MANGANI, KOTA TAMBANG YANG HILANG: Menuju (Barangkali) Rumah Sakit Pertama Di Lima Puluh Kota

Peta Lokasi Mangani dari Andreas Rosenstingl

Peta Lokasi Mangani dari Andreas Rosenstingl

PARINTANG-RINTANG. Mentari belumlah muncul dari ufuk timur. Sinar kemerahan sebagai pertanda pagi telah datang. Ronanya tampak seperti merahnya tembaga terpanggang panasnya api di tungku pembakaran penempaan pandai besi. Sayup –sayup terdengar kletok bunyi sandal kayu yang dipakai ibu-ibu yang bergegas ke pasar dengan ketiding di atas kepalanya membawa aneka buah dan sayuran ke pasar. Bunyi tersebut semakin mendayu ketika ditingkahi bunyi ganto pedati sarat muatan rumbia yang baru lewat.

Dalam kamar tamu utama rumah peristirahatan milik perusahaan Mijnbouw Maatschappij Aequator yang bersebelahan dengan kantor perwakilan perusahaan tersebut, dokter Walther masih terlihat malas untuk bangkit dari tempat tidurnya. Keletihan akibat perjalanan seharian dari Fort De Kock ke Pajakombo dengan kereta api yang dilanjutkan dengan perjalanan sejauh dua puluh kilometer dari Pajakombo ke Limbanang masih terasa. Keinginan untuk segera melanjutkan tidur sekejap dua kejap lagi hampir saja mengalahkan keinginannya untuk bangkit dari tempat tidur. Alunan harmoni bunyi sandal yang beradu dengan tanah dan bebatuan dengan kerincing bunyi genta pedati lebih menarik hatinya. Sebagai orang muda yang baru saja sampai di daerah timur yang jauh, hentakan bunyi tersebut sungguh menggugah hatinya untuk segera memandang keluar. Menatap pagi yang mulai diselimuti embun. Layaknya sambutan untuk tamu khusus yang baru saja datang.

Memang. Dia adalah tamu khusus. Dokter yang khusus didatangkan dari belahan Eropa untuk bekerja di sebuah rumah Sakit Mini milik pertambangan yang cukup penting di Equator tersebut. Pagi ini dia harus melanjutkan perjalanan ke Mangani. Lokasi pertambangan milik Mijnbouw Maatschappij Aequator itu tinggal dua puluh kilo meteran lagi, sebagaimana yang disampaikan kepala perwakilan Mijnbouw Maatschappij Aequator ketika mereka berbincang-bincang di larut malam yang hening beberapa jam yang lalu.

Goedemorgen, meneer. Speciaal ontbijt voor u bereid. Vertrekt u naar Mangani op 09:00” terdengar suara pelayan tak jauh dari depan pintu kamar ketika dia melangkah keluar dari kamar tidurnya.

Goedemorgen”, jawabnya sambil terus berjalan menuju beranda rumah peristirahatan tersebut. Matanya terus mencari suara yang tadi menarik perhatiannya. Suara tersebut semakin samar bunyinya. Akhirnya tak terdengar lagi dan berganti bunyi derap sepatu kuda yang ditingkahi bunyi lonceng bendi dan dering lonceng sepeda.

Tepat pukul sembilan, mobil khusus yang dimiliki perusahaan sudah menunggunya. Dia belum dapat membayangkan seperti apa rute yang akan ditempuhnya. Apakah masih seperti jalan mendatar yang dilaluinya dari Pajakombo kemarin?.

Mobil segera berangkat. Jalan yang semula datar dan ditingkahi sedikit turunan perlahan mulai menanjak. Sampai dipertigaan Soeliki, mobil berbelok ke kiri. Tak berapa jauh di sebelah kiri dilihatnya keramaian. Suara hiruk pikuk transaksi antara penjual dan pembeli seperti meredam bunyi mobil yang ditumpanginya. Rupanya kesinilah tujuan perjalanan pedati dan orang-orang yang di dengar di subuh tadi. Pagi itu, di hari Senin ke kedua di Bulan Januari tahun seribu sembilan ratus tiga belas, geliat pasar Suliki telah dimulai. Aneka komoditi dijual di pasar tradisional tersebut. Dari berbagai pelosok kampung dan nagari sekitar Suliki masyarakat membawa barang hasil pertanian, hasil kerajinan dan barang olahan dan kebutuhan lainnya. Sangat menarik hatinya. Adakah pasar di Mangani, tempatnya mengenal komoditi lokal? Seperti apakah rumah sakit yang akan menjadi tempatnya bekerja.

