MANGANI KOTA TAMBANG YANG HILANG: Jalur Hitam Bertatahkan Emas dan Perak Mangani

PARINTANG-RINTANG: Hari baru menunjukkan pukul sepuluh pagi. Matahari belumlah terlalu tinggi. Cuaca pagi itu tidak terlalu panas. Di sebuah ruangan di stasiun overweg Payakumbuh, seorang pria Belanda, dengan topi bulat berwarna putih selaras dengan baju pantolannya tampak gelisah. Beberapa kali dia terlihat hilir mudik di dalam ruangan utama stasiun itu. Sesekali asap pipa cangklong yang selalu melekat dibibirnya tampak mengepul deras, persis seperti asap kereta api yang sedang ditunggunya. Tak jauh dari tempatnya berdiri, tampak seorang pria Tiong Hoa, dengan kumis yang dikucir bercakap-cakap dengan istrinya. Wajahnya pun terlihat tengang, walaupun terlihat lebih rileks dari pria Belanda tadi.

Tiba-tiba, pria Belanda, yang oleh teman-temannya dipanggil Meneer Haan, menghampiri petugas komunikasi Stasiun Overweeg Payakumbuh. Sambil setengah berbisik dia meminta sang operator untuk menghubungi Stasion Aur Tajungkang di Fort De Kock guna memastikan apakah kereta yang ditumpangi Resident Sumatra’s Weskust sudah berangkat. Segera saja petugas itu memutar Fk 14, nomor telpon Stasion Fort De Kock. Dari kejauhan terdengar jawaban bahwasanya rombongan resident masih berada di Hotel Centrum. Karena tidak sabaran pria itu lalu meminta izin pada petugas untuk menelpon ke Hotel Centrum. Segera diputarnya nomor FK 11. Dari seberang terdengar jawaban bahwa rombongan baru saja berangkat menuju stasion Aur Tajungkang. Wajah pria itu terlihat geram. Dia khawatir acara yang sedang dirancangya itu tidak akan terlaksana tepat waktu.

Dibalik kegelisahannya itu, Meneer Haan, lengkapnya Willem de Haan, terhanyut dan melayang dalam pikirannya. Terbayang keuntungan besar yang akan diperoleh perusahaannya dengan dioperasikannya jalur kereta api

Payakumbuh-Limbanang yang terdiri dari sembilan stasion itu. Biaya angkut emas dan perak dari hasil tambang di Mangani tentu akan semakin murah. Biaya operasional perusahaan tempatnya bekerja, Mijnbouw Maatschappij Aequator, tentu akan semakin kecil. Sebagai general manajer yang diangkat sejak tahun 1919 pada Mijnbouw Maatschappij Aequator atau pertambangan Mangani dia tentu sangat berkepentingan dengan suksesnya operasi KA api Payakumbuh-Limbanang ini.

 

Willem de Haan, (mungkin) sebagai seorang insinyur pertambangan, sudah dua tahun diangkat sebagai general manajer pada tahun itu. Perusahaan tambang Mijnbouw Maatschappij Aequator Mangani yang ditemukan pada tahun 1907 merupakan penghasil emas yang sangat penting di Barat dan Utara Sumatera. Dalam perkembangannya, wilayah Mangani merupakan kawasan khusus pertambangan yang memiliki fasilitas yang sangat lengkap. Selain dari fasilitas toko dan barang kebutuhan lainnya, di sana juga terdapat sebuah rumah sakit mini. Dokter yang bertugas di sana pada kurun 1914-1915 di datangkan dari Austria. Mangani merupakan pesona berkilau di sepanjang equator (khatulistiwa) yang menghadirkan emas dan perak.

Atas usulan Willem de Haan dan atas desakan dari pemegang saham Mijnbouw Maatschappij Aequator pada pemerintah hindia Belandalah, jalur kereta api itu dibuka. Sebagian besar biaya pembangunan rel kereta api sepanjang 20 km itu (mungkin) diperoleh dari perusahaan tambang Mijnbouw Maatschappij Aequator ini.

