MANGANI KOTA TAMBANG HILANG: A Long Fantastic Journey to the Equator

PARINTANG-RINTANG: “Hoi, Ik ben Walther,” seru pria muda berkebangsaan Austria berusia tiga puluh satu tahun berpakaian putih dengan topi bulat berwarna krem itu pada lelaki setengah baya yang memegang papan bertuliskan namanya, ‘’ Walther R. Mijnbouw Maatschappij Aequator”.

Begitulah, pada sore menjelang malam di bulan Januari tahun 1913 itu, di Emmahaven (Teluk Bayur) pria muda yang baru turun dari kapal uap berpenumpang seribuan orang tersebut terlihat girang. Kekhawatirannya tentang tidak adanya teman atau kerabat di daerah yang sangat asing baginya untuk memulai tugas sebagai seorang dokter pada sebuah perusahaan pertambangan yang baru saja membeli hak konsesi penambangan emas dan perak di khatulistiwa sedikit sirna. Kegalauan tentang kemana dia harus pergi setelah kapal merapat di dermaga segera berganti dengan kegembiraan. Tantangan untuk mendapatkan pengalaman hidup di negeri tanpa musim kembali bergelora. Pria itu pastilah pejabat pertambangan yang ditugaskan untuk menjemputnya ke Emmahaven dan kemudian bersama-sama ke tempat penambangan milik Mijnbouw Maatschappij Aequator tersebut.

Merekapun kemudian bersalaman. Walaupun keduanya bercakap-cakap dengan menggunakan bahasa Belanda, namun pria yang baru turun dari kapal itu memiliki dialek Jerman sedangkan pria yang menunggunya berbicara dalam bahasa Belanda yang sudah dipengaruhi bahasa melayu.

Tanpa banyak berbicara lagi karena hari sudah mulai gelap, segera saja mereka menaiki bendi yang sudah disiapkan beserta kusirnya tak jauh dari tempat mereka berdiri. Seorang kuli pelabuhan yang tadi dimintanya untuk membawakan barangannya yang cukup banyak itu tampak sedikit kesulitan mengangkat barang bawaannya, terutama alat-alat kesehatan dan kebutuhan pribadinya. Sinar kemerahan di langit perlahan mulai sirna. Gemerlap bintang di langit segera menggantikan ufuk merah di atas samudra hindia. Perlahan-lahan bendi tersebut bergerak menuju pusat kota Padang.

“Kita akan menuju hotel Sumatra. Kamar anda untuk beristirahat malam ini sudah dipersiapkan oleh perusahaan di sana. Dari sanalah besok pagi anda akan melanjutkan perjalanan ke Fort de Kock (Bukittinggi) dengan kereta api” kata pria tersebut disela-sela derap sepatu kuda. Dokter Walther masih mencoba mengenali tempat dan bangunan yang dilewatinya sejak meninggalkan pelabuhan tadi.

Ok, Ik ben er klaar voor. Ongeveer hoe lang een reis morgen naar mijn in Mangani. (Ök, Saya siap. Berapa lama kira-kira perjalanan besok ke lokasi pertambangan di Mangani)” jawab Walther lagi-lagi dengan logat Jermannya yang kental.

******************

Malam baru saja berlalu. Pagi yang cerah baru saja datang. Sinar matahari yang muncul di antara bukit barisan tampak membayang pada dinding papan licin mengkilat di hotel Sumatra. Walther yang baru saja bangun setelah istirahat separuh malam tampak menikmati secangkir kopi panas dan sepotong roti dengan irisan keju di atasnya. Disampingnya tampak tas perlengkapan kedokteran. Jongos hotel tampak beberapa kali bolak balik membawa barang miliknya ke atas bendi. Kereta ke Fort De Kock akan berangkat pukul sembilan.

Pukul delapan, Walther sudah siap untuk berangkat ke stasiun Padang. Pria separoh baya yang kemaren sore menyambutnya tampak baru sampai di Hotel Sumatra. Pagi ini dia akan mengantarkan dokter Walther ke stasiun Padang untuk memulai perjalanan dengan kereta api ke Payakumbuh.

Bent u klaar voor de volgende reis (Apakah anda sudah siap untuk perjalanan berikutnya )” kata pria tersebut menyapa dokter Walther. Ya, mari kita berangkat jawabnya sambil melangkah menuju bendi yang sedari tadi sudah siap di halaman hotel. Diperlukan waktu sekitar setengah jam dari Hotel Sumatra ke Stasiun Padang. Sesampainya di stasiun, peron keberangkatan terlihat ramai. Hari ini, begitu banyak penumpang kereta api di stasiun ini. Sebagian akan menuju Sawahlunto, sebagian lagi menuju Fort De Kock dan tentunya Payakumbuh. Terlihat juga beberapa ekspatriat di sana, mungkin mereka akan ke Sawahlunto disamping ke Fort De Kock.

Pukul sembilan tepat, asap kereta yang tadi mengepul terlihat semakin pekat, bunyi pluit stasion master sebagai pertanda kereta untuk mulai bergerak sayaup-sayup terdengar. Dokter Walther sudah berada dalam ruang VIP yang disediakan khusus untuk golongan Eropa, baik ekspatriat maupun pegawai pemerintah Hindia Belanda.

Perlahan-lahan kereta api bergerak meninggalakan stasion Padang yang pertama kali dibangun pada tahun 1864. Perjalanan kereta apai dari stasiun kereta api ini dimulai pada tanggal 1 Juli 1891. Dari Padang, kereta api yang dikelola oleh perusahaan kereta api Swasta Belanda yang bernama Staat Spoorwegen ter Sumatra’s Weskust (SSS) akan bergerak menuju Stasion Padang Panjang yang dibangun tahun 1875. Pada tahun itu baru terdapat 20 stasion yang beroperasi dengan kode stasion 310b. Pada tahun 1924 stasion tersebut bertambah menajadi 21 buah dengan dibangunnya stasion Pasar Oesang. Dengan demikian rute Padang-Padang Panjang akan melewati stasion 310b-4 Lapai sampai dengan stasion 310b-24 Padang Panjang. Perjalanana melewati 20 stasion ini pada waktu itu memakan waktu dan sangat melelahkan. Di dalam kereta, Dokter Walther tersu menikmati keindahan alam Sumatra Barat. Ketakjubannya semakin tinggi ketika kereta melewati air terjun Lembah Anai atau Anai Klof. Kereta berhenti di Padang Panjang sekitar pukul dua saing. Perjalanan yang memakan waktu hampir lima jam tersebut akan dilanjutkan dengan kereta lainnya yang melayani rute Padang Panjang ke Fort de Kock.

Rute Padang Panjang – Fort de Kock mulai beroperasi pada tanggal 1 November 1891. Pembangunan jalur kereta ini dimulai dengan pembangunan stasion Fort de Kock pada tahun 1873 dua tahun lebih awal dari pembangunan stasion Padang Panjang. Rute Padang Panjang-Fort de Kock ini akan melewati 13 stasion. Rute ini akan melewati stasion dengan posisi tertinggi dari permukaan laut di Asia Tenggara yaitu stasion Koto Baroe dengan kode 320a-8. Stasion kereta dari Padang Panjang Fort de Kock menggunakan kode 320a yang dimulai dengan stasion cantine (Kantin) dengan kode 320a-1 dan bereakhir di Stasion Fort de Kock dengan kode 320a-13. Sampai di Fort De Kock, hari sudah sore. Kereta ke Payakumbuh baru ada besok pagi pukul sembilan. Dokter Walther memutuskan unt menginap di Fort de Kock. Berdasarkan saran dari awak kereta, ada dua hotel: Hotel Centrum dan Parkhotel. Dia memilih untuk menginap di Parkhotel yang beralamat di Filetstraat nomor 7. Malam itu, dokter Walther menikmati dinginnya malam Fort de Kock sambil membayangkan indahnya pemandangan disepanjang jalur kereta api. Menurut teman seperjalanannya, perjalanan esok pagi juga akan lebih menarik dan menantang.

Pagi sudah menjelang. Dinginnya Fort de Kock, membuat dokter Walther terlihat malas untuk bangun dari tempat tidurnya. Keharusan untuk sampai di Stasion Aur Tajungkan sebelum pukul sembilan membuatnya bangkit dari tempat tidur. Selesai mandi dan bersiap-siap untuk berangkat ke stasion, dia berjalan ke berada dan memandang ke selatan. Di hadapannya terhampar gunung Marapi dan gunung Singgalang yang berkilau keemasan disinari mentari pagi. Emas, ya perusahaan penambang emaslah yang membawanya ke Sumatra ini untuk menuju equator dimana Mijnbouw Maatschappij Aequator berada. Tiba-tiba lamunannya terhenti ketika, pemilik hotel datang dan memberitahukan bahwa bendi sudah siap untuk berangkat menuju stasion. Kereta akan berangkat pukul sembilan.

Tiba di stasion Aur Tajungkang, penumpang tidak seramai di Padang Panjang atau pun Padang. Hal ini karena tujuan perjalanan kereta hanya dua ke Padang Panjang dan ke Payakumbuh. Pelayanan kereta api Fort de Kock Payakumbuh oleh SSS dimulai pada tanggal 15 September 1896. Pada tahun 1873 stasion Payakumbuh mulai dibangun dan selesai pada tahun 1896. Perjalanan kereta api dari Fort de Kock menuju Payakumbuh melewati 13 stasion dimana 10 stasion diantaranya berada di Afdeeling Agam dan tiga stasion yaitu Simpang Batoeampa, Pilandang dan Pajakombo berada di Aafdeeling Lima Poeloeh Kota. Perjalanan rute ini berbeda dengan dua rute sebelumnya yang dipenuhi dengan rute mendaki. Kali ini jalannya kereta terasa lebih cepat karena jalur menurun.

Dokter Walther, disepanjang jalan, terpesona dengan indahnya Gunung Marapai dan Singgalang, dan takjub dengan keindahan bukit barisan. Pukul sebelas, kereta memasuki stasion Payakumbuh. Tidak adak lagi jalur kereta setelah stasion dan kota ini. Apa yang harus dilakukannya. Dimanakah Mangani? Dengan apa lokasi yang disebut ”at the equator in the jungle of Sumatra” dalam iklan lowongan kerja yang dibacanya dulu bisa dicapai. Dengan siapa dia akan pergi ke sana?

***********

Perjalanan Dr. Walther Rosesntingl, dokter muda yang sangat menyukai alam dan tumbuhan ke Mangani untuk pertama kali pada Januari tahun 1913, memang tidak diceritakan secara detail oleh cucunya. Akan tetapi foto wajah dokter berkebangsaan Austria itu dan beberapa foto lain yang dikirimkan kepada saya (penulis) menarik untuk disajikan. Penyajiannya tentu dengan gaya dan genre yang saya sukai. Lagi-lagi, ini adalah Parintangrintang, yang kali ini ingin menceritakan juga tentang keberadaan jalur kereta api dari Padang sampai ke Payakumbuh.

Wassalam

Gulidiak, 10 Maret 2014

Advertisements
This entry was posted in Mangani, Kota Tambang yang Hilang. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s