Tak mau berlama-lama di pasar itu, mereka segera menghadapi tanjakan, melewati Kurai. Tak beraberapa lama, Pandam Gadang, dengan rumah bergonjong lima tampak cerah disinari matahari. Jalanan terus menanjak. Semakin lama semakin tinggi dan cenderung curam dan berliku. Setelah hampir satu jam yang melelahkan mereka sampai di Koto Tinggi setelah melewati kampuang Muaro dan Lakuang.

Nama daerah yang begitu penting pada zaman itu adalah Poear Datar. Poear Datar adalah sebuah Under Afdeeling di Afdeeling Lima Puluh Kota. Perjalanan menanjak menuju Koto Tinggi dibingkai aliran sungai di sebelah kiri dan tebing curam Bukit Datar yang puncak tertingginya mencapai 915 m di atas permukaan laut (dpl).

Koto Tingg terus dilewati. Di depan terpampang persimpangan. Ke utara menanjak menuju Sungai Sirih dan ke barat laut menuju Poear Datar. Poear Datar terletak pada ketinggian 946 m dpl. Sampai di Poear Datar mobil berbelok ke barat karena ke utara harus melewati jalan kecil menuju Sungai Dadap. Jalanan yang cukup sepi dari Poear Datar harus mereka lewati. Sesekali mobil mereka berpapasan dengan pedati dan truk pembawa emas dan perak ke Pajakombo.

Mobil terus berjalan pelan. Mereka kemudian melewati jembatan yang melintasi sungai Batang Air (BA) Poear. Setelah mrlewati BA Poear mereka terus melaju melewati Kampung Halang. Terkesima dengan pemandangan yang begitu indah, tidak terasa mereka kembali melewati jembatan yang melintasi BA Pagadis yang hulunya ada di Afdeeling Agam. Tidak terlalu lama, mereka kembali melewati jembatan. Kali ini mereka melintasi BA Balioeng yang juga mengalir dari Afdeeling Agam. Akhirnya mereka sampai di Padang Koeriman.

Padang Koeriman adalah sebuah perkampungan yang terletak pada aliran BA Koeriman. Ke utara dari perkampungan Padang Koeriman terletak Bukit Goentoeng yang memiliki ketinggian 1150 rpm dpl. Di sana mereka berhenti sejenak melepas kepenatan dari perjalanan yang cukup melelahkan. Ke tenggara dari Padang Koeriman mengalir BA Koeriman yang cukup besar. Jalan utama yang mereka tempuh sejak berbelok dari Poear Datar tadi adalah jalan menuju Bondjol. Mereka tidak lagi akan mengikuti jalan tersebut. Dari Padang Koeriman mereka akan melanjutkan perjalanan ke arah utara menyusuri pinggang perbukitan Bukit Goentoeng. Mangani camp lokasi yang mereka tuju terletak di seberang Bukit Goentoeng dari posisi mereka beristirahat sekarang.

Sesudut Pemandangan Mangani Camp 1921-1922 (doc. Andreas Rosenstingl Family)

Sesudut Pemandangan Mangani Camp 1921-1922 (doc. Andreas Rosenstingl Family)

Jalan mendaki yang diselingi lembah tersebut membuat hati dokter Walther deg-degan. Tak berapa lama berjalan, mereka bertemu dengan sepasang tembok tinggi menjulang yang menjadi tempat kedudukan besi-besi kekar gerbang kawasan pertambangan mangani miliki Maatschappij Mijnbouw Aequtor.

Dank u God. Ik eindelijk aangekomen hier in Mangani kamp na een reis voor een maand op reis” dia berbisik dalam hati. Ya dia merasa bersyukur setelah melewati perjalanan panjang selama satu bulan akhirnya dia sampai di Mangani. Tempatnya bekerja sebagai dokter untuk pertama setelah tamat fakultas kedokteran di Austria.