Tidak hanya untuk mengangkut hasil tambang, jalur kereta itu juga diproyeksikan untuk mengangkut seluruh perlengkapan dan kebutuhan hidup yang di datangkan dengan kapal dari Emmahaven (pelabuhan Teluk Bayur). Suplier kebutuhan tesebut adalah Firma milik pria Tionghoa yang juga berada di dalam ruangan tunggu stasion overweg Payakumbuh itu.

Di sudut lain, pria tionghoa yang tadi berbincang-bincang dengan istrinya tampak ditemani oleh dua orang tionghoa lainnya. Pria itu adalah Goan Tjoan Ge pemilik Firma Goan Soen Hin. Dua temannya adalah Tjoa Kong Bie pemilik Tjoa SP perusahaan tembakau dan gambir terbesar di Payakumbuh dan Tjoei Lay Njo pemilik Firma Tjong Hin & Co.

Sebagai orang Tionghoa, tiga orang tersebut memang tidak mendapatkan bagian dari hasil tambang Mijnbouw Maatschappij Aequator tetapi mereka mendapatkan keuntungan penjualan segala kebutuhan hidup pada kawasan pertambangan di Mangani. Disamping itu biaya angkut tembakau dari daerah Baruah Gunung, Banja Loweh dan daerah sekitarnya yang mereka usahakan juga akan semakin kecil. Dengan demikian ada keuntungan timbal balik yang akan mereka peroleh.

Hari itu adalah hari Minggu, tanggal 19 Juni tahun 1921. Hari itu merupakan hari keramaian (Pasar) di Payakumbuh. Pasar Syarikat beberapa nagari di afdelling Lima Puluh Kota sangat ramai pada hari itu. Tidak seperti biasanya, bendera merah putih biru berkibar dimana-mana. Resident Sumatra’s Weskust akan ke Payakumbuh untuk meresmikan dimulainya operasi layanan Kereta Api Payakumbuh-Limbanang, dari stasion overweg Payakumbuh ke stasion Sungai Sirah.

Tiba-tiba lamunan Willem de Han dikejutkan dengan panggilan dari petugas komunikasi stasiun. Petugas kereta api stasion Batu Hampar dengan kode satsiun 320b-24 mengabarkan kereta yang ditumpangi resident Sumatra’s Weskust dan rombongan lainnya baru saja berangkat. Hari memang sudah semakin siang. Orang-orangpun mulai berdatangan ke stasion overweg Payakumbuh. Untuk melihat pertama kali, jalur kereta api baru Payakumbuh-Limbanang mulai dioperasikan. Hampir bersamaan nomor telepon stasion Payakumbuh PJ 6 juga berbunyi. Ada pemberitahuan bahwa sebentar lagi kereta yang ditunggu akan sampai.

Dua jam kemudian, di stasiun overweg Payakumbuh, peresmian jalur kereta api hampir selesai dilaksanakan. Willem De Haan menyelinap ke ruang komunikasi. Dia pergi sebentar untuk memutar nomor Pj 42, mengabarkan kepada stafnya di Mijnbouw Maatschappij Aequator Limbanang akan segera beroperasi.

**********

Demikianlah, sejak tanggal 19 Juni 1921, jalur kereta api Payakumbuh Limbanang mulai beroperasi. Jalur kereta dengan lintasan hitam kereta api Limbanang-Payakumbuh, yang bertatahkan emas dan perak Mangani dan berasapkan tembakau dari Baruah Gunuang, Banja Laweh dan sekitarnya beroperasi selama 12 tahun tiga setengah bulan. Dan hingga Kereta terakhir dari Limbanang https://www.facebook.com/notes/nalfira-pamenan/kereta-terakhir-dari-limbanang/10152196717088077 , jalur kereta api yang pernah ada ini, dan beberapa sisanya masih dapat dilihat, menjadi sejarah yang hampir saja terlupakan.

******

Jalannya cerita ini, sekali lagi, hanyalah rekaan dan imajinasi sebagai Parintang-rintang. Nama tokoh, nomor telepon, nomor stasiun, dan tanggal kejadian dan nama lainnya ada dan tertera serta diambil dari referensi pada perpustakaan yang ada di dunia maya.

Ke depan adakah hubungan antara Kereta Terakhir dari Limbanang dengan Tambang Emas Mangani?

Wassalam

Gulidiak, 24 Februari 2014)

Advertisements
This entry was posted in Mangani, Kota Tambang yang Hilang. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s