MANGANI, KOTA TAMBANG YANG HILANG: Kereta Terakhir dari Limbanang

Tiket Kereta Terakhir Limabang Pajakombo 30 September 1933

Tiket Kereta Terakhir Limabang Pajakombo 30 September 1933

Parintang-rintang. Matahari sudah cukup lama tergelincir. Surau beratap ijuk yang tidak terlalu jauh dari Stasiun kereta api itu sudah terlihat lengang. Orang-orang yang tadi melaksanakan shalat zuhur di surau tersebut tampak bergegas menuju stasiun. Seorang ibu setengah baya yang membawa ketiding di kepalanya berjalan tergesa gesa menuju loket kecil di sudut sebelah kanan peron. Mereka mengeluarkan uang sebesar 5 cent untuk tujuan Payakumbuh. Sedangkan untuk empat stasiun terdekat digunakan tarif 2 ½ cent. Tidak berapa lama lagi kereta akan berangkat.

Pada hari itu, tidak seperti biasanya. Sangat banyak orang yang hendak berangkat menggunakan kereta api. Mereka itu ada yang berasal dari Koto Tinggi, Maek, Baruh Gunung, Pua Data dan Suliki. Stasiun Kereta Sungai Sirah, sebagai stasiun pertama dari jalur kereta api Limbanang-Payakumbuh, akan mengalami peristiwa yang sangat penting. Beberapa waktu yang lalu, pemerintah kolonial Belanda mengumumkan bahwa hari Sabtu itu, tanggal 30 September 1933 merupakan hari terakhir dari pelayanan kereta api yang melayani rute Payakumbuh-Limbanang sepanjang 20 kilometer. Peristiwa penting ini sangat menarik perhatian masyarakat bagian utara afdeling Lima Puluh Kota yang biasanya menggunakan kereta api untuk bepergian ke dan dari Payakumbuh.

Hari ini merupakan peristiwa yang bersejarah. Walaupun sangat antusias, banyak di antara mereka yang masih kebingungan. Kenapa angkutan kereta api ini harus berakhir? Bukankah mereka masih sangat membutuhkannya. Bila mereka harus membawa hasil bumi dan barang dagangan lainnya dengan bendi atau pedati tentu perlu waktu yang sangat lama. Tapi mereka juga sadar, mereka hanyalah pribumi. Kaum terjajah.

Stasion master yang menggunakan topi merah itu tampak sudah bersiap-siap. Pluit di mulutnya sudah beberapa kali dibunyikan sebagai pertanda bagi penumpang untuk segera naik ke gerbong. Ketika seluruh penumpang yang berasal dari stasiun Sungai Sirah itu sudah naik, segera dia mengangkat papan sinyal sebagai pertanda bagi masinis untuk segera mulai menggerakkan kereta. Terdengar bunyi lengkingan panjang “Tuuuuuuut”. Pluit pertanda kereta sudah mulai berjalan. Lambat-lambat mulai terdengar bunyi”Puh….Puh…Puh”. Kereta mulai melaju menuju satsiun utama 325-9 di Limbanang.

Tidak berapa lama kereta pun mulai berjalan pelan. Pluit panjang sebagai tanda akan segera berhenti samar- samar terdengar diantara hiruk pikuk suara penumpang yang bercampur dengan suara kereta. Ketika kereta berhenti, situasi seperti di Sungai Sirah juga terlihat di Stasiun Limbanang ini. Selain hendak ke Payakumbuh, penumpang yang naik di Limbanang ini beberapa diantaranya hendak pergi ke Fort De Kock. Mereka berebut hendak naik kereta, tetapi, samar-samar terdengar keluhan kenapa layanan kereta api ini harus berhenti. Tapi semuanya tetap tidak memiliki jawaban yang pasti.

Selepas stasiun Limbanang kereta terus melaju menuju stasiun 325-8. Stasiun 325-8 adalah stasiun yang berada di Talago. Hal yang sama juga terulang kembali. Dari stasiun Talago kereta melanjutkan perjalanan ke Dangung-Dangung. Di stasiun ini penumpang kelihatan cukup ramai. Tidak seperti biasanya, tidak ada penumpang yang turun di stasiun dengan nomor 325-7 ini. Kereta yang mulai penuh sesak ini segera bergerak menuju stasiun 325-6. Stasiun ini dinamai stasiun Guguk. Di stasiun ini kereta agak lama berhenti. Kabarnya, Asisten Demang Payakumbuh pada hari itu sedang berkunjung ke Guguk. Tidak seperti biasanya, Sang Asisten Demang tidak berangkat dengan menggunakan bendi kebesarannya. Setelah cukup lama berhenti, segera kereta bergerak menuju Stasiun 325-5 di Tahir (Taeh). Di Tahir, lagi-lagi tidak ada penumpang yang turun. Kereta semakin penuh sesak. Tak menunggu lama kereta segera bergerak lagi menuju stasiun Simalanggang dengan kode stasiun 325-4. Di staiun ini hanya beberapa orang saja yang naik. Umumnya mereka adalah penumpang yang hendak menuju Bukittinggi (Fort De Kock). Selanjutnya kereta berhenti di Stasiun 325-3 Lampasi. Di stasiun ini terlihat beberapa orang turun. Di antaranya adalah asisten Demang Payakumbuh dan beberapa orang kepercayaannya. Di sini juga ada beberapa orang penumpang dengan tujuan Fort De Kock yang naik. Akhirnya, setelah melewati perjalanan selama hampir satu jam dengan melewati delapan stasiun, Spoorwegen (kereta api) terakhir dari Stasiun Limbanang sampai di Stasiun Overweg Payakumbuh. Sebagian besar penumpang turun, sebagian lagi melanjutkan perjalanan ke Bukittinggi.

************

Karcis Kereta Limbanang Pajakombo 30 September 1933

Karcis Kereta Limbanang Pajakombo 30 September 1933

Sudah beberapa kali, beberapa orang dan beberapa kesempatan saya mencoba bertanya tentang jalur kereta yang saya lihat ketika melakukan perjalanan dinas ke Kec. Payakumbuh, Kec. Guguk, Kec. Suliki, Kec. Bukik Barisan, dan lain-lainnya tentang sejarah stasiun yang ada di sepanjang jalan yang saya lewati tersebut. Hampir tidak ada jawaban yang memuaskan.

Beberapa hari yang lalu, sebagai parintang-rintang saya mengetik beberapa kata yang digunakan oleh penulis Belanda untuk Payakumbuh. Ternyata terdapat beberapa penulisan seperti, Paijakoemboeh, Paja combo, Pajakombo, Pajokoembo, dll. Secara tak sengaja saya menemukan kata Pajakombo yang dibatasi tanda strip dengan Limbanang. Rupanya ada catatan tentang mulai dioperasikannya jalur kereta api Payakumbuh-Limbanang. Namun demikian, saya lebih tertarik untuk menuliskan berakhirnya era kereta api Pajakombo-Limbanang ini untuk Parintang-parintang kali ini.

Sebagai Parintang-rintang, ada banyak hal yang ingin saya tulis lagi nantinya.

Wassalam

Gulidiak, 20 Februari 2014

Advertisements
This entry was posted in Mangani, Kota Tambang yang Hilang. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s