Mereka akhirnya sampai di Kantor pusat Maatschappij Mijnbouw Aequtor di lokasi pertambangan di garis khatulistiwa. Beberapa orang berwajah Eropa terlihat hilir mudik memberi instruksi pada mandor. Dari kejauhan terlihat kereta gantung membawa bahan hasil galian dari lubang tambang yang bertingkat-tingkat tersebut. Ada tiga belas lubang tambang yang digali di kawasan pertambangan ini. Lokasinya berada di lereng perbukitan.

Pemandangan di lokasi Penambangan Mangani ketika masih dimiliki Mijnbouw Maatschappij Sumatra sebelum dibeli Mijnbouw Maatschappij Aequator

Pemandangan di lokasi Penambangan Mangani ketika masih dimiliki Mijnbouw Maatschappij Sumatra sebelum dibeli Mijnbouw Maatschappij Aequator

Rumah sakit. Dimana rumah sakit tempatnya bertugas. Belum dia ketahui. Dia sibuk mencari-cari dimana kira-kira rumah sakit terebut berada.

“Ayo segera kita berangkat menuju rumah kediamanmu.” kata petugas yang tadi bersamanya dari Limbanang.

Dengan berjalan kaki mereka bergerak menuju rumah yang akan menjadi tempat kediamannya. Tersebut. Rumah yang sangat sederhana. Berdinding papan. Dengan halaman yang masih gersang karena baru saja dibangun. Hanya dua puluh meter dari rumah dinasnya tersebut. Berdirilah rumah sakit sangat sederhana. Rumah sakit yang lebarnya sekitar 30 meter dengan panjang ke belakang sekitar 10 meter. Terdapat empat pasang jendela yang terletak di kiri dan kanan rumah sakit. Kusennya berwarna putih. Terdapat pavilun kecil yang digunakan untuk melayani pasien dan keluarganya. Dari kejauhan tampak empat mantri pribumi yang selama ini menajdi petugas rumah sakit duduk berjaga.

Gerbang Mangani Camp (diambil dari video yang dipublikasikan oleh Yayasan Pedati Emas

Gerbang Mangani Camp (diambil dari video yang dipublikasikan oleh Yayasan Pedati Emas

Besoknya dokter Walther akan memulai tugasnya sebagai dokter pada Rumah sakit kecil (mini hospital) di Mangani camp. Rumah sakit mini ini, sejauh ini dapat dianggap sebagai rumah sakit pertama di Luhak Lima Puluh Kota. Pada tahun 1913 itu, belum ada rumah sakit. Dokter yang ada hanya ada di Fort De Kock.

**********

Para pekerja di lokasi Penambangan Mangani ketika masih dimiliki Mijnbouw Maatschappij Sumatra sebelum dibeli Mijnbouw Maatschappij Aequator

Para pekerja di lokasi Penambangan Mangani ketika masih dimiliki Mijnbouw Maatschappij Sumatra sebelum dibeli Mijnbouw Maatschappij Aequator

Beberapa gambar dalam tulisan ini, (1) Peta lokasi kawasan Mangani dan (2) Foto Lokasi rumah sakit dengan kereta gantung melitas di atasnya diperoleh dari cucu Dokter Walther R dan (3) gambar bekas gerbang masuk kawasan Mangani diambil dari cuplikan video perjalanan ke Mangani yang diambil tahun 2007 oleh Yayasan Pedati Emas.

Tempat pengolahan emas dan perak di lokasi Penambangan Mangani ketika masih dimiliki Mijnbouw Maatschappij Sumatra sebelum dibeli Mijnbouw Maatschappij Aequator

Tempat pengolahan emas dan perak di lokasi Penambangan Mangani ketika masih dimiliki Mijnbouw Maatschappij Sumatra sebelum dibeli Mijnbouw Maatschappij Aequator

Gambar(4), (5) dan (6) adalah gambar yang diperoleh dari Tropen Museum yang ditulis sebagai Maatschappij Mijnbouw Sumatra nama perusahaan yang mengelola pertambangan di Mangani sebelum Maatschappij Mijnbouw Aequator.

Wassalam,

Gulidiak, 2 April 2014)

Advertisements
This entry was posted in Mangani, Kota Tambang yang Hilang. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s