tembakau di Afdeeling Lima Puluh Kota Awal Abad ke 20

Pondok Tempat Pengeringan Tembakau di Afdeeling Lima Puluh Kota Awal Abad ke 20

Panaspun semakin terik. Orang-orang yang tadi pergi shalat ke mesjid telah kembali beraktifitas. Tembakau pada pipa cangklong dokter Walther juga semakin menipis asapnya. Nikmatnya asap tembakau Pajakombo yang terkenal itu telah membuat dokter Walther terlupa sejenak dengan kegalauannya. Kerinduan akan tanah kelahiran yang sempat mampir ke dalam pikirannya juga telah hilang.

Meneer, … Meneer… “ teriak kuli panggul yang tadi membantunya sambil berlari. “Tuan Haan, dari Mijnbouw Maatschappij Aequator mencari Anda”.

Akhirnya jemputan itu datang juga. Seorang Belanda, seusia dokter Walther, datang untuk menjemputnya. Memperkenalkan diri sebagai seorang insinyur pertambangan pada Mangani camp dimana Mijnbouw Maatschappij Aequator beroperasi, Willem de Haan, mengajaknya untuk segera berangkat ke Mangani. Lebih dari tigapuluh lima kilometer dari Pajakombo ke arah utara menuju Equator.

Asap tembakau kemudian mengepul dari mulut kedua orang yang baru saja bertemu itu. Asap tembakau Pajakombo yang terkenal itu.

********

Proses Pengeringan Tembakau di Afdeeling Lima Puluh Kota Awal Abd ke 20

Proses Pengeringan Tembakau di Afdeeling Lima Puluh Kota Awal Abd ke 20

Sengaja tembakau atau tabak (dalam bahasa Belanda) dimunculkan dalam PARINTANG-RINTANG kali ini karena penulis tertarik dengan nama Jalan tembakau di Pusat Kota Payakumbuh dan pengalaman yang berkesan dimana sehari sebelum dibonsaikan pada tanggal lima Februari dua ribu empat belas, dengan segenap kemampuan dan wewenang telah membagi Alokasi Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) Tahun 2014 untuk SKPD di Kabupaten Lima Puluh Kota yang sempat tertunda karena tak tau siapa yang bertanggung jawab untuk membaginya.

Wassalam

(nspamenan@yahoo.com , Gulidiak, 18 Maret 2014

Advertisements
This entry was posted in Mangani, Kota Tambang yang Hilang. Bookmark the permalink.

2 Responses to MANGANI, KOTA TAMBANG YANG HILANG: Tabaks van Pajakombo

  1. tarmizibustamam says:

    Tambang Manggani bukanlah lokasi Rumah Sakit Pertama di Kabupaten Lima Puluh Kota. Rumah sakit pertama / cikal bakal rumah sakit di Payakumbuh adalah poliklinik yang dibikn tentara kolonial Belanda untuk fasilitas pengobatan serdadu mereka yang luka-luka pada saat berkecamuknya Perang Padri, yakni yang sekarang dikenal RSUD dr. Adnaan WD. Fasilitas untuk serdadunya yang pertama mereka bangun adalah tangsi serdadu di penggir Batang Agam dan dan diikuti pembangunan poliklinik di dekat tangsi tsb untuk merawat para serdadu yang luka. sekitar awal tahun 1830-an. Catatan: Perang Padri berakhir 1837 dan untuk yang tewas mereka kuburkan di seberang RSUD sekarang di pojok Simpang Tiga Jalan Pacuan dengan Jalan Ade Irma Suryani.

    Menurut hemat saya di tempat-tempat tsb di sanalah Kota Payakumbuh bermula.

    Wassalam,
    Tarmizi Bustamam

    .

    • Terima kasih sudah berkunjung ke blog saya,a parintang-rintang.
      Rumah sakit Adnan WD memang rumah sakit militer Belanda sebagai pelengkap benteng Payakumbuh. Benteng Payakumbuh atau Fort Payakumbuh terletak di pinggir batang Agam. Lokasi benteng tersebut berada di lokasi yang disebut bivak atau asrama polisi. Betul juga bapak, lokasi yang bapak sebutkan tadi terdapat kuburan tentara dan orang-orang Belanda. Salah seorang yang dikubur di sana adalah Mayor Jendral Hendri Demmeni, Gubernur Jenderal Belanda di Aceh yang pulang ke Payakumbuh pada tahun 1886.
      Tentang pendapat saya Rumah sakit di pertambangan emas Mangani menjadi rumah sakit pertama di Kabupaten Lima Puluh Kota perlu saya jelaskan bahwa Kota Payakumbuh dan Kabupaten Lima Puluh Kota adalah dua daerah dan pemerintahan yang berbeda walaupun Kota Payakumbuh seluruhnya berbatasan dengan KAbupten Lima Puluh Kota.
      Salam Pak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s