MANGANI KOTA TAMBANG YANG HILANG: A Beginning Trip

PARINTANG-RINTANG: Sore telah datang. Matahari memang telah lebih separuhnya condong ke barat. Cuaca sangat cerah. Di atas geladak sebuah kapal uap, yang membawa ribuan penumpang dari Batavia, tampak seorang pria muda berwajah ganteng, berhidung mancung, berambut pirang, berkulit putih, tinggi menjulang memakai baju putih mentereng memandang ke arah daratan dengan sorot mata yang tajam. Dari atas kapal, sambil mengelus-elus kumisnya, bersama beberapa orang lainnya yang berwajah Eropa pria tersebut terkesima, memandangi barisan perbukitan di sepanjang pantai barat Sumatera itu. Cahaya matahari yang jatuh pada dedaunan pohon pada hutan yang sangat lebat itu berkilau, bagai zamrud, batu permata yang sangat berharga. Tidak berapa lama lagi, Kapal uap itu akan segera merapat di pelabuhan Emmahaven atau Teluk Bayur.

Di tempat lain di kapal itu, tampak para pribumi yang sedang bersiap-siap untuk segera turun setelah melewati perjalanan panjang selama seminggu dari Batavia, Ibu Kota Hindia Belanda (Netherland Indie) menuju daerah tujuan masing-masing. Selain dari kaum pribumi Minangkabau yang pulang merantau atau menjadi pedagang, kebanyakan pribumi tersebut adalah para pekerja yang direkrut atau dipaksa untuk ikut dan menjadi budak atau pekerja pertambangan. Sebagian diantara mereka akan dikirim ke Sawahlunto untuk menjadi pekerja pertambangan batu bara dan sebagian kecil lagi akan dikirim ke Mangani.

Mangani, tempat itu jugalah yang menjadi tujuan pria muda tadi. Memasuki usianya yang ke 31, pemuda kelahiran 1882 itu baru saja menerima tantangan pekerjaan di seberang lautan, di garis equator di tengah belantara hutan Sumatera. Selesai mengikuti pendidikan dan memperoleh gelar dokter di negerinya di Austria, dia melamar pekerjaan pada sebuah perusahaan pertambangan yang baru saja membeli konsesi pertambangan di bumi belahan timur.

Indikasi adanya potensi tambang emas dan perak di Mangani ini ditemukan pada awal abad ke 20, sekitar tahun 1902. Baru pada tahun 1907 nilai kandungan dan cadangan emas dan peraknya diketahui oleh Pemerintah Hindia Belanda dan pada tahun 1907 tersebut, West Sumatra Mijnen Syndicaat, mendapatkan hak konsesi penambangannya. Sejak saat itu Mangani dikenal sebagai daerah penghasil emas terpenting di Sumatera Bagian Barat dan Utara.

Pada tahun 1912, Mijnbouw Maatschappij Aequatoratau Aequator Mining & Co. membeli konsesi pengolahan pertambangan di Mangani dari Perusahaan West Sumatra Mijnen Syndicaat. Mulai tahun 1913, pertambangan emas dan perak Mangani mulai dikelola oleh Mijnbouw Maatschappij Aequatoratau Aequator Mining & Co. Hasil penambangan emas yang sangat menjanjikan tersebut menjadikan konsesi kepemilikan pertambangan Mangani menjadi Primadona. Hal itulah kemudian yang menyebabkan Mijnbouw Maatschappij Aequatoratau Aequator Mining & Co membeli sahamnya di pasar surat berharga di Eropa dengan nilai yang cukup fantastis pada masa itu. Dengan potensi yang ada tersebut, Mijnbouw Maatschappij Aequatoratau Aequator Mining & Co lalu berusaha terus mengembangkan Mangani menjadi kawasan pertambangan yang sangat layak. Persaingan dalam hal prestise dengan perusahaan penambangan batu bara di Sawahlunto, dan kebutuhan akan fasilitas yang memadai bagi para pekerja ekspatriat dan pribumi yang bukan penduduk asli dari Afdeeling Lima Puluh Kota dan khususnya Onderafdeeling Poear Datar membuat Mijnbouw Maatschappij Aequatoratau Aequator Mining & Co harus menyediakan fasilitas yang memadai seperti perumahan karyawan, toko bahan kebutuhan, gudang, pembangkit listrik dan rumah sakit.

Rumah sakit. Ya, itulah tujuan utama kepergian pemuda tersebut ke belahan timur dunia. Sebagai orang muda, tantangan untuk berpetualang ke daratan Hindia Belanda yang cukup terkenal tersebut sangat menarik hatinya. Terlebih lagi menuju daerah Equator yang tidak mengenal musim.

Saat itu, di bulan Januari tahun 1913, lebih dari satu abad yang lalu, pria muda, yang sangat menyukai alam dan tumbuhan tersebut akan memulai tugas pertamanya sebagai dokter di tengah belantara rimba Sumatera. Dari geladak kapal, dia terus memandang, pelabuhan yang semakin dekat. Pluit tanda sebagai tanda kapal merapat ke pelabuhan terdengar luantang. Semuanya tampak bersiap-siap. Dokter muda dari Austria berusia sekitar 31 tahun tersebut terus terpana, memandang indahnya pemandangan alam di sepanajang perbukitan yang melingkari teluk bayur. Tidak berapa lama lagi, matahari akan segera menuju peraduan. Ada sun set di sebelah barat. Perjalanan ke Mangani, masihkah panjang?

**********

Berdasarkan pada berbagai referensi dan cuplikan pada berbagai buku dan jurnal serta penelitian, yang ada demikianlah bagian awal dari parintang-rintang kali ini. Gambaran sederhana di geladak kapal ini terinspirasi dari data yang disampaikan seorang kawan yang baru dikenal yang mencari lokasi Mangani sebagai tempat kakeknya, yang sempat ditemani neneknya, dulu bertugas. Sebagai bagian pertama dari parintang-rintang menggali sejarah Poear Datar, Mangani dan jalur kereta api Payakumbuh-Limbanang, judul parintang-rintang ini kiranya tidaklah terlalu berat.

Wassalam

Gulidiak, 7 Maret 2014

Advertisements
This entry was posted in Mangani, Kota Tambang yang Hilang. Bookmark the permalink.

4 Responses to MANGANI KOTA TAMBANG YANG HILANG: A Beginning Trip

  1. hellen says:

    Uni Nalfira …. keren ….. saya tunggu cerita-cerita selanjutnya tentang Minang zaman baheula maupun zaman sekarang. Ibarat ilmu tabur tuai, menabur tulisan sekarang, menuai hasilnya kemudian. Keep up the good job.

  2. Deski says:

    Assalamualaikum Pak Nal, saya adalah anak nagari Poear Datar, tempat Manggani tersebut berada. Moyang saya adalah pengusaha yang bekerja untuk Maatschappij (kami menyebut Maskapay) sebagai penyuplai beras untuk makanan para pekerja tambang Manggani. Sayang sekali perusahaan beliau bangkrut saat Jepang berkuasa. Saya masih sempat bertemu dengan nenek (istrinya) (saat itu sekitar tahun 1984-1985) dalam usia beliau 90-an dan banyak mendapatkan cerita tentang tambang emas Manggani dari beliau. Gambaran yang dilukiskan oleh nenek uyang saya persis seperti lukisan yang digambarkan oleh tulisan Pak Nal ini. Sayang sekali hampir semua pelaku sejarah kebesaran tambang Maskapay ini telah meninggal dunia, terakhir kali saya bertemu dengan anak kusir bendi yang dipercaya membawa barang dan orang ke Manggani yang bernama Simin (sekarang sudah almarhum saat manggani jaya (1930-an) katanya usianya sudah 9-10 tahun) anak Soe(r)kawi (alm. beliau ini pelaku sejarahnya). Mereka berasal dari Jawa Tengah yang mengadu nasib di Manggani sebagai kusir. Saya ingin bertanya apakah ini tulisan Pak Nal berdasarkan imajinasi setelah melihat koleksi dari cucu pelaku? atau merupakan tulisan orang lain yang Pak Nal terjemahkan (disadur) menjadi bahasa sendiri?. Karena fakta sejarah yang diungkapkan persis hampir sesuai (90 an persen) dengan gambaran uyang saya dan cerita pelaku sejarah lainnya di tempat saya.

    • Salam kenal.
      Terima kasih Pak Deski telah berkunjung ke blog saya ini. Sampai tahun lalu ketika tulisan tentnag Mangani ini saya tulis dan upload di Blog ini belum ada (sepengetahuan saya) tulisan anak nagari Koto Tinggi yang menulis dan mengupload kisah tambang emas ini di dunia maya.
      Ada beberapa hal yang perlu saya sampaikan terkait penelitian kecil yang dituangkan dalam tulisan yang ber-tagline Mangani Kota Tamabang yang Hilang ini , yaitu:
      1. Tulisan ini murni tulisan saya, tidak disadur dari sumber mananpun.
      2. Benar sekali semuanya merupakan imajinasi yang terinspirasi dari cerita dan gambar baik yang dikirimkan oleh narasumber, maupun dari data, statistik dan laporan keuangan perusahaan tersebut.
      3. Dalam beberapa gambar yang saya punya, ada beberapa gambar penduduk non lokal khususnya dari Jawa yang ada di Mangani tersebut, terlihat dari blangkon yang mereka gunakan.
      4. Terkait dengan apakah nama daerahnya “MANGANI atau MANGGANI”, saya cenderung menggunakan kata Mangani. HaL ini didasarkan pada berbagai dokumen dan buku yang ada, baik yang berbahasa Belanda, Jerman maupun Inggris yang cenderung menggunakan kata Mangani. Kata Manggani hanya digunakan oleh penulis Indonesia, pada tahun jauh setelah aktifitas penambangan sudah berhenti.
      5. Betul sekali kata Maatschappij dibaca sebagai Maskapai yan berarti perusahaan,
      6. Semoga tulisan ini memacu anak nagari Koto Tinggi untuk menggali dan mencari foto foto dan dukumen tentang orang-orang dan sejarah penambangna di Mangani ini.
      Sekali lagi terima kasih dan semoga bermanfaa